
Hari berlalu hari, tak terasa kandungan dinda sudah memasuki usia ke empat bulan, dalam empat bulan daniel di buat pusing tujuh keliling dengan tingkah dinda yang ada tingkah nya.
Tapi daniel juga menikmati momen tersebut, karena nanti dia pasti kangen dengan momen di mana dinda ingin ini itu.
Hari ini rencana nya daniel dan dinda akan pergi periksa.
" Mas nanti kalau pulang dari rumah sakit kita mampir dulu ke super market. " Ucap dinda yang kini sudah duduk di kursi mobil bersama suami nya untuk menuju rumah sakit.
" Mau beli apa yank ?" Tanya daniel sambil menoleh sekilas pada istri nya.
" Aku mau beli sesuatu mas " Ucap dinda dengan wajah semangat, tapi berbeda dengan reaksi daniel yang menatap istri nya curiga, dia tau pasti dinda akan membeli sesuatu yang aneh di supermarket.
" Beli apa yank ?" Tanya daniel sambil menjalan kan mobil nya.
" Ihh, nanti aja di sana kamu liat nya " Ucap dinda dengan senyum manis nya, dan senyuman itu semakin membuat daniel yakin kalau istri nya akan membuat ulah lagi.
" Jangan aneh aneh deng yank " Ucap daniel yang kini fokus menyetir.
" Ihh, aneh aneh gimana maksud mas ?" Ketus dinda.
" Pasti kamu mau beli barang barang aneh lagi kan ?" Tanya daniel.
" Enggak kok, mas aja yang udah sok tau " Ucap dinda dengan ketus.
" Bukan nya sok tau sayang, tapi itu emang udah jadi kebiasaan kamu beli yang aneh aneh" Ucap daniel membela diri nya sendiri.
" Ouh jadi yang kemarin kemarin aku beli barang yang aneh aneh, Begitu ?" Tanya dinda dengan emosi karena tak terima di sebut membeli barang barang aneh.
" Enggak kok, barang yang kemarin gak aneh " Ucap daniel mengalah.
" Terus apa maksud nya tadi, mas ngomong kalau aku beli barang aneh ?"
" Gak maksud apa apa " Daniel memilih mengalah saja karena takut membuat mood Bumil rusak kembali.
Tak terasa mobil yang di kendari oleh daniel sampai di parkiran rumah sakit, mereka pun turun dan mulai memasuki ke dalam rumah sakit itu.
" Selamat pagi bu dinda, pak daniel " Sapa dokter Nia yang sudah ada di depan untuk menyambut pasangan tersebut.
" Pagi Juga " Balas dinda mengulas senyum ramah, sedangkan daniel hanya mengangguk saja dengan wajah dingin dan datar.
" Mari bu, pak " Dokter Nia, dinda dan daniel pun melangkah menuju ruangan tempat memeriksa kandungan.
Sesampai di sana dinda mulai di periksa dari tekanan darah dan sebagai nya, Saat di USG dinda dan daniel sangat antusias melihat perkembangan anak mereka.
" Sayang lihat itu anak kita " Daniel sangat terharu bahkan dia terus saja mengecupi seluruh wajah istri nya dan tangan istri nya yang dia genggam.
" Iya mas " Dinda juga sangat terharu melihat nya.
" Bapak, ibu apa kalian mau melihat jenis kelamin bayi nya ?" Tanya dokter merusak suasana pasangan suami istri yang tengah haru itu.
"Tidak dok "
Dinda dan daniel berucap barengan, sedangkan dokter Nia bingung dengan jawaban suami istri yang berbeda.
" Loh Mas kenapa enggak ?" Tanya dinda heran, karena tadi yang menyebut tidak ingin melihat kelamin anak mereka.
" Sayang, Jenis kelamin nya nanti aja biar jadi kejutan " Ucap daniel.
" Tapi aku ingin melihat jenis kelamin nya mas, karena nanti kalau kita akan beli baju jadi tidak bingung." Ucap dinda.
" Sayang, kalau beli baju itu gampang. Kita cari aja baju yang warna nya netral dengan pakaian laki laki dan perempuan " Ucap daniel.
" Baik lah " Dinda pun hanya bisa pasrah saja mendengar ucapan suami nya, dia tidak ingin jadi istri yang durhaka terhadap suami.
" Baiklah semua nya baik baik saja dan tidak ada masalah, Ibu kalau emosi harus di kontrol ya, karena kalau tidak di kontrol akan mengakibat kan pada kandungan ibu, lalu pola makan nya juga harus di kontrol supaya tidak membahaya kan kandungan ibu " Dokter Nia pun menjelas kan secara detail sedangkan dinda hanya mengangguk ngangguk saja, berbeda dengan daniel yang sedang sibuk melihat hasil USG nya tadi tanpa mendengar kan penjelasan dokter Nia.
" Ya udah kalau begitu saya dan suami saya pamit dulu " Setelah mendengar semua nasehat dokter dinda dan daniel pun meminta izin untuk pulang.
" Silahkan bu, pak " Setelah itu daniel pun meninggal kan dokter Nia di ruangan itu dan menuju mobil mereka yang terparkir rapih.
" Mas jadi kan nganterin aku ke supermarker ?" Tanya dinda yang sudah duduk di mobil nya.
" Jadi sayang " Jawab daniel dengan lesu, dia kira dinda sudah lupa dengan keinginan nya itu, tapi ternyata dia salah dinda masih ingat dengan ke inginan nya.
Sesampai di supermarket dinda langsung keluar dari mobil dan masuk ke supermarket karena tidak sabar ingin membeli sesuatu.
" Sayang hati hati, jangan lari nanti jatuh " Tegur daniel dengan suara agak keras karena jarak dinda dan daniel cukup jauh.
" Tidak akan mas " Teriak dinda.
Daniel pun mengejar istri nya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam supermarket.
" Sayang kamu mau beli apa sebenar nya ?" Tanya daniel saat sudah ada di samping istri nya.
" Bentar mas aku lagi mencari nya " Balas dinda yang masih sibuk mencari sesuatu.
" Sayang sudah lah jangan beli yang aneh aneh " Ucap daniel masih dengan mengekori dinda.
" Kau bawel banget sih mas, Udah kayak ibu ibu komplek saja " Gerutu dinda sambil terus mencari apa yang di ingin kan nya.
" Nah ketemu " Teriak dinda sampai membuat beberapa orang di sana melihat ke arah nya.
" Apa sa-- " Daniel tidak melanjut kan ucapan nya karena kaget melihat barang nya sedang di pegang oleh istri nya sekaligus barang yang di ingin kan istri nya.
" Kon-dom " Lirih daniel.
Jangan lupa vote, like, komen dan jangan lupa hadiah nya juga.