My Possessive Boyfriend

My Possessive Boyfriend
MPB•RUANG BK



"Ssshh pelan-pelan Zel.."


Hazel ikut meringis melihat Ronan yang tak henti-hentinya mengeluarkan rintihan pedih. Selain nyeri diarea wajahnya, fisiknya yang terkena imbas penganiayaan Calix juga terasa remuk redam.


Padahal Hazel sudah berusaha untuk selembut dan sehati-hati mungkin dalam mengoleskan kapas yang sudah basah akan alkohol. Akan tetapi, lelaki ini tetap saja merintih kesakitan.


"Saran gue mending lo ke rumah sakit Nan, disana lebih lengkap dari pada alat-alat medis sama pengobatan disini, gak memadai."


Ronan memberikan gelengan tak bersedia, jika ketahuan Ibunya dia bolos, dia akan dimarahi habis-habisan lagi. "Gak papa Zel.. nanti akan sembuh sendiri kok, gue gak bisa bolos begitu saja."


Sepasang matanya terlihat sipit akibat membengkak, begitu pula dengan sudut bibirnya yang robek, seluruh wajahnya penuh dengan luka lebam. Hazel tengah mengobati bagian wajah Ronan yang terluka di ruang kesehatan.


"Lo yakin Nan? Sekali-kali bolos gak papa kan? Lagian ini demi kebaikan lo juga. Luka lo cukup parah, bisa infeksi nanti."


"Fungsinya lo obati gue kan biar gak infeksi. Selebihnya tinggal tunggu waktu aja, pasti sembuh sendiri."


Calix yang sedari tadi bagaikan anti nyamuk dibelakang mereka, akhirnya menowel punggung Hazel, "Udah ngobatinnya? Gue udah coba sabar dari tadi diem denger kalian bicara,"


Hazel menepis tangannya kasar memancing jiwa psiko Calix kembali meronta-ronta, jangan sampai meluap disini, bisa hancur segala fasilitas didalam sini.


"Lo diem, gue masih mengobati luka Ronan." Lagi dan lagi Hazel berpaling darinya, dia lebih memilih fokus mengobati Ronan.


"Wajahnya jadi bonyok gini gara-gara ulah siapa, coba?" Hazel menyinggung tanpa melihat lawan bicaranya.


Menarik napasnya kasar berupaya dengan keras mengendalikan emosi, lantas Calix kembali berkata sembari kembali menarik-narik ujung seragam Hazel dibagian punggung.


"Bukan cuma dia, gue juga luka, Hazel.. lo gak bisa menunaikan kewajiban lo sebagai pacar, apa? Siapa pacar resmi lo, siapa juga yang lebih lo prioritaskan?"


Hazel sedikit melirik kebelakang, dua telinga Calix mungkin sudah mengeluarkan asap murka, tapi Hazel mengabaikan, lukanya tak sebanding dengan luka memar yang didapat oleh Ronan yang tak bisa dianggap sepele.


"Tapi luka lo kecil, Calix.. bahkan hampir gak kasat mata saking kecilnya, jangan manja. Obati sendiri luka lo pasti bisa kan? luka Ronan jauh lebih parah."


Pada akhirnya Calix tak ada cara lain selain menarik kasar bahu Hazel agar perhatiannya berpindah dari Ronan kepada dirinya, dia menyunggingkan senyum yang terkesan jahat. Hazel merinding melihatnya, nampak menyeramkan.


Calix mendekati daun telinga Hazel, sontak mendesis penuh ancaman disana. "Luka yang dia dapat sekarang belum seberapa Hazel.. belum juga nyawanya mengudara, besok-besok lo mau dia pindah alam?"


Calix mengulum kekehan rendah mengalun mengerikan menusuk ketelinga Hazel, "Jeruji besi? Persetan! Lu kira gue takut? Gue harap lo gak lupa kalo gue mantan disana.."


Bisikan Calix sukses membuat tubuh Hazel menegang, Calix bukan lah orang yang hanya suka menggertak, semua ancamannya akan menjadi kenyataan, karena dia adalah orang yang tak segan-segan bertindak kriminal.


Jadi tahanan? Calix pernah mengalami itu sewaktu kelas sebelas atas kasus tawuran, solo VS squad dengan sekolah lain. Calix rasa momen itu adalah masa-masa yang paling berkesan dalam ingatannya.


Ah.. jika memutar kembali memori itu, dia ingin mengulanginya lagi..dia, membantai semua lawannya menggunakan pisau belati..


Bagi Calix, sangat disayangkan lawannya hanya masuk rumah sakit tak sampai terbunuh, hingga masa hukumannya tak panjang juga berkat bantuan Papinya, hanya berselang satu bulan, dia telah dibebaskan.


Pintu UKS terbuka, munculah Kyra menyambangi ruangan dengan informasi keramat yang dia bawa, "Ronan, Calix, kalian dipanggil keruang BK."


Ronan berdiri mendengar ucapan Kyra, ia menoleh kearah Hazel yang disibukkan mengemasi kotak P3K. "Hazel, gue duluan ya? Gue harus pergi keruang BK."


"Oh, iya? Ntar," Hazel mengambil plaster dikotak P3K lantas memberikannya pada Ronan yang menyambutnya tanpa ragu.


"Jangan lupa dipake, biar luka lo terlindungi." Pesannya yang dibalas anggukan patuh oleh Ronan.


Setelahnya, Ronan berlalu dari sana bersama dengan Kyra, kini hanya tersisa Hazel dan Calix berada didalam ruangan, mereka bisa ada kesempatan untuk berbicara empat mata.


Hazel berpaling kepada Calix, "Lo gak ke ruang BK juga? Lo juga dipanggil. Kejadian tadi lo yang jadi biang keroknya."


Calix beringsut lebih mendekati Hazel, dia menunjuk rahangnya yang dihiasi memar yang samar disana. "Obati dulu luka gue, lo lebih perhatian sama orang lain ketimbang pacar lo ini."


Meremas kedua tangannya gemas, Hazel membuang napas jengah seraya memutar merotasikan matanya malas, sabar Hazel sabar.. orang sabar disayang, Tuhan!


Hazel tersenyum palsu sambil kembali membongkar peralatan P3K yang sudah dibenahi tadi.


Dia mengambil salep antibiotik, dengan telaten dia mengoleskannya pada luka Calix seperti pinta sang empu.


Berani tak melaksanakan? Siap-siap saja ruangan ini kacau balau. Usai mengolesi luka memarnya dengan salep, langkah yang terakhir, Hazel merekatkan plaster diarea sana.


"Alix kenapa hmm? Kenapa sensitif banget kalo bersangkutan dengan Ronan..? Dia kan baik kesemua orang, bukan cuma ke gue doang,"


Luka Calix hanya sepele, tak perlu diobati juga tak masalah, kini dia telah selesai mengobatinya, kepala Calix turun, membenamkan wajahnya pada bahu Hazel.


"Gue cowok, Azel.. gue tahu betul menilai gimana cara pandangan cowok kecewek yang dia kagumi. Caranya melihat lo, beda.. bukan seperti pandangannya ke cewek-cewek lain, dia suka sama lo..suka.."


"Dan gue, gak suka lo disukain sama cowok lain.." Imbuhnya lirih. Membayangkannya saja dia sudah pengen mencabik-cabik orangnya.


Apalagi jika benar kejadian Hazel memiliki pacar lagi, mungkin dia akan membantai sampai keakar-akarnya keluarga lelaki yang berani-beraninya mengajaknya jadian.


"Ronan? suka sama gue?"


Hazel malah terkekeh miris mendengar tudingan Calix yang mengatakan Ronan suka padanya.


Jika saja orang-orang tahu bagaimana keadaannya, tak akan ada yang sudi bersama dengannya sekalipun hanya menjadikannya mainan.


Apalagi Ronan? Suka padanya? Entah kebaikan apa yang pernah dia lakukan sehingga Tuhan menurunkan orang sesempurna Ronan tertarik pada dirinya.


Apakah itu mungkin? Sungguh mustahil sekali.


"Emang gue punya apa sampe disukai cowok kaya dia, Alix..? Lo aja pacaran sama gue cuma main-main..gak ada cowok yang mau nerima gue apa adanya.."


Calix berdecak kecil, Hazel terlalu merendahkan diri, apakah dia tak sadar jika dirinya--


Arghh! Sudahlah, Calix gengsi mengakui bahwa Hazel sangat-sangat manis dan menggemaskan.


Bahkan jika dia tak berpacaran dengannya, bisa dijamin, banyak lelaki yang mengantri untuk mengajaknya jadian.


"Lo gak percaya banget sih sama gue? Dia tertarik sama lo! Dan gue benci sama orang yang tertarik sama lo!" Untuk yang kesekian kali, Hazel menghembuskan napas berat. Calix sangat kekanak-kanakan!


Lelaki yang masih mengenakan kaos jersey itu kini menenggelamkan wajahnya diceruk lehernya. Okelah, kalau tidak mau berdebat, mending sekarang mengalah saja.


"Oke, anggap saja begitu. Tapi-- bukannya normal punya ketertarikan seperti itu kelawan jenis? Kalo misalnya gue cowok terus Ronannya suka ke gue, baru aneh.."


"Tapi miliaran kaum perempuan di semesta ini, kenapa tertariknya harus sama lo..?!" Ujarnya setengah merengek.


"Ya mana gue tahu?!" Hazel menjauhkan kepala Calix dari leher jenjangnya, deru napasnya yang menerpa dipermukaan kulitnya, bikin menggelitik.


"Mending lo keruang BK sekarang, lo pasti udah dicariin."


"Temenin.."


Hazel mengemasi alat-alat P3K kedalam kotak, dia meletakkannya diatas nakas dengan sedikit keras. Naik pitam dia lama-lama jika menghadapi Calix. Marah tak bisa, tak marah juga dia sudah geram..


"Calix..jangan bawel deh, lo bukan anak kecil yang apa-apa harus ditemenin, biasanya juga lo berurusan sama Guru BK sendirian."


"Temenin, atau gue gak bakal kesana?!"


...*****...


"Ibu sudah menghubungi wali kalian untuk datang kesini. Sebentar lagi mungkin mereka akan segera sampai."


Kelihatan tegas, Ibu septi--Guru BK meletakkan kedua tangannya yang saling menggenggam satu sama lain diatas meja.


Mengamati Ronan dan juga Calix secara bergantian. Berbeda dengan wajah Ronan yang sudah tak terkondisikan, wajah Calix masih utuh, hanya plaster yang terdapat diarea wajahnya.


"Baiklah sebelum Ibu bertanya kepada kalian berdua, yang pertama-tama, kenapa ada gadis ini disini?"


Buk Septi melirik Hazel yang gelagapan mendapat pertanyaan darinya, dia sedang berdiri disisi Calix. Kehadirannya disini semata-mata hanya untuk menemani Calix.


Merasa jika dirinya menjadi pengusik disini, Hazel hendak beranjak dari posisinya. Namun, dicegah oleh Calix, lelaki itu menahan lengannya.


Lancang sekali dia beralih menghunuskan sorot maut pada Gurunya sendiri. "Dia keluar, gua juga keluar!"


Bu Septi menghela napas cukup kasar, dia melupakan satu hal, jika Hazel satu-satunya yang dapat mengatur Calix yang bandelnya tak ada duanya ini. Jujur saja, Bu Septi sampai kewalahan dalam mengurusnya.


Kolom list album BK tiada nama lain selain Calix sebelum ini.. sebut saja dia sebagai langganan BK.


Semoga kedepannya dia mendapat hidayah dari Tuhan melalui perantara seorang Hazel, amin Bu Septi paling serius. Dia mengibaskan pelan tangannya pasrah. "Yasudah, kau disitu saja."


Kemudian mereka mulai diinterogasi oleh Bu Septi. "Dari pada itu, lebih baik kembali lagi ke topik utama, silahkan terangkan secara terperinci, apa yang terjadi dan apa alasan kalian berkelahi?"


"Dia deketin cewek gua Buk!" Sambar Calix tanpa berpikir panjang, "Gue gak suka milik gue dideketin! Gue terusik! Yang berani deketin Hazel gue bakal mengklaimnya sebagai musuh bebuyutan! Gue gak akan membiarkan masa sekolahnya tenang!"


"Hazel bukan barang yang bisa lo miliki secara pribadi! Dia juga seorang siswa, bebas bergaul sama siapa saja. Apakah salah kalo dia berteman sama gue? Lo seharusnya jangan terlalu posesif jadi cowok, Hazel gak bakal nyaman."


"Terus, lo pikir Hazel lebih nyaman sama lo ketimbang gue?!" Sarkastik sekali balasan Calix, tiba-tiba dia kembali tersulut emosi.


"Kalo memang iya, lo mau apa?! Mau larang Hazel ini itu?!"


"Iya, masalah buat lo?! Gue pacar--"


Brak! Brak! Brak!!


Bu septi menggebrak-gebrak meja menginterupsi, sontak menghentikan aksi adu mulut mereka dan mendapat perhatian keduanya.


Sedangkan sang bintang utama yang menjadi objek perselisihan mereka, dibuat tak bergeming, dia cosplay jadi patung disamping Calix.


"Boleh saya meminta perhatian kalian?! Saya memanggil kalian kesini untuk menyelesaikan masalah dengan kepala dingin bukan malah berdebat!"


"Sekarang--"


Ceklek..


"Permisi... Maaf saya langsung masuk, soalnya pintunya gak dikunci.." Sela Ruby menjaga sopan santun.


Beliau masuk kedalam ruangan BK disusul oleh Athala beserta Maya--Ibu dari Ronan. Mereka berpapasan dikawasan parkiran sekolah.


"Kalau boleh tahu, Putra saya membuat kekacauan apalagi Buk? Saya bisa mengeksekusinya dirumah.."


Calix bergidik ngeri mendengar penuturan sang Mami, benar-benar horor, kalau sayang nyawa lebih baik dia tak pulang ke rumah dalam minggu ini, tak akan!


"Ini loh Buk..Calix tidak rela, Gadis yang berdiri disampingnya ini didekati sama Ronan. Karena alasan demikian. Dia memukulnya dan lihatlah hasilnya, muka Ronan sudah kayak badut sekarang."


Secara kompak, Athala dan Ruby reflek melirik kearah Hazel yang terpaksa setia berdiri disisi Calix. Ruby menyenggol lengan Athala, sang suami membungkukkan badan ketika Ruby membisikkan sesuatu di telinganya.


"Ceweknya yang itu Tha.. ih, cantik banget.. anak kita hoki kayaknya."


Athala manggut-manggut sambil terus menyorot pada Hazel sama halnya dengan Ruby, "Iya cantik.." Kini giliran dia yang berbisik ditelinga Ruby, "Tapi sayang, bagi aku, gak ada yang ngalahin kecantikan Istriku.."


Kedua pipinya merona, Ruby memberinya hadiah sikutan main-main di dadanya. "Kamu mah, gombalnya bisa aja! Inget umur ah! Malu!"


Merasa diperhatikan oleh kedua orang tua Calix yang berada tak jauh darinya. Mereka berbisik-bisik juga sambil mencuri pandang kearahnya, apakah mereka membisikan sesuatu tentangnya?


Hazel menjadi gugup sendiri, dia menelan ludahnya kasar, dibawah sana kedua tangannya dia mainkan melampiaskan rasa canggung yang menyerangnya.


"M-maaf.. ini terjadi karena saya.." Cicit Hazel menunduk dalam penuh rasa bersalah.


"Oh, tidak apa-apa Nak.. anak saya dari lahir memang sudah seperti itu sikapnya. Jadi, jangan merasa bersalah.."


Seketika Hazel mengangkat pandangannya, dia melongo menemukan Mami Calix yang sedang melemparkan senyum ramah padanya.


Dia--dapat lampu hijau? Hazel menggelengkan kuat kepalanya menepis itu, lampu hijau apanya! Sadar Hazel sadar! Calix saja menganggap hubungan kalian hanya main-main!


"Berdasarkan keterampilan dan tabiat sehari-hari diantara mereka berdua. Jadi disini, sudah dapat disimpulkan, siapa diantara mereka berdua yang menjadi dalang utama sebagai pihak pertama yang memulai perkara."


Bu Septi mengalihkan atensi kearah Maya yang kini berdiri disisi Putranya. "Bagaimana keputusan dari pihak Ibu? Apakah mau menuntut atau masalah ini diselesaikan secara baik-baik melalui permintaan maaf?"


"Menurut saya, lebih baik diselesaikan secara baik-baik saja Buk.. menuntun hanyalah membuat perkara semakin rumit,"


"Tugas anak-anak ke sekolah hanya menimba ilmu, kalau mereka mendapat luka cedera karena pertengkaran dimasa pubertas mereka, selagi tidak mengganggu belajar mereka, saya rasa itu masih bisa ditoleransi." Tambah Maya bijak.


"Apakah tidak ada usulan sanksi hukuman untuk sang pelaku? Luka yang diterima anak Ibu cukup parah loh.. lihat saja wajahnya, sudah hancur lebur begitu."


"Atau tidak, seenggaknya tuntut biaya pengobatan dari pihak lainnya, anak Ibu termasuk yang paling dirugikan disini. Dari keluarga sebelah pihak juga bukanlah keluarga yang tidak mampu mengeluarkan uang jika hanya untuk pengobatan anak Ibu."


Ruby dan Athala mengangguk sependapat dengan Bu Septi, jangankan hanya untuk Ronan, bahkan sampai ke leluhurnya saja, mereka mampu membiayainya.


"Itu ada benarnya Buk.. sebaiknya bawa anak Ibu ke rumah sakit, kami yang akan membiayai administrasinya, lagi pula ini murni kesalahan Putra kami.."


Maya menggeleng tegas, "Tidak Buk. Lukanya bisa sembuh sendiri walau tidak diobati, salahnya sendiri meladeni lawannya."


"Dia saya didik untuk belajar jadi anak yang dapat diandalkan, bukan buat adu mekanik, kalau dia luka-luka kaya gini, seharusnya itu bukan urusan saya. Lain kali jika anak saya membuat kasus gak penting seperti ini lagi, saya harap, jangan hubungi saya lagi."


Ronan mengepalkan tangan kuat mendengar rangkaian kalimat Bundanya, anak mana yang tak terluka mendengar kata-kata seperti itu? Kali ini luka dihatinya lebih perih ketimbang luka pada fisiknya.


Sementara Calix, dia bersidekap dada sambil menatap Ronan penuh prihatin sekaligus memberinya tamparan dengan kata-kata. "Gue kira, punya Mami yang bawel suatu hal yang ribet, tapi.. kayaknya gue jauh lebih beruntung dari pada orang malang yang haus kasih sayang..."


Hazel mencubit bahunya memperingati, Calix memang tak tahu caranya ngerem mulutnya, "Mulutnya dijaga!"


...*****...


Satu jam kemudian, keenam orang yang bersangkutan dalam masalah kali ini, keluar dari dalam ruangan BK usai berunding secara kekeluargaan, perkara bisa terselesaikan dengan saling meminta maaf satu sama lain.


Untuk Ronan, dia mudah saja meminta maaf karena menurutnya hal tersebut bukanlah hal sulit, tetapi bagi Calix, hal itu akan menjatuhkan harga dirinya. Sebenarnya masalah akan lebih cepat terselesaikan apabila dia mau menurunkan sedikit kebatuannya.


Untunglah walau nanti dipaksa cukup keras, Calix akhirnya mau meminta maaf balik dengan Ronan, meskipun dia sungguh-sungguh berat hati mesti membuang harga dirinya. Lagi pula dia yang paling disalahkan dibaliknya.


Bugh!


Setelah memastikan Maya dan Ronan berlalu dari hadapan mereka, Calix dibuat terjengkang mendapat tendangan di betis juga pukulan dari tote bag yang dia layangkan pada kepala Calix. "Dasar brandal!"


"Lah Mih? Kok Calix dipukul?" Calix mengadu kesakitan, tulang keringnya serasa akan patah akibat tendangan maut dari Maminya. Mau melawan juga tak bisa. Takut nasibnya menjadi kaya si maling kundang, dikutuk menjadi batu.


"Kamu pantas menerima itu! Gak habis-habisnya buat Mami sama Papi frustasi sama kelakuanmu!"


"Awsh..awshh.. sakit Mih.. lepas Mih! Malu diliatin banyak orang.."


Kini Ruby menjewer daun telinga Calix sebagai bonus, tak peduli banyak pasang mata yang menonton mereka disekitar sana. Bahkan sampai telinganya koyak pun, masa bodo lah!


"Masih tahu malu juga kamu hmm? Orang yang sering menciptakan kerusuhan bahkan bisa dibilang sudah menjadi rutinitas membuat kekacauan, rupanya masih tahu malu juga?"


Putranya ini tak pernah kapok menciptakan kasus, sekarang anak orang nyaris terbunuh karena dirinya. Dia harus diberi perhitungan!!


Athala tertawa puas diatas penderitaan Calix. "Rasain kamu! Siapa suru bandel!" Ruby mengacungkan jari telunjuknya pada Athala, sang empu dibuat ciut dalam seketika.


"Masih bisa ketawa kamu hah?! Kamu pikir, sikapnya yang gak tahu aturan, menurun dari siapa?!"


"Y-yah--tapi kan setidaknya aku masih bisa dapet rangking terus, By.. Bukan kaya Calix.. udah nakal, gak ada bakat lagi.."


Hazel yang ada dibelakang Calix sembari memegangi ujung kaos jersey Calix jadi tak menyangka, jika keluarga elite ternyata hanya seperti keluarga-keluarga biasa pada umumnya.


Bisa bercanda ria, marah-marah, mengomel sampai beberapa paragraf, yang lebih penting, anak sama Suami takut dengan satu-satunya Wanita mematikan dalam rumah. Seperti Papa dan Abangnya yang takut hanya dengan ekspresi garang Mamanya.


Hazel menegang saat Mami Calix tiba-tiba meliriknya. Sepertinya--dia tak perlu berbaur dengan mereka? Apa dia--memisahkan diri saja sekarang?


"Kamu--calon menantu saya?!"


"Hah?" Hazel termangu ketika melepas tangannya dari kaos Calix, calon menantu? Agaknya indera pendengarannya bermasalah, dia menggosok-gosok daun telinganya.


Pulang sekolah nanti, dia akan membersihkan telinganya dengan alat korek kuping biar pendengarannya kembali berfungsi dengan baik.


"Tante bilang apa barusan? Sepertinya alat pendengaran saya lagi bermasalah hingga jadi salah dengar.."


Dengan senyum merekah, Ruby mendekatinya dan memegangi dua tangan mungil Hazel, beliau kelihatan awet muda, tinggi tubuhnya pun hampir setara dengan Hazel.


Jika orang tak mengenal mereka melihat keduanya bersama, mungkin menduga mereka hanyalah sepasang bestie.


"Calix goda kamu pake cara apa? Aku masih belum percaya kalau kamu benar-benar pacarnya. Pasalnya, kepribadian anakku suka bikin orang naik darah."


Calix yang menggoda? Hazel melirik Calix yang memasang wajah masam, Hazel nyaris kelepasan tertawa, masa Calix yang difitnah menggodanya, sedangkan dia saja yang banyak dicentili oleh spesies bernama wanita?


Seandainya saja Mami Calix macam Ibu-ibu antagonis di dunia fiksi, sudah pasti mengira Hazel lah yang menggoda Putranya bukan Putranya yang menggoda dirinya, namun sepertinya Mami Calix orang yang agak--lain.


"Siapa yang bisa tahan dengan sikapnya? Hanya orang-orang tertentu, yang dikaruniai kesabaran setebal buku sejarah yang bisa sabar. Aku yang bernotabe sebagai Maminya pun sangat-sangat lah tertekan menghadapinya."


Ruby mengutarakan unek-uneknya kepada Hazel biar bebannya yang dia tanggung selama ini bisa terasa ringan, dia mengelus-elus dada membayangkan betapa durhakanya Calix. Untung saja, Calix sudah kurang pulang ke mansion mereka.


Hazel mengangguk satu komplotan dengan Ruby, mereka sepertinya sengaja membuat Calix dongkol. Fiks! mulai dari sekarang, calon menantu dan calon Mama mertua itu akan bersekutu menjadi haters terbesar Calix.


"Iya Tante, masih untung gak terkena stroke.. kadang saya pengen menimpuk kepalanya pake balok kayu biar otaknya gegar sekalian.."


Agak tak menyangka jika ucapan ngawur-nya dibalas oleh Ruby anggukkan cepat seolah sangat setuju dengan apa yang dia katakan barusan.


"Ternyata kita satu frekuensi! kalo dia bikin kamu kesal, timpuk aja kepalanya. Tapi jangan hanya pake balok kayu, pake besi aja biar dia bisa kapok!" Ujarnya dengan semangat sebelas dua belas. Disambut reaksi melongo tak percaya oleh Hazel.


*****