My Sexy Boss

My Sexy Boss
Nama anak.



Malam hari nya, Daniel yang tadi sore di puji oleh istri nya membuat dia mengembang kan senyuman terus hingga membuat Mama dan Papa nya yang kebetulan belum pulang menjadi heran melihat tingkah anak nya yang tampak senyum senyum sendiri seperti orang gila.


"Apa kau baru saja mendapat kan jatah dari istri mu?" Tanya Papa nya membuat daniel menyurut kan senyuman nya dan menatap ke arah Papa nya dengan tatapan tajam nya.


"Dari tadi kan Daniel dan dinda ada di sini, Lalu kapan kami bisa melakukan nya." Jawab daniel dengan kesal.


"Ya kirain, dari tadi Papa liat kamu kayak bahagia banget?" Ujar Papa nya sekaligus bertanya.


"Emang nya jelas banget ya?" Tanya Daniel dan di angguki oleh Papa nya.


"Ya wajar dong kalau Daniel bahagia banget, karna kan tadi pagi baru saja melihat anak nya." Ucap Mama nya yang juga ikut menimpali obrolan anak dan suami nya.


"Iya Pa, karna itu Daniel bahagia banget." Ucap daniel setengah berbohong. Ya bukan hanya karena di puji oleh istri nya, tapi Daniel juga sangat bahagia saat tadi pagi dia bisa melihat anak nya yang ada di dalam kandungan istri nya.


"Duh sayang banget Papa gak bisa lihat." Keluh Papa nya menunduk kan kepala nya dengan wajah sedih nya.


"Gak apa apa gak bisa liat langsung, kan Papa bisa liat hasil fotocopy USG nya." Ucap dinda yang baru saja datang dengan membawa selembar kertas yang di yakini oleh mereka semua yang ada di ruang keluarga itu adalah hasil USG tadi pagi.


"Mana coba Papa liat." Ucap Papa nya yang tampak antusias ingin melihat cucu nya.


"Ini." Dinda pun menyerah kan fotocopy USG nya tadi pada Papa mertua nya.


"Wah cucu Papa kayak nya laki laki." Ucap Papa nya membuat semua orang yang ada di sana melihat ke arah nya.


"Ada apa?" Tanya Papa nya bingung saat melihat istri, anak dan menantu nya menatap nya dengan tatapan yang entah Papa nya juga tidak tahu.


"Papa sok tau." Ucap Mama dan anak menantu nya dengan kompak, membuat Papa nya menyerit heran.


"Kok sok tau sih, kan Papa cuma ngomong yang sebenar nya." Ucap Papa nya yang tak mengerti apa apa.


"Papa kita ini niat nya akan menyembunyikan jenis kelamin anak kita, jadi nanti kalau lahiran itu akan menjadi kejutan buat kami." Ucap Daniel menjelas kan kepada Papa nya.


"Jadi kalian belum tau jenis kelamin anak kalian?" Tanya Papa nya dan di angguki oleh Dinda dan Daniel, Sedang kan Mama nya tadi pergi dulu ke kamar mandi untuk buang air kecil.


"Tapi Papa sangat yakin kalau anak dinda itu laki laki." Ucap Papa nya dengan yakin kalau cucu nya berjenis kelamin laki laki.


"Pa itu juga anak Daniel bukan cuma anak Dinda." Ucap Daniel dengan kesal karena Papa nya menyebut anak nya hanya anak dinda dan tidak di sebut nama nya.


"Iya iya." Balas Papa nya yang tak mau berdebat dengan anak nya.


"Kalau pun nanti anak aku dan Dinda perempuan, aku tidak akan mempermasalahkan nya. Asal kan dia lahir dengan selamat dan sehat." Ucap Daniel dengan tegas sambil mengelus perut buncit istri nya.


"Papa juga tidak akan mempermasalahkan nya. Tapi kalau anak kamu udah berusia dua tahun, kalian harus membuat kan lagi adik laki laki untuk penerus keluarga Pratama." Ucap Papa nya dengan serius, tapi di tanggapi oleh Daniel dengan Kekehan.


"Papa ini ada ada saja, Bayi yang di kandung istri ku pun belum keluar. Tapi Papa sudah memikir kan adik untuk dia." Ucap Daniel dengan kekehan nya.


"Iya nih, Fikiran nya udah terlalu jauh." Ucap Mama nya yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Kita kan harus memikir kan masa depan Ma." Jawab Papa nya.


"Udah udah, kok jadi serius gini sih. Papa kalau nanti cucu Papa yang pertama perempuan, Papa akan menyayangi nya kan?" Tanya Dinda yang kini bersuara.


"Tentu saja." Jawab nya dengan tegas.


"Kalau anak Dinda nanti laki laki, apa Papa akan menyayangi nya?" Tanya Dinda lagi.


"Tentu saja, apa lagi laki laki. Nanti dia bisa menjadi pewaris Pratama berikut nya." Ucap Papa nya.


"Ya udah nanti dinda akan memberi kan cucu pada Papa dua jenis kelamin." Ucap Dinda dengan santai membuat daniel yang sedang duduk di samping nya menyerit heran.


"Sayang emang kamu hamil anak kembar?" Tanya Daniel sambil menatap perut istri nya.


"Enggak Mas." Jawab Dinda dengan santai nya.


"Terus apa tadi maksud nya?" Tanya Daniel tak mengerti.


"Ya nanti kalau anak kita lahir, kita akan bikin lagi jenis kelamin lain nya." Jawab Dinda membuat Daniel melotot.


"Sayang kamu kok kayak Papa sih, pikiran nya udah terlalu jauh." Ucap Daniel dengan kesal.


"Ini hanya rencana aja mas." Ucap Dinda.


"Udah jangan bahas lagi itu, mending kita bahas nama yang cocok untuk anak dan cucu kita." Usul Mama nya membuat mereka bertiga setuju dengan usulan sang Mama.


"Bagaimana kalau nama nya Kenzo Pratama?" Usul Papa nya.


"Enggak ah,bagaimana kalau nama nya Kenzi Afshen Pratama?" Usul Daniel dan di sambut celengan dari semua orang.


"Bagaimana kalau nama nya Alaric Afshen Pratama?" Tanya dinda membuat ketiga nya terdiam.


"Bagaimana?" Tanya dinda lagi dengan perasaan cemas karena takut mereka tidak menyetujui nya.


"Nama yang bagus." Jawab mereka serentak membuat hati dinda yang tadi nya cemas menjadi lega.


"Baik lah, berarti nama anak dan cucu kita adalah Alaric Afshen Pratama." Ucap Daniel final.


"Ya udah sekarang kita istirahat, ini sudah jam sepuluh malam." Ucap Mama nya membubar kan seluruh anggota keluarga nya.


"Baik lah, Daniel dan Dinda ke kamar dulu ya. Good night." Pamit Daniel sebelum meninggal kan orang tua nya.


"Good night." Jawab Mama dan Papa nya.


Lalu mereka pun pergi ke kamar mereka masing masing.


Sesampai di kamar Daniel langsung membaring kan tubuh istri nya, sedang kan dia bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersih kan tubuh nya, setelah selesai dia pun berjalan menuju kasur nya dan membaring kan tubuh nya di dekat sang istri, lalu dia pun memeluk istri nya dari belakang, karena kalau memeluk nya dari depan daniel tidak bisa leluasa memeluk tubuh istri nya.