
Hari berlalu begitu cepat, tak terasa kandungan dinda menginjak bulan ke tujuh.
Perut dinda pun sudah membuncit, badan dinda pun ikut naik dratis.
Daniel sebagai suami yang fosesif bertambah lagi fosesif kepada istri nya yang tengah mengandung besar.
Saat ini dinda dan daniel sedang menikmati babymoon nya di Maldives.
Karena dulu mereka tidak melakukan honeymoon, jadi daniel dan dinda berencana untuk babymoon saja.
" Mas kuku aku udah pada panjang tuh." Ucap dinda memperhati kan kuku kaki nya yang tampak sudah panjang kembali.
" Ya udah kamu di sini dulu, mas mau ngambil jepit kuku nya dulu." Setelah mengatakan itu daniel pun pergi untuk mengambil jepit kuku.
Kegiatan itu sudah di lakukan oleh daniel sejak usia kandungan dinda yang mulai membesar. Daniel selalu memotong kuku istri nya, karena dinda tidak bisa melakukan nya di karena terhalang oleh perut nya yang sudah besar.
" Sini yank kaki nya." Perintah daniel yang kini sudah duduk kembali di sofa yang ada di sana,Dinda pun menaruh ke dua kaki nya di atas paha suami nya.
" Maaf ya ngerepotin mas mulu." Ucap dinda yang tak enak mengerjakan suami nya lagi.
" Stt, gak boleh ngomong gitu. Mas gak apa apa kok di pekerjakan sama kamu. " Ucap daniel menenang kan istri nya yang tampak merasa sungkan.
" Tapi aku gak enak mas." Lirih dinda yang masih di dengar oleh daniel.
" Udah gak apa apa kok, mas malah seneng kalau kamu minta mas buat potong kuku kamu." Ucap daniel menatap istri nya dengan penuh cinta.
" Makasih ya mas." Ucap dinda.
" Iya sayang." Setelah itu daniel pun mulai memotong kuku kuku kaki istri nya.
" Ouh iya mas, kita akan pulang kapan ?" Tanya dinda kepada daniel yang tengah fokus memotong kuku kaki nya.
" Satu minggu lagi sayang." Jawab daniel tanpa menoleh ke arah istri nya.
" Berarti kita masih lama di sini ?" Tanya dinda lagi.
" Iya sayang, Emang nya kenapa ?" Ucap daniel sekaligus bertanya.
" Aku cuma ngerasa kangen aja sama kamar kita mas." Ucap dinda dengan jujur, karena memang dia sangat merindukan kamar nya itu.
" Nanti kalau kita sudah pulang, kamu bisa tidur di sana sepuas nya." Ucap daniel sambil mengulas senyum kepada istri nya.
Sedangkan dinda hanya mengangguk saja mendengar ucapan suami nya itu.
" Kau mau jalan jalan ?" Ucap daniel menawar kan jalan jalan kepada istri nya yang tampak mulai bosan.
" Ke mana mas ?" Tanya dinda dengan antusias.
" Ke mana aja, kamu mau ke mana ?" Tanya daniel yang sudah menyelesai kan memotong kuku istri nya
" Ke pantai." Ucap dinda antusias.
" Ya udah sekarang kamu siap siap dulu, mas tunggu di sini." Perintah daniel.
" Oke mas." Dengan semangat dinda langsung bergegas menuju kamar nya untuk bersiap siap, setelah selesai bersiap siap dinda pun turun lagi ke lantai bawah menghampiri suami nya yang tengah fokus dengan ponsel nya.
" Mas ayo." Ajak dinda yang sudah ada di samping suami nya.
" Udah selesai?" Tanya daniel sambil memasuk kan ponsel nya ke dalam saku celana nya.
" Ya udah yuk." Daniel pun menggandeng tangan istri nya dan membawa nya keluar villa.
Setelah empat puluh menit yang di tempuh oleh daniel dan dinda untuk sampai di pantai.
Mereka kini sudah ada di pantai yang paling indah di maldives.
Dinda pun langsung berlarian dengan wajah berseri seri, sedang kan daniel hanya memperhati kan istri nya yang tengah bahagia itu, walaupun hanya di ajak ke pantai tapi dinda tampak sangat bahagia.
Benar kata orang ' Bahagia itu sederhana.'
Itulah istilah yang di gambar kan oleh daniel saat melihat istri nya yang tampak tertawa lepas di wajah cantik nya itu.
Dengan langkah pelan daniel menghampiri istri nya dan memeluk nya dari belakang.
" Senang ?" Tanya daniel sambil mengerat kan pelukan nya dari belakang, sedang kan dinda hanya mengangguk kan kepala saja menjawab pertanyaan suami nya itu.
Mereka pun menghabis kan berjam jam di pantai itu, saat hari mulai petang daniel dan dinda pun memutus kan untuk kembali lagi ke villa nya.
" Mas apa gak bisa di cepetin pulang nya." Ucap dinda yang kini sedang duduk di dalam mobil bersama suami nya.
" Pulang ke mana sayang?" Tanya daniel tak mengerti.
" Pulang ke rumah." Ucap dinda.
" Ya kalau pulang ke rumah mah, nanti satu minggu lagi." Ucap daniel yang sedang fokus menyetir.
" Gak bisa di cepetin ya " Keluh dinda memyender kan badan nya ke bangku mobil.
" Sabar." Ucap daniel mengelus rambut istri nya dengan lembut.
Sesampai di villa dinda dan daniel langsung masuk ke dalam kamar untuk mengistirahat kan badan mereka yang lelah itu.
Matahari mulai menampak kan diri nya dan menghangat kan manusia yang tengah kedinginan, menghapus embun embun dari dedaunan.
Daniel mulai mengerjap kan kelopak mata nya dan melihat ke samping, tampak istri nya masih sedang tidur dengan pulas dalam pelukan nya.
Dengan hati hati daniel mengurai kan pelukan nya, saat sudah terlepas daniel pun dengan hati hati pergi ke kamar mandi untuk membersih kan tubuh nya.
Setelah dengan mandi mandi nya, daniel pun melangkah pergi tanpa membangun kan istri nya yang masih kelelahan.
Daniel pun memutus kan untuk memasak, karena sejak kandungan dinda mulai membesar, dinda selalu meminta nya untuk memasak.
Karena kata dinda, masakan suami nya itu sangat enak. padahal saat pertama kali daniel memasak untuk istri nya, itu hanya memakai bumbu asal saja. tapi daniel tidak menyang kan kalau masakan nya akan di sukai oleh istri nya itu.
Setelah menghabis kan satu jam, daniel pun sudah menyelesai kan acara masak nya. Dia pun memustus kan untuk membangun kan istri nya.
Sesampai di kamar dia sudah tidak melihat istri nya lagi di atas kasur, dia pun mendengar suara air yang dari arah kamar mandi, Daniel pun sudah bisa menyimpul kan kalau istri nya tengah mandi.
Sambil menunggu istri nya keluar dari kamar mandi, daniel pun memutus kan untuk duduk di sofa sambil mengecek data perusahaan yang di kirim kan oleh Raka sang asisten setia nya.
Saat dia membuka ponsel milik nya, daniel di buat menyerit saat melihat nomor asing menelpon diri nya.
dia pun mengabai kan nomor itu, tapi tampak nya yang mempunyai nomor itu tidak menyerah untuk menghubungi daniel.
Jangan lupa vote, like, komen dan jangan lupa gift nya.