
Malam hari nya di kediaman Daniel sudah tersaji banyak makanan yang tersedia di atas meja makan. Daniel dan Dinda tau siapa pelaku yang menyiap kan makanan sebanyak itu.
"Bibi, apa kah Bibi tidak capek menyiap kan ini semua?" Tanya Dinda pada Bibi nya yang sedang menyiap kan piring mereka.
"Tidak sayang, Bibi malah merasa senang karena bisa membuat makanan untuk cucu Bibi." Jawab Bibi nya dengan tersenyum lembut.
"Tapi ini gak bakal abis." Ucap Dinda yang tak yakin kalau makanan nya akan habis oleh mereka.
"Kalau gak abis semua, kita kasih aja ke ART yang ada di sini." Bukan Bibi nya yang menjawab melain kan Daniel yang sejak tadi diam.
"Baik lah." Dinda hanya bisa pasrah saja saat suami nya sudah angkat bicara.
"Kamu makan yang banyak, agar cucu Bibi tumbuh dengan sehat." Ucap Bibi nya sambil meletak kan lauk pauk di piring milik Dinda.
"Iya iya." Jawab Dinda dengan pasrah, karena dia sudah tau kalau nanti Bibi nya akan selalu memaksa nya untuk menambah kembali makanan nya.
"Anak pinter." Jawab Bibi nya sambil mengelus surai indah milik keponakan nya itu.
"Ck, aku bukan anak anak lagi Bi." Ucap Dinda dengan cemberut. Sedang kan yang lain hanya tertawa saat melihat wajah menggemas kan Dinda.
"Iya Bibi tau, sekarang kamu bukan lagi anak kecil. Tapi udah bisa membuat anak kecil." Jawab Bibi nya di iringi tawa keras dari mereka.
"Udah udah kalau begini terus kita mau kapan makan nya?" Ucap Paman nya yang sejak tadi diam menyimak perdebatan istri nya dan keponakan nya.
"Ya sekarang lah, Dinda udah gak sabar pengen makan masakan Bibi yang udah lama gak ngerasain rasa nya." Jawab Dinda dengan menatap binar makanan yang ada di hadapan nya.
"Berdoa dulu." Ucap Daniel, Bibi dan Paman nya Dinda dengan serentak membuat Dinda menyengir karena tidak ingat saking senang nya.
Mereka pun mulai makan setelah berdoa. Dinda yang tadi nya tidak yakin kalau masakan Bibi nya akan habis, kini dia yakin kalau masakan nya akan habis kerena diri nya sudah mengambil tiga kali nasi dalam waktu singkat.
Sedang kan yang lain hanya bisa menggeleng kan kepala mereka saja, saat melihat bumil begitu lahap dengan makanan nya. Mereka juga merasa bersyukur karena Dinda tidak mengalami mual dan kurang nafsu makan. Karena kalau Dinda mengalami semua itu, mereka bisa menebak kalau nanti Dinda akan memiliki tubuh kurus karena tidak ingin makan apapun.
"Sayang hati hati." Tegur Daniel yang melihat istri nya hampir tersedak dengan makanan nya.
"Iya Mas." Jawab Dinda dengan menyengir ke arah suami nya.
"Kata nya gak yakin kalau makanan nya gak akan abis." Ledek Bibi nya melihat keponakan nya yang menambah lagi nasi nya keempat kali nya.
"Hehehe, Abis nya enak sih masakan Bibi." Jawab Dinda dengan berkekeh pelan.
"Iya dong, masakan siapa lagi." Ucap Bibi nya dengan bangga.
"Cih sombong." Cibir mereka semua membuat Bibi nya tertawa keras karena sindiran mereka.
"Iyain aja lah." Ucap mereka dengan serentak kembali.
"Hahahahha." Dan akhir nya malam yang tadi nya dingin kini menghangat dengan ada nya kehadiran Bibi dan Paman nya Dinda.
Tanpa mereka sadari kalau mereka menghabis kan waktu mereka sampai jam menunjuk angka sepuluh malam.
"Ternyata sudah jam sepuluh, pantas saja mata Bibi begitu lengket ingin segera tidur."
"Ya udah mending kita terus kan lagi besok, sekarang waktu nya istirahat." Ucap Daniel sambil berdiri dan membantu istri nya juga untuk berdiri.
"Ya udah selamat malam Din, Niel." Ucap Bibi nya sebelum pergi ke kamar nya.
"Malam Bi." Jawab Daniel dan Dinda.
"Paman ke kamar duluan ya." Pamit Paman nya sambil mengelus rambut Dinda sekilas, karena kalau lama lama dia takut di terkam oleh singa jantan yang ada di samping keponakan nya.
"Iya Paman." Setelah itu mereka pun pergi ke kamar mereka masing masing untuk mengistirahat kan tubuh mereka.
"Mas, apa Mas besok akan pergi ke kantor?" Tanya Dinda yang kini sudah berbaring di atas kasur dalam pelukan suami nya.
"Enggak sayang, memang nya kenapa?" Tanya Daniel sambil mengelus perut buncit istri nya.
"Enggak, aku cuma nanya aja." Jawab Dinda membuat Daniel heran.
"Ngomong aja sayang." Ucap Daniel yang selalu peka dengan istri nya.
"Em, besok aku pengen jalan jalan Mas." Ucap Dinda dengan hati hati karena dia takut suami nya marah dan tidak menuruti keinginan nya.
"Jalan jalan kemana?" Tanya Daniel masih setia mengelus perut istri nya.
"Ke Mall atau ke mana gitu." Jawab Dinda.
"Ya udah nanti besok kita akan jalan jalan, tapi sekarang waktu nya istirahat." Perintah Daniel dan langsung di turuti oleh Dinda.
Daniel hanya bisa tersenyum saja saat melihat istri nya yang langsung menurut apa yang di perintah kan nya.
"Good nigth honey." Bisik Daniel sambil mencium kening dan bibir istri nya. Lalu Daniel pun menggeser kan tubuh nya agar sejajar dengan perut buncit istri nya.
"Selamat malam anak daddy." Bisik Daniel tepat di perut Dinda. Lalu Daniel pun mencium perut istri nya, setelah itu dia pun kembali dengan posisi nya dan mulai menutup mata nya untuk menyusul istri nya ke alam mimpi.
Jangan lupa tinggal kan jejak dengan cara vote, like, komen dan jangan lupa juga gift nya supaya author tambah semangat lagi🔥