
Hari sudah beranjak siang, tepat jam sembilan dinda dan daniel kini sudah rapih dengan pakaian nya, sedang kan Mama nya masih memakai daster karena baru bangun dari tidur nya.
"Dari pagi Mama yang paling bersemangat, kenapa sekarang waktu nya berangkat malah belum mengganti pakaian."Gerutu daniel sejak tadi membuat dinda yang sedang di duduk di samping nya hanya bisa menggeleng kan kepala saja.
"Mama kan baru bangun tidur mas." Ucap dinda menenangkan suami nya yang tampak kesal itu.
"Iya aku tau, tapi Mama nyebelin banget." Gerutu daniel lagi.
"Papa juga belum pulang kan dari kantor ?" Tanya dinda yang ingat akan Papa mertua nya yang belum kembali dari kantor.
"Papa gak jadi ikut kata nya, karena pekerjaan nya belum selesai di sana." Ucap daniel, sedang kan dinda hanya mengangguk kan kepala nya saja.
"Ayo kita berangkat." Sahut Mama nya yang baru saja datang dari arah kamar nya.
"Lama banget sih Ma." Ucap daniel dengan kesal.
"Ya kan Mama harus dandan dulu niel." Ucap Mama nya yang juga ikut kesal pada anak nya itu.
"Udah tua masih aja ganjen." Gerutu daniel di hadiahi cubitan maut dari Mama nya.
"Mama gak ganjen ya."Ketus Mama sambil mencubit pinggang anak nya.
"Aww Ma sakit.." Rintih daniel minta di lepas kan.
"Maka nya jangan suka ngomong Mama ganjen." Ucap Mama nya sambil menarik tangan nya dari pinggang anak nya itu.
"Iya maaf." Ucap daniel dengan mengusap pinggang nya yang tampak merah.
"Sakit gak ?" Tanya dinda yang juga ikut mengelus pinggang suami nya.
"Sakit sayang." Rengek daniel pada istri nya.
"Maka nya jangan cari masalah sama Mama." Ucap dinda dengan setia mengusap pinggang suami nya.
"Mama duluan sayang." Ucap daniel yang tak mau di salah kan oleh istri nya.
"Apaan kamu, orang kamu yang duluan." Ucap Mama nya tak terima dengan ucapan anak nya itu.
"Udah udah jangan debat mulu, ini kapan kita akan berangkat nya?" Tanya dinda sambil menenang kan suami nya dan Mama mertua nya.
"Sekarang." Jawab daniel dan Mama nya dengan kompak.
"Ya udah tunggu apa lagi, sekarang kita berangkat." Ajak dinda sambil mengambil tas nya yang di letak kan di sofa.
Mereka bertiga pun pergi menggunakan satu mobil milik daniel yang jarang mereka pakai.
"Kau ini punya mobil banyak tapi, yang di pakai hanya yang berwarna hitam saja." Gerutu Mama nya yang selalu melihat anak nya selalu memakai mobil warna hitam kesayangan nya.
"Aku sangat menyayangi mobil itu Ma, jadi aku pakai terus sampai sekarang." Ucap daniel sambil fokus menyetir.
"Lalu sekarang kenapa gak pakai mobil itu?" Tanya Mama nya, karena kini daniel tidak memakai mobil kesayangan nya tapi mobil yang dia beli waktu dia pergi ke itali.
"Mobil nya ada di bengkel Ma." Jawab daniel.
"Itu satu satu nya kenangan yang aku punya Ma." Ucap daniel yang juga kesal pada Mama nya yang selalu memaksa nya mengganti mobil nya. Pada hal itu adalah mobil pemberian kakek nya yang terakhir kali nya.
"Terserah kau saja lah." Ucap Mama nya hanya bisa pasrah saja melihat anak nya begitu keras kepala bila bersangkutan dengan kakek kesayangan nya. Dinda yang duduk di samping suami nya hanya diam saja dan mendengar kan perdebatan antara anak dan ibu.
Tak terasa mobil yang di kendarai oleh Daniel sampai di rumah sakit langgangan nya.
Mereka pun turun dari mobil lalu masuk ke dalam rumah sakit itu, sesampai nya di ruangan tempat yang akan memeriksa dinda, mereka pun nenyapa terlebih dulu dokter yang bekerja di sana. Setelah selesai dinda pun mulai di periksa dari tekanan darah dan lain lain. Setelah selesai kini waktu nya di USG, Mama dan daniel begitu antusias melihat baby yang di kandung oleh dinda.
"Sayang lihat itu bayi mirip banget kayak aku muka nya." Ucap daniel dengan pede nya.
"Kata siapa, itu muka nya mirip sama dinda." Ucap Mama nya yang ingin menjahili anak nya.
"Sayang coba kamu lihat deh, itu muka nya kayak aku ya." Ucap daniel meminta pembelaan dari istri nya.
"Iya mas." Ucap dinda dengan mengulas senyum.
"Tuh denger Ma, anak aku mirip sama aku." Ucap daniel pada Mama nya.
"Iya iya."
"Tapi bibir nya kayak dinda." Ucap Mama nya yang melihat bibir baby nya yang tampak seperti menantu nya.
"Iya Ma, tapi hidung dan alis nya kayak aku." Ucap daniel.
"Emang nya alis kelihatan?" Ledek Mama nya.
"Enggak sih." Ucap daniel dengan menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.
Sedang kan dinda dan para dokter yang ada di sana hanga bisa menggeleng kan kepala saja melihat anak dan ibu itu.
Setelah selesai dengan pemeriksaan nya, mereka pun keluar dari rumah sakit dan langsung pergi menuju rumah nya karena dinda yang kini hamil besar selalu cepat kelelahan, jadi daniel langsung membawa nya pulang karena dia tidak ingin istri nya kekurangan istirahat nya.
"Sayang kamu langsung tidur aja ya." Ucap daniel sambil menyelimuti tubuh istri nya.
"Mas mau kemana ?" Tanya dinda membuka kembali mata nya.
"Mas mau ke ruang kerja dulu." Jawab daniel sambil mencium kening istri nya sebelum pergi.
"Jangan lama lama." Ucap dinda.
"Iya." Setelah itu daniel meninggal kan istri nya yang akan istirahat dan pergi menuju ruang kerja nya untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang di kirim oleh Raka sang asisten.
Sesampai nya di sana daniel langsung buru buru mengerja kan pejerjaan nya karena dia tidak ingin meninggal kan istri nya terlalu lama di dalam kamar, dia takut dinda akan membutuh kan sesuatu nanti nya. Setelah selesai daniel pun melangkah kembali meninggal kan ruang kerja nya dan pergi menuju kamar nya, saat melewati ruang keliarga daniel melihat Mama nya tampak sedang bersantai dan sedang memakan cemilan kesukaan nya. daniel pun tak ambil pusing dengan kelakuaan mama nya itu, dia memilih untuk segera sampai di kamar nya dan dia sudah tidak sabar ingij memeluk tubuh istri nya.
Sedang kan Mama nya daniel sedang bersantai ria di ruang keluarga dengan makanan di tangan nya.
Dia juga sedang menunggu suami nya yang kata nya akan menjemput nya entah kapan?.
Jangan lupa tinggal kan jejak dengan cara vote, like, komen dan jangan lupa juga gift nya.