
Suasana berkabung masih terasa. Padahal pemakaman jenazah kedua korban dalam peti sudah selesai beberapa jam yang lalu.
Orang-orang berpakaian serba hitam keluar masuk dari tempat berkabung untuk berbelasungkawa pada sanak saudara yang ditinggalkan juga mendoakan mendiang korban.
Seperti yang lainnya mengenakan pakaian serba hitam. Hazel, menekuk kedua lututnya di depan dua figura yang dihiasi begitu banyak karangan bunga beraneka ragam. Matanya terpejam. Kedua tangannya ber-genggaman. Dia berdoa sepenuh hati untuk Tante dan Pamannya.
'Tante, Paman, semoga kalian tenang dan bahagia di alam sana. Soal Isa, kalian tenang aja. Hazel yang akan mengambil alihnya mulai sekarang. Akan Hazel jamin, dia tidak akan kekurangan kasih sayang sebagaimana kalian sudah menyayanginya dengan segenap hati. Sekali lagi, terima kasih sudah menjadi sosok orang tua yang baik mengasuh dan mendidik anak Hazel selama ini.'
Usai berdoa, Hazel sibuk menyambut satu persatu orang-orang yang hadir, dia memeluk figura gambar Zayna. Sedangkan Jayden figura Abian yang dia dekap. Bukan hanya mereka berdua, ada Mama dan Papa mereka juga sama menyambut orang-orang yang berdatangan.
Dimulai dari kerabat jauh, teman-teman sepasang suami istri itu dan rekan-rekan bisnis Abian, tak luput berkunjung untuk mendoakan mereka. Tangisan duka pun turut mengiringi suasana.
Butuh beberapa saat untuk Hazel yang terus berdiri. Selepas orang-orang berseragam hitam tersebut mulai berkurang satu persatu, Hazel duduk di ayunan yang ada taman bermain anak-anak untuk mengistirahatkan diri sejenak. Tidak jauh jaraknya, dekat dari tempat berkabung.
Merasa ada orang lain yang mengambil posisi di sisinya, Hazel mengalihkan pandangannya yang nanar kesamping, menemukan Jayden yang telah duduk di ayunan sebelahnya.
Tiga menit mereka hanya sama-sama tak berkutik, hingga tangan Jayden teruntai memberikan sebuah kertas yang di lipat.
"Ini apa?" Hazel meraihnya dengan kebingungan.
"Buka aja. Gue udah nyimpan surat itu cukup lama. Sebelum kita pindah ke kota ini, surat itu udah ada, gue gak akan lupa letaknya di boks Isa sewaktu dia belum lama lahir. Meski kami benci dengan cowok itu, kami gak akan melalaikan isi surat itu begitu saja."
Tak apa-apa kalian membawa mereka pergi jauh dari jangkauanku. Asal, beri nama anak ini, Gilsha. Terserah kalian mau memberinya nama lengkapnya apa, yang penting Gilsha harus menjadi nama awalannya. Itu nama yang aku usulkan untuk anak El kelak. Tidak menyangka bahwa anak pertama El adalah anakku.
Tidak mengapa kalian membawa mereka pergi jauh sejauh-jauhnya dari pandanganku. Tapi, jika suatu hari nanti aku muncul kembali di dalam hidup El setelah aku sembuh dari penyakitku dan El bisa menerimaku kembali, kalian tidak boleh memisahkan kami lagi.
Isi surat tersebut bertuliskan kalimat yang merangkai dua paragraf.
"Mengingat kalo sampai detik ini dia belum juga muncul kembali dalam hidup lo. Kayaknya, dia gak berhasil melawan penyakitnya, bukan kah begitu?"
Dada Hazel bergemuruh hebat kala membacanya, dia kembali menitikkan air matanya mengenai permukaan kertas putih. Di robek-robeknya secarik kertas itu hingga terkoyak menjadi puluhan bagian, berterbangan sebelum mendarat diatas tanah.
"Gue kecewa! Gue kecewa berat pada kalian! Kalian keluarga gue! Tapi tega melakukan itu ke gue dan Kak Atur! Kalo kalian memang gak mau gue terbebani dengan adanya Isa, paling enggak kalian menitipkan Isa pada Ayahnya! Kak Atur bahkan gak sempat memeluk darah dagingnya sendiri..."
Rasa benci, emosi dan perih menyeruak masuk ke dalam hati Hazel. Sejauh ini, dia tidak menaruh curiga pada jahitan di bawah perutnya. Yah, dia memang sebodoh itu.
Jayden menggapai kepala Adiknya, dan menenggelamkan wajah gadis itu di dada bidangnya. "Maaf. Kami gak bermaksud untuk melakukan itu. Dulu, kami gak kepikiran sampai kesana. Apa lagi Tante Zayna dan Paman Abi belum di karunia anak selama bertahun-tahun usia pernikahan mereka, mereka sangat ingin memiliki anak. Jadi--tanpa pikir panjang, kami memberikan hak asuh pada mereka. Sekali lagi, maaf."
Tangisnya pecah. Hazel terisak tersedu-sedu. Kepalanya menggeleng pelan. "Sekalipun sampai berbusa mulut kalian mengucapkan kata maaf, udah gak ada gunanya. Kak Atur sudah pergi... padahal dia pasti pengen banget ketemu sama darah dagingnya... Dia pasti ingin menghabiskan sisa hidupnya yang singkat bersama dengan buah hatinya."
Hazel sesenggukan. Sesekali memukul dada Jayden meluapkan segenggam amarah berpadu dengan pilu. "Tapi kalian? Kalian malah memisahkan mereka.. Dimana hati nurani kalian..? Kalian jahat! Kak Atur sangat suka dengan anak kecil.. dia pasti menyayangi Isa... Apalagi Isa punya paman yang baik hati seperti Rega.. mereka akan lebih menyayangi Isa... Setidaknya, kalian membiarkan Kak Atur bahagia sebelum dia pergi.."
"Coba Abang Jay bayangin kalo di posisi Kak Atur? Bagaimana rasanya andai kata Abang punya anak terus di pisahkan dari Abang? Apalagi sudah tahu bahwa umur dirinya sendiri gak akan lama lagi.."
"Gue gak bisa membayangkannya, Zel.. Gue gak mau itu terjadi pada gue.." Tepis Jayden dengan nada suara getir.
"Dia pasti pengen denger tangisan Putri satu-satunya setiap saat... Pengen melihat perkembangan pertumbuhannya setiap hari.. pengen lihat tawa balita kecilnya, ingin melihat putri imutnya merangkak, pengen denger gaya bicaranya yang cadel memanggilnya Papa.."
"Jangankan untuk itu semua, Kak Atur bahkan belum sempat melihat wajah anaknya dengan benar. Padahal kalo ada Isa, mungkin Kak Atur akan lebih semangat dalam berjuang untuk kesembuhannya." Imbuhnya dengan tangis yang kian tergugu. Dia meremas baju Jayden dibagian dada, disana juga telah basah akan embun yang ditumpahkan oleh sang Adik.
Jayden mengeratkan tangannya yang mendekap belakang bahu Hazel. Hazel kini masih terisak kecil, tapi tidak berlangsung lama mendadak suara tangisnya terhenti dalam seketika, disertai tangannya yang terkulai kebawah.
"Hazel?"
Tubuh Hazel nyaris saja luruh dari ayunan. Syukur, Jayden cekatan menangkap punggungnya yang hampir jatuh, "Zel?! Hazel?! Lo kenapa?!"
Diserang panik, Jayden menepuk-nepuk pipi Hazel yang kehilangan kesadaran. Berharap dengan begitu, ada reaksi sedikit merespon tindakannya.
"Jangan bercanda! Ini gak lucu tahu gak?!"
Berkali-kali Jayden memanggil-manggil sambil mencoba terus berupaya mengembalikan kesadaran Hazel keluar kepermukaan.
Sayangnya, usahanya sia-sia saja, Hazel tak kunjung bangun, setelah itu barulah dia memutuskan membopong Hazel menuju rumahnya yang berseberangan dari rumah duka.
Hazel melangkah perlahan, tatapannya mengelilingi sebuah tempat yang luas dan damai. Nuansanya serba putih, tidak ada warna yang lain. Lantai disini pun awan-awan putih. Tidak ada ujung ditempat ini. Sejuk, tenang dan nyaman.
"Tempat apa ini..?" Gumamnya samar. Tidak jauh darinya tepat dari arah berlawanan dengannya, ada seorang laki-laki dan gadis balita berpakaian putih senada dengan nuansa tempat ini.
Pria itu dalam posisi berjongkok, menyamakan tingginya dengan tinggi gadis kecil tersebut. Menyipit, mencoba menajamkan indera penglihatan, Hazel merasa amat familiar dengan perawakan mereka.
"Isa--? Kak--Atur?"
"Gih, Bunda udah datang jemput kamu, kamu harus ikut Bunda."
"Ayah gimana?" Gilsha menatap polos Pria dihadapannya. Fatur melemparkan senyum hangat, belum berhenti elusan yang di terapkannya di pucuk kepala Gilsha.
"Ayah akan pergi. Kalian tidak boleh ikut Ayah. Ingat, jadi anak yang patuh, jangan pembangkang agar Bunda tidak kesusahan. Jangan bandel dan keras kepala, jadi anak yang baik."
Gilsha mendapat towelan di ujung hidung mungilnya, pelakunya tentu saja pria si pemilik mata teduh yang menyuruhnya untuk memanggilnya Ayah beberapa saat lalu. Anehnya, dia malah benar-benar patuh. Disini, dia seperti dikendalikan sihir.
"Sana. Bunda udah nunggu." Balita itu berlari gontai kepada Hazel yang sedang berjalan sedikit shock kearah mereka. Pasalnya, dia menangkap sosok yang dia rindukan selama ini, wajah beserta sabit yang terukir di wajahnya tampak bersinar.
"Buna.. Buna.. laki-laki itu katanya Ayah Ica, dia juga cebut Kak Acel Buna.." Celoteh Gilsha memeluk paha Hazel yang sedang menatap Fatur dengan mata memanas.
"K-kak Atur..."
"Titip Gilsha yah? Maaf, sudah merepotkan mu. Aku berharap, tidak ada dendam di dalam hatimu untukku. Aku akan pergi, kamu boleh membenciku, tapi jangan benci Gilsha, dia tidak salah."
"Kak Atur, mau kemana?!"
"Pergi. Selama ini aku tidak tenang, karena kamu selalu mengingatku. Dan sekarang, tugasku sudah selesai, namaku di hatimu sudah terganti. Lupakan aku, kamu berhak bahagia."
"Enggak!! Kak Atur jangan pergi!! El ikut!!" Langkah Fatur terhenti, dia berbalik arah, tidak pernah luntur senyuman indahnya terpatri di wajah.
"Jangan ikut denganku... Kau lihat itu?" Fatur menunjuk sebuah gambar cerah yang tiba-tiba muncul di udara, disana menampilkan figur dirinya yang sedang terbaring tidak sadarkan diri di atas sofa beserta Calix yang nampak betapa gelisah merisaukan dirinya.
"Kamu lihat sendiri seberapa khawatirnya dia dengan dirimu. Kembalilah, takdir tidak berpihak pada kita. Aku akan pergi, ini benar-benar pertemuan terakhir kita."
"Selamat tinggal." Kata-kata terakhir Fatur di sambut oleh Hazel dengan teriakan lantang.
"Sebentar Kak Atur!! Aku masih rindu, jangan pergi dulu! Masih banyak hal yang ingin aku ceritakan sama kamu!! Jangan pergi!!"
Sayangnya Fatur tetap melangkah amat ringan semakin menjauh mengabaikan panggilannya.
Sehingga Hazel berlari meninggalkan Gilsha. Secepat apapun Hazel berlari berusaha menggapainya, dia tidak bisa. Fatur sudah terlanjur menghilang ditelan oleh kabut tebal.
"Kak Atur..." Calix menyeka cairan bening kristal yang lagi-lagi luruh dari sudut mata Hazel.
"Bahkan saat lo lagi pingsan, tetap menyebut namanya.." Lirihnya. Bukan hanya dirinya, di satu ruangan yang sama dengannya juga ada Jayden, Mama dan Papa Hazel yang sama cemasnya dengannya.
Beberapa tahun yang lalu...
Seorang laki-laki berseragam SMA diam-diam menyelinap masuk kedalam ruangan penempatan bayi-bayi yang baru lahir dari rahim sang Ibu. Dia, adalah Fatur.
Dia menyelipkan secarik kertas yang terlipat di salah satu tempat tidur bayi dan mengambil bayi mungil tersebut. Dia kelihatan tertidur pulas sambil mengemut jempolnya.
Tatapannya menyiratkan ruang sendu yang mendalam bersama dengan kedua sudut bibirnya yang terangkat, berusaha untuk membentuk sabit walau hasilnya menjadi lengkungan pilu. "Hai baby cantik..? Sebelum kalian pergi, pertama-tama kenalin dulu, aku Ayahmu..."
Bibir Fatur menyentuh dahi malaikat kecilnya sangat lama, air matanya menetes tanpa komando, beberapa titik membasahi permukaan kulit bayi tersebut. Setelah merasa puas, barulah Fatur menarik wajahnya. "Jadi anak yang baik yah? Jangan rewel. Gilsha harus tumbuh dengan baik bersama dengan Bundamu."
"Gilsha tenang saja, Ayah akan berjuang keras melawan penyakit Ayah dan setelah Ayah sembuh total, Ayah akan mencari kalian lagi. Kita pasti akan kumpul bareng lagi di masa yang akan datang. Tunggu Ayah ya?"
Selepas itu, Fatur meletakkan kembali buah hatinya ke tempatnya semula lalu meninggalkan ruangan mengingat jika dia masuk kesana secara sembunyi-sembunyi, bisa gawat kalau sampai dia ketahuan.
*****