My Sexy Boss

My Sexy Boss
Tiga atau Lima?



Hari sudah beranjak sore, tapi Dinda dan Daniel belum bangun dari tidur mereka.


Tok...Tok..Tok...


Mama daniel mengetuk pintu kamar daniel untuk membangun kan dinda, karena dia tidak tau kalau daniel juga ikut tidur dengan sang istri.


" Sayang." Teriak Mama nya dari luar kamar.


Daniel yang mendengar suara berisik di luar, mulai mengerjap kan mata nya dan mengumpul kan semua nyawa nya.


Lalu dia melirik ke arah jam yang menunjuk pukul lima sore, pantas saja Mama nya membangun kan mereka.daniel pun turun dari kasur nya dan melangkah dengan gontai ke arah pintu dan membuka nya.


" Astaga kamu juga baru bangun niel " Mama nya kaget melihat anak nya yang juga baru bangun tidur.


" Emang Mama fikir daniel ngapain aja dari siang kalau enggak tidur." Ketus daniel.


" Mama kira kamu ada di ruang kerja." Ucap Mama nya.


" Kan tadi daniel ke kamar bukan ke ruang kerja "


" Ya udah sekarang kamu mandi, jangan lupa bangunin Dinda karena tidur sampai sore gak baik buat ibu hamil " Pesan Mama sebelum pergi dari kamar putra nya.


" Iya Ma." Setelah itu daniel menutup pintu nya dan menghampiri istri nya yang masih asik dengan tidur nya, melihat istri nya yang masih asik dengan tidur nya daniel pun tak tega membangun kan istri nya, daniel pun memutus kan untuk mandi terlebih dulu.


Dua puluh menit daniel sudah selesai dengan acara mandi nya, dia pun langsung memakai pakaian, setelah selesai daniel pun menghampiri istri nya lagi untuk membangun kan nya.


" Sayang." Panggil daniel dengan mengelus kepala istri nya.


" Hmm." Hanya itu saja yang keluar dari bibir dinda.


" Sayang, bangun ini udah sore." Ucap daniel mencoba membangun kan istri nya.


" Sebentar lagi mas " Sahut dinda dengan suara khas bangun tidur.


" Sampai kapan sebentar nya ?" Tanya daniel dengan sabar.


" Sebentar aja mas " Ucap dinda masih dengan mata terpejam.


Sepuluh menit kemudian.


" Sayang " Panggil daniel tapi tidak ada sahutan dari dinda.


daniel pun melirik je arah istri nya yang ternyata tidur kembali, daniel pun hanya bisa menghela nafas saja melihat istri nya yang tertidur kembali.


Dinda memang sering tidur sejak dia di nyatakan hamil, bahkan kalau sedang menonton film pun dinda sering tertidur dengan ponsel menyala atau televisi menyala. Bahkan yang lebih parah nya lagi dinda pernah tertidur di ubin tanpa alas.


Daniel pun segera menggendong istri nya dan membawa nya ke kamar mandi, walaupun nanti dinda akan marah kepada nya.


" Mas." Dinda sangat terkejut ketika daniel memasukan diri nya kedalam bathtub yang berisi air.


" Kamu lama bangun nya yank." Ucap daniel dengan santai.


Sedangkan dinda berdecak kesal mendengar jawaban yang keluar dari bibir suami nya itu.


Daniel pun dengan telaten memandikan dinda.


selesai mandi daniel pun membantu dinda memakai pakaian nya walau pun dinda menolak tapi daniel tetap saja kukuh ingin membantu istri nya untuk memakai pakaian nya.


" Mas aku ini orang sehat, bukan orang sakit. Jadi aku bisa sendiri." Ketus dinda yang merasa risih ketika daniel membantu nya mandi dan memakai kan pakaian nya.


" Sayang mas cuma ingin membantu mu saja, bukan mau ngapa ngapain kamu " Ucap daniel yang ikut kesal karena istri nya tidak ingin di bantu oleh diri nya.


Sedangkan dinda hanya bisa pasrah saja dari pada berdebat dengan suami nya, kalau dia berdebat dengan suami nya bisa jadi perdebatan nya akan berlangsung sampai berhari hari.


Setelah selesai mereka pun melangkah menuju lantai bawah yang di mana Mama dan Papa nya sedang bersantai.


" Eh dinda, Sini sayang " Ucap Mama nya ketika melihat menantu nya datang dengan anak nya.


Dinda pun menghampiri Mama nya dan duduk di sisi nya yang di sediakan oleh Mama mertua nya.


" Baru bangun tidur ya ?" Tebak Papa nya yang sedang duduk di samping istri nya seperti Dinda.


" Nanti jangan di biasa kan tidur sore ya, gak baik buat kamu apalagi sama janin kamu." Nasehat Papa nya.


" Iya Pa. " Balas dinda sambil mengangguk kan kepala nya.


" Kamu mau lahiran caesar atau normal sayang ?" Tanya Mama nya tiba tiba.


" Gimana nanti aja Ma " Jawab dinda yang masih bingung akan melahir kan secara normal atau Caesar.


" Saran Mama sih mending normal sayang." Usul Mama nya.


" Apa alasan nya ?" Bukan dinda yang bertanya melain kan daniel.


" Kalau lahiran caesar hanya bisa tiga kali melahirkan kan, Jadi kalau mau punya anak sedikit bisa caesar.


Kalau kamu ingin mempunyai anak banyak, saran Mama melahirkan nya secara normal. Karena lahiran normal tidak di batasi seperti caesar." Ucap Mama nya panjang lebar.


" Bagaimana menurut kamu sayang ?" Tanya daniel menoleh ke arah istri nya.


" Ya menurut ku sih mending melahir kan secara normal mas " Ucap Dinda.


" Ya menurut ku juga begitu, jadi kita bisa punya banyak anak nanti " Ucap daniel dengan antusias.


" Itu sih mau kamu mas " Ketus Dinda membuat mereka tertawa.


" Sayang kata orang orang banyak anak banyak rezeki nya " Ucap daniel sambil berkekeh pelan.


" Aku juga tau Mas " Ucap dinda masih dengan suara ketus nya.


" Kamu mah cuma ingin membuat nya saja niel." Cibir Papa nya kepada anak nya.


" Hahaha, Papa tau aja " Ucap daniel dengan tertawa keras, tapi tawa nya berhenti ketika istri nya mencubit pinggang nya dengan kencang.


" Aww, sayang sakit " Ringis daniel sambil mengusap bekas cubitan istri nya.


" Ngomong nya di jaga mas " Ketus dinda.


" Hahaha, sakit gak tuh " Ledek Papa nya.


Sedangkan daniel hanya berdecak kesal ketika mendengar ledekan Papa nya


" Mama ingin punya cucu berapa ?" Tanya daniel tiba tiba.


" Mama sih tiga juga cukup " Ucap Mama nya dengan santai.


" Sedikit sekali Ma." Protes Papa nya.


" Ya terus Papa ingin punya cucu berapa ?" Tanya Mama nya.


" Papa pengen punya cucu minimal paling sedikit enam " Ucap nya dengan santai, sedangkan yang lain langsung melolot tajam menatap ke arah Papa nya.


" Papa fikir dinda itu kucing." Ketus Mama nya.


" Tau tuh, emang nya dinda tempat bikin cucu apa " Ucap daniel yang ikut kesal mendengar jawaban Papa nya.


" Ya udah deh lima aja cukup " Ucap Papa nya.


" Tiga aja cukup " Ucap Mama nya.


" Lima "


" Tiga."


Mereka pun berdebat mempermasalahkan masalah cucu mereka, sedangkan dinda dan daniel hanya bisa memijat pelipis mereka saat melihat Mama Papa nya yang sedang berdebat.


**Vote.


Like.


Komen**.