My Possessive Boyfriend

My Possessive Boyfriend
MPB•REALLY CRAZY



Calix pikir, dia akan mudah melupakan Hazel. Salah besar dia mengira perasaannya hanya sesaat.


Ironisnya, dua minggu sudah berlalu setelah usainya hubungan mereka, Hazel terus-menerus menghantui kepalanya. Bersama dengan kata-kata bijak Farel kala itu, melekat permanen dibenaknya.


Disekolah, tidak jarang dirinya selalu mencuri-curi pandang kepada Hazel. Baik itu di kantin, di koridor, di parkiran.


Bukan hanya itu, bahkan dia sengaja mengambil rute jalan yang sama dengan Hazel hanya sekedar agar berpapasan dengannya, meskipun Hazel hanya akan lewat seperti angin lalu.


Janjinya pada diri sendiri untuk tidak sering muncul diruang lingkup pandangan Hazel, goyah begitu saja. Masih ada yang lain, tak gencar dia juga senantiasa cosplay menjadi paparazi.


Stalker dadakan patut menggambarkan dirinya, mengawasi Hazel diam-diam, kapan pun dan dimana pun dia berada.


Waktu Hazel jalan-jalan bersama dengan Rega pergi ke pantai hingga menelusuri taman bermain pun, tidak luput Calix ikuti diam-diam. Catat, diam-diam!


Dia mencoba kembali mengulangi tradisi gelapnya. Kerap main ke club, berpesta miras, bercumbu mesra dengan para Wanita. Sialnya, sensasinya tidak seperti dulu, dia tidak bisa menikmatinya lagi.


Terlepasnya pagutan mereka, bokong Yolanda terjerembab kelantai club didorong Calix secara kasar. "DAMN! Bibir lo benar-benar hambar cih!" Calix membuang ludah jijik. Pengen muntah saja dia rasanya.


"What the fuuck! Kasar sekali lo jadi cowok! Pantat gua perih banget!!" Dengan tidak terima, Yolanda bangkit dan menepuk-nepuk bokongnya dalam rasa dongkol tertahan.


Calix menyeka bibir seksinya sangatlah kasar, ibarat menghapus noda menjijikan dari sana. "Minggu lalu gue kasih lo kompensasi! Lo gunakan buat apa hah?! Seenggaknya sebagian dari tips yang gue beri ke lo. Lo beliin lipstik rasa buah yang manis-manis! Gue gak suka bibir yang hambar! Gak ada rasanya sama sekali! Bukannya candu, malah bikin gua najis!"


"Udah berkali-kali gue gonta-ganti lipstik sesuai perintah lo! Lo-nya aja yang gak bisa puas! Cari jalaang yang lain aja sana! Yang bibirnya semanis madu! Mau cari bibir yang manis-manis, lo kira ini dunia fiksi?! Morning kiss aja dibilang manis! Padahal mah aslinya bau jigong! Dahlah, Muak gua lama-lama sama lo!"


"Pergi sana pergi! Gua juga udah gak selera!" Pekik Calix untuk Yolanda yang telah memunggunginya.


...*****...


Brakkk!!


Saat lampu lalu lintas berwarna merah, Calix tidak sengaja--ralat, sengaja menabrak belakang mobil seseorang didepannya. Bapak yang mengendarai mobil itu pun keluar, membanting pintu mobilnya penuh emosional.


"Apa masalahmu denganku hah?! Apakah kau baru belajar berkendara?! Gara-gara ulahmu mobilku jadi lecet! Kalau kau tidak mengganti rugi, kejadian ini akan kubawa ke jalur hukum!"


Memainkan lidahnya dalam mulut, Calix melepas helm dengan seringai mematikan kemudian turun dari motor bertepatan dengan lampu lalu lintas berubah menjadi hijau.


Aksi provokasinya lancar jaya, dia tinggal menanggapinya maka dia akan mendapat mangsa malam ini. Bunyi demi bunyi nyaring dari klakson kendaraan-kendaraan yang ada dibelakang mereka, tidak jadi hambatan untuknya.


"Semenjak hari itu, gue hanya menyalurkan emosi gue dengan mabuk-mabukan, main cewek dan meninju samsak. Kalo gue menjadikan orang sebagai samsak empuk gue, kira-kira bagaimana nanti nasib orang itu yah?"


Meregangkan leher, Calix menggulung lengan kemejanya. Dia, mengambil langkah kian mendekati sasaran. "Mungkin saja akan dilarikan ke rumah sakit, atau-- langsung silaturahmi dengan malaikat maut?"


Bapak-bapak dengan usia berkisaran 40 tahunan itu meneguk salivanya terintimidasi, sepertinya dia salah sasaran. Dengan kedua tangan terangkat, dia pun lanjut berbicara dengan nada suara yang lebih rendah. "Bentar, Nak.. kita diskusikan ini baik-baik.. kalau kau bersedia mengganti rugi atas kerusakan mobilku--"


Bugh!


Belum juga tuntas negosiasi Pria paru baya itu, dia sudah jatuh tersungkur diberi oleh Calix pukulan telak, dalam posisi duduk, tubuh Pria itu terseret, ditarik oleh Calix di kerah bajunya dibagian belakang, digiring oleh Calix kepinggir jalan trotoar sana.


"Apa yang kau lakukan?! Lancang sekali kau kepada yang lebih tua! Kalau kau tidak juga melepaskan saya, siap-siap saja kau berhadapan dengan hukum! Saya adalah seorang profesor, kalau kau beran--"


"Bacot sialan!! Mau kau seorang Profesor, Bupati, Presiden sekali pun lo pikir gua takut?! Cih!"


Calix menghempas sasaran empuknya itu hingga menghantam batu besar yang kebetulan sekali ada disekitarnya, menginjak-injak kepalanya berulang kali membuat kepala sang korban bocor, darah bercucuran di batu itu akibat sebuah benturan fatal, begitu pula dengan mulutnya yang mengeluarkan cairan darah merah kental.


Bukannya merasa bersalah, Calix malah tertawa jahanam. "Hahaha mampus lo sampah masyarakat! Tenang aja, nyawa lo masih aman kok, lo kan seorang profesor, gak mungkin gak ada duit untuk berobat luka ringan. Mati sekalipun, gak ada ruginya bumi kehilangan satu nyawa sampah kaya lo."


Calix menduduki kepala manusia yang sudah kehilangan kesadaran tersebut dan merokok kelewat santai disana, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi, padahal baru saja membuat orang sekarat.


Malah, sekarang dia dengan tanpa ada rasa berdosa sama sekali, menyamankan bokongnya di kepala sang korban yang telah berlumuran darah.


"Kenapa?! Kalian juga mau berakhir seperti tua bangka ini?!" Sergahnya melotot pada warga sipil yang ada ditempat kejadian perkara, mereka tentu saja menyaksikan tindakan kriminalnya.


Setelah mendapat lontaran dari Calix, beberapa masyarakat itu saling mendorong takut, "Lebih baik kejadian ini segera kita lapor polisi!!"


"Lapor sana lapor! Tapi--kalo gue udah keluar dari sel, siapkan teh untuk gue, karena gue akan bertamu ke rumah kalian satu persatu, bahkan sekalipun ke ujung dunia, gue akan mencari kalian. Muka kalian sudah gue tandain di dalam memori gue." Calix meletakkan jari telunjuknya disisi kepalanya dengan senyum remeh yang terukir.


"Hih laki-laki itu kayaknya gak waras!"


"Mantan RSJ kali!"


"Dasar orang gila! Beli obat sana! Kau pasti kehabisan obat!"


Calix tertawa murka mendengar cercaan mereka, dia menutupi sebelah wajahnya dengan satu tangannya. "Gila? Kayaknya iya."


...*****...


^^^Turun, Azel..^^^


^^^Gue ada didepan.^^^


Ceklist dua. Sayangnya centang warna abu-abu itu dalam sekilas berubah menjadi biru alias dibaca saja namun tidak ada balasan setelah lima menit.


Calix meraup wajahnya yang basah akan guyuran hujan. Dia juga bingung, kenapa juga dia bisa sampai disini. Seperti ada rantai yang membelenggu kakinya dan menyeretnya paksa kesini tanpa peduli keadaan cuaca yang sedang rusak.


Pantang menyerah, Calix terus mengirimkan pesan ke kontak Hazel, sekalipun hanya diabaikan.


^^^Bentar aja ya?^^^


^^^Gue pengen liat muka lo. Lima detik. Atau, kalo lo gak tahan liat gue, satu detik aja.^^^


^^^Please...^^^


Menggenggam ponselnya, Calix menengadahkan wajahnya keatas, menikmati sensasi butiran demi butiran sedingin es yang menerpa permukaan kulitnya. Entah, dalam aliran embun itu, mungkin terdapat air mata yang tercampur.


Perlahan kelopak matanya terbuka, memusatkan titik fokusnya pada seorang gadis dengan payung transparan berjalan kearahnya. Tanpa sadar sudut bibir Calix berkedut samar, sedikit terangkat.


"Lo ngapain disini?" Wajah Hazel sedikit tertekuk, mewakili hatinya yang tidak senang menyambut kedatangan Calix disini. Auranya terlihat dingin, sedingin suhu udara saat ini.


"Untuk memulihkan kewarasan gue." Mereka berdua berdiri berhadapan dengan pagar sebagai penghalang. Dengan payung yang menaungi Hazel dari derasnya air hujan dan Calix sudah basah kuyup.


Calix menepati kata-katanya. Hanya dalam durasi lima detik, dia kemudian berucap. "Udah. Udah lima detik, makasih yah udah luangin waktu untuk ketemu sama cowok brengsek ini. Masuk gih, gue cuma mau liat muka lo. Lima detik bekal gue tiga hari, ah enggak. Sehari aja gak cukup kayaknya."


Calix terkekeh hambar disambut rotasi manik mata kesal oleh Hazel, "Gaje ck. Pulang sana!"


"Iya. Gue pulang. Pintunya jangan lupa dikunci, see you, Azel. Sehat-sehat terus.."


Langkah Calix begitu berat untuk dia pakai meninggalkan tempat, dia masih ingin melihat wajah Hazel lebih lama. Sayangnya, gadis itu mungkin akan mengamuk jika begitu.


Sementara Hazel, masih terpatri di posisinya tadi, menatap punggung laki-laki yang kian jauh dari pandangannya. Dia baru sadar bahwa Calix tidak bawa payung. "Apa gue udah keterlaluan yah?"


Kepalanya menggeleng cepat kemudian menepis secercah kebaikan yang timbul dalam hati nuraninya. "Keterlaluan apanya! Sadar Zel sadar! Dia itu Calix Keiran Ragaswara! Cowok biadaap kaya dia memang pantas diperlakukan kaya gitu!"


...*****...


PLANG!!


Bunyi pecahan botol alkohol terdengar nyaring di bilik kamar Calix. Farel merebut botol minuman keras yang ada ditangan Calix yang sudah seperti orang kehilangan akal sehatnya hingga kini serpihan-serpihan benda itu berserakan dilantai kamar Calix.


Bukan hanya satu botol yang dibuang oleh Farel yang Calix habiskan. Disudut ruangan ini beredar sampai puluhan botol jika dihitung dengan jari.


Putung rokok beredar dimana-mana, aromanya sungguh menyengat, memenuhi bilik kamar. Seperti inilah rutinitas Calix setelah hubungan dirinya dan Hazel kandas.


"Lo mau mati hah?!"


"Minggir, Farel! Jangan hentikan gua! Gua pengen tenang!"


"Pengen tenang? gak gini caranya! Masih banyak cara lain untuk menenangkan diri."


"Enggak! Bagi gue gak ada cara lain!"


PLANG!!


Kali ini yang menepis botol miras yang baru saja Calix raih adalah Candra. Calix sudah sempoyongan, kesadarannya sedikit demi sedikit sudah mulai ditelan oleh pengaruh alkohol yang kian mendera kepalanya.


"Sadar bro! Dengan cara lo mabuk-mabukan sampai tepar kaya gini gak akan bisa membuat Hazel balik!"


Candra meraih tubuh Calix untuk dia papah secara paksa kearah tempat tidur lelaki itu dan menjatuhkan tubuh Calix yang sudah kehilangan separuh kesadarannya diatas kasur. Farel dan Candra menatapnya penuh simpati.


"Ada baiknya lo berjuang. Bukan malah menjadi-jadi kaya gini. Bukannya membuat Hazel balik, yang ada lo bisa-bisa koit karena overdosis sama minuman keras."


"Berjuang kaya gimana?!! Lihat muka gua aja Hazel udah gak sudi bagaimana caranya gue bisa berjuang?!" Racau Calix mencengkram rambutnya tidak karuan.


*****