
Clarissa fokus memperhatikan Vanetha yang sedang memainkan piano. Dengan sangat lentur jari - jemarinya menyentuh tuts piano. Vanetha melatih kemampuannya menggunakan Buku Panduan Instrruksi Piano berjudul ‘Bagatelle No.25 (Für Elise) — Ludwig Van Beethoven’
Walaupun Vanetha baru berumur 14 tahun, Vanetha mampu menyaingi para Pianis Profesional dengan kemampuannya.
Clarissa ikut bergabung dengan Vanetha. Ia duduk disamping Vanetha. Mereka pun menyentuh tuts piano secara bersamaan.
“Kak Clarissa, bagaimana kalau kak Clarissa menyanyikan lagu ‘A Thousand Years — Christina Perri ’ ?” ucap Vanetha yang mengusulkan idenya sambil menyentuh sembarang tuts piano
“Aku yang akan menyanyi?” ucapku
“Ya, kak Clarissa yang akan menyanyi, dan aku akan memainkan pianonya.” ucap Vanetha dengan wajah berseri
“Ehm baiklah...” ucapku pasrah
“Siap kak. Satu... Dua... Tiga...” ucap Vanetha yang mulai menekan tuts piano.
Lirik lagu yang dinyanyikan Clarissa
Heart beats fast, colors and promises
How to be brave?
How can I love when I’m afraid to fall
But watching you stand alone?
All of my doubt suddenly goes away somehow
One step closer...
—
Dilain sisi, Jonathan seperti seorang ‘Penguntit’ yang sedang memperhatikan Clarissa dan Vanetha. Ia membuka pintu ruangan milik Vanetha.
Ia terhanyut dengan suara Clarissa yang sangat merdu nan indah.
Jonathan teringat masa lalunya dengan Clarissa.
8 tahun yang lalu
Jonathan dan Clarissa memainkan piano bersama. Dengan ceria Clarissa dan Jonathan menekan tuts piano secara bersamaan dan berirama.
Waktu itu Jonathan berumur 10 tahun, dan Clarissa berumur 8 tahun.
Saat - saat itu adalah waktu - waktu terakhir bagi Clarissa untuk terakhir kalinya mengingat momen bahagia bersama Jonathan. Sebelum kecelakaan merenggut ingatan Clarissa. Clarissa mengidap Amnesia karena benturan keras menghantam kepalanya saat kecelakaan. Sejak saat itu Clarissa dan Jonathan tidak pernah bertemu kembali walau sekali pun. Setelah tragedi kecelakaan Clarissa, Jonathan pindah ke London karena mengikuti orang tuanya.
—
Jonathan kembali dari lamunannya
“Haish, apa yang kupikurkan? jika aku ingin membuat Clarissa kembali padaku, aku harus mendekatinya secara perlahan - lahan dan membuat ingatannya kembali walaupun hanya ‘sedikit’ saja.” ucap Jonathan dengan menyugarkan rambutnya ke belakang
Vanetha yang menyadari kakaknya yang sedang mengintipnya.
Ia menoleh ke arah Jonathan dan dengan cepat ia kembali fokus menekan tuts pianonya kembali.
“Ada apa dengan kak Joe?” gumam Vanetha
Karena tidak fokus, Vanethapun salah menekan tuts pianonya.
“Ada apa Vanetha?” ucapku dengan heran karena Vanetha salah menekan tuts pianonya. Dan Clarissapun terhenti bernyanyi.
“Ah tidak kak. Aku hanya tidak fokus. Ayo kita ulangi lirik terakhirnya” ucap Vanetha menutupi keresahannya.
“Siap kak. Satu... Dua... Tiga...”
And all along I belive I would find you
Time has brought you heart to me
I have love you for a thousand years...
I’ll loved you for a thousand more —
Clarissa berhenti bernyanyi, dan setelah itupun Vanetha berhenti.
“Wow kak Clarisa! suara kakak sangat bagus! kenapa tidak menjadi penyanyi?” ucap Vanetha kagum
“Tidak, aku akan melanjutkan pendidikanku” ucapku
Clarissa mengambil ponselnya dan melihat jam yang ada diponselnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 19:27 malam.
“Ehm... Vanetha, ini sudah malam. Sepertinya alu harus pulang” ucapku
“Ini sudah waktunya makan malam, kak Clarissa tidak ingin makan malam bersama terlebih dahulu?”
Clarissa dan Vanetha berjalan dari ruangan.
Mereka berjalan menuju ruang makan.
Dimeja makan yang berukuran besar, Sean, Jonathan, dan Viollet sudah bersiap - siap untuk makan malam.
“Oh Vanetha, Clarissa, baru saja aku akan memanggil kalian untuk makan malam bersama” ucap Jonathan dengan menarik kursi untukku dan Vanetha.
Vanetha dan Clarissa duduk di bangku mereka.
Di meja makan sudah terhidang Beef Burguignon, Cassoulet, Ratatouille, Foie Gras, Coq au Vin, Soupe a l’ oignon, Confit de Canard, dan makanan penutup Crème Brulee.
Makanan - makanan tersebut berasal dari Perancis, dan kokinya pun koki asli dari Perancis.
Jonathan, Clarissa, Sean, Viollet, dan Vanetha makan dengan tenang.
Ditengah - tengah heningnya makan malam...
Karena rasa penasaran Clarissa, akhirnya Clarissa memberanikan diri untuk bertanya...
“Em... Dimana orang tua kalian? kenapa selama ini tidak terlihat?” tanyaku sambil mengelap mulutku dengan tisu
Jonathan bungkam
“Masalah itu... Orang tua kami tinggal di London, dan mereka akan datang berkunjung setiap 3 bulan sekali” Vanetha menjawab
“Hanya kalian berdua di Jakarta?” ucap Viollet
“Ya... Aku mengikuti kak Joe tinggal di Jakarta karena orang tua kami tidak ada waktu untuk kami” ucap Vanetha terdengar lirih
“Maaf sudah menanyakan hal yang membuat kamu tidak nyaman Vanetha...” ucapku dengan memegang sebelah tangan Vanetha
“Tidak apa - apa kak. Kami sudah biasa hidup mandiri.”
“Maaf Joe”
“Tidak apa - apa Clarisaa. Sebenarnya tujuanku berada di Jakarta adalah untuk mencari seseorang, dan ‘Orang’ itu sudah kutemui. Sebenarnya Jonathan tertegun karena untuk pertama kalinya ia mendengar Clarissa menyebutnya ‘Joe’ setelah sekian lama.
Makan malampun selesai.
“Joe, kami pulang dulu. Terima kasih untuk hari ini” ucap Sean
“Tidak, terima kasih untuk kalian yang telah meluangkan waktu untuk hari ini” ucap Jonathan tetsenyum ramah
“Terima kasih untuk hari ini Vanetha”
“Aku juga berterima kasih padamu kak Clarissa, kak Viollet, dan kak Sean”
Jonathan dan Vanetha mengantarkan Sean, Viollet, dan Clarissa sampai di depan mansion.
“Clarissa, mau kuantarkan?” ucap Jonathan
“Iya Cla, lagi pula arah kita berbeda. Iyakan Sean?” ucap Viollet dengan menyenggol lengan Sean dan tersenyum yang tidak dimengerti oleh Clarissa
“Ya Rissa, ini sudah malam.” ucap Sean yang menggaruk lehernya yang tidak gatal
“Bye Cla, kak Joe, dan Vanetha”
Sean dan Viollet bergegas meninggalkan mansion Jonathan.
“Ayo Clarissa”
Jonathan menggenggam tangan Clarissa untuk berjalan ke arah mobilnya.
Selama di perjalanan tidak ada pembicaraan sepatah katapun. Kecanggungan terjadi kembali diantara Jonathan dan Clarissa.
Di depan mansion Clarissa
Clarissa turun dari mobil Jonathan.
“Terima kasih untuk hari ini dan terima kasih telah mengantarku”
“Tidak, tidak, tidak. Akulah yang berterima kasih untukmu. Karena sudah menemani adikku Vanetha seharian ini”
“Aku masuk dulu”
Jonathan memandang punggung Clarissa yang menjauh sampai menghilang dibalik pintu.
...To Be Continued...
Akhirnya rahasia Clarissa terbongkar sudah. Ternyata Joe dan Clarissa adalah teman masa kecil. Penasaran kan kelanjutan cerita mereka? Jangan lupa untuk tap jempol, tambahkan ke favorit kalian, dan ratenya ya!
Bye~