My Possessive Boyfriend

My Possessive Boyfriend
MPB•TITIK TERANG



Dengan posisi menopang kedua tangan dibelakang punggungnya yang sedang duduk bersila, matanya melirik Hazel yang sedang termenung dengan lutut yang dia peluk, banyak tanda tanya besar yang terperangkap dalam pikirannya, ingin bertanya namun Calix takut akan kembali menggali luka lama.


Hanyut dalam memandangi ciptaan Tuhan yang indah disisinya dari sudut samping, seketika terkesima dirinya kala semilir angin sedikit menerbangkan surai tergerai indahnya, sekarang mereka berdua berada ditepi danau, mencari udara segar disini. Hanya berdua saja, catat.


"Lo gak ada pertanyaan buat gue? Sepertinya gue punya utang penjelasan sama lo."


Calix terkesiap. Menatap Hazel yang kini menoleh kepadanya. "Humm? Tentang apa?"


"Tentang kejadian yang gue alami hari ini. Sebenarnya gue malu kelihatan rapuh didepan orang lain, apalagi didepan lo. Tapi hari ini jadi pengecualian, lo udah lihat dengan kedua mata kepala lo sendiri seberapa lemahnya gue."


"Gue gak bakal maksa kalo semisal lo belum sanggup menceritakan kisah lo dimasa lalu terlepas mau gue penasaran atau ingin tahu lebih banyak tentang lo, karena tanpa lo gak cerita sekalipun, gue udah tahu cerita hidup lo sebelumnya lebih berantakan dari yang gue kira."


Perhatian Hazel kembali menerawang kedepan waduk yang tersaji dihadapan mereka berdua, alam di sekeliling mereka yang menjadi saksi bisu percakapan intens mereka berdua.


"Terus terang saja, gue memang belum mampu menceritakan masa lalu gue, terlalu menyakitkan. Intinya, ada satu hal yang gak perlu dan gak harus gue sembunyikan dari lo."


"Gue--gak seistimewa kayak cewek-cewek diluar sana."


"Bagi gue, lo cewek sederhana, tapi-- lo juga paling istimewa disudut pandang gue."


Meraup oksigen untuk mengisi paru-parunya yang terasa dihimpit oleh sesuatu, Hazel memejamkan mata bersiap membeberkan rahasia besar yang sangat menyakitkan yang tersimpan dalam lubuk hatinya.


"Kehormatan gue udah lama hilang, Lix. Terenggut sewaktu gue masih SMP. Gue, gak lebih hanya lah cewek rusak yang berusaha keras untuk tetap melanjutkan hidup."


"Lo boleh ninggalin gue. Cari cewek yang jauh lebih baik dibandingkan gue. Jangan sama gue, gue cuma cewek kotor. Cewek yang udah rusak, gak berhak untuk mendapatkan kebahagiaan. Cowok mana yang mau sama cewek yang udah hilang kehormatannya..?"


Hazel berusaha menarik sudut bibir meskipun berat, mengulas senyuman pahit. Kedua matanya berkaca-kaca tanpa sebab. Enggan berkedip kalau ingin bening kristal itu tidak jatuh.


"Gue marah." Nada suara Calix berubah menjadi dingin. Mereka berdua saling berbicara dalam, namun enggan menautkan pandangan.


Dada Hazel berdenyut perih, walaupun dia sudah siap dengan ini, entah mengapa tetap saja terasa sakit mendengarnya secara langsung. "Marah aja Lix. Gue memang pantas dimarahi, sudah menipu lo. Bertindak selayak cewek suci, padahal udah gak punya harga diri semenjak dari lama."


"Gue marah lo mengatai diri lo sendiri sebagai cewek kotor. Gue gak suka."


"Humm?" Spontan Hazel menoleh dengan plonga-plongo. Apakah dia salah dengar barusan?


"Jangan sebut lo sebagai cewek rusak atau semacamnya. Gue gak senang mendengarnya, lo itu cewek paling sempurna yang gue kenal, jangan merasa kurang dan minder, Zel. Lo tetap akan jadi berlian selama yang terjadi bukan atas kemauan lo."


"Pada dasarnya setiap di suatu hubungan bukan hanya perihal rasa cinta diantara dua pihak, tapi juga saling melengkapi kekurangan satu sama lain. Kurang lebihnya lo biar gue yang melengkapi."


"Begitu pula sebaliknya, lengkapi kekurangan yang gue punya. Gak ada manusia yang sempurna, tapi lo akan sempurna dimata yang orang tepat dan orangnya adalah gue."


Hazel tersentuh, ingin menangis rasanya mendengar bait kata yang manis keluar dari bibir berbisa seorang yang mengidap penyakit playboy stadium akhir ini.


Seharusnya dia tidak bawa perasaan pada lelaki yang sifat buayanya sudah mencapai level tingkat maksimal. "Gue gak tahu apakah perkataan lo tulus atau hanya untuk menghibur gue."


"Terserah lo mau percaya atau tidak, gue akan membuktikan dengan tindakan gue kedepannya."


"Gak usah menutupi apa-apa dari gue, cobalah untuk lebih terbuka dengan gue, gue juga udah tahu tentang cerita kelam lo pernah dilecehkan sama Kakak tiri lo. Dan kalo gak salah namanya Fatur? Yang gak sengaja lo sebutkan waktu dikamar mandi. Dia kan orangnya?"


Mematung? Yah! Tubuh Hazel seketika menjadi batu dadakan, tenggorokannya terasa tercekat, hati-hati dia menoleh pada Calix. Dari mana Calix mengetahui rahasia besarnya? "L-lo tahu dari mana?"


"Jayden. Abang lo. Dia udah pernah cerita ke gue sebelumnya, sayangnya belum sepenuhnya karena dia gak tahu detailnya. Cuma lo yang tahu cerita lengkapnya, tapi gue gak akan maksa lo buat cerita kalo lo belum sanggup mengungkit itu. Lupakan saja. Gue bisa nunggu sampe lo bener-bener siap."


Flashback on.


"Jadi, apa tujuan lo mengajak gue bertemu ditempat ini?"


Calix dan Jayden duduk saling berhadapan dengan secangkir coffee dan salah satu menu dessert yang tersedia diatas meja mereka. Kedua lelaki itu detik ini berada disebuah kedai cafe, menepati janji temu yang mereka buat.


"Gue gak tahu apakah lo cuma main-main atau serius dengan Adek gue. Yang jelas lo sebagai cowoknya harus tahu ini. Hazel, pernah diperkosa waktu dia SMP. Lebih parahnya lagi, orangnya adalah Kakak tirinya sendiri."


"Uhhuk-uhhukk!! Bentar-bentar!!" Terbatuk-batuk, Calix tersedak dengan kopi yang dia minum saat mendengar penyampaian Jayden.


Selesai melap noda kopi yang terdapat di sudut bibirnya dan juga noda tidak sengaja tertumpah dipakaiannya dengan tissue, Sedikit gebrakan Calix lakukan dimeja yang mereka tempati setelahnya, tidak terlalu kuat, takut memancing atensi pelanggan lain.


"Kakak tiri maksud lu apaan dah? Apa jangan-jangan yang lu maksud lu sendiri?"


Bugh!


Tabokan dari Jayden menghantam kepala Calix, "Gila lu! Ya kali gue!"


"So? Bukannya lo Kakaknya?"


"Gue memang Kakaknya tapi bukan gue yang melecehkan dia." Jayden menghembuskan napas, dia tidak tahu entah memulai cerita dari mana.


"Gini deh." Kedua tangan Jayden saling menggenggam diatas meja, memasang raut dua kali lebih serius dari yang tadi. "Singkat cerita, Mama Hazel pernah berumah tangga sebelum dengan Papa gue."


"Dan dirumah tangga sebelumnya, Hazel sebagai Putrinya mendapat penganiayaan hingga sampai kasus pemerkosaan. Dan pelaku utamanya adalah Kakak tirinya sendiri."


Calix masih mencoba menela'ah dengan baik-baik penuturan Jayden. Apa ya? Calix tidak tahu mendeskripsikan perasaannya. Disatu sisi ada perasaan marah dan kecewa.


Disisi lain, Calix tidak menduga bahwa selama ini Hazel menutup rapat sebuah rahasia yang amat kelam dalam sepenggal sejarah hidupnya dan parahnya, dia mengetahuinya dari orang lain, bukan Hazel sendiri, dia baru sadar bahwa selama ini, dia tidak tahu apa-apa mengenai Hazel.


"Terlepas dari lo serius atau tidak dengan Hazel, kalo lo gak bisa menerima dia apa adanya, gue minta lo segera lepasin dia dari sekarang sebelum perasaan Adek gue jatuh lebih dalam lagi ke lo. Gue rela dicap sebagai Kakak jahat yang meminta Adik sama Pacarnya untuk berpisah kalo itu demi kebaikan Hazel."


Calix manggut-manggut memahami kecemasan Jayden terhadap Hazel. Tentu saja setiap Kakak tidak ingin Adiknya terluka dan menginginkan yang terbaik untuknya. Seandainya dia diposisi Jayden, dia akan melakukan hal yang sama pada Thea, Adiknya.


"Bohong kalo gue bilang gue gak marah dan kecewa. Nyatanya gue marah, pake banget. Tapi gue marahnya ke cowok yang sudah melakukan itu ke Hazel."


"Bahkan kalo semisal kasus itu sampai membuahkan hasil apakah lo benar-benar masih bisa tulus pada Hazel?"


"Membuahkan hasil, maksudnya?" Kening Calix saling bertautan dalam, apakah yang dimaksud oleh Jayden sesuai dengan dugaan dalam pikirannya? Dia bukanlah anak SD yang tidak paham apa maksud dari Jayden.


"Membuahkan hasil, yang artinya tercipta sebuah nyawa baru atas insiden itu. Yah, tanpa gue jelasin lo sudah bisa mengambil kesimpulan, kalau Hazel sudah memiliki seorang Anak yang dia sendiripun belum mengetahui fakta itu."


"Hazel sudah memiliki anak? Terus dia tidak tahu tentang fakta itu? Dia sendiri yang mengandung dan melahirkan tapi dia gak tahu apa-apa, What does it mean? I really don't understand."


Calix memijat dahinya, dia jadi pusing tujuh keliling mencerna maksud dari pernyataan Jayden.


Belum lagi dengan fakta Hazel pernah dianiaya hingga dilecehkan, lalu ditampar lagi kenyataan dia sudah memiliki anak dari lelaki lain, ini benar-benar membuatnya tidak bisa berpikir logis.


Terlalu banyak kebenaran pahit yang ditutupi oleh Hazel. Pantas saja, Hazel sensitif saat disinggung mengenai kehormatan, apakah ini penyebabnya?


Setelah menyeruput coffee, Jayden kemudian kembali mengangkat suara. "Pertanyaan yang masuk akal. Tapi memang itu kenyataannya. Hazel pernah mengalami kecelakaan fatal tepat setelah melalui malam kelam yang menyebabkan dia sampai koma setahun lamanya."


"Jangan bilang dia--melahirkan saat dia lagi koma?" Tebakan Calix tepat sasaran. Langsung disapa oleh anggukan dari Jayden.


"Seperti tebakan lo barusan. Dengan usia yang masih terlalu dini dan kondisinya yang tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal, Hazel akhirnya melahirkan secara tidak normal dengan operasi sesar. Dan dia divonis menderita amnesia Traumatis pasca koma akibat gangguan psikologis."


"Sayangnya hanya bersifat sementara yang artinya sewaktu-waktu akan kembali pulih. Ingatannya pun tidak terhapus seluruhnya, hanya ingatannya yang spesifik bikin dia trauma saja yang hilang."


"Terutama kenangannya bersama dengan cowok yang sudah menjadikan masa lalunya kelam. Dan kalo pun seandainya memorinya kembali lagi, dia tidak akan tahu kalo dia sebenarnya sudah memiliki Anak. Kami sengaja merahasiakan itu demi kebaikan Hazel."


"Bentar--gue pernah lihat anak kecil yang bareng Hazel, mirip banget sama dia--apa jangan-jangan--?"


"Yup, tepat. Namanya Gilsha." Saat itu juga, Calix dibuat shock ditempat.


Flashback of.


Hazel mendesaah berat, beban yang dia pikul sungguh berat, kalau semisal beban hidupnya adalah barang sepertinya dia sudah jatuh tersungkur sedari lama. "Gue capek, nyerah boleh gak yah?"


"Jangan!" Jawab Calix dengan nada suara meninggi satu oktaf. Dia diserang rasa takut mendengarnya dari mulut Hazel langsung.


"Apaan dah main nyerah-nyerah segala, Hazel yang gue kenal gak gitu orangnya. Gak ada yang tahu seberat apa lo menjalani hidupmu kecuali dirimu sendiri. Tapi, gak adil rasanya kalo lo hanya fokus sama hal menyakitkan yg lo alami karena selama kita hidup juga pasti pernah ada momen-momen bahagia yg pernah kita rasakan."


"Kalo lo nyerah sekarang, mungkin ada kebahagiaan besar di masa depan yang gak bisa lo lihat. Jalani hidup selangkah demi selangkah."


"Buang sisi negatifnya dan petik sisi positifnya saja. Inget, bukan masalah lo doang yang paling berat, masih banyak masalah orang lain diluar sana jauh lebih berat dibanding masalah lo."


"Bahkan ada juga yang benar-benar sendirian, gak ada siapapun menemani disisinya saat lagi jatuh terpuruk. Tapi lo masih ada Mama, Papa, Abang lo dan sekarang--"


Sedikit melirik Hazel yang menunggu kelanjutan dari ucapannya, Calix pun mengusap tengkuknya kikuk. "Ada gue." Calix melipat bibirnya usai satu kalimat diujung tersampaikan.


Malu? Yah! Tentu saja. Dia sendiri pun masih belum percaya, mengapa dirinya yang memiliki gengsi segede bumi ini dapat melontarkan kalimat yang menggelikan menurutnya. Bukan wajahnya yang memerah, tapi jangan tanyakan kondisi telinganya, sudah merah padam.


Lihat saja, Hazel dibuat terkekeh lucu. "Gak ada yang lucu, jangan ketawa. Gue serius."


Hazel tahu, ungkapan Calix serius, nada bicara sama ekspresinya pun tidak ada unsur-unsur bercanda. Hanya saja, agak menggelitik mendengarnya dari mulut Calix.


"Oke-oke gue gak akan ketawa. Gue cuma merinding, lo liat?" Hazel menunjukkan bulu-bulu halus di lengannya yang terangkat seluruhnya pertanda betapa merinding dirinya.


Calix mendesaah kesal dengan kejujuran Hazel. "Ah! Sialan lu! Orang lagi berusaha untuk romantis, lo-nya malah---arghh! Udah lah! Seharusnya lo pura-pura baper aja tadi."


Kembali memutar pandangan kedepan. Hazel pun lagi dan lagi larut dalam tatapannya setelah dibuat oleh Calix tertawa beberapa menit lalu. "Fatur.. nama dia, Fatur. Sumber luka---"


'Sekaligus cinta pertama gue.' Tambahnya melirih dalam hati.


"Lo inget, sama cowok yang tiba-tiba hampiri gue waktu diparkiran kemarin?"


Pikiran Calix melayang untuk sejenak bekerja kemudian dia mengangguk. Masih segar ingatannya tentang kemarin yang mana seorang lelaki menyandarkan Hazel pada bagian tubuh mobilnya dan tidak hanya sampai disana, dia sampai mencium rambut Hazel, memikirkannya saja sudah membuat Calix gregetan.


"Dialah orangnya. Dia itu Fatur, yang sudah merenggut paksa kesucian gue. Entah alasan atau dalam rangka apa dia tiba-tiba muncul disekolah kita. Yang jelas, kehadiran dia disekolah kita, bikin gue enggan untuk masuk sekolah. Kalo bisa--gue pengen pindah."


"Fatur?" Beo Calix dengan kening tertekuk dalam, dia kurang menaruh perhatian pada lelaki itu, tapi dia setahunya namanya bukan Fatur karena satu kelas dengannya, terlebih anak-anak gadis yang satu kelas dengannya kerap menyelipkan namanya di setiap topik pembicaraan mereka.


"Dia itu murid baru dikelas kami, dan setahu gue--namanya bukan Fatur."


"Bukan? Tapi--mukanya sama persis dengan Fatur kok? Gue gak bakal lupa orang yang sudah menorehkan luka hebat ke gue. Belum lagi dengan tahi lalat disudut bibirnya, itu sudah menjadi ciri khasnya yang paling melekat diingatan gue."


"Ah! Sama satu lagi, dia pake kalung dengan inisial F. Kalung itu, gue yang memilihkan untuk dia."


"Siapa yah---" Gumam Calix mengusap-usap dagunya, menganggap angin lalu omongan Hazel, dia malah sibuk dengan pemikirannya sendiri. Kedua keningnya nyaris menyatu, memutar otaknya atas nama lelaki itu. "R--e.. Re apa ya? Kok gue mendadak jadi amnesia sih?!"


Calix mengacak-ngacak rambutnya gusar. "Rega?" Akhirnya Calix menjentikkan jari mendengar satu nama yang di celetukan oleh Hazel.


"Nah itu dia! Rega iya Rega! Namanya Rega seingat gue. Bukan Fatur."


"Rega?" Kini giliran Hazel yang membeo, diluar sangkaannya bahwa terkaan yang dia lontarkan justru benar.


Tidak jauh dari posisi mereka, tanpa mereka sadari, seorang laki-laki berpakaian serba putih, makhluk yang tak kasat, tidak dapat ditangkap dengan mata telanjang oleh manusia biasa, mengamati interaksi mereka berdua, ada sebuah ruang sendu yang berkilat dimatanya.


"Apakah ini sudah saatnya aku pergi dan benar-benar melepas mu, El..? Mulai detik ini hingga di lembaran episode kehidupanmu selanjutnya, dia mungkin akan menjadi alasanmu untuk terus tersenyum. Kamu, berhak mendapatkan kebahagiaanmu lagi."


*****


Siap liat Calix versi insyaf? Dijamin bulol🤣