
"Aaaa!!"
PLANG! PLANG! PLANG!
"Apa yang terjadi dibawah sana?" Ghea, Jayden beserta Hazel saling pandang satu sama lain. Dibawah sana terdengar sangat rusuh, entah apa yang dilakukan oleh kedua lelaki itu, atau jangan-jangan mereka berselisih akibat pikiran mereka tak sejalan.
"Zel, coba lo periksa. Jangan-jangan mereka baku hantam lagi."
Mengingat bagaimana kepribadian Calix, dugaan Jayden mungkin saja benar. Hazel bangkit dari duduknya berniat kebawah memeriksa keadaan disana, sekarang dia tidak lagi mengenakan seragam sekolah, gadis itu sudah menukar pakaiannya dengan baju santai. "Bentar, Hazel periksa dulu."
Hazel turun kebawah, mengecek situasi di ruangan ternyata kosong lalu mengikuti asal bunyi yang ricuh dari arah dapur. Dia melangkah kesana, pas dimuka pintu ruangan dapur, Hazel menepuk dahinya menemukan kondisi dapur yang seperti kapal pecah.
"Apa yang lo lakukan, Lix?" Hazel menghampiri Calix sambil geleng-geleng kecil.
Bahan-bahan makanan juga atribut dapur berserakan dimana-mana. Jauh dari kata rapi, kacau balau adalah kata yang dapat mendeskripsikan kondisi dapur sekarang ini.
Apalagi melihat Calix yang menggunakan panci sebagai pengganti helm melindungi kepalanya dari serangan minyak panas. Ditangannya memegang penutup panci yang dia jadikan sebagai perisai perlindungan.
Calix menarik bahu Hazel menjadikannya sebagai pelopor, lelaki berperawakan tinggi dan besar seperti Calix bersembunyi dibalik punggung kecil dan pendek Hazel. "Minyaknya nyerang terus, Zel! Sakit banget kena percikannya!"
"Lebay kamu!" Timpal Ferdi setengah meledek Calix. Dari sudut sana, Beliau hanya bersidekap dada, santai menonton Calix yang sedang berperang sengit dengan gorengan.
"Papa lo kejam banget Zel.. masa iya gue disuruh latihan masak, langsung ketahap menggoreng ikan?!" Adu Calix memelas. Jika latihan masaknya yang lain sebagainya, mungkin Calix tidak akan merasa sesulit ini. Masalahnya, dia langsung disuruh praktek menggoreng ikan. Perempuan saja banyak yang masih amatiran kalau pasal menggoreng ikan.
Hazel merebut spatula dari tangan Calix untuk mengambil alih masakan seterusnya, dia membalikan posisi ikan yang nyaris saja lebih dari matang, gosong tak tertolong.
Tak berlangsung lama, Hazel pun menyisihkan kepiring sebelum mematikan kompor. Timbul rasa iba pada Hazel melihat ikan hangus yang dijadikan Calix sebagai bahan eksperimen. "Kasian banget lu fish, gak ada salah apa-apa jadi korban."
Berbalik lah dirinya setelah menggumam agar dapat menatap lelaki dibelakangnya, kedua tangannya mendarat di pinggangnya. "Lo latihan masak atau lagi dalam medan perang, Lix? Rusuh bener. Sampe teriak-teriak segala lagi."
Diwaktu yang sama, Ferdi yang tak jauh dari mereka, melangkah mendekati mereka berdua, dengan wajah tanpa dosanya, lengannya hinggap di bahu Calix, menuntutnya berlalu dari area dapur setelah memberi ujian mental untuk calon menantunya.
"Tenang saja Nak.. ini baru permulaan. Wajar saja masakanmu gosong. Lain kali coba latihan lagi ya? Bukan hanya disini, di rumahmu juga sesekali melatih diri biar jadi ahli."
Saat itu juga Calix nyaris menumpahkan tangis, dia melirik Hazel dengan mimik tertekan meminta pertolongan dari Hazel. Diwajahnya terpampang jelas sebuah tulisan. 'Bantu gue Zel..'
Sialnya hanya juluran lidah mencibir yang menyambutnya. Dengan jari telunjuk menarik pinggir matanya. "Wleee! Itu sih derita lu!" Gerakan mulut Hazel bikin Calix kena mental ditempat.
...*****...
"Azel, gue pamit ya?"
"Iya, hati-hati dijalan." Hazel menepuk-nepuk pucuk kepala Calix yang merendahkan badan agar Hazel dapat menggapai atas kepalanya.
"Gue pulang dulu.."
"Iya pulang aja.. dari tadi pamit terus perasaan gak beranjak-beranjak juga." Hazel mulai berdecak malas, sedari tadi Calix mengatakan salam pamitan, tetapi dia enggan beranjak dari tempat, kini mereka sudah berada di teras rumah Hazel.
Calix akhrinya menegakkan punggung, mencubit singkat sebelah pipi Hazel membuat sang pemilik pipi pun memberengut tak senang. "Sudah mau pulang pun, pipi gua gak urung dijadiin korban, huh!"
Terdengar kekehan lucu dari Calix. Kemana saja dia selama ini? Sehingga baru sadar bahwa dia memiliki pacar seimut dan semenggemaskan ini. Sesungguhnya Calix sudah sadar dari lama, hanya saja dia selalu mengelaknya. "Sebagai bekal gue bawa pulang, biar enggak rindu."
"Kumat lagi jiwa-jiwa buayanya! Maut banget mulut lu, Lix! Jangan sering-sering gombal ah!"
"Kenapa? Lo takut hati lo tergonjang-ganjing?" Calix mengangkat alisnya menggoda Hazel. Yang digoda pun hanya merotasikan matanya sebagai respon tidak suka.
"Takut muntah!" Sembur Hazel disambut gelak tawa Calix yang lebih lepas dari pada yang tadi.
Hazel terhipnotis sejenak. Ada satu hal yang dapat Hazel temukan lagi saat Calix tertawa, dia berkali-kali lipat terlihat lebih manis ketika tertawa, kedua matanya menyipit membentuk sabit. Dan dia paling suka saat-saat Calix tidak usil seperti ini.
Setelah tawa manusia yang diperhatikan oleh Hazel mulai reda lelaki itu pun berkata. "Keluarga lo asik, Zel. Gue suka. Gue bakal sering mampir kesini. Tapi bilang ke Papa lo, gak perlu pake latihan ekstrem segala, kita merekrut jasa ART aja, biar urusan rumah tangga kita, Asisten aja yang urus."
Tidak menyadari poin utama dari rangkaian kalimat Calix, Hazel malah mengangguk, menyetujui usulan Calix. "Iya, merekrut ART--" Netranya membola lebar, semburat hangat tiba-tiba menjalari pipi Hazel kala baru sadar dengan ucapan Calix barusan.
Tangan Hazel terlalu gatal kalau tak memukul lengan Calix untuk meminimalisir rasa salting-nya. Seperti ada efek kupu-kupu yang menari-nari didalam sana. Padahal bukan kali pertama Calix mengatakan hal yang ngawur seperti tadi. Tapi mengapa kali terasa berbeda? "Lo-- apaan sih?! Rumah tangga apaan coba?! Jangan ngaco lo!"
Mengulum bibirnya, Calix berusaha menahan tawa. "Lo pake blush on, Zel?"
"Blush on?" Telapak tangan kecil Hazel meraba-raba wajahnya sendiri, perasaan dia jarang memakai riasan.
Bukannya dia tidak memiliki riasan, bahkan tak jarang Mamanya senantiasa membelikannya riasan atau skincare agar dia dapat merawat kulitnya. Namun, Hazel hanya menggunakannya kadang kala dia lagi ingin saja. Alias tidak rutin. Begitu pula hari ini, Hazel tidak memakainya.
Hazel memberikan gelengan polos. "Enggak kok, gua gak pakai blush on."
Lengkungan jahil tercipta dibibir Calix yang menatap Hazel. "Tapi kok pipi lo merah?"
Blush!
Kedua pipi tembam yang semulanya sudah bersemu kini tambah merona sampai dapat diibaratkan seperti kepiring rebus. Hazel menyembunyikan seluruh parasnya dibalik telapak tangannya, "Sialan lo, Calix!"
"Ternyata Azelnya gue bisa salting juga ya?" Calix meledek Hazel dengan tangan terangkat guna menurunkan tangan Hazel dari posisinya. Mengekspos kulit wajah Hazel yang memerah seperti tomat. Kontras dengan kulit putihnya.
Alhasil, Hazel memalingkan kepalanya agar Calix tidak dapat melihat lebih jelas kondisi wajahnya yang sudah tak karuan saking merahnya. Perlakuan Calix memang tidak aman untuk keselamatan jantungnya. "Lo sengaja mempermainkan gue, Calix! Buat gua makin malu, tahu gak?"
"Lo mau tahu cara paling ampuh hilangin blush on dipipi lo?"
"Gimana?" Hazel meluruskan pandangan, memberanikan diri memusatkan titik fokusnya pada Calix secara total.
"Sini." Kedua sudut pipi Hazel pas dalam bingkai tangannya yang menangkup sudut wajahnya, untuk selanjutnya dia membungkukkan badan. Dengan kedua netra yang membulat, Hazel mengerjap panik mendapati Calix mengikis jarak diantara wajah mereka berdua.
"Etsss!!"
Kedua tangan Jayden membela wajah mereka berdua agar jarak mereka menjauh satu sama lain. Dia ikut berbaur diantara mereka berdua. "No sun! sun! Keciduk sama Mama dan Papa, habis kalian berdua!"
Entah sejak kapan Jayden sudah berada didekat mereka berdua, yang intinya, Calix merasa Jayden mengacaukan momen manisnya bersama Hazel. Padahal sedikit lagi dia bisa mencuri kecupan dipipi Hazel.
Jayden berdecak berulangkali, dia memasang gaya bersidekap dada. "Ck, ck, ck, memang benar kata orang, kalau laki-laki dan perempuan sudah berduaan, maka yang ketiga adalah setan."
"Lo setannya!" Kelakar Calix langsung ngegas.
"Gue harap lo bisa menjaga sopan santun lo pada yang lebih dewasa!"
"Bodo amat! Persetan sama yang jauh lebih dewasa! Prinsip gue, lo sopan sama gue, gue apa lagi. Lo pandang enteng, ya gue timbal balik."
Melihat mereka berdua yang sudah mulai berdebat, dengan segera, Hazel menarik lengan Calix dan mendorong punggungnya agar lekas berlalu dari sana. "Mending lo pulang aja! Hari sudah sore."
"Iya ish! Gak perlu pake didorong segala kali! Gue juga bisa pulang pake kaki gue sendiri." Ditemani misuh-misuhnya, Calix melengos dari sana, berjalan kearah mobilnya yang terparkir diluar pagar Hazel.
Kalau tidak salah, gadis kecil itu yang dia lihat bersama dengan Hazel tempo hari. Niatnya pun terurung gara-gara melihatnya. "Eh Adik kecil, ngapain lo berdiri terus disitu? Bahaya, ntar lo diculik sama penjahat. Masuk gih."
Mendengar teguran yang tertuju untuknya, Gilsha bergegas memasuki pelataran rumah Hazel dengan langkah yang berlari kecil, "Kak Acel!!"
"Isa?!" Hazel membawa Gilsha kedalam gendongannya, sementara Jayden menghampiri Calix yang sudah berada didalam kendaraannya.
Dia mengetuk-ngetuk pintu jendela mobil Calix yang bergetar sebab Calix sudah mengaktifkan mesin. Selepas mematikan kembali mesin mobilnya, kacanya turun dibuka oleh Calix. "What? Mau ngajak gelut? Gas! Tapi dengan satu syarat, gue menang, lo jangan pernah usik gue saat lagi bereng dengan Adek lo."
"Ck, dasar negatif thinking! Gue cuma mau minta nomor hp lo."
"Ngapain?"
"Siniin aja! Lo mau dapet restu dari gue gak?"
Giliran Calix lagi yang berdecak sebal. Namun, walaupun begitu, tak urung dia memberikan ponselnya pada Jayden yang sudah menengadahkan telapak tangannya.
Selesai menyalin angka nomor kontak Calix di kontaknya, Jayden pun kembali menyerahkan benda pipi tersebut kepala pemiliknya, "Malam ini lo senggang?"
"Tiap malem gua gak ada pekerjaan. Palingan main game atau main-main ketempat yang biasa didatangi anak-anak muda." Tidak mungkin Calix mengungkapkan rahasia besarnya yang rutin bermain-main Wanita di club malam, bahkan tidak jarang dia membawanya ke apartemennya.
"Pukul tujuh malam. Temui gue di cafe yang ada di wilayah ini. Gak jauh tempatnya dari sini. Ada hal penting yang ingin gue sampaikan sama lo tentang Adek gue. Ntar gue sherlock lokasinya."
Calix ingin bertanya mengenai apa. Namun, Jayden sudah lebih dulu menjauh dari sana, dia pun akhirnya hanya mengangkat bahu acuh tak acuh sebelum menjalankan mobilnya berlalu dari sana.
...*****...
Hazel menutup pintu mobil saat sudah berhasil masuk kedalam kendaraan beroda empat milik Calix, pagi yang mendung ini, lelaki itu tidak lagi menunggu didepan gang seperti hari-hari lain, melainkan langsung menjemputnya dirumah.
"Bentar." Calix menarik wajah Hazel kearahnya, meneliti bibir pink Hazel yang kelihatan lebih berwarna dan cerah dari biasanya.
"Lo dandan?"
"Humm? Iya kenapa? Aneh ya?"
Ibu jari Calix lantas menyapu bibir bawah dan atas Hazel menghapus noda lipstik disana sehingga tidak bersisa, dia menempelkan jempolnya kemudian pada bibirnya sendiri setelah menghapus lipstik milik Hazel.
"Gak usah dandan. Lo kelihatan aneh. Apalagi pake lipstik segala. Jelek, kaya banci." Caci Calix seraya mulai fokus menyetir.
"Oh? Menurut lo juga gitu? Gue juga ngerasa gitu, gue gak cocok dandan. Hari ini gak tahu kenapa tiada angin tiada hujan tiba-tiba kepingin dandan agar kelihatan cantik."
Hazel menggaruk pipinya yang tidak gatal. Tak tersinggung sama sekali dengan komentar pedas Calix, sebab dia pun merasakan hal yang sama. "Tapi hasilnya jelek, jadi gue gak akan mengulangi untuk kedua kalinya."
"Good girl! Penampilan natural lo seperti biasa gak terlalu buruk juga kok."
Cengkeramannya disetir mengerat, Calix menggigit bibir dalamnya bersusah payah, mengontrol diri agar tidak bersalto disini. Berbanding terbalik dengan reaksinya yang terlihat biasa saja, didalam sana dia sudah jungkir balik sambil menjerit tertahan.
'Cewek gua cantiknya gak ada obat woy! Anjirrr! Apakah ini yang dinamakan definisi liat bidadari di dunia nyata?! Gila! Gua gak bakal biarin kecantikannya dipamerin didepan umum! Cukup gua aja yang boleh liat!'
...*****...
Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit lebih, akhrinya mereka sampai dikawasan parkiran SMA Gardenia. Calix memarkirkan mobilnya. Kala Hazel keluar dari sana, dia dibuat terpaku dengan adanya seorang lelaki dengan seragam yang sama dengan mereka. Sedang berdiri dibagian area parkir yang tidak jauh jaraknya dari mereka.
Dengan dada yang bergemuruh, perempuan itu menelan saliva takut, Hazel memberanikan diri turun lebih lanjut mendahului Calix yang masih ada didalam mobil, gadis itu memijakkan telapak sepatunya di tanah. Dia mencoba mengabaikan Fatur yang perlahan sudah mulai melangkah kearahnya.
Punggung Hazel menabrak tubuh mobil Calix, Fatur tahu-tahu sudah mengurungnya dengan kedua tangan bertumpu diantara sisi kanan dan kiri wajah Hazel. "L-lo kenapa bisa ada disini?!"
"Don't avoid me, El.." Dengan tatapan sirat penuh makna yang terpatri kepada Hazel, tangan Fatur bergerak, meraih helaian rambutnya dan mencium aroma manis yang menyeruak dari sana. "Apakah lo lupa? Kita sudah pernah melewati satu malam paling bersejarah disepanjang hidup kita, El. Jangan sok pura-pura lupa dengan gue."
Grep!
"Singkirkan tangan kotor lo darinya!" Tekannya dingin. Calix mencengkram pergelangan tangan Fatur. Menariknya kasar agar tersingkir dari rambut Hazel.
Pada saat Fatur lengah, Hazel menggunakan kesempatan, membungkukkan badan melewati celah yang terdapat dibawah lengan Fatur karena postur tinggi badannya. Fatur melirik punggung kecilnya dengan langkah terdesak yang mulai melenggang jauh dari mereka untuk beberapa saat, membiarkan dia lolos lalu memusatkan perhatian pada Calix.
"Apa kita saling mengenal Mr, Calix Keiran Ragaswara..?"
"Heh? Bahkan lo tahu nama lengkap gue."
"Gue hanya mengenal nama lo. Tapi tidak dengan jati diri lo."
"Gue gak pernah liat muka lo sebelumnya disekolah ini. Kelihatan asing banget. Lo anak barukan?"
"Kalo iya, kenapa?"
"Gue peringatkan ke lo! Cewek tadi, yang lo ganggu itu. C.a.l.o.n I.s.t.r.i g.u.e." Calix menekankan ditiga kalimat terakhir.
"Oh? Jadi baru calon?" Fatur menyunggingkan senyum remeh. "Berarti gue masih ada kesempatan emas dong? Seperti kata pepatah, sebelum janur kuning melengkung, siapa pun bebas menikung."
"Shiit! Kalo mau kehidupan sekolah lo tenang. Jangan pernah macem-macem sama cewek gua!"
"Kalau gue gak mau, lo mau apa?!" Fatur mengangkat dagunya tinggi-tinggi tak kalah menantang.
"Gue akan membuat kehidupan sekolah lo seperti di neraka!"
"Coba saja kalo lo berani. Asal lo tahu? Gue pindahan dari Bandung, Calix.."
Berhasil! Ternyata begitu ngaruh pada diri Calix mengungkit pasal Bandung. Ibaratkan tersengat arus listrik tegangan tinggi, lelaki itu menegang luar biasa mendengar nama kota bandung yang disebutkan oleh anak baru ini, terlebih lagi dia mengetahui daerah persisnya.
Fatur mengeluarkan ponselnya dari saku seraya membaca sebuah nomor plat tertera disana. "Kota bandung, daerah Margahayu sebuah peristiwa kecelakaan tabrak lari, dengan pelaku nomor plat kendaraan 'G 8780 XX' sepertinya nomor platnya kembaran dengan plat mobil lo, apakah gue salah?"
Alisnya terangkat satu, tangan Fatur lihai menyapu-nyapu bahu Calix yang tengah membeku ibarat patung. Lihat lah, wajahnya berubah menjadi pias dengan mulutnya benar-benar terbungkam rapat. Dia tidak menyangka bahwa ada yang mengetahui insiden kecelakaan itu selain dirinya.
"Darah dibalas darah, Calix.. Kalo lo mau tahu, orang yang lo tabrak itu, Adik gue. Berhati-hatilah sebelum mengambil tindakan. Karena, bisa jadi ancaman yang lo layangkan akan menjadi boomerang untuk lo sendiri." Desisnya penuh sirat akan ancaman kemudian lengan Calix terguncang disenggol olehnya dengan sengaja.
Detik berikutnya, yang menjadi pemandangan Calix adalah wujud anak baru yang kini sudah melangkah dengan posisi membelakanginya seraya mengantongi tangannya. Kedua tangan Calix terkepal hebat sehingga urat-urat tangannya menonjol. Laser matanya terlihat bengis.
"Jadi lo? Lo yang udah meneror dengan pesan-pesan gak jelas ke hp gue selama ini?" Monolognya dengan rahang mengetat.
*****
Apaan nich?!😳
Btw, mayoritasnya kata yang saya up per-chapter sebanyak 2Ribu lebih, semoga kalian para readers tidak bosan membacanya😭🥺