
Dinda dan Daniel melangkah beriringan menuju ruangan Daniel. Saat melewati ruang kerja milik asisten nya, Daniel di buat bingung dengan pintu kerja nya yang terbuka sedikit. Dalam hati bertanya tanya, Apakah asisten nya itu sengaja tidak menutup pintu nya dengan rapat? Atau kah tidak sengaja?.
Daniel terus saja memperhati kan pintu itu, membuat Dinda yang memang berada di samping suami nya juga ikut bingung pada suami nya yang terus saja melihat pintu ruang kerja milik Raka.
"Mas." Panggil Dinda membuat pandangan Daniel yang tadi nya tertuju pada pintu kini teralih kan kepada istri nya yang tampak sedang menatap nya dengan raut wajah bingung.
"Apa sayang?" Tanya Daniel sambil mengelus rambut istri nya yang di ikat kuda ke atas.
"Kenapa dari tadi bengong aja?" Tanya Dinda balik.
"Mas gak bengong kok sayang." Jawab Daniel dengan mengulas senyum.
"Boong banget, dari tadi aku liatin Mas lagi bengong." Ucap Dinda membuat Daniel lagi lagi tersenyum.
"Mas gak bengong kok sayang, tadi mas lagi mikirin kerjaan aja." Ucap Daniel. Sedang kan dinda hanya mengangguk saja pertanda percaya dengan ucapan suami nya itu.
Sesampai nya di ruangan milik Daniel, Daniel menyuruh istri nya untuk menunggu nya di sofa yang ada di ruangan tersebut. Sedang kan diri nya akan memulai bekerja sambil memperhati kan istri nya.
"Kamu di sini dulu sayang, Mas akan kerja dulu." Ucap Daniel sambil mengecup pipi istri nya sebelum memulai bekerja.
"Iya Mas." Jawab Dinda sambil tersenyum manis pada suami nya dan mendapat kan ciuman bertubi tubi dari suami nya.
Cup.
Cup.
Cup.
"Ah Mas sudah geli hahaha." Teriakan Dinda menggema di ruangan kedap suara itu.
"Kamu bikin gemes Mas aja sayang." Ucap Daniel mengakhiri ciuman bertubi tubi nya.
"Udah sana kata nya mau kerja." Usir Dinda pada suami nya itu.
"Kamu mengusir ku sayang?" Tanya Daniel menatap istri nya.
"Kalau iya emang kenapa?" Tantang Dinda pada suami nya itu.
"Maka kamu akan mendapat kan hukuman nya, nanti malam." Ucap Daniel sambil mencuri curi ciuman di bibir istri nya.
"Dasar mesum." Gerutu Dinda dan di hadiahi kekehan dari daniel.
"Kalau aku gak mesum, kamu gak bakal hamil kayak gini." Ucap Daniel sambil mengelus perut buncit istri nya.
"Aku ini korban kemesuman kamu mas." Gerutu Dinda dan membuat Daniel tambah tertawa keras.
"Tapi yang di mesumin nya juga mau kan?" Goda Daniel menaik turun kan sebelah alis nya, membuat pipi dinda merona.
"Apaan sih Mas."Dinda mendorong tubuh suami nya agar segera pergi dari sana.
"Udah sana kerja." Usir Dinda lagi.
"Baik lah, tapi janji ya malam dua ronde?" Ucap Daniel dan di hadiahi pelototan maut dari istri nya.
"Mau kerja atau mau aku pulang aja." Ancam Dinda dan berhasil membuat Daniel pergi dan mulai bekerja.
Dua jam berlalu, Dinda yang memang orang nya selalu tidak betah diam langsung berdiri menuju kursi yang sedang di dudukin oleh suami nya.
"Mas." Rengek Dinda menghentikan kegiatan Daniel yang sedang menandatangani berkas berkas.
"Ada apa sayang?" Tanya Daniel sambil membalik kan tubuh nya agar melihat istri nya.
"Lalu sekarang pengen apa hmm?" Tanya Daniel sambil mengangkat tubuh istri nya dan mengendong nya.
"Gak mau apa apa." Jawab Dinda masih dengan bergelayut manja di leher kokoh milik suami nya itu.
"Mau jajan?" Tawar Daniel membuat Dinda berfikir terlebih dulu.
"Mas turunin aku dulu."Pinta Dinda membuat Daniel bingung tetapi menuruti apa yang di kata kan oleh istri nya.
"Mau kemana?" Tanya Daniel saat melihat istri nya menuju ujung ruang yang selalu Daniel pakai untuk melihat pemandangan di bawah dan di atas.
"Aku mau lihat di bawah, apa ada jajanan yang menurut aku enak tidak." Ucap Dinda sambil mengedar kan pandangan nya, sedang kan daniel hanya diam di belakang istri nya yang sedang melihat lihat ke bawah.
Dinda terus saja melihat ke bawah, dan sampai akhir nya dia menemukan jajanan yang menurut nya enak di bawah sana.
Dia pun dengan segera menghampiri suami nya.
"Mas aku ingin beli makanan yang ada kuah merah nya." Ucap Dinda sambil bergelayut manja kembali pada suami nya.
"Kuah merah?" Tanya Daniel dengan bingung karena baru mendengar makanan kuah merah.
"Apa itu sayang?" Tanya Daniel kembali.
"Aku juga gak tau mas, tapi kalau di lihat lihat itu kayak makanan yang ada di ponsel aku. Kalau gak salah nama nya seblak." Ucap Dinda sambil mengingat igat kembali makanan yang pernah dia lihat di ponsel tapi dia belum pernah memakan nya.
"Pedas gak sayang?" Tanya Daniel.
"Ya pedes lah, kalau gak pedes mah gak enak dong mas." Jawab Dinda dengan gemas saat mendengar pertanyaan suami nya itu.
"Enggak ah, kalau pedas mah." Ucap Daniel dengan tegas. Tapi membuat dinda menangis kejer sambil menghentak hentak kan kaki nya di lantai seperti anak kecil yang tidak di beri permen oleh ibu nya.
"Mas jahat huaa." Tangisan Dinda tambah kencang membuat Daniel kewalahan menghadapi nya.
"Mas udah gak sayang lagi sama aku, karna tubuh aku gendut. Huaaa." Tangisan Dinda semakin bertambah kencang.
"Sayang bukan nya mas gak sayang sama kamu, justru mas sayang sama kamu dan melarang kamu makan yang pedes pedes karna kamu pasti malam bakal bulak balik ke kamar mandi kalau makan pedes." Bujuk Daniel.
"Tapi aku mau mas, Huaaa"Jawab dinda dan kembali menangis kejer membuat Raka yang memang akan memberi kan berkas pada boss nya di buat kaget dengan tangisan dinda.
"Ada apa pak?" Tanya Raka mengalihkan kan Daniel dari istri nya.
"Biasa ibu hamil." Ucap Daniel membuat Raka mengangguk kan kepala saja.
Saat dia mendekati meja milik boss nya dan akan menyimpan berkas itu, tapi gerakan nya berhenti saat mendengar teriakan dinda yang membuat daniel dan Raka sendiru melotot mendengar nya.
"Ya sudah kalau mas gak mau turutin kemauan aku dan anak kita, aku akan ganti suami dan suami nya adalah Raka." Ancam Dinda.
"Jangan." Teriak daniel yang ketakutan dengan ancaman istri nya, di tambah lagi asisten nya itu masih mencintai istri nya.
"Ya udah maka nya turutin." Ucap dinda dengan sisa sisa tangisan nya.
"Baik lah mas akan beli kan kamu seblak yang banyak, tapi kamu jangan ganti suami ya." Ucap daniel.
"Iya." Balas dinda dengan malas, tapi tidak dengan hati nya yang kini sedang berteriak kesenangan karena suami nya mau menuruti kemauan nya.
"Kau boleh keluar." Usir Daniel pada Raka yang masih diam mematung melihat drama rumah tangga boss nya.
"Ba–baik pak" Dengan gerakan cepat dan sedikit berlari, Raka keluar dari ruangan boss nya sebelum terkena amukan singa yang sudah bangun dari tidur nya.
...Jangan lupa tinggal kan jejak dengan cara vote, like, komen dan jangan lupa juga gift nya supaya author tambah semangat lagi🔥...