
Hatahari tampak sudah muncul di upuk timur, sinar nya menerangi pagi yang gelap dan menghangat kan tubuh manusia dan hewan yang sedang ke dinginan. Embun embung di atas dedaunan perlahan menghilang karena sinar nya.
Dua orang wanita beda generasi sedang sibuk dengan alat alat masak nya. Mereka adalah seorang menantu dan seorang mertua.
"Sayang bisa ambilin bawang di bawah gak ?" Tanya Mama daniel.
"Mana Ma ?" Tanya dinda sambil mencari bawang yang terjatuh tadi.
"Dekat kulkas sayang." Ucap Mama ny sambil menunjuk ke arah kulkas.
Dinda pun langsung melangkah menuju kulkas dan mengambil bawang tersebut.
"Mama sebaik nya udah aja, dinda gak tega liat Mama harus masak kayak gini." Ucap dinda yang tak enak kepada Mama mertua nya.
"Mama cuma mau bantu kamu aja sayang." Ucap Mama nya sambil mengulas senyum.
"Tapi bantu nya jangan yang capek capek ya." Ucap dinda.
" Iya."
Mereka pun kembali melanjut kan acara memasak nya, sedang fokus fokus nya tiba tiba saja ada tangan yang melilit di pinggang ramping dinda. Dinda pun membiar kan nya karena dia sudah tau siapa pelaku nya.
"Udah bangun." Ucap dinda sambil mengelus tangan suami nya yang berada di atas perut nya.
"Hmm."
"Mandi dulu sana." Perintah dinda dengan suara lembut.
"Mandiin." Jawab daniel dengan manja.
"Cih manja kayak anak kecil." Ucap Mama nya yang merasa geli dengan tingkah anak nya pada menantu nya.
"Biarin." Ucap daniel tak peduli mau di katakan seperti apa oleh Mama, yang penting dia senang gitu aja.
Sedang kan dinda hanya menggeleng kan kepala saja melihat mertua nya dan suami nya yang selalu berdebat dan memperebut kan sesuatu.
"Ya udah ayo, kata nya mau mandi." Ajak dinda sambil menjauh kan suami nya agar tidak terjadi perdebatan antara anak dan ibu.
"Iya." Daniel pun dengan semangat langsung membawa dinda ke lantai atas yang sudah tidak mereka tempati selama kehamilan dinda.
Sesampai nya di sana daniel langsung membuka seluruh pakaian nya dan langsung membawa dinda ke dalam kamar mandi.
Satu jam lebih mereka menghabis kan waktu di dalam kamar mandi. Akhir nya mereka keluar dengan daniel yang berwajah cerah bahkan senyum nya tak luntur dari bibir nya, sedang kan dinda hanya memasang wajah masam sambil mengerucutkan kan bibir nya lantaran kesal dengan suami nya itu.
"Sayang udah dong jangan ngambek." Bujuk daniel sambil menghampiri istri nya yang tengah mengering kan rambut nya.
"Mas mah kebiasaan banget." Ketus dinda.
"Ya maaf sayang, mas tadi gak tahan buat nyentuh kamu." Ucap daniel dengan raut wajah di buat buat menyesal, padahal dalam hati nya dia tersenyum puas karena bisa mendapat kan jatah dari istri nya.
"Alasan aja." Ketus dinda sambil meninggal kan suami nya di dalam kamar sendirian.
Daniel yang melihat istri nya keluar pun segera berlari menyusul istri nya.
"Sayang biar mas gendong ya." Ucap daniel sambil mengangkat tubuh istri nya dan menggendong nya melewati setiap tangga.
Dinda pun hanya mengalung kan tangan nya di leher kokoh suami nya, sedang kan mata nya sama sekali tidak melihat ke arah suami nya lantaran masih kesal dengan suami nya itu.
Sesampai di lantai bawah dinda langsung turun dan menghampiri mertua nya yang tampak sedang menunggu mereka untuk makan.
"Maaf Ma, dinda datang terlambat." Ucap dinda yang kini sudah duduk di samping mertua nya.
"Iya gak apa apa." Balas Mama nya sambil mengulas senyum.
"Kau ini, istri mu lagi hamil besar kenapa selalu di ajak nya main sih." Gerutu Mama nya kepada daniel.
"Ma kata dokter juga, kalau udah mau melahir kan di anjur kan sering sering melakukan nya." Ucap daniel tak mau di salah kan.
"Iya Mama tau, Tapi jangan sampai berjam jam dong." Ucap Mama.
"Iya nanti daniel main nya bakal sebentar." Ucap daniel mengalah.
"Udah udah, ayo kita makan nanti makanan nya keburu dingin." Ucap dinda menangani ibu dan anak tersebut.
Daniel dan Mama nya pun menurut saja.
Mereka pun makan dengan keadaan hening.
Setelah makan mereka pun berkumpul di ruang keluarga.
"Niel tolong ambil kan kue yang kita buat kemarin malam." Perintah Mama nya pada anak nya yang sedang menempel terus pada istri nya.
"Di mana ?" Tanya daniel menoleh ke arah Mama nya.
"Mama menyimpan nya di dapur." Ucap Mama nya.
Daniel pun mengambil kue yang di maksud Mama nya, setelah mendapat kan nya daniel pun membawa kue itu ke ruang keluarga.
"Nih." Daniel meletak kan kue itu di meja yang ada di ruang keluarga.
"Kemarin malam kamu udah nyicipin kue nya din ?" Tanya Mama nya sambil mengambil kue nya.
" Belum Ma." Jawab dinda yang juga ikut mencicipi kue buatan mereka.
"Kamu tidak mau mencicipi kue ini ?" Tanya Mama nya pada daniel.
" Enggak Ma." Ucap daniel dengan menggeleng kan kepala nya.
"Kenapa Mas ?" Tanya dinda yang bingung dengan suami nya.
"Lagi gak nafsu sayang." Ucap daniel yang sibuk mengelus perut istri nya.
"Biasa nya Mas suka sama kue." Ucap dinda.
"Iya mas suka, tapi sekarang lagi gak mau."Ucap daniel.
"Ouh iya Ma, Mama mau pulang kapan ?" Tanya daniel menatap Mama nya yang sedang menikmati kue nya.
"Ck, Kamu ini niel. Orang lain mah seneng di datangin Mama nya, Tapi kamu mah ngusir Mama terus." Ucap Mama nya yang jengah dengan pertanyaan anak nya.
"Iya, Semua orang mah seneng mas di datangin orang tua nya. Kamu mah malah ngusir Mama dari sini." Gerutu dinda yang juga ikut menimpali.
Sedang kan daniel langsung diam saat Mama dan istri nya telah berkata seperti itu.
"Kayak nya daniel gak seneng deh kalau Mama nya datang ke sini." Ucap Mama nya yang memulai drama nya.
"Bukan nya gitu Ma." Ucap daniel yang kikuk dengan ucapan Mama nya.
"Tapi kenyataan nya gitu." Ucap Mama nya.
"Udah lah Mas, Mama kan cuma mau nginap aja di sini bukan mau mencuri. Jadi bahas lagi kapan Mama pulang." Ucap Dinda menatap tajam ke arah suami nya, Sedang kan daniel lagi lagi di buat diam oleh istri nya. Mama nya yang melihat anak nya pasrah di hadapan istri nya hanya bisa berkekeh pelan.
Jangan lupa tinggal kan jejak dengan cara vote, like, komen dan jangan lupa gift nya.