
Daniel mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi, agar bisa segera sampai di kediaman orang tua nya.
Sesampai di sana daniel langsung turun dari mobil nya tanpa memarkir kan mobil nya dengan benar.
Daniel pun masuk dengan tergesa gesa, dan memanggil nama istri nya dengan teriakan tanpa peduli dengan para art di rumah orang tua nya yang sedang menatap nya bingung.
" Sayang " Teriakan daniel begitu menggema di seluruh sudut masion orang tua nya.
Tak lama kemudian wanita paruh baya datang menghampiri nya dengan nafas yang terengah-engah karena dia baru saja berlari untuk menghampiri anak nya yang sedang berteriak memanggil istri nya.
" Ada apa niel ?" Tanya Mama nya.
" Ma, Dinda ada di sini gak ?" Bukan nya menjawab daniel malah berbalik tanya lagi ke Mama nya.
" Dinda ?" Tanya Mama nya dengan mengerut kan kening nya karena bingung mendengar pertanyaan yang di lontar kan anak nya.
" Iya dinda."
" Dinda belum ke sini lagi, sejak kalian pulang lagi ke rumah." Terang Mama nya.
" Berarti dinda gak ada di sini ?" Tanya daniel lagi.
" Iya." Balas Mama nya sambil mengangguk kan kepala nya.
" Kalian sedang ada masalah ?" Tanya Mama nya curiga melihat gelagat anak nya.
" Tadi itu cuma salah paham aja Ma " Jawab daniel dengan jujur, karena emang yang tadi Dinda lihat tidak seperti yang dinda pikir kan.
" Coba kamu cerita." Perintah Mama nya, sedang kan daniel hanya mengangguk saja dan memulai menceritakan apa yang terjadi di kantor nya.
Flashback.
Saat itu daniel sedang fokus dengan berkas nya, tapi fokus nya seketika buyar karena melihat mantan tunangan nya ada di hadapan nya.
" Mau apa kau ke sini ?" Tanya daniel dengan suara dingin dan menatap wanita itu dengan datar.
" Sayang, kalau pacar datang itu di sambut nya dengan manis. Tapi kamu, nyambut aku aja gak ada manis manis nya." Rengek nya dengan manja, bahkan dia juga sudah bergelayut manja di tangan daniel.
" Lepas." Bentak daniel sambil menepis tangan wanita itu dari tubuh nya.
" Kau mau apa? Uang? atau apa ?" Tanya daniel menatap wanita di hapadan nya dengan tatapan remeh nya.
" Sayang aku ke sini bukan mau uang, Aku ke sini itu karena aku kangen banget sama kamu." Ucap nya dengan suara di buat buat sedih.
" Cih dasar j***** haus belaian." Ucap daniel dengan mencibir wanita di hadapan nya.
" Sayang kenapa kamu jadi gini? kenapa kamu jadi ngomong kasar sama aku ?" Ucap nya dengan tangisan palsu nya.
" Sudah lah jangan banyak drama, sekarang pergi dari sini " Usir daniel sambil menunjuk ke arah pintu.
" Sayang tapi aku masih kangen sama kamu " Rengek nya membuat daniel jengah.
" Pergi." Bentak daniel.
" Enggak " Ucap wanita itu masih saja kukuh dengan pendirian nya.
" Pergi."
" Enggak "
Saat dia akan melepas kan diri dia melihat istri nya yang sedang menatap nya dengan tatapan tidak terbaca, dan sial nya dia tidak menyadari kalau posisi nya masih mengurung tubuh wanita itu.
Saat dia melihat istri nya pergi, dia baru sadar kalau posisi nya sangat intim dengan wanita itu. daniel pun butu buru ingin berdiri tapi wanita itu malah memeluk nya sehingga membuat nya menindih lagi tubuh wanita itu.
Kembali ke Daniel dan Mama nya.
" Kau ini bodoh atau apa sih? kau ini kenapa tidak langsung mengejar istri mu, tapi kau malah melayani wanita itu. pantas saja dinda pergi." Maki Mama nya dengan emosi yang meluap luap karena melihat kebodohan anak nya.
" Tadi daniel terlanjur emosi kepada nya Ma." Ucap daniel dengan pelan.
" Emosi kamu harus di kendalikan dulu, Kalau urusan dengan wanita j***** itu kamu bisa kapan saja, Yang terpenting sekarang adalah dinda." Ucap Mama nya.
" Aku harus mencari nya ke mana lagi Ma " Ucap daniel dengan frustasi yang belum juga menemukan istri nya.
" Kau cari saja dulu ke taman tempat biasa dinda datangi, kalau dia tidak ada di sana kamu cari ke rumah bibi nya, kalau dinda gak ada lagi di rumah bibi nya berarti kamu harus ke makam orang tua nya, bisa tau kan dinda ke sana untuk menenangkan diri." Ucap Mama nya panjang lebar.
" Makasih ya Ma, karena Mama selalu ada buat daniel " Ucap daniel dengan menahan haru karena Mama nya selalu ada di samping nya di saat saat dia terpuruk.
" Udah kewajiban Mama." Ucap nya yang kini sudah memeluk anak semata wayang nya.
" Ya udah kalau gitu daniel pamit cari dinda dulu ya Ma " Pamit daniel sambil mengecup kedua pipi wanita paruh baya yang sudah melahir kan nya.
" Iya, semoga dinda langsung di temukan." Doa Mama nya dengan tulus.
" Semoga." Setelah itu daniel pun pergi untuk mencari lagi istri nya.
Sesampai di taman daniel terus menelusuri seluruh taman tanpa mengenal lelah, setelah semua dia telusuri daniel tidak menemukan istri nya di sana.
lalu dia pun segera melakukan mobil nya menuju rumah bibi dan paman nya.
Sesampai di sana dia melihat paman dan bibi nya dinda sedang bersantai di depan teras rumah nya.
Daniel pun berjalan menghampiri paman dan bibi nya dinda.
" Paman bibi " Panggil nya mengaget kan kedua orang paruh baya itu.
" Eh, Nak Daniel, Ayo masuk sini." Ucap bibi nya yang mempersilahkan daniel untuk masuk kedalam rumah nya.
" Ouh iya nak, di mana dinda ?" Tanya paman nya saat dia tidak melihat keponakan nya itu.
Sedangkan daniel yang mendengar pertanyaan paman nya membuat dia yakin kalau dinda tidak ada di rumah bibi dan paman nya.
" Dinda ada di rumah paman " Ucap nya dengan berbohong, Karena dia tidak ingin paman dan bibi nya curiga kepada nya.
" Ouh iya, daniel ke sini cuma mau ngasih ini. " Ucap daniel sambil menyerah kan sebuah kotak yang entah apa isi nya ( Author juga gak tau.)
Daniel sengaja membeli dulu sesuatu agar paman dan bibi nya percaya kalau dia ke sana hanya ingin memberikan itu tanpa ada maksud apa apa.
karena dia sudah menduga kalau dinda pasti tidak akan ke rumah paman dan bibi nya.