
Dinda membuka kunci ruang kerja nya Daniel dengan hati hati, setelah terbuka mereka bertiga pun masuk ke dalam ruang kerja Daniel. Dan mereka bisa melihat langsung Daniel yang tengah tertidur di meja kerja nya.
Dengan hati hati Dinda mulai menghampiri suami nya yang tengah tertidur pulas, saat sudah sampai di hadapan suami nya, Dinda pun sedikit membungkuk kan tubuh nya agar bisa lebih dekat lagi dengan suami nya.
Tepat pada telinga Daniel, Dinda dengan lembut berbisik membuat Daniel yang tadi nya tidur kini mulai mengerjap kan mata nya.
"Happy Birthday suami ku." Bisik Dinda.
Dengan mata nya setengah terbuka Daniel melihat istri nya tengah berdiri di hadapan nya, Mama dan Papa nya juga berdiri di belakang tubuh istri nya dengan membawa kue ulang tahun nya yang ketiga puluh tahun.
"Sayang." Panggil Daniel dengan suara khas bangun tidur nya.
"Ayo bangun, tiup lilin nya dulu." Ucap Dinda dengan lembut.
"Jadi pagi tadi itu cuma prank aja?"Tanya Daniel saat sudah mulai mengumpul kan nyawa nya.
"Iya." Jawab mereka serentak, dan membuat Daniel berdecak kesal.
Bagaimana tidak kesal? Dari tadi pagi dia di acuh kan oleh istri nya dan juga kedua orang tua nya. Daniel sempat berfikir apa dia melakukan kesalahan hingga orang tua nya dan juga istri nya mengacuh kan nya? Tapi saat sudah di ingat ingat kembali Daniel sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun.
Saat berkumpul pun Daniel di buat kesal oleh orang tua nya yang selalu saja memonopoli istri nya. Dan yang membuat nya tambah kesal adalah, istri nya yang selalu mendukung apa yang di kata kan Mama dan Papa nya.
"Ayo bangun, kita udah capek capek loh bikin kejutan buat kamu." Ucap Mama nya yang juga ikut bicara.
Dengan mata sedikit mengantuk akhir nya Daniel menghampiri Mama dan Papa nya, lalu dia meniup lilin pada kedua kue yang di bawa oleh Mama dan Papa nya.
"Make wish nya dong Mas." Perintah Dinda dan langsung di lakukan oleh Daniel.
Setelah selesai Daniel pun memotong kue dan memberikan nya pada Mama nya yang sudah mengandung sekaligus melahir kan nya. Potongan kedua, Daniel berikan pada Papa nya yang sudah memberikan nya begitu banyak pengetahuan dan juga orang yang sudah menafkahi diri nya sejak dia di dalam kandungan Mama nya.
Dan potongan terakhir Daniel berikan kepada istri tercinta nya yang sudah menemani nya kurang lebih dua tahun itu.
"Ini untuk mu yang sudah menemaniku kurang lebih dua tahun." Ucap Daniel sambil menyuap kan kue nya ke dalam mulut Dinda.
"Makasih Mas." Ucap Dinda.
"Seharus nya aku yang berterima kasih kepada kalian yang selalu ada di samping ku di saat saat aku terpuruk, terutama Daniel berterima kasih pada Papa nya selalu dukung aku di saat aku mulai menyerah dan untuk Mama yang selalu semangatin Daniel setiap hari, dan terakhir pada istri ku yang dua tahun terakhir selalu menemani ku di saat suka dan duka. Aku juga minta maaf kepada kalian bertiga, karena selalu merepot kan kalian bertiga dengan tingkah ku yang ke kanak kanakan." Ucap Daniel panjang lebar.
"Kamu tidak pernah merepot kan kami. Ya kan Mas, Din?" Tanya Mama nya pada menantu dan suami nya.
"Iya." Jawab mereka dengan kompak, dan itu lagi lagi membuat hati Daniel menghangat.
"Terima kasih semua nya." Mereka pun berpelukan berempat dengan penuh haru.
"Udah udah kenapa jadi melow begini sih." Ucap Mama nya yang selalu merusak suasana yang sedang bagus. Sedang kan yang lain hanya bisa menggeleng kan kepala mereka saat ibu negara merusak suasana haru nya.
Terutama Daniel yang mengumpat kesal pada Mama nya yang selalu merusak suasana nya. Sejak tadi dia mengumpul kan kata kata yang bagus untuk dia sampai kan. Tapi dengan santai nya Mama nya merusa suasana mereka yang tengah haru tersebut.
"Mama menyebal kan selalu saja merusak suasana." Ketus Daniel pada Mama nya yang kini dengan santai nya duduk di sofa ruang kerja nya.
"Kalian yang terlalu lebay sampai nangis gitu." Jawab nya dengan santai.
"Nama nya juga suasana haru." Timpal Papa nya.
"Haru sih haru tapi jangan terlalu kelamaan, nanti make up Mama cepat luntur dong." Ucap Mama nya membuat mereka melongo dengan jawaban yang di ucap kan Mama nya.
"Yang waras ngalah." Ucap Dinda, Daniel dan Papa nya dengan kompak, tapi membuat Mama nya menatap mereka tak suka karena dia tau kalau mereka mengira diri nya itu tidak waras.
"Kalian pikir Mama ini gak waras, begitu?" Tanya Mama nya tak terima.
"Ya." Jawab mereka dengan serentak, tapi membuat Mama nya berdecak kesal.
"Kalian semua menyebal kan." Ketus Mama nya sambil bersedekap dada. Sedang kan yang lain langsung tergelak dengan tingkah Mama nya.
"Tapi aku tidak menyebal kan Ma?" Tanya Dinda dengan wajah di buat imut sebaik mungkin.
"Tentu saja tidak." Jawab Mama nya sambil menghampiri menantu kesayangan nya dan memeluk nya.
"Aku juga tidak menyebal kan sayang?" Tanya Papa nya pada istri nya.
"Ya kamu memang tidak menyebal kan." Jawab Mama nya membuat suami nya tersenyum lebar, tapi hanya sesaat.
"Tapi sangat menyebal kan." Lanjut nya lagi membuat wajah suami nya yang tadi nya tersenyum lebar kini menjadi masam.
"Kamu menyebal kan sayang." Ketus Papa nya dan di hadiahi kekehan dari mereka bertiga.
"Ya itu lah Mama." Ucap Mama nya dengan bangga. Sedang kan yang lain hanya menggeleng kan kepala saja saat melihat Mama nya yang tampak bangga saat di sebut menyebal kan.
"Sayang kamu udah minum obat belum?" Tanya Papa nya dengan serius.
"Mas aku sudah bosan meminum obat terus." Keluh nya dengan wajah memelas.
"Tapi itu untuk kesehatan kamu sayang." Ucap Papa nya.
"Tapi aku sudah sangat bosan." Jawab nya.
"Kamu mau sehat gak?"Tanya Papa nya lagi.
"Ya mau lah, kamu pikir sakit itu enak apa." Gerutu Mama nya.
"Ya udah maka nya minum obat." Bujuk Papa nya membuat istri nya pasrah dan menuruti apa yang di katakan suami nya.
Jangan lupa vote, like, komen dan jangan lupa gift nya.