
"CALIX!!!"
Tertegun secara singkat, kontan Calix berbalik arah agar dapat melihat sang pemilik suara familiar tersebut. Suara manis yang dia rindukan setiap saat. Di sini dia tidak sendiri, ada Mami dan Papinya yang ikut mengantar kepergiannya ke bandara.
Begitu tubuhnya berbalik sepenuhnya, terkejut Calix tidak bisa mempertahankan kestabilan tubuhnya hingga menjadi oleng di saat Hazel menerjangnya dengan pelukan, bahkan gadis itu sudah memanjat tubuhnya dengan tangan melingkar dibelakang lehernya dan kaki melilit erat di pinggangnya.
"Hazel? Kenapa lo ada di sini?" Bukannya seharusnya dia sedang di sekolah? Tangan kekarnya perlahan menyanggah pinggan rampingnya agar tidak jatuh. Hazel membenamkan wajahnya di ceruk leher Calix.
"Do not go.."
"Turun dulu, Hazel.. kita jadi pusat perhatian.." Hazel diturunkan oleh Calix. Dia masih ingat tempat ini adalah tempat umum.
"Lo jahat.."
Calix mengumbar senyum menerima di kala Hazel memukul-mukul dadanya. "Iya, gue jahat."
"Lo mau pergi ninggalin gue..? Lo bilang sayang sama gue, katanya mau merancang masa depan bareng gue, kenapa memilih pergi..?"
"Karena lo gak menginginkan gue. Gue berhak suka sama lo, tapi lo juga berhak menyukai siapapun pilihan lo. Seandainya bisa, gue akan memaksa menjerat lo tetap di sisi gue tapi gue gak bisa melakukan itu ke lo. Lo terlalu berharga.."
"Kalo gue bilang jangan pergi, lo gak akan pergi?" Sekali lagi Calix hanya melemparkan senyum sebagai jawaban tak pasti dan kali ini tarikan sudut bibirnya lebih tipis. Dia meraih tubuh gadis itu lagi memasukkannya kedalam dekapannya.
"Zel..I am really, really sorry.."
"For?"
"Udah nambah luka di hati lo, jadi pelaku utama yang menabrak lo sampai nyawa lo nyaris gak bisa selamat. Terlepas dari kesalahan fatal gue, gue malah gak bisa lepasin lo dari genggaman gue. Gue--egois banget ya?"
'Bukan lo yang nabrak gue, tapi gue-nya yang pengen mati.' Hanya dalam batin Hazel berkata demikian, tidak singkron dengan ucapannya yang bertutur melalui bibir. "Hmm it doesn't matter, tapi lo beneran gak papa kan sama gue? Gue kalah segalanya. I'm not a perfect girl."
Pelukan terurai, telapak tangannya pindah posisi ke wajah, membingkai paras cantik gadis dengan ukuran tinggi hanya sedadanya, tatapan Calix menelusuri manik mata Hazel. Sangat lah intens.
"Sekarang gue tanya, apa kelebihan yang gue miliki sampai lo harus dituntut untuk jadi sempurna? I'm not a perfect man either. Gue gak sesempurna itu sampai lo diharuskan untuk sempurna agar pantes ada disisi gue."
"Gue cuma cewek sederhana."
"I still want you."
"Gue udah rusak, Lix."
"I don't care, I still want you. Stop bilang diri lo cewek rusak, gue gak suka."
"Gue udah pernah melahirkan anak dari cowok lain."
"Ku pertegas sekali lagi, aku tetap hanya menginginkanmu."
"Terus, apa kabar dengan kata-kata lo yang 'Siapa yang bakal mau dengan barang bekas?! Cuih! Amit-amit sekalipun langit runtuh!'" Hazel meniru gaya bicara Calix di rekaman.
"Saat itu perasaan gue masih abu-abu. Gue sendiri saja masih belum sadar, apakah gue cinta atau belum sama lo. Terlebih lagi dengan rasa gengsi gue yang gedenya mengalahkan planet jupiter. Jelas gue akan bersembunyi di balik kedok agar gak ketahuan suka sama lo. Gue bakal diledekin habis-habisan sama kedua temen gue."
"Dan untuk sekarang--gue udah sadar. Pengaruh lo besar banget di hidup gue. Kayaknya gue gak akan bisa hidup tanpa lo di dunia gue. Lo satu-satunya cewek yang berhasil meruntuhkan ego gue." Lanjutnya.
Calix membungkam mulut Hazel yang hendak berkomentar dengan telapak tangan kekarnya. Sehingga seluruh kata-kata yang akan keluar tercekat di lidah. "Kalo lo mau bilang kata-kata gue basi, urungkan dulu, gue lagi serius, jangan dipotong."
Lelaki ini seperti peramal yang dapat memprediksi apa saja yang akan disuarakannya didepan mata. "Gue cinta sama lo Zel. Segala yang lo punya gue suka, gak peduli apa kekurangan lo. Selama orangnya lo, gue suka."
"I fell in love with you, Hazel Caliandra Marcena.."
"I love you, Azel.. I love you so much. I need you. Lo adalah segalanya bagi gue, maka dari itu jadikan gue segalanya juga buat lo. Bisa?"
"Sekalipun gue, gak cinta sama lo?"
"Lihat? Tatapan lo aja menatap gue seolah gue adalah orang yang paling spesial di dalam hidup lo. Lo juga gak akan jauh-jauh sampai ke sini kalo semisal gak ada rasa apa-apa sama gue. Jangan mengelak lagi, kasih gue kesempatan untuk menebus semuanya. Selanjutnya gue akan memperlakukan lo selayaknya ratu, bahkan lebih dari itu.
"Akan gue pastikan lo jadi perempuan paling bahagia di dunia ini. Sekalipun lo benci dan gak suka sama gue, biar gue sendiri yang berjuang sampai di titik hati lo benar-benar luluh sama gue, lo hanya tahu menerima kasih sayang dari gu--"
Tutur katanya terpotong, di sela oleh ungkapan Hazel dalam intonasi mencicit. "I love you.. I love you to, Calix Keiran Ragaswara... Gue gak suka sama lo? Itu semua bohong. Nyatanya, perasaan gue selalu terpusat kepada lo.."
"Jadi tolong, jangan pergi ya? Tetaplah disini.." Diam. Hazel tidak mendengar balasan apa-apa.
"Calix..?" Hazel menyembulkan kepalanya di balik dada bidang Calix, mengintip bagaimana reaksi Calix.
"Cal--hmmpphh!" Bibirnya di sumpal secara tiba-tiba oleh Calix. Athala dan Ruby yang sedari tadi menonton mereka berdua membulatkan mata terkejut.
Lekas lah Ruby mengambil tindakan, nyaris saja menghentikan kegilaan sang Putra. Namun, Suaminya mencegatnya. Athala melemparkan gelengan pada Ruby. "Biarkan mereka.. Kita juga seperti itu dulu, bahkan lebih."
"Masalahnya ini di tempat umum, Atha! Gak malu apa?!" Athala beralih merangkul Ruby.
"Anggap saja lagi menyaksikan drama romantis versi real."
Bersamaan dengan itu, awalnya Hazel agak terkejut dengan ciuman tiba-tiba ini, mencoba mendorong dada Calix mengingat tempat ramai. Tetapi lambat laun dia mulai terbuai akan pagutannya yang lembut sehingga dia dapat beradaptasi.
Menyeimbangi lumaatan Calix yang intens. Dia yakini orang-orang sudah menyorot mereka. Hazel dibuat mundur beberapa langkah ketika Calix mendadak mendorongnya, detik berikutnya nampak dia gelagapan seperti orang panik.
"Sorry Zel sorry, tadi gue reflek cium saat lo menyatakan perasaan. Gue terbawa suasana. Lo gak papa kan? Apa gue keterlaluan udah cium lo sembarang tempat dan tanpa izin lo? Semarah apapun lo sama gue, jangan pernah tarik kata-kata lo barusan!" Tanyanya panik, betapa leganya dia mendapati gelengan dari sang empu.
Hazel mendekat dan menarik-narik ujung mantel Calix. "Jangan pergi ya..?" Pipinya di tangkup oleh Calix untuk di arahkan padanya, kali ini bukan lagi di bibir, dia membubuhi ciuman sayang yang berdurasi cukup lama di dahinya.
"Sayangnya gue harus pergi."
"Jadi, gue gak bisa menahan lo untuk tetap di sini ya..?" Lirih Hazel berkaca-kaca.
"Untuk sementara waktu saja. Kakek dan Nenek gue udah menunggu di sana. Gue akan kembali secepatnya. Sampai saat itu, kalo ketahuan lo ada main dibelakang gue berarti lo udah siap menyandang status sebagai Nyonya Ragaswara next generation."
Kemudian Calix mengacak-ngacak rambut Hazel yang terlihat ingin menangis. "Jangan nangis. Gue akan menghubungi lo kalo udah sampe di sana."
...*****...
"El! Tunggu! Jangan lari!" Fatur menangkap pergelangan tangan Hazel tepat di pertengahan jalan. Hazel meronta, berusaha lolos darinya.
"Lepasin gue sialan! Gue bakalan laporin kejadian semalam ke Mama dan Papa!"
"Lo gila?! Lo mau Papa membunuh gua?!" Fatur terlihat panik bukan main.
"Terus gue harus gimana?! Lo udah rebut mahkota gue! lepas, brengsek! Gue gak mau tinggal dirumah itu lagi! Rumah itu neraka! Gue gak sudi! Gue bakal pergi!" Murka Hazel.
"Jangan kaya gini El.. kita diskusikan ini baik-baik, oke? Gue bakal coba bicara sama Mama dan Papa--"
TING..TING..TING!
Bunyi nyaring klakson mobil secara beruntun menginterupsi mereka berdua, dengan mata menyipit disorot oleh lampu mobil yang menyilaukan sontak dengan kompak mereka mengubah perhatian kearah mobil yang melaju dengan kecepatan diatas rata-rata dari arah berlawanan mereka.
Secepat kilat, Hazel mendorong kuat dada Fatur dari tengah jalan, lelaki itu terhempas ke tepi jalan dengan sisi kepalanya membentur beton, pandangannya berkunang-kunang, berusaha mempertahankan kesadarannya, tidak hanya sedikit keinginannya untuk segera berlari dan menyelamatkan Hazel, namun dia tidak berdaya lagi.
Iris matanya meredup menyaksikan Hazel yang justru memejamkan netra seolah bahwa dia sudah siap akan menerima risiko selanjutnya. "L-larii...E-el.." Hanya kata itu yang mampu dia keluarkan sebelum kesadaran Fatur benar-benar hilang saat itu juga.
BRAKKK!!!
*****