
Meletakkan piring berisi hasil masakannya yang merupakan ayam kecap diatas meja, Calix menjatuhkan bokongnya diatas sofa tanpa melepas apron yang dia kenakan.
"Cepat, cicipi masakan gue." Titahnya untuk Candra dan Farel yang kini berada di apartemennya. Mereka berdua menyorot horor masakan yang dia buat dengan susah payah.
"Masakan lo terakhir kali keasinan, terus coba lagi malah kepadesan. Kali ini apa lagi? Lo gak naruh sianida di makanan ini kan?"
Bantal sofa melayang, yang mewakilinya menampar wajah jelek Candra. "Sekate-kate tuh mulut! Ngapain gue campur sianida coba?"
Candra hanya bisa tersenyum palsu sambil menyimpan bantal sofa disampingnya. Ingin dia membalas, sialnya dia segan terhadap seorang Calix.
Menyikut lengan Candra, Farel menggerakkan dagunya. "Lu duluan deh Can yang cobain! Kalo semisal dicampur racun, kan di tahu dari lo reaksinya, mulut lu bakal keluar busa-busa hidayah."
"Lah anjirrr gua di kambing hitamkan." Gumam Candra merasa dijadikan tumbal. Kesampingkan dulu masalah negatifnya, ada baiknya dicoba dulu. Mungkin saja satu persen enak--bukan, setengah persen saja membayangkan rasa masakannya terakhir kali.
Dengan penuh kewaspadaan, Candra mulai mengangkat sendok yang sudah terdapat kuah kental bumbu ayam kecap pedas manis disana. Kemarin-kemarin latihan Calix gagal total, rasanya benar-benar hancur. Tidak tahu hasilnya sekarang, mungkin saja tambah hancurnya.
Memejam matanya tepat saat makanan itu menyentuh lidahnya. Terbuka lah kelopak netranya dengan lebar-lebar. Dia mengambil satu potongan paha daging dan menyantapnya dengan lahap, tidak peduli sampai belepotan kemana-mana.
"Muantuuul cok... Sadap!! Sumpah demi pantat Farel, masakan lu kali ini beuhh! Sudah bisa jadi koki kalo kata gua mah!" Calix mengucek hidungnya tersanjung dengan diri sendiri atas pujian yang dilayangkan oleh Candra. Lengkap dengan acungan jempol sebagai apresiasi.
"Mana-mana, gue juga mau cobain!" Farel mencomot satu potongan daging turut mencoba, dan reaksi sebelas dua belas dengan Candra.
"Wah! Congratulations bro! Sering-seringlah masak kalo kami main kesini! Biar kami bisa menikmati hidangan seenak ini. Kalo perlu jadi koki dirumah gue aja, masakin makanan buat hewan peliharaan gue lumayanlah gajinya nanti gue kasih diskon."
"Elah, kalian mau jadikan gua pembantu?!"
"Oh iya? Btw belakangan ini, kami perhatikan lo berambisi banget latihan masak, ada apa gerangan?" Farel mengangguk-angguk, pertanyaan Candra mewakilinya juga.
"Dan yang jadi pertanyaan utama, kenapa harus ayam? Kapan itu lo masak ayam tumis, kemaren-kemaren semur ayam sama ayam gulai, terus sekarang ayam kecap."
"Nah yang itu juga patut dipertanyakan! Sebanyak-banyaknya makanan, kenapa bahan pokoknya harus ayam?"
Dengan pandangan menerawang kearah lain, Calix tersenyum tulus membayangkan gadisnya akan mencoba masakannya kelak. Upayanya sudah membuahkan hasil meskipun masih harus terus diasah, yang berarti Papa Hazel akan semakin setuju sama hubungan mereka berdua. "Simple. Because chicken is my girl's favorite food."
"Uhhhuuk! Uhhhuk!!" Daging nyangkut di tenggorokan mereka karena omongan juga senyuman membahayakan Calix, Candra dan Farel segera ngacir ke dapur mengambil minuman dari sana untuk menyelamatkan tenggorokan mereka.
Kembalinya mereka, gerakan grusa-grusu kedua teman lucknut-nya itu mengambil posisi ditempat mereka yang awal, "You girl, yang lu maksud siapa? Terlalu banyak cewek yang deket sama lu, gak tahu yang mana lagi dah yang penyuka ayam."
"Hazel, ck."
Mencengangkan. Kedua kawannya terpukau bukan main. "Lix, gue bener-bener speechless."
Seketika Calix bertanya-tanya dalam hati, apakah semustahil itu dirinya menyukai gadis sampai sebegitunya hingga reaksi mereka setidak percaya ini?
"Semalam gue sama Farel baru habis main di club, si Yola cariin lu, nanya-nanya ke kita kenapa akhir-akhir ini lo udah gak pernah nongol disana, ngundang dia kesini pun udah gak pernah. Jadi, ternyata ini alasannya?"
"Haruskah kita menyewa ballrom hotel untuk menggelar perayaan besar dengan tema insyaf nya seorang Calix yang terkenal akan sifat buayanya dan memiliki koleksi segudang Wanita ini?"
"Ah udahlah! Jangan bahas hal yang gak penting! Rencananya, gue bakal cari pekerjaan untuk dapetin duit dengan kerja keras gue sendiri, kalian pada ada rekomendasi gak pekerjaan yang cocok buat gue?"
"Jadi gigolo aja, pekerjaan itu yang paling pas untuk lo. Selain bakal dapet uang, lu juga bakal dapet kenikmatan."
"Yang serius napa! Gua lagi gak bercanda neh."
"Berjanyaaa berjyandaa..." Imbuh Farel malah menyanyi. Calix menatap mereka datar. Sudahlah, dua rekan sesatnya ini memang rada tidak ada yang benar, bagaimana bisa mendapat saran dari mereka, sementara dia doang yang waras-waras sinting.
"Gimana Lix rasanya jilat ludah sendiri, enak gak?"
"Lo menanyakan hal yang sudah pasti, Dra! Lo kan sudah tahu, apapun makanannya, minumannya tetap ludah sendiri."
Calix mendengus kesal sebagai balasan, dia sudah tahu bahwa mereka akan meledeknya habis-habisan.
"Jadi, ceritanya lo bener-bener udah suka nih sama si Hazel?"
Calix menoleh pada kedua temannya yang kini menatapnya jahil dengan kedua alias naik turun menggodanya, dirinya memandangi mereka secara bergantian. "Enggak kok."
...*****...
"Eh--" Tubuh Rega terseret, ditarik oleh Hazel secara paksa. Bisa saja dia menahan dirinya karena tenaga mereka sudah jelas dia yang jauh lebih unggul dari pada gadis ini, tapi dia lebih memilih untuk mengikuti arah langkah Hazel menggiringnya entah kemana. "Lo mau bawa gue kemana, El?"
BRAKK!!
Ternyata Hazel membawanya kedalam gudang, punggung Rega menabrak dinding, Hazel langsung memojokkannya ditembok setibanya disana, "Whoo... Come on El.. ini dikalangan sekolah, jangan bilang lo mau mengulangi malam panas membara itu disini?"
Sebelah lengan kekarnya menjalar ke pinggang ramping Hazel, menggiringnya hingga maju satu jengkal jarak darinya maka tubuh mereka berdua sudah merapat. Mengunci tatapan dalamnya pada wajah Hazel yang mengeluarkan aura menusuk.
"Jangan sentuh gua!"
Dia melepas kasar tangan Rega dari pinggangnya. Rega mengangkat kedua tangannya, "Oke-oke. Gue bakal jaga tangan gue agar gak nakal dan sembarang menyentuh lo. Gue cuma menggoda lo aja, jangan marah."
Tatapan Rega mengikuti tangan mungil Hazel kemudian terangkat kearah paras lelaki itu, detik selanjutnya jari jempolnya bekerja menyapu tahi lalat disudut bibir Rega. Menghilang dari sana, mana ada tahi lalat asli yang terhapus bahkan hanya menggunakan jari?
"Heh? Ternyata dugaan gue bener. Lo rega, bukan Fatur." Bagaimana dia bisa sebego ini? Kalau lelaki ini benar-benar Fatur, tidak mungkin dia bisa masuk sekolah SMA sementara dirinya dulu sudah duduk dibangku SMA saat mereka masih mengenakan seragam putih biru.
"Ketahuan ya?" Rega menyeringai penuh arti.
Hazel akui, saat itu Rega nyaris menyerupai Fatur karena mereka memiliki ikatan darah, Kakak dan Adik kandung, kalau bukan karena tubuhnya yang lebih pendek dan wajahnya lebih mudah dari Fatur, Hazel tidak akan bisa membedakan mereka berdua.
Sekarang, Rega benar-benar identik dengan Fatur karena perawakan tubuhnya lebih besar dan tinggi, wajah pun lebih dewasa dari yang dulu. Dan yang paling membuat Hazel yakin adalah tahi lalatnya yang rupa-rupanya palsu belaka.
Hazel telah menarik dirinya dari Rega memberi jarak aman, memasang gaya bersidekap dada mengamati Rega penuh curiga. "Apa motif lo berpura-pura menjadi Fatur dihadapan gue? Berarti yang ngirim pesan dan melakukan panggilan gak jelas ke hp gue selama ini adalah elo?"
"Tebakan lo gak sepenuhnya benar tapi enggak sepenuhnya salah juga. "
Hazel berdecak kecil, "Gaje, ck. Lo bertingkah seolah-olah jadi Fatur, meskipun gue akui siapapun akan terperdaya dengan tipu daya lo, karena gak bisa dipungkiri kalo gue ngerasa lo itu Fatur, dari tatapan lo aja sama persis seperti Fatur. Waktu ketemu dirumah Ronan dan diparkiran sekolah, gue ngerasa vibes lo beda. Begitu pun sekarang--sama dengan vibes sewaktu gue ketemu lo dirumah Ronan."
Kepalanya menunduk jatuh pada sebuah amplop yang disodorkan oleh Rega kepadanya, alisnya tertaut keatas, "Ini apaan?"
"Sesuatu yang seharusnya gue kasih saat pertama kali berjumpa dengan lo setelah sekian periode waktu yang terlalui."
"Gak. Gue gak bisa terima, siapa yang menjamin kelo di dalem ini bukan jebakan? Mungkin saja lo kasih gue kejutan serangga di dalemnya? Atau--bom?"
Toyoran di dahinya mendorong kepala Hazel kebelakang. "Otak lo masih sama kaya dulu yah. Bego, mungkin tambah parah lagi kadarnya."
Batang hidung Hazel mengerut tak senang akan cacian yang terlontar dari mulut Rega, sedangkan Rega menyerahkan amplop surat itu kedalam tangan Hazel untuk diambil alih oleh gadis itu dengan terkesan memaksa.
"Tenang, bukan hal yang berbahaya. Gini-gini gue juga pernah jadi bagian dari keluarga lo. Gak mungkin untuk gue celakain lo. Terima aja, buka saat lo udah siap. Jangan lupa siapin tissue sebelum membacanya, takut air mata lo meleleh sekaligus dengan ingus lo."
Hazel memutar badan, mengikuti pergerakan Rega yang melangkah kearah pintu lalu membolak-balik amplop yang diberikan oleh Rega padanya. "Surat apaan dah sampe gue pake acara nangis bombay pas baca ini? Apa jangan-jangan selain surat, isinya ada bawang ya..?"
Rega menaikan bahu tak acuh menjeda langkah kakinya pas dibingkai pintu. "Lo akan tahu nanti." Selepas berkata demikian, dia belum langsung keluar, kepalanya bergulir beberapa derajat agar sedikit mengintip objek dibelakangnya.
"Oh iya, belakangan ini gue ngerasa udah lebih tenang, gak berkeliaran lagi kemana-mana tanpa sepengetahuan gue sendiri. Mungkin dia sudah pergi atau mungkin juga dia masih memantau lo diam-diam. Secuil saja, cowok lo menyakiti lo baik secara fisik mau pun batin, gue gak tahu dampak apa yang akan terjadi." Imbuhnya tersirat segudang makna, sebelum meninggalkan Hazel didalam gudang sendirian.
...*****...
Ckitttt!
Bugh!
Tubuh Calix beserta Hazel terdorong kedepan, Hazel sudah mencium setir akibatnya. "Aduh--hidung gua! Hampir aja patah!"
Jika mereka berada dijalan raya yang padat akan kendaraan berlalu lalang, mungkin saja mereka sudah singgah dirumah sakit akibat kecelakaan, untung saja sekarang mereka berdua sedang ada ditempat yang sepi, yakni di sirkuit balapan, mengajari Hazel cara mengendarai transportasi beroda empat.
"Hazel!! Kan udah gua diajarin tadi, nyalakan mesin, injak pedal gas lajukan secara perlahan, nah kalo mau ngerem, pelan-pelan aja tekanannya, jangan kuat-kuat nginjak, ginikan jadinya?"
Bibir Hazel monyong satu centi, telinganya sakit mendengar omelan Calix dari A sampai Z mengenai cara mengemudi dengan benar. "Namanya belajar ya mana ada langsung kayak sihir, simsalabim langsung lancar. Justru aneh jadinya kalo gua langsung bisa mengemudinya."
"Tapi dari tadi lo diajarin perasaan kagak paham-paham juga."
"Yes si paling jago..nyenyenye." Hazel menye-menye membuat Calix jadi tidak tahan untuk tidak mencomot mulutnya yang sengaja dikerucutkan. Jahit bibir pacar sendiri, boleh gak sih?
"Emang gua jago, masalah mengemudi mobil atau motor, serahin gua aja, asal lo tahu waktu gue SMP gue udah mengemudi mobil sendiri sampe diBandung lagi,"
"Busyeet dah jauh amat, ngapain lo di Bandung?"
"Study tour lah! Ya kali nyari jodoh, orang jodoh gua udah ada disamping gue ini."
"Etdah bangkit lagi jiwa buayanya, tolongin gua Mak! Ntar diculik sama buaya darat." Raung Hazel mendramatis diselingi cekikikan kecilnya.
"Buaya itu makhluk paling setia sama pasangannya, gak percaya? Cari aja sana sama Tante google."
"Lagi gak ada quota hehehe," Hazel memamerkan deretan gigi putihnya, cengar-cengir padahal tidak ada yang lucu, disambut cebikan kesal oleh Calix.
"Eh, ngomong-ngomong, lo kagak ditilang polisi kah bawa mobil masih dibawah umur? Sampe kota Bandung pula. Ck, ck, ck."
"Gak usah ditanya. Gak kehitung berapa kali gua kena tilang dalam perjalanan, tapi yah gitu, semuanya bisa teratasi dengan cuan. Selama duit tersedia, sogokan pun bakal lancar jaya."
"Emang yah, hidup itu tidak akan berarti tanpa uang." Gumam Hazel lalu berdecak lagi.
Drrttt... Drrttt... Drrttt..
"Eh bentar? Gua denger getaran-getaran aneh?" Hazel menyentuh dadanya, "Jantung gua aman-aman aja, gak lagi jedag-jedug ser. Tapi kok ada getaran yah?"
"Hp gua o'on!" Calix menggetok kepala gadis disampingnya geram, ingin dia mencekik Hazel saking gemas akan ke begoannya.
Calix mengakui dirinya pribadi memiliki kapasitas akal pikiran yang dibawah rata-rata, namun taraf kegoblokannya tidak sampai seperti Hazel yang melebihi hewan koala.
...Bidadari jatuh dari khayangan😍...
Nyaris saja benda pipi yang baru saja dia keluarkan dari saku terjatuh dari tangannya mendapati nama kontak paling horor yang tertera dilayar handphone miliknya. "Ya Tuhan! Nih kontak keramat, napa nongol lagi dah?!"
"Hallo guys!! Kembali lagi di YouTube channel aku! Thea si bidadari jatuh dari khayangan!"
Suara cempreng Thea langsung menyapa telinga mereka berdua kala Calix memutuskan untuk mengangkat panggilan mengingat kebiasaan Thea yang kekeuh apabila panggilan ditolak.
Calix mengaktifkan speaker agar Hazel juga dapat mendengar komunikasinya dengan manusia jadi-jadian diseberang telepon.
"Bapakmu jatuh dari kayangan! Yang ada mah jatuh dari lumpur!"
"Heh-heh itu mulut seenak jidat bilang Bapakku! Apakah Tuan lupa? Bapak Thea adalah Bapak Anda juga Tuan jelek sejagat raya!"
"Gak usah banyak basa-basi! To the poin, ada perlu apa nelepon Kakak? Kakak lagi sibuk nih."
Intonasi suara gadis kecil diseberang sana merendah, cenderung lebih serius dari pada beberapa detik yang lalu.
"Gini Kak, ntar malem Mami sama Papi bakal ngadain perjamuan kecil-kecilan sebagai perayaan sederhana. Kakak tahu gak perayaannya dalam rangka apa?"
"Ya mana Kakak tahu? Kan Thea belum bilang." Diwaktu yang bersamaan, Calix dan Hazel bertukar pandang, penasaran mereka entah dalam rangka apa pelaksanaan yang digelar.
Dan di detik berikutnya, Thea bersorak gembira. "The bakal punya Adik yee!" Calix menganga lebar-lebar seperti goa didalam sana, syukur-syukur tidak ada serangga terbang disekitarnya. Hingga tidak dimasuki apapun kedalam.
"Lah? hasil reproduksi Mami sama Papi tokcer lagi? Aduh tambah lagi dong beban keluarga. Bisa-bisa impian Papi yang ingin memiliki Anak seratus bakal ke sampean." Gerutunya setengah frustasi. Adik menyebalkan akan bertambah lagi. Thea saja sudah cukup membuatnya stres.
"Seratus?!" Hazel hanya bisa geleng-geleng tidak habis pikir. "Wah, Bokap lo niat banget bikin anaknya, Lix."
"Definisi nikah sama orang yang dicintai kaya gitu. Lo tahu gak embel-embel yang dipakai Papi gue selama ini? Pantang menyerah sebelum punya seratus debay! Belum lagi nanti kalo mereka punya cucu? Gak habis-habis nanti keturunan Ragaswara. Mana gua niatnya pengen ngalahin Papi lagi, kalo kecapai impian Papi memiliki seratus anak, gua bakal usahain buat anak yang melebihi seratus."
Hazel bergidik. Tidak mau dia membayangkan. "Hih ngemri amat Lix. Gue jadi kasian sama cewek yang ditakdirkan Tuhan untuk jadi jodoh lo."
"Iya kan orangnya lo."
"Hih amit-amit..." Gumam Hazel dengan tubuh pura-pura menggelinjang. "Terus, kalo takdir berkehendak lain, gimana?"
"Yaudah biar gua ajak by one takdir. Semisal takdir yang kalah, lo bakal jadi jodoh gua, tapi seandainya gue yang kalah kita bangun rumah deketan biar tetanggaan aja, terus kita selingkuh diem-diem dari jodoh kita, simple kan?"
Hazel mendelik aneh. "Otak lu gesrek amat Lix. Bisa-bisanya kepikiran sampe kesana, luar nurul banget."
"Kakak?!"
Akhirnya Calix mengalihkan atensinya dari Hazel kepada manusia diseberang sana. "Humm?"
"Kata Mami jangan lupa undang calon menantunya alias calon Kakak ipar Thea juga malam ini! Mami bilang kalau Kakak gak membawanya ke rumah, Mami bakal coret nama Kakak dari kartu keluarga!"
"Lah? Kejam banget si Mami?"
"Yah makanya Kakak harus usahakan bawa Kakak ipar dateng malam ini, biar Kakak gak jadi anak buangan, Thea juga penasaran dengan Kakak ipar!!"
Tangannya mengusap tengkuknya kikuk, Hazel lantas berdehem mengalihkan rasa canggungnya mendengar panggilan Thea dari lain sisi. "Ehm. Alix, Ingetin dong ke Adek lo, jangan panggil Kakak ipar kaya gitu, geli gue dengernya." Celetukannya memancing lirikan sensi dari lelaki disampingnya.
"Ngerasa lo? Padahal bisa jadi yang dipanggil Adek gue sebagai Kakak ipar bukan lo."
"Kurang asem." Gumam Hazel dengan raut berubah menjadi masam. Kenapa harus kesal? Yang dikatakan oleh Calix kan ada benarnya juga.
"Jangan lupa ya Kak! Pokoknya Kakak harus datang bersama dengan Kakak ipar! Awas kalo enggak! Thea bakal sebarkan foto aib Kakak! Udah dulu, Thea mau bobo siang dulu bye!"
"Lah nih bocah--berani-beraninya bohongin gua katanya bakal hapus Poto cidukan gua--huh untung Adek gue lo. Kalo kagak--gua udah bejek-bejek!" Geram Calix menatap dongkol layar ponselnya yang sudah menghitam.
*****
Dukungannya yuk, biar Author makin semangat!! Beberapa episode lagi menuju konflik utama yang mungkin akan membuat hubungan Calix sama Hazel jadi💔
Pokoknya gitulah, nanti kalian akan tahu nanti🤗🥺