
Farel mendobrak kuat pintu papan yang awalnya tertutup rapat hingga terbuka lebar. Kyra dibuat terlonjak kaget, bahkan piring yang niatnya akan dia bawa ke dapur sampai jatuh.
Baru kali ini Kyra merasa ada untungnya juga hidup miskin, karena bukan seperti piring-piring mewah yang mudah pecah jika jatuh, piring yang terbuat dari sen mah sekokoh baja.
"Bangsat lo Ky! Cewek rubah! Ternyata lo selama ini mendekati gue karena ada maksud yang terselubung!"
Yang perlu dievakuasi sekarang, adalah jantungnya yang nyaris saja keluar dari sarangnya. "Yang sopan kalo mau bertamu, kalo pintu gue rus--"
"Hmphhh!" Bibirnya diserang brutal oleh Farel, dengan lumataan yang rakus dia memojokkan Kyra hingga punggungnya menabrak dinding, saking ganasnya serangan yang dilancarkan oleh Farel, bahkan sampai terasa vibrasinya. Bisa dapat diibaratkan gempa dadakan.
Nafas Kyra tak beraturan setelah Farel menyudahi ciuman penuh menuntut yang baru saja dia terapkan pada Kyra, wajah gadis itu memerah nyaris kehabisan napas akibat ulah laki-laki itu. "Sialan lo ky! Gue bakal hamilin lo sekarang juga! Bakal gue buntingin lo detik ini juga!"
Antara panik dan takut, Kyra kelabakan saat dia mencoba mencegah gerakan Farel yang akan merobek-robek baju yang dia pakai. "Sadar Rel! Otak lo udah gak sehat hah?!"
"Siap-siap aja lo ngandung anak gua sembilan bulan! Persetan sama masa depan! Yang penting, gue harus miliki lo seutuhnya, sekarang!" Racaunya kehilangan akal sehat.
PLAKK!!!
Tamparan yang mendarat mulus di pipinya membuat wajahnya terpaling kesamping. Belum langsung mengangkat suara lagi, dia terdiam sejenak kemudian terkekeh getir.
Farel memegangi sebelah pipinya, masih terasa sensasi denyut nyeri disana. Tanpa melihat saja, dia yakini telapak tangan Kyra membekas disana.
"Ternyata perempuan di dunia memang rata-rata licik seperti lo! Lo udah bodohi gue selama ini!"
Farel mencengkram kedua bahu Kyra. "Lo deketin gue. Bersikap baik, memperlakukan gua spesial seolah-olah memiliki perasaan lebih yang membuat gue salah paham. Tapi nyatanya?"
Tubuh Kyra terguncang ketika Farel mengguncang bahunya kasar. "Lo manfaatin gue Ky.. lo gunain gua buat misahin Hazel dan Calix. Karena apa? Lo sukanya ke Calix bukan gua!"
Tanpa mengeluarkan isakan, hanya air mata Kyra yang menitik tanpa komando, melihat hal tersebut sukses membuat akal sehat Farel kembali pulang, kepalanya menunduk dalam lalu bergulir bersandar di bahu Kyra.
Volume suaranya menjadi rendah cenderung bernada lirih. "Lo udah buat gua jatuh, jatuh sedalam-dalam pada lo. Lo harus tanggung jawab atas itu."
"Suka? Gua? Sama Calix?!" Kyra menyeka air matanya sebelum mendorong kuat Farel hingga tubuhnya menjauh. Tunggu, kekeliruan besar macam apa ini?! Kyra tertawa murka.
"Secuil pun gue gak ada rasa sama dia. Gue, salah satu heater berat Calix dan lo ngira gua suka sama dia?!"
"Hah? Terus maksud lo bocorin rekaman yang gue ambil diam-diam itu, apa?"
Kyra manggut-manggut paham. Jadi, Farel berpikir begitu? "Iya. Gue gak suka dengan hubungan mereka dan ingin hubungan Calix dan Hazel berakhir!" Tangan Farel yang ada di dua sisi tubuhnya terkepal hebat mendengar pemaparan Kyra.
"Tapi anggapan lo salah. Gue memang ingin mereka berpisah tapi bukan karena gue memiliki perasaan dengan Calix, penyebabnya adalah gue gak mau Hazel punya pacar seperti Calix!"
"Apa hak lo berkata seperti itu tentang Calix?! Lo tahu apa tentang dia?!"
"Mungkin gua gak tahu semuanya, tapi gue tahu sebagian tentang dia!"
"Lo tahu, Wanita malam yang sering menghabiskan waktu bersamanya? Yolanda. Yah, pasti lo kenal dengan dia karena Calix, teman karib lo itu termasuk pelanggan setianya."
"Dan lo tahu dia siapa?! Dia adalah Kakak gue! gue yang jadi saksi bisu saat menjadi penguntit dari balik pintu kamar, mengintip Kakak dan Calix sering bercumbu mesra disini! Di Ruangan kecil ini!"
"Lo tahu gimana rasanya?! Saat seorang teman yang sudah lo anggap sebagai saudara tiba-tiba mendapatkan pacar yang kita sendiri tahu dengan pasti kalo pacarnya itu gak sebaik yang dia kira! Kalo lo diposisi gue, gue yakin lo akan melakukan hal yang sama!"
"Melakukan segala cara biar mereka bisa berpisah demi kebahagiaan sahabat kita sendiri!" Farel menyentakkan tubuh Kyra kedalam bekapannya, dia mengusap-usap belakang kepala Kyra. Sungguh, dia tak menyangka jika ternyata Kyra sebaik ini.
"Lo yakin, Hazel gak tahu tentang itu?"
"Gak mungkin sudah selama ini, dia gak tahu soal itu. Dia mungkin saja sudah tahu, tapi lebih memilih menerima masa lalu Calix atas dasar cinta."
"Dan satu lagi, semenjak bersama dengan Hazel, gue sebagai kawan yang selalu ada suka dan duka untuknya, perlahan gue lihat perubahan besar terhadap Calix. Suka gonta-ganti pasangan tanpa status yang jelas, mempermainkan Wanita seenaknya sudah menjadi tradisi Calix yang melekat kuat di jiwanya, cukup sulit memang menghilangkan kebiasaan yang sudah diterapkan selama ini. Dia memang pantas disebut sebagai bajingan yang sesungguhnya, gue akui."
"Tapi, Hazel. Teman lo itu, membawa pengaruh yang sangat besar. Gak ada orang yang langsung berubah secara natural, tapi setelah gak seberapa lama, lambat laun Calix berubah cukup signifikan."
"Tanpa dia sadari dia berhenti dari perbuatan gak terpujinya karena keberadaan Hazel. Dan satu lagi yang paling utama, hanya Hazel yang dapat mengendalikan sisi gelap Calix. Katakan saja Hazel adalah titik balik kehidupan Calix. Kalo Hazel pergi dari sisinya, gue gak tahu gimana kabar kepribadian monsternya. Mungkin, dia akan bantai seluruh manusia di dunia kalo perlu."
"Lo kira madara?!" Farel terkekeh geli diiringan tawa kecil Kyra juga, Farel melepas pelukan dan menangkup pipi Kyra, dia menghapus jejak air mata yang terdapat diwajahnya.
"Maaf ya Ky? Udah buat lo nangis gini."
"Hmm it's okey. Jangan diulangi lagi."
Untuk selanjutnya mereka berdua duduk bersandar pada dinding yang berbahan kayu, menatap langit-langit rumah minimalis tersebut, disini hanya ada mereka berdua, Adik-adik Kyra sedang ditempat bermain. Kakak Kyra apalagi, dia jarang sekali pulang.
"Awalnya gue memang ada niatan merusak hubungan mereka. Tapi setelah melihat perjuangan Calix, gue udah menghempaskan niat itu jauh-jauh. Apalagi gue liat, hanya dengannya senyum dan tawa Hazel terlihat tulus. Dengan kata lain--"
Farel menoleh menanti ucapan Kyra di detik selanjutnya, hingga empat mata itu terkunci. "Bukan gue yang bocorin rekaman dan foto itu."
"Terus, pelakunya siapa? Yang ada bukti rekaman itu hanya kita berdua. Lalu foto itu hanya lo satu-satunya yang nyimpan."
"Gue gak tahu, mungkin saja sampai ke tangan orang lain. Atau ada yang diem-diem nyolong bukti itu dari hp gue. Gue akan mencari tahu siapa yang membeberkan rekaman dan gambar itu."
*****