
Tatapan Hazel terlihat kosong menerawang kedepan, berbagai macam perihal yang terjebak dalam kepala, Hazel sampai merasa tidak bisa menyuarakan seluruh beban pikirannya.
Terhenyak renungannya ketika Kyra tiba-tiba mengambil posisi duduk disisinya, mereka sedang berada di tangga penghubung, Hazel hanya mencari kedamaian hatinya disini.
"Lucu banget."
"Humm?"
"Beberapa hari yang lalu gue pesan ojek lewat online, dan lo tahu? Siapa yang menjadi tukang ojek saat itu?" Mereka berdua beradu pandang, Hazel tidak mengerti mengapa Kyra menceritakan hal konyol yang tidak penting baginya, bodohnya Hazel malah menunggu kalimat Kyra berikutnya.
"Calix. Dia, jadi tukang ojek." Hazel menampilkan ekspresi tidak percayanya. Bukannya ini berita besar?
"Really?" Tanyanya memastikan mendapat anggukan dari Kyra.
"Terus terang, gue disitu ngakak brutal sekaligus terheran-heran gak percaya. Kek--sumpah demi apa?! Seorang Calix Keiran Ragaswara jadi tukang ojek?!"
Antara percaya tidak percaya, ada satu hal yang muncul dalam otak Hazel, berarti tempo hari dia melihat Calix membonceng Kyra dibelakangnya karena dia mengambil jasa yang bergerak di bidang transportasi. Lantas, hal apa yang membangkitkan semangat juang Calix hingga rela jadi tukang ojek?
"Dia juga minta bantuan ke gue untuk membantunya memilihkan cincin dan bunga yang bagus buat lo berhubung gue temen yang paling deket sama lo. Jadi, gue--suka rela membantunya, sekalian membantunya mendekorasi ruang aula, dia bahkan bertengkar dengan kepala sekolah saat meminta izin menggunakan ruangan aula."
'Jadi karena itu?' Hazel hanya berkata-kata dalam hati.
"Pada awalnya--gue kira, dia hanya main-main sama lo, Zel. Jujur, dulu gue juga menentang keras lo pacaran sama dia. Tapi--setelah lihat perjuangan dia belakangan ini, jiwa gue jadi tergerak untuk mendukung hubungan kalian berdua."
Ada jeda tiga menit sebelum akhirnya Kyra kembali membuka suara. "Seharusnya, lo dengarkan dulu penjelasannya. Jangan asal langsung menyimpulkan. Mungkin, dibalik itu, ucapannya enggak bener-bener dari lubuk hatinya, atau sebelum itu, dia masih belum menyadari perasaannya sama lo."
"Lagi, dia kayaknya sudah berubah semenjak dengan lo. Udah kurang deket sama cewek, atau mungkin masih, tapi paling enggak dia sudah gak se-playboy seperti sebelum dengan lo."
Hazel menghela napas kasar. Dia sungguh lelah, lelah dengan keadaan. Lelaki yang dia anggap mungkin akan menjadi tempatnya bersandar sementara dirinya sungkan bercerita pada keluarganya sendiri, rupa-rupanya hanyalah luka lain yang berbaur dalam lautan luka.
Sayapnya sudah patah sebelah sedari lama. Lalu, apakah mungkin sayapnya yang kedua akan dipatahkan lagi? Dia akan terbang tanpa sayap, bagaimana caranya? Dia tidak tahu entah mengobati lukanya dari sisi mana dulu.
"Lo salah Ky. Gue bisa mentolerir kelakuannya yang doyan gonta-ganti cewek, gue bisa memaklumi sikapnya yang playboy, karena sejatinya, itu adalah kebiasaannya yang sudah mendarah daging. Kami memiliki sebuah status sederhana yang mengikat, bukan berarti gue ada hak melarangnya ini itu, dia bebas melakukan apa saja yang dia mau."
"Tapi, beda lagi ceritanya kalo sudah menyangkut harga diri. Ucapannya di rekaman itu--seakan menginjak-injak harga diri gue sebagai perempuan. Iya gue sadar, gue emang gak seberharga itu, gak seharusnya gue terluka mendengarnya. Karena gue juga udah gak memiliki kehormatan."
"Tapi, kalo hanya untuk main-main agar mendapatkan keinginannya, kenapa dia harus memainkan drama seolah-olah perasaannya nyata. Dia benar-benar jahat. Sakit banget tahu gak?"
Menunduk lah kepalanya. Dia tidak ingin menangis, namun air matanya mengkhianati, tanpa mengeluarkan isak tangis, hanya bahunya yang tampak bergetar menandakan jika dia sedang menangis tanpa suara.
Kya hanya bisa menepuk-nepuk pelan punggungnya memberi kekuatan. Dia tidak tahu cara menghibur orang yang sedang patah hati.
Sedang, di undakan tangga paling pertama, berada di belakang mereka, tanpa ada siapapun diantara mereka berdua menyadari, ada seorang laki-laki disana, menghunus mereka dengan kilat amarah selaras dengan kepalan tangannya yang menonjolkan urat-urat tangannya. "Tunggu aja lo Ky.."
...*****...
"Sakit banget bangsaat!"
Menepuk-nepuk dadanya kencang berharap gumpalan yang menghambat rongga dadanya dapat berkurang, Calix kemudian melampiaskan api yang membara dalam jiwanya melalui tendangan kakinya beradu di udara, dia sedang duduk bersandar di pembatas rooftop dalam batin dan logika yang berkecamuk hebat.
Dari arah pintu rooftop, Lia hadir menyambangi atap. Memberanikan diri berjalan mendekati Calix, dia duduk disisinya agak ragu sebenarnya.
Calix sadar akan kedatangannya, akan tetapi memilih tidak menghiraukan, hanya kehancuran yang memonopoli jiwanya. Tidak apa, dia akan menikmati rasa sakitnya, ini adalah konsekuensi yang dia tuai atas kata-kata bejaatnya.
"Tadi--Hazel marah sama aku. Sampai-sampai lempar kacamataku hingga retak." Lia menjadi pihak pertama membuka pembicaraan.
Calix terkekeh hampa mendengar Lia menyuarakan isi pikirannya. Dia mendongak, entah ingin melihat cerahnya nabastala siang ini tidak singkron dengan suasana hatinya yang sedang kelam atau menahan air matanya agar tidak tumpah saat ini.
"Dia--galak banget kan?" Lirihnya sekuat hati menahan tangis. "Cewek sederhana, badan pendek seperti jamur, otak lemot, galak, doyan marah-marah, suka ngegas. Tapi anehnya, dimata gue he always looks cute and adorable."
"Maaf. Aku menjadi salah satu penyebab pisahnya kalian berdua."
"Humm?" Calix meletakkan sisi wajahnya di atas lututnya yang terangkat, membidikkan pandangannya pada Lia yang ada disebelahnya. Lia juga sama, menoleh padanya.
"Bukan salah lo. Gue yang cium lo duluan. Kalo ada yang disalahkan, semuanya murni salah gue. Ini mungkin--karma atas perilaku gue yang sewenang-wenang mainin cewek selama ini. Sekarang, gue lagi yang berada di fase terluka atas kehilangan seorang gadis yang menjadi satu-satunya bisa menembus dalam hati gue."
"Kamu--benar-benar suka dengan Hazel?" Bukan hanya Calix yang terluka disini, Lia juga sama terlukanya.
"Bahkan sekali pun Hazel nyuruh gue sampe sejuta kali bilang suka sama dia, gue akan melakukan itu seumpama dia berikan gue kesempatan sekali lagi."
"Gue sayang banget sama dia arghhh!" Mengacak-acak rambutnya gusar, Calix terlihat kacau balau dan frustasi, dia baru sadar bahwa pengaruh Hazel dalam hidupnya sebesar ini.
"Menjadi pelaku utama yang menyebabkan dia koma sampai setahun lamanya, kini sekali lagi, gue melukai gadis kecil itu, padahal dia sudah hidup penuh trauma dimasa lalu.. gue bajiingan banget!!" Seandainya dulu dia tidak kabur, seandainya dulu dia bertanggung jawab, mungkin dia tidak akan merasa sebersalah ini.
"Gue berharap, rasa ini bisa pudar dengan sendirinya dan gue bisa melupakan dia secepatnya." Gumamnya lagi penuh harap. Cukup sekali ini saja dia jatuh cinta, selanjutnya dia tidak akan pernah pakai perasaan lagi jika soal perempuan.
Berhubung hubungan mereka sudah benar-benar rusak tak tertolong lagi, dia tidak akan memperbaiki ini, biarkan perpisahan yang merenggut kebersamaan mereka. Kerikil sepertinya tidak layak berdampingan dengan berlian seperti Hazel.
Dia cukup sadar diri, dia harus menjauh, jauh sejauh-jauhnya dari pandangan Hazel agar perempuan itu bisa bahagia dengan orang lain. Mulai hari ini, Calix akan berusaha tidak terlalu sering memunculkan wujudnya diruang lingkup pandangan Hazel, akan dia hindari sebisa mungkin.
"Sebenarnya kedatangan aku disini pengen ngomong sesuatu sama Calix.."
Calix kembali menyandarkan lemah belakang kepalanya di pembatas rooftop. Menyipit dirinya saat silau langit memasuki kornea matanya. "Ngomong aja. Tapi jangan mengharapkan tanggapan yang lebih jauh dari gue, karena keadaan hati gue sekarang lagi gak baik-baik saja."
Tidak tinggal diam, dua tangan Lia saling bertaut tegang, suhu tangannya mendingin dalam seketika. "Sebenarnya---yang dorong Hazel waktu di kolam adalah aku." Lia mengakui dirinya salah, karena melakukan tindakan tak terpuji secara sadar dan sengaja hanya berdasarkan rasa iri.
Dia iri pada Hazel, bisa diprioritaskan oleh Calix. Sedangkan dirinya, dipermainkan oleh Calix dengan semena-mena tanpa peduli akan perasaan yang dia miliki akibat sikapnya yang manis.
Hening. Hanya ada kicauan burung dan hiruk-pikuk dibawah sana yang memecahkan suasana. Berselang dua menit, nada suara dingin dan pelan, akan tetapi sangat mendominasi terdengar. "Enyahlah."
"Humm?"
"Enyah dari sini." Calix enggan menatap lawan bicaranya. Andai kata manusia disampingnya ini segender dengannya, dijamin sekarang mungkin mereka sudah bergelut dengan sengit.
"A-aku hanya mau minta maaf. Hazel gak mau mendengarkanku. Jadi, aku minta maaf melalui kamu, sampaikan ke Hazel aku--"
"Budeg?! Gua udah bilang, enyah dari sini sebelum gue bertindak melewati batas. Lo, cewek. Gue gak mau nanti lepas kendali dan berakhir memukul lo disini." Tekannya dalam. Sekali lagi gadis ini tidak menurut, Calix tidak tahu apa konsekuensi yang terjadi selanjutnya.
"A-ah i-iya. Aku permisi kalo gitu." Tergagap Lia, tergesa-gesa dia beranjak dari tempatnya meninggalkan atap. Setelah kepergian dirinya, Calix meninju lantai rooftop membabi buta menyalurkan emosinya yang menggebu-gebu.
"Arghhhhhh!!!"
...*****...
"Janji gak nangis?!"
Kepala Calix menegak mendengar ejekan demi ejekan yang dilayangkan oleh Candra. "Ngapain nangis cuma gara-gara cewek? Norak!"
"Ah yang bener..? Terus itu apa dimata lo bro?! Air dari sumbernya? Kok berkaca-kaca?"
Candra mencebikkan bibirnya tidak ada ujungnya mencibir Calix, dia ingin tertawa sekencang-kencangnya, Calix benar-benar mendapat azab atas ulahnya sendiri. Dari tadi dia hanya menenggelamkan wajahnya di lipatan tangannya.
"Ah ini?" Calix mengucek-ngucek bola matanya yang berair dan terasa panas. Kemudian memberikan alibi yang terlintas begitu saja dalam otaknya. "Kelilipan."
"Iyain aja dah. Ntar meledak disini, gua ama Farel yang repot menenangkan."
"Mau ngakak kenceng tapi kasian juga." Gumam Farel merasa bersalah. Sekarang Calix kembali menelungkupkan wajahnya dibalik lipatan tangannya. Dia sedang tidak ingin diganggu, ingin ketenangan dan ketentraman keadaan.
Sialnya, kedua rekannya ini tidak ada yang bisa diajak berkompromi. Sepertinya mereka minta dihajar. Syukur saja objek yang menjadi bahan ejekan mereka sedang mager.
"Batu sih, udah di bilangin juga dari kemaren-kemaren."
"Kepala lo pusing yah? Coba blender aja, siapa tahu membalikkan keadaan."
Menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, Farel menatap lamat-lamat kedepan kelas, mulutnya terbuka kemudian terdengarlah kata-kata bijaknya yang meluncur.
"Gak ada kebersamaan yang jalannya mulus, gak ada hubungan yang lancar dan mudah terus. Kita diberi cobaan untuk mengetahui seberapa sungguh-sungguh dan seberapa sabarnya kita. Jodoh ditangan kita, takdir yang ditangan Tuhan. Jadi, kalau ingin berjodoh, maka sama-sama saling berusaha untuk mencapai titik takdir. Lo udah menyakiti dia, jadi sebagai gantinya lo lagi yang berjuang untuknya. Turunin ego lo. Jangan menyerah begitu saja."
Brakkk!!
Telapak tangan Calix mendarat keras dipermukaan meja hingga menciptakan sebuah bunyi gebrakan. Tatapannya menghunuskan kobaran api. Seolah dia ingin mencari mangsa untuk disantap dalam kobaran api yang kian besar dan membara itu.
"Setelah gue pikir-pikir dikawasan belakang sekolah waktu itu hanya kita bertiga. Yang berarti ada diantara kalian berdua yang diam-diam merekam kata-kata gue waktu itu."
Candra dan Farel bertukar pandang mendengar pemaparan Calix, jelas saja akal Candra masih rumit untuk dipekerjakan saat ini. Pasalnya penuturan Calix begitu ambigu.
"Hidup dengan tenang selagi gue belum tahu apa-apa, karena saat terkuak siapa dalangnya, hanya nyawa saja yang akan gue sisakan." Detik itu juga Farel menegang kaku.
*****