
Nampak seorang lelaki dengan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya membela padatnya bandara. Pesawat baru landing beberapa saat lalu dan kini dia sedang menyeret koper di kawasan bandara. Dia, Calix Keiran Ragaswara.
"I'm back, my girl."
Calix sumringah tak jelas membayangkan bagaimana reaksi gadisnya ketika mengetahui kedatangannya yang mendadak ini. Tiga hari dia liburan di Australia.
Niat awalnya, Calix akan menetap disana untuk memulihkan diri sekaligus melanjutkan pendidikan. Namun, kehadiran Hazel di bandara tempo hari membuatnya jadi mengurungkan rencana.
Sebenarnya, Calix tidak ingin pergi lagi di hari itu, sayangnya tiket yang dibelikan Ayahnya tidak boleh rugi. Apalagi, Kakek dan Neneknya sudah menunggu di sana. Setidaknya ia memunculkan muka di sana.
Calix memanfaatkan waktu skorsing untuk liburan di Australia. Dan hari ini dia memutuskan pulang, tak bisa lagi menahan rasa rindunya pada Hazel, gadisnya. Sengaja dia tidak memberitahukan Hazel agar kepulangannya menjadi kejutan.
"Calix? Kau mau kemana? Kau baru saja sampai, istirahat lah sebentar." Komentar Ruby yang melihat Calix memutar-mutar kunci mobilnya di jarinya. Belum lama perasaan Putranya ini tiba di mansion.
"Gak bisa Mih! Calix ada urusan!"
Setelah membawa barang-barang bawaannya ke mansion, tanpa berlama-lama dia berlalu menaiki mobilnya, Calix singgah di tokoh bunga dan mampir sebentar ke Alfamart untuk membeli sesuatu.
Lalu pada akhirnya di sini dia berada sekarang. Di depan gerbang, menunggu warga sekolah pulang. Anak-anak sekolah berhamburan keluar, tapi yang ditunggunya belum memunculkan diri.
Sepuluh menit telah berlalu, Calix mulai resah. Apalagi kawasan sekolah sudah sepi. Sekali lagi dia memeriksa arloji yang melingkar dipergelangan tangannya. "Apa hari ini dia gak masuk?" Monolognya.
Tak butuh waktu lama datanglah Lia dengan napas yang sedikit ngos-ngosan, dia berlari entah dari mana. "Calix!! Haze!! Hazel!!"
"Tenang! Tenang dulu baru bicara, lo gak jelas bicaranya kalo kaya gini. Hazel kenapa?!"
Menarik kemudian membuang napasnya secara teratur guna mengoptimalkan oksigen disekitarnya, barulah Lia berturur. "Hazel dalam bahaya!! Dia di rundung sama Chelsea dan anteknya di belakang sekolah!!"
"Shiit!!" Langsung saja Calix berlari sekuat tenaga dari sana menuju belakang sekolah, Pak Satpam yang melarangnya saja dirinya abaikan begitu saja.
"HAZEL?!!" Panik menyerangnya saat tiba di lokasi kejadian. Bahkan bunga dan cokelat terlepas dari genggamannya sehingga berakhir jatuh mengenaskan ke tanah. Calix berlari kearah Hazel yang di ikat di pohon.
"Kalian apakan, Hazel?!" Terburu-buru dia melepas ikatan yang membelenggu tubuhnya, Hazel terhuyung dan masuk kedalam pelukannya. Agaknya gadis itu kehilangan kesadaran.
"Kalian telah melakukan apa pada kesayangan gue hingga dia jadi seperti ini?!"
"Hazel, hey bangun!!"
Calix menepuk-nepuk pipi Hazel berharap kelopak matanya dapat terbuka. Tepukan demi tepukan yang dia lancarkan di wajah kekasihnya tak kunjung membawa hilal jiwa Hazel keluar kepermukaan, sisi kepalanya Hazel otomatis tersandar di dada bidangnya saat dia memeluk kepala Hazel.
Seharusnya sekarang dia segera melarikan Hazel ke rumah sakit, tapi saking panik dan takutnya, dia tidak tahu mesti melakukan apa di situasi ini dan jadi membuang-buang waktu. Calix mengerang frustasi.
"Arghhh! Bangsat kalian bangsat! Kalo sampai terjadi apa-apa dengan Hazel, riwayat kalian akan tamat! Gue gak akan tinggal diam! Gue jamin, orang tua kalian akan kehilangan pekerjaan! Siap-siap saja orang tua kalian akan jadi pengangguran!" Sarkasnya menggebu-gebu, tentunya di tujukan untuk Chelsea dan Megan. Dan lihatlah, mereka berdua pias di tempat.
Setelah akhirnya Calix beralih menggendong Hazel ala bridal style membawanya pergi dari sana menuju rumah sakit.
...*****...
Berulang kali Hazel menepuk pipinya sendiri ketika baru siuman dari pingsan. "Gak-gak! Ini pasti mimpi, gak mungkin Calix di sini!" Gumamnya.
"Hazel? Lo kenapa?" Calix mengambil tangannya agar berhenti menyakiti dirinya sendiri.
"Kayaknya gue udah gila! Lo cuma ilusikan?! Pergi lo! Gak mungkin Calix di sini! Dia sedang di Australia! Iya! Calix di sisi gue sekarang pasti hanya ilusi gue!!"
"Ilusi?" Calix membeo tak mengerti. "Hey! Ini gue, Calix.."
Sekali lagi Hazel menepuk pipinya dan kali ini dua kali lipat lebih kuat sehingga dia dapat merasakan pipinya yang berdenyut panas. "Sshh Sakit.. berarti ini bukan ilusi?! Kenapa lo bisa ada di sini?! Sejak kapan lo pulang?!"
Calix melayangkan senyum. Mengacak-acak pucuk kepala Hazel gemas sendiri melihat reaksinya yang cenderung terbilang shock dari pada senang melihat ke pulangnya yang mendadak ini.
"Gue sampe tadi siang. Maaf ya? Gue telat menolong lo, gue memang pacar yang gak becus jagain lo. Sepertinya keputusan gue untuk gak menetap di Australi keputusan yang tepat. Gue gak tahu apa yang akan terjadi kalo gue gak pulang, mereka akan membullyng lo habis-habisan setiap saat. Lo tenang aja, akan gue pastikan mereka membayar berlipat ganda perbuatan mereka hari ini."
Mata Hazel memanas, tidak sedih tapi dia terlalu bahagia sampai ingin menangis. "Lo gak akan pergi lagi kan..?" Lirihnya bangkit dengan perlahan di brangkar. "Lo tetap akan di sini kan..?"
"Hug.."
"Umm?" Calix cengo, masa iya Hazel yang meminta peluk duluan?
"Hug me.. Gue--gue terlalu bahagia sampe--pengen nangis.. Peluk gue, biar gak nangis.."
Mengabulkan permintaan Hazel, Calix meraih tubuh Hazel untuk masuk kedalam dekapan hangatnya. "Sepertinya rindu gue gak bertepuk sebelah tangan?"
"Gak gue gak rindu. Cuma kangen."
"Lah? Bukannya sama?"
"Beda kalimat."
"Iyain aja deh, gue gak mau merusak momen melepas rindu ini."
Cukup lama mereka berdua enggan mengurai pelukan. Sepersekian menit kemudian setelah puas menuntaskan rindu yang terpendam barulah mereka melepas rengkuhan.
"Hukum gue, Hazel."
Kedua alis Hazel bertaut bingung. "Hukum? Kenapa? Lo kan gak salah."
"Gue salah.. Gue banyak salah sama lo.. Kalo di pikir-pikir kesalahan gue yang dulu, belum mendapat sanksi dari pacar gue ini.." Calix mencubit sekilas sebelah pipi Hazel.
"Boleh?"
"Humm?"
"Gue memberi hukuman sama lo?"
"Ah i-iya.."
Padahal dia yang memberinya usulan, tetapi dia juga yang ketar-ketir, bahkan sampai meneguk salivanya susah payah. Calix takut, Hazel akan memberinya sanksi yang melebihi prediksi BMKG.
Kian tegang melanda Calix saat Hazel membawa telapak tangannya dan detik berikutnya dia merintih pelan merasakan sensasi gigi tajam Hazel menancap sempurna di pergelangan tangannya.
"Sssh..."
"Sakit?" Tanya Hazel polos selepas memberikan beberapa bekas gigitan hingga membekas.
"Gak sayang.. enak banget ini, sumpah gak sakit." Calix hanya bisa tersenyum palsu. Tak sakit apanya?!!
"Lo bisa balas."
"Hah?" Calix tercengang, mana tega dia melukai tangan mungil dan mulus gadisnya ini?!
Berkedip-kedip Calix menatap pergelangan tangan Hazel yang terulur kearahnya, pandangannya lalu berpindah kearah wajah Hazel yang memejamkan mata gugup.
"Buruan! Sebelum gue berubah pikiran."
Hazel sudah siap dengan kemungkinan pergelangan tangannya yang akan menjadi daging dadakan oleh Calix. Namun, bukannya gigitan yang mendarat di sana, melainkan ciuman.
Hazel reflek membuka mata, menemukan Calix yang sedang menggulir bibir lembutnya dari pergelangan tangan sampai di punggung sekaligus telapak tangannya.
"Calix?!! Apa yang lo lakukan?!" Menarik tangannya kasar, wajah Hazel bersemu, rona disana tidak dapat dia tutupi. "Gue suruh gigit bukan cium!!"
Garis Smirk terukir jelas pada Calix. "Dari pada sakit? Mending gue cium kan? Tubuh gadisnya gue gak lecet sedikitpun."
*****