My Possessive Boyfriend

My Possessive Boyfriend
MPB•HE'S BACK AGAIN?



"Azel? Belum kelar juga?" Suara berat khas Calix berasal dari ponsel yang dia simpan persis di pinggir buku. Hazel yang tengah sibuk berkutat dengan buku salinan mengangkat kepala. Dia sedang berkomunikasi dengan Calix melalui telepon.


"Umm?"


"Rindu Zel.. Gue rindu berat sama lo.. fokus sama gue aja bisa? Dari tadi gue udah sabar tungguin lo kelar belajar. Sampe sekarang belum clear? Gue gak suka perhatian lo terbagi, apalagi hanya sama buku."


Ujian sudah di depan mata, Hazel tentu saja akan lebih konsentrasi dengan belajar dan belajar untuk menghadapinya.


"Bentar lagi, Calix..." Hazel kembali menurunkan pandangan, lanjut berkutat dengan buku tulis. "Baru dua hari perasaan. Awas ya kalo sampe bertahun-tahun gak ketemu, bisa-bisa lo kejang-kejang."


Calix berdecak kesal dengan segala ke posesifan-nya. "Lama-lama gue bakar juga tuh buku, ck."


"Gue rindu setiap detik sama lo. Vc bentar ya? Pengen liat muka lo."


Menarik napas jengah Hazel, mau tak mau dia merapikan alat-alat belajarnya mengakhiri kegiatannya tersebut agar Calix berhenti berkicau.


Dia berdehem seraya meraih benda canggih, wajah Calix memenuhi layar kala panggilan di alihkan menjadi video call.


"Ketemu nanti, lo harus kasih gue jatah sebagai tebusan rindu berat ini."


Yang menyambutnya adalah delikan sensi Hazel. "Idih, apa-apaan jatah? Sewa jalaang aja sana."


"Selagi ada lo, ngapain sewa pelacur? Lo kan pacar gue, milik gue, terserah gue lah mau apain lo."


"Pacar doang." Hazel merotasikan matanya sewot. "Gue bukan boneka tempat lo jadikan budak nafsu.."


"Beda sayang beda.. sama lo kan di iringi cinta.."


"Ntar kalo udah dapet terus bosan, di campakkan, begitu? Seperti kata-kata lo di rekaman..jangan jadikan cinta sebagai alasan hingga menghalalkan segala cara."


"Masih diungkit juga, ck. Perempuan mah gitu, suka melupakan seribu kebaikan hanya karena satu kesalahan."


"Salah lo bukan itu doang ya! Mau gue sebutin satu persatu?!"


"Enggak! Enggak! Ampun deh Nona, lo aja yang bener, gue yang paling salah di sini. Ya Tuhan.. kuatkanlah hambamu ini dalam menghadapi calon Istri yang galak ini, semoga nanti di kasih jatah tiap hari biar Calix dan Hazel junior segera tercipta.. Amin ku yang paling serius.."


"Oh iya, anak gue mana?"


Garisan bingung hadir di dahinya, Hazel kemudian bertanya-tanya. "Anak? Sejak kapan lo punya anak sama gue?"


"Gilsha Hazel Gilsha. Gimana sih? Anak lo kan anak gue juga." Gemas Calix, kalau dekat mungkin dia sudah menggigit pipi gadis ini. Sayangnya sekarang mereka di pisahkan oleh jarak yang amat jauh, hanya bisa berkomunikasi melalui udara seperti ini.


"Bukan lo Papa biologisnya."


"Masa bodo sama Papa biologisnya. Selama dia lahir dari rahim lo berarti dia juga otomatis jadi milik gue seperti lo. Dia juga bagian dari lo. Mana? Tunjukkan dia, dia sudah pulih kan?"


Hazel mengalihkan kamera depan menjadi kamera belakang menampilkan Gilsha yang sedang tenggelam dalam mimpinya begitu lelap di atas ranjang.


Jari telunjuk Calix menyentuh layar membentuk pola abstrak disana. "Syukurlah dia udah kelihatan sehat." Gumamnya. Dia suka dengan Gilsha karena dia mirip dengan Hazel. Tidak mirip dengan Hazel pun dia tetap menyukainya selama dia bagian dari Hazel.


"Lelap banget balitanya gue.. Kabar kalian gimana?"


"Baik." Lagi, Hazel berdehem kecil. "Stop deh bilang Isa balitanya lo. Geli tahu gak? Kita belum nikah juga."


"Yaudah nikah aja gimana? Nanti gue suruh Papi yang ngurus resepsi pernikahannya. Nunggu lulus kelamaan menurut gue. Gak usah khawatir persoalan akan ketahuan orang luar terutama pihak sekolah, kita bisa nikah secara private. Gue udah gak sabar pengen hidup bareng kalian. Menjaga kalian.. Melindungi kalian.. Melihat kalian setiap hari dan setiap saat.. selalu menyambut kedatangan gue saat gue pulang ke rumah.." Calix mulai berangan-angan.


Lain lagi dengan Hazel yang bergidik mendengarnya. Lelaki itu sudah kebelet nikah. Dikira nikah gampang apa?


"Amit-amit nikah muda! Kelulusan udah gak lama lagi. Udah lulus juga gue belum siap! Nanti aja deh kalo usia kita sama-sama udah mateng. Kita masih terlalu dini untuk membahas pernikahan, paham?"


"Yahh! Kok gitu Zel?! Nikah Azel yuk nikah.. Alix pengen nikah sama Azel.." Calix bersorak sedih, menelan pil kecewa.


...*****...


Hari ini adalah hari paling hambar buat Hazel. Mau tahu kenapa? Calix tidak berada di sini, begitu pula Kyra, bestie satu-satunya pergi mengikuti olimpiade.


Jam pulang sekolah, Hazel di hadang oleh Lia di koridor. Keningnya menekuk tajam, Hazel sangat jengkel melihat gadis ini. "Ada apa?" Tanyanya dengan nada sedikit tak senang.


"G-gini Zel.. Ada yang mau aku bicarakan sama kamu."


"E-enggak di sini!"


"Ya terus?!" Hazel memutar bola matanya jengah. Entah taktik licik apa lagi yang dilancarkan gadis ular ini.


"Di belakang sekolah."


"No! Males gue." Lia menahan Hazel yang akan beranjak dari tempatnya.


"Aku mohon... Ada yang pengen aku bicarakan sama kamu...ini penting.."


Hazel mendengus cukup kasar. "Oke fine, lepasin makanya!" Pada akhirnya tangan Lia terhempas di hentakan olehnya.


"I-ikut aku.." Dengan berat hati, Hazel terpaksa mengekori Lia menuju belakang sekolah.


"Ngomong aja." Pinta Hazel sesaat mereka tiba di belakang sekolah.


Lia memainkan jari jemarinya gugup. "I-itu--m-maafin aku--"


Dan entah dari mana asal kedatangan manusia di belakangnya, tiba-tiba saja ada dua orang siswi yang mencekal kedua lengannya. Chelsea dan Megan.


"Ada apa ini?!" Meronta mulai dilakukan oleh Hazel.


Megan menatap Chelsea. "Kalo ketahuan sama Calix gimana?"


"Dia kan udah enggak di sini. Emang bisa dia telepor ke sini?" Chelsea terkekeh senang sebelum arah pandangnya berganti pada Lia.


"Btw thanks udah bantu bawa dia kesini. Mulai sekarang, lo bebas, gue gak akan merundung lo lagi."


Sudah cukup lama Chelsea menaruh dendam pada Hazel. Puncak masalahnya ternyata pada waktu itu, dimana Hazel berlagak menjadi pahlawan pada sasarannya, melindungi Lia yang pada dasarnya adalah korban rundungan-nya.


Chelsea paling tidak suka pada orang yang ikut campur pada kegiatannya yang menurutnya sudah menjadi rutinitas, terlebih sampai menggertak dirinya.


Sejauh ini, dia belum melancarkan aksinya pada Hazel karena ada Calix yang menjadi sosok perisai Hazel, bisa-bisa dirinya yang akan mendapat getahnya akibat berurusan dengan Hazel.


Namun, sekarang ancaman untuknya tidak ada lagi di kota ini. Kabarnya, Calix pindah ke Australia.


"Fuc*k! Lo bawa gue kesini untuk ini, Lia?!" Bentaknya nyalang pada Lia yang kini gelagapan. Hazel ingin tertawa karena berhasil dijebak oleh gadis itu.


"M-maafkan aku, Hazel! Chelsea mengancam, kalau aku tidak mengabulkan permintaannya, maka dia akan lebih parah lagi menindasku, aku tidak ada pilihan lain..Aku takut.." Ujarnya menunduk. Tak bisa di pungkiri bahwa dirinya merasa bersalah.


"Seret!" Mereka menyeret Hazel yang melakukan segala upaya dalam melawan kearah sebuah pohon rindang, di sana tubuh lengkap dengan tangan Hazel di ikat di batang pohon dengan tali temali.


"Lepasin gue, sialan! Kalian mau apa sama gue hah?! Salah apa gue sama kalian?!"


Wajahnya terangkat tatkala surainya di jambak kuat oleh Chelsea. "Lo mau tahu apa kesalahan lo? Salah lo adalah nyari masalah sama gue! Heh, sekarang gak ada lagi orang yang melindungi lo. Lo akan jadi pengganti Lia yang gue bully. Mulai detik ini, akan gue buat kenangan kelam untuk lo di sekolah ini."


Dibalik itu, tanpa mereka sadari diam-diam Lia memundurkan langkah dan segera pergi dari sana menyisakan mereka.


"Lepasin gue!!!" Hazel meronta-ronta. Sementara Chelsea menengadahkan tangannya meminta sebuah senjata pada anteknya. Megan meletakkan sebuah silet di sana.


Smirk licik tersungging, Hazel di landa rasa takut yang mendalam. Ilusi pahit masa lalu terbayang-bayang dalam benaknya. Tindakan Chelsea memutar memorinya kesana. "L-lo mau ngapain dengan benda tajam itu?!!"


"Kita lihat saja, apakah masih ada cowok yang demen sama lo setelah wajah lo rusak?"


"Tidak! Jangan sakiti gue!!" Pekik Hazel putus asa.


Detik berikutnya, erangan kesakitan menyusul ketika ujung silet mengiris area wajahnya. Darah menyembul dari sana. Beberapa sayatan menggores wajahnya, Hazel dibuat tak berdaya. Oksigen di sekitarnya mendadak hilang antah berantah, napasnya memburu. Hanya ada kekosongan di dalam matanya.


"Jangan..Jangan..please.."


"C-calix...tolongin gue.." Ujarnya lemah. Hanya Calix yang dia ingat pada masa dirinya dalam bahaya. Hazel mengharapkan sesuatu yang mustahil, dia berharap Calix datang menolong dirinya. Padahal tidak mungkin Calix akan datang kesini sementara dirinya berada di benua yang berbeda.


Chelsea tertawa jahanam. "Calix?! Dia gak akan datang kesini!!! Dia udah ninggalin lo! Seharusnya lo sadar diri!!" Berkali-kali, jari telunjuk Chelsea mendarat di dahi Hazel. "Calix gak akan pernah serius sama cewek, apalagi cewek kayak lo! Lo gak cocok sama di--"


"HAZEL?!!" Suara bariton dengan intonasi panik itu menginterupsi mereka.


*****