
Siang ini dinda berencana untuk mengunjungi rumah mertua nya karena dia merasa sangat rindu dengan sosok Mama mertua nya dan Papa mertua nya itu.
" Bi kalau mas daniel pulang, kata kan saja kalau dinda ada di rumah Mama." Pesan dinda sebelum pergi.
" Baik non." Jawab bi ani.
Dinda pun pergi ke luar rumah dan menghampiri sopir rumah nya.
" Pak." Panggil dinda pada sopir pribadi nya.
" Eh iya non ?" Tanya sopir itu menghampiri majikan nya.
" Antar kan saya ke rumah Mama." Ucap dinda.
" Baik non." Dengan sigap sopir itu membuka kan pintu mobil nya supaya mempermudah majikan nya untuk masuk.
" Terima kasih pak." Ucap dinda, sedang kan sopir itu hanya mengangguk saja dan mengulas senyum ramah nya.
Lima belas menit, dinda pun sampai di rumah mertua nya. Dengan langkah sedikit berlari dinda memasuki rumah mertua nya.
" Ma, Pa." Teriak dinda menggema di seluruh rumah mewah itu.
Sedang kan Mama dan Papa nya yang ada di taman belakang rumah bergegas menghampiri teriakan menantu nya itu.
Sesampai di sana mereka melotot melihat menantu nya ternyata sudah pulang dari maldives.
" Sayang " Teriak Mama nya menghampiri menantu nya yang tengah anteng duduk di sofa besar yang ada di ruang keluarga.
" Mama." Mereka pun berpelukan cukup lama, sedang kan Papa nya mengelus rambut menantu nya dengan lembut.
Setelah memeluk Mama mertua nya dinda pun menghampiri Papa mertua nya dan memeluk nya dengan erat.
" Bagaimana kabar mu nak ?" Tanya Papa nya saat sudah melepas kan pelukan nya.
" Kabar ku baik Pa, lalu bagaimana kabar Mama dan Papa ?" Tanya dinda yang kini sudah duduk kembali bersama mertua nya.
" Kabar kami baik." Jawab Papa nya.
" Lalu bagaimana kabar cucu Mama ini ?" Tanya Mama nya sambil mengelus perut buncit menantu nya.
" Kabar aku baik Ma." Balas dinda meniru kan suara anak kecil, sedang kan Mama dan Papa nya hanya berkekeh melihat tingkah menantu nya itu.
" Ouh iya, Mana daniel ?" Tanya Papa nya saat menyadari kalau tidak ada daniel di samping dinda.
" Mas daniel lagi sibuk di kantor nya Pa." Ucap dinda.
" Dia itu ya, sibuk terus sama kerjaan." Gerutu Mama nya dan di sambut kekehan dari suami nya dan menantu nya.
" Kamu pulang kapan nak ?" Tanya Papa.
" Aku pulang kemarin Pa." Jawab dinda.
" Kenapa gak ngabarin kalau udah pulang dari sana ?" Kini Mama nya yang bertanya.
" Kan mau ngasih kejutan buat Mama dan Papa." Ucap dinda di akhiri kekehan.
" Ouh iya, dinda bawa oleh oleh buat Papa dan Mama." Ucap dinda dengan mengambil paper bag yang dia bawa dari rumah.
" Apa ini nak ?" Tanya Papa nya penasaran dengan isi nya.
" Buka aja, Tapi nanti aja buka nya kalau udah gak ada dinda." Cegah dinda, sedang kan Mama dan Papa nya hanya menurut saja apa yang di kata kan oleh menantu nya itu.
" Ouh iya sayang, kamu mau melahir kan normal ?" Tanya Mama.
" Iya Ma." Jawab dinda.
" Mas daniel pengen punya anak banyak kata nya, jadi dinda pilih normal aja supaya punya anak banyak." Balas dinda dengan polos.
Sedang kan Mama dan Papa nya hanya menggeleng kan kepala saja saat mendengar jawaban dari dinda.
" Emang daniel pengen punya anak berapa ?" Tanya Papa nya.
" Enam." Jawab dinda dengan santai, tapi tidak dengan Papa dan Mama nya yang melotot saat mendengar jawaban menantu nya itu.
" Kamu serius nak ?" Tanya Papa nya tak percaya.
" Iya." Jawab dinda dengan mengangguk kan kepala nya.
" Kasih tau kepada suami mu itu, melahir kan anak itu tidak gampang jadi kalau dia ingin mempunyai banyak anak mending adopsi aja di panti asuhan." Ucap Mama nya dengan berapi api.
" Siapa yang ingin punya anak banyak ?" Tanya daniel yang tiba tiba datang dari arah pintu, membuat semua orang yang ada di ruang keluarga itu tersentak kaget melihat nya.
" Ouh, jadi ini yang ingin mempunyai anak banyak, dan menyuruh istri nya untuk melahir kan normal." Mama nya menghampiri anak nya dan menjewer telinga anak nya dengan kencang.
Sedang kan daniel mengadu kepada istri nya untuk minta di lepas kan.
" Sayang tolong aku, ini sakit banget." Ucap daniel dengan raut wajah memelas, tapi dinda sama sekali tidak mengubris permohonan suami nya itu, dia memilih untuk menonton suami nya yang tengah kesakitan itu.
" Jadi benar kalau kamu yang nyuruh dinda untuk mempunyai anak banyak ?" Tanya Mama nya dengan emosi.
" Iya Ma." Jawab daniel dengan terus meringis.
Sedang kan Mama nya langsung mengencang kan jeweran nya saat mendengar ucapan anak nya itu. setelah puas menjewer telinga anak nya, Mama nya pun melepas kan jeweran nya dan pergi duduk lagi bersama suami nya.
" Kau ini keterlaluan niel, Kau tau melahir kan itu sama dengan mempertaruh kan nyawa. " Ucap Papa.
" Aku hanya ingin memiliki anak banyak dari istri ku Pa, Ma." Ucap daniel membela diri nya.
" Kalau kau ingin mempunyai anak banyak, Mending kamu saja yang hamil dan melahir kan." Ucap Mama nya dengan kesal.
" Mana ada laki laki yang hamil dan melahir kan." Ucap daniel yang juga ikut kesal akan ucapan Mama nya.
" Ada Mas, kalau tuhan menghendaki nya." Ucap Dinda yang sedari tadi diam.
Sedang kan daniel hanya bisa menelan ludah dengan kasar saat membayang kan kalau dia hamil dan melahir kan.
Baru saja membayang kan sudah membuat bulu kuduk nya berdiri, apalagi itu sampai terjadi.
" Ih amit amit." Batin daniel dengan bergidik ngeri, sedang kan Mama Papa nya dan dinda yang melihat wajah pucat daniel berkekeh pelan.
" Emang enak di kerjain." Batin mereka bertiga.
" Ouh iya Ma, Pa aku mau istirahat dulu." Ucap dinda yang kini sudah berdiri dari duduk nya.
" Kamu tidur di kamar bawah saja sayang, kalau naik tangga takut terjadi sesuatu yang tidak di ingin kan." Ucap Papa nya.
" Baik Pa." Balas dinda.
" Kalau gitu dinda pergi dulu." Lanjut dinda sebelum pergi ke kamar tamu yang tetletak dekat dengan dapur.
" Iya." Balas semua orang yang ada di ruang keluarga itu.
Sesampai di kamar tamu dinda pun langsung membaring kan tubuh nya dan langsung terlelap karena semalam dia terjaga dari tidur nya.
Sedang kan di ruang keluarga kini hanya tersisa Papa nya dan daniel saja yang sedang membahas pekerjaan. Mama nya pergi ke kamar nya juga untuk istirahat karena dia sekarang harus banyak mengistirahat kan tubuh nya.
Jangan lupa vote, like, komen dan juga giftnya.