My Possessive Boyfriend

My Possessive Boyfriend
MPB•SALTING BRUTAL



..."Dia, satu-satunya mainan yang berhasil memporak-porandakan hati gue!"...


...-Calix...


...*****...


Memakan kurang lebih dua puluh menitan, kendaraan Calix berbelok memasuki sebuah gang kompleks. Setirnya bergulir kepinggir jalan agar dapat mengontrol mobilnya menuju ke tepi.


Seperti biasa, dia tidak akan mengantar Hazel sampai tiba dirumahnya, dia ingat dengan pesan Hazel.


"Zel?" Calix memalingkan beberapa derajat tubuhnya menuju Hazel yang sedang menyandarkan sisi kepalanya pada jendela mobil.


Mungkin karena terlalu nyaman atau memang jaraknya agak jauh diperjalanan, gadis ini sudah tenggelam ke dunia mimpi. Dia lengah, Hazel benar-benar tak tahu caranya berjaga-jaga.


Lihat saja, begitu enteng dia terlelap disini, apakah gadis ini tidak tahu, jika kekasihnya yang duduk disisinya ini adalah lelaki yang liar.


Niat awal Calix mau membangunkan Hazel karena mereka sudah sampai tujuan. Akan tetapi, sialnya wajah polos Hazel yang sedang tidur benar-benar menarik seluruh perhatiannya. Pada akhirnya dia tak jadi membangunkannya.


Dia melipat kedua tangannya diatas setir lalu menopang sisi pipinya disana, dengan arah tatapan menuju Hazel.


Apakah ada pemandangan indah lain yang dapat menandingi ini? larut sekali lelaki itu menikmati pemandangan indah didepan matanya.


Terhanyut dalam suasana yang dapat membuat hiruk-pikuk diarea kompleks menguap antah berantah dari alat pendengarannya, Calix memanfaatkan kesempatan mengamati cara tidur Hazel.


Seketika dia ingin pusaran waktu berhenti disini, dia tak ingin masa dapat menjadi pengusik dirinya. Punggung Calix menegak lantas bergerak, memangkas jarak antara dirinya dan Hazel.


Ketika logika dan batin yang tak sejalan, akal sehatnya sudah memperingatkan agar jangan melakukan ini, tapi hatinya mendorong tangannya melayang, mengais anak surai Hazel yang sedikit mengganggu wajahnya.


Iris mata yang biasa selalu didominasi kilat amarah, kini terlihat ada setitik keteduhan disana.


Sepanjang hidupnya, Calix tak pernah memikirkan perkara impian karena hidupnya sudah lengkap dan komplit. Mendapat kasih sayang yang bergelimang dari kedua orang tuanya.


Memiliki sosok Ayah yang tajir melintir sehingga tugasnya hanya berfoya-foya menghabiskan duit sesuka hati, mempunyai seorang Adik yang walaupun bawel dan cerewet tapi lucu.


Soal perempuan? tinggal mengibaskan uang, maka mereka akan berlomba-lomba berlari datang padanya. Lantas, apalagi yang menjadi impiannya? Dan sekarang, untuk kali pertama, sepertinya Calix telah menemukan impiannya.


Satu-satunya impian Calix adalah memiliki putri kecil mirip Hazel. Satu saja, satu saja sudah lebih dari cukup. "Lo terlalu perfect buat gue, princess.." Suara beratnya terdengar lirih. Jari telunjuknya membelai pipi bulat Hazel.


"Eunghh..." Disertai lenguhan, tubuh Hazel agak menggeliat, karena tidak terlalu pulas, tidurnya terganggu hanya faktor jari telunjuk Calix yang menari-nari dipermukaan kulitnya.


Kelopak mata yang dihiasi bulu mata lentik tersebut, perlahan terbuka menyambut dunia realita. Hazel tertegun menemukan Calix yang begitu dekat dengannya, dalam sekejap mata nyawanya langsung full. "D-dari kapan gue tidur?" tanyanya sedikit serak.


Tidak biasanya dia ketiduran tanpa bantuan. Terlebih didalam mobil Calix? Disisi Calix?! Oh, good Hazel! Kamu ketiduran didalam kandang predator.


Menampilkan raut wajah yang panik, Hazel seketika menyilangkan lengannya didepan dada. "Lo gak apa-apain, gue kan?!"


Hidung mancung Calix mengeruk tak senang. Iya, dia memang lelaki yang liar, playboy, pemain wanita, tapi Calix bukan lelaki yang mengambil keuntungan ketika salah satu pihak lagi tidur. Dia mendengus kesal. "Lo kira gue cowok apaan?!"


"Gak introspeksi diri? Selama ini lo kira lo cowok apaan? Lo gak lebih dari cowok bajingan yang gemar mempermainkan cewek-cewek di luaran sana." Hazel memutar bola matanya, kemana saja nih lelaki selama ini? Bisa-bisanya tidak menyadari segala perbuatannya.


"Gue bukannya suka mempermainkan Wanita, tapi memang belum dapet yang tepat aja. Nanti kalo udah dapet yang cocok, gue bakal pensi jadi fuckboy."


Hazel meneliti jam tangan yang melingkar indah dipergelangan tangannya, waktu sudah menunjukkan sore hari, dia tak memilik waktu lebih banyak untuk beradu mulut dengan Calix. Sudah dapat ditebak, sekarang Mamanya pasti sudah merisaukan dirinya.


"Serah lu lah, gue mau turun, sekarang." Pintu mobil yang sudah sedikit terbuka kembali tertutup kembali ditarik paksa oleh Calix dengan keras.


"Calix, lo apa-apaan sih? Jangan mulai deh, gue harus pulang sekarang juga, Nyokap gue pasti udah khawatir banget sama gue."


Hazel sudah berjanji tidak akan lama, tapi matahari yang bertugas menerangi siang hari sudah terbenam dari ufuk barat, Ghea jelas sudah kepalang mengkhawatirkan keadaan dirinya.


Hazel membuang napas jengah, kini Calix kembali menghadangnya, entah sejak kapan tubuh atletis lelaki ini sudah tak berjarak darinya dengan kedua tangannya bertumpu pada pada sisi kiri dan kanan kepala Hazel, memojokkan gadis itu pada jendela mobil. Dia telah terperangkap dalam kungkungannya.


"Minggir, atau gue bakal teriak?"


Satu sudut bibirnya tertarik keatas. Tak terpengaruh sama sekali dengan gertakan Hazel. Calix kemudian berucap.


"Teriak aja. Biar sekalian kita langsung di bawa warga ke-KUA untuk mengawinkan kita berdua, lo kira itu jadi masalah besar buat gue? Bukannya itu jalan ninja yang lebih mudah? Malah gue suka dengan cara itu."


"Gila! Minggir gak?! Nyokap gue pasti udah nyariin gue!"


"Oke, gue bakal bebasin lo."


"Yaudah! Menyingkir kalo gitu!"


"Asalkan--lo kasih gue imbalan karena udah anterin lo sampe sini."


"Perhitungan banget lu!" Untuk yang kesekian kali, Hazel merotasikan matanya muak. Dia yang maksa juga untuk pulang bersamanya, kalau tidak Hazel tidak akan berakhir naik di mobilnya sekarang.


"Yaudah, lo gak akan bisa keluar kalo gitu."


"Oke, fine!" dengan kejengkelan yang meronta-ronta ingin menggigit Calix saking Arghh! Sudahlah, Hazel mengeluarkan sisa uang sakunya dari dalam kantong, padahal niatnya duit ini dia kumpulkan buat membeli quota nanti.


"Tapi sisa goceng, gak papa?"


Calix berdecak kesal, "Gue gak semiskin itu hingga meminta imbalan berbentuk nominal uang tunai."


"Yah, terus mau lo apa?" Dari pada semakin membuang-buang waktu, mau tidak mau dia mesti memenuhi imbalan yang akan Calix ajukan agar cepat lolos dari jeratannya.


Calix tersenyum tengil, memajukan kepalanya hingga wajahnya kini tinggal berjarak beberapa senti lagi dari paras cantik Hazel. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk sebelah pipinya. "Kiss.."


Ketika Calix mulai merengek seraya mendusel-duselkan kepala dengan manja didadanya, Hazel meremas kedua tangannya gemas. Dia, pasti akan bersikeras agar permintaannya dipenuhi.


Lelaki ini benar-benar menguji kesabaran buat Hazel yang memiliki stok kesabaran setipis daun bawang. Untung, dia sudah beradaptasi dengan tingkah randomnya, oleh karena itu, Hazel dapat belajar apa itu kata sabar yang tak terbatas melalui tingkah laku Calix.


"Aaa ayolah Azel.. dipipi doang, masa gak mau?"


Kepalanya terangkat. Dia menyungut sendu kemudian belum kunjung mendapat respon dari Hazel dia mencolek-colek kecil lengan Hazel menuntut tanggapan positif.


Mengedip-ngedipkan mata mencoba merayu Hazel dengan itu, tak ketinggalan dia memasang puppy eyes sebagai pelengkap, Hazel ingin mencolok mata Calix melihatnya. "Ya Azel ya..? Pipi doang.."


Hazel menghela napas berat sebelum menitahkan. "Merem."


"Gak mau. Gue mau liat muka Azel saat lagi cium gue." Hazel berdecak malas. Dia menangkup rahang Calix lalu meletakkan satu telapak tangannya dimata Calix agar tidak dapat membuatnya gugup. Dari pada Calix tak mau menuruti pintanya, lebih baik dia yang menutup mata Calix dengan telapak tangan mungilnya.


Cup!


Bagikan tersengat listrik tegangan tinggi, di detik selanjutnya, tubuh Calix mematung. Tidak ada yang lain terngiang-ngiang dalam benaknya selain sensasi rasa bibir hangat dan bertekstur lembut, menyentuh pipi kanannya.


Matanya terbuka saat Hazel menurunkan tangannya dari posisinya, dia mengerjap linglung. Apa yang baru seja terjadi? Hazel beneran menciumnya dipipi?! Oh shiit! Mendadak pikirannya menjadi kosong. Jika ini mimpi, maka Calix tidak ingin terbangun dari mimpi paling manis ini.


Belum lagi dengan tindakan Hazel yang menepuk-nepuk pucuk kepalanya. Mata Calix spontan tertutup terbuai dengan elusan lembut dipermukaan helai rambut gondrongnya. Saat ini dia terlihat seperti anak kucing yang senang dibelai-belai. Hazel sudah hapal titik jinaknya.


"Udah kan, Alix..? Jadi, Azel udah boleh keluar sekarang?"


"O-oh, sure." Kelabakan, Calix menegakkan punggungnya memberi akses untuk Hazel keluar, Hazel melemparkan senyum mematikan sebelum membuka pintu kendaraan beroda empat tersebut.


Kedutan pada sudut bibir Hazel seketika sirna begitu saja saat dia keluar dari dalam mobil, tanpa pamit dengan Calix dia memutuskan segera bergegas menjauh dari sana sembari menggosok-gosok bibirnya dengan kasar. 'Bisa-bisanya gue beneran mengecup cowok sialan itu.'


Sedangkan didalam mobil, berulang kali berturut-turut, Calix membenturkan dahinya dipinggir kemudi mobilnya menyalurkan rasa salting-nya yang meronta-ronta. Ujung telinganya memerah padam. "Bangsaat Hazel bangsaat! Sialan! Brengsek!"


Kata-kata umpatan dalam kamusnya tak luput dia lontarkan. Calix menumpukan dahinya diatas setir setelah merasa puas, "Najis, saltingan banget gua!" dia mengusap bagian bawah hidungnya merasa ada yang hangat mengalir dari sana.


Darah...ada cairan darah segar menitik dari indera penciumannya. Dia--mimisan? saking--arghhh!


Hazel sepertinya ada bakat membuat orang menjadi gila. Agaknya dia diserang virus. Virus salting maksimal.


"Bisa gila gua.." lirihnya kemudian mengangkat pandangan dengan posisi sisi kepala masih bersandar pada kemudi, dia memegangi pipinya ditempat jejak bibir Hazel.


Calix menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan rasa bahagia yang membuncah dalam dadanya, dari dalam mobil dia mengamati punggung Hazel yang sudah mengecil ditelan jarak.


Melihat wajah polosnya ketika tidur, pengen mendapat ciuman setiap hari dan setiap saat dari Hazel, berada disisinya setiap waktu, setiap malam kalau tidur bisa memeluk tubuh mungilnya hingga dia tercekik.


Menggenggam tangan kecil dan lembutnya setiap hari. Calix ingin melakukan itu semua dengan Hazel. Hanya satu yang terlintas dalam batinnya jika dia ingin melakukan hal tersebut dengan bebas. "Pengen nikah Mak.."


...*****...


Baru saja Hazel membuka pintu utama rumahnya, dia langsung disambut suara isak tangis Mamanya yang sedang menangis di ruangan tengah. Jayden mengusap-ngusap punggung Ghea mencoba menenangkan. Bahunya terlihat bergetar."Udah Mah, jangan nangis lagi.."


"Hiksss.. gimana Mama gak khawatir Jay? Hazel.. Putriku belum pulang.. Mama takut dia kenapa-napa.. seharusnya tadi Mama gak mengizinkan dia jalan sama temennya, hikss.."


"Mama? Kenapa nangis?" Setibanya didekat mereka, Hazel meletakkan tas ranselnya disofa tunggal yang kosong, dia mendudukkan bokongnya disamping Mamanya.


"Puas lo bikin Mama kayak gini?! Kemana aja lo?! Kenapa gak sekalian aja gak usah pulang?! Janjinya jam berapa pulangnya jam berapa!"


"Udah Jay.. jangan marahin Hazel.. dia gak salah, akunya yang terlalu berlebihan orangnya.."


Ghea memilih memutar tubuhnya agar dapat melihat Putrinya, "Kamu baik-baik aja kan Zel? tidak ada hal yang buruk terjadi padamu? Kemana saja baru pulang jam segini?" Dengan kecemasan yang belum kunjung hilang, dia meraba-raba sekujur tubuh Hazel dengan tangis yang terdengar pilu.


Melihat hal itu mengundang embun mengambang di selaput mata Hazel yang terasa memanas. Dia langsung mendekap Mamanya. Tepukan untuk menyalurkan ketenangan pada punggung Mamanya turut mengiringi.


"Mama.. maafin, Hazel udah buat Mama cemas kaya gini. Tadi, jalanan macet banget, jadi Hazel kelamaan dijalan."


Ghea mengangguk pelan. Setidaknya, dia sudah bisa merasa sedikit lega setelah mengetahui kondisi anaknya ini. "Kamu gak perlu minta maaf, Hazel.. yang penting kamu pulang dalam keadaan baik-baik saja. Hati Mama sudah mendingan lihat kamu gak kenapa-kenapa.."


"Sebaliknya, justru seharusnya Mama yang minta maaf, Mama terlalu overthinking padamu. Kamu udah gede, seharusnya Mama bisa memberikan kebebasan untuk kamu menikmati masa muda.."


Bertahun-tahun sudah berlalu, waktu yang tidak sedikit, bukan? Bahkan memori itu sudah terasa semu, bagaikan kaset rusak jika dibayangkan kembali.


Tapi mengapa? Itu tetap permanen melekat kuat dalam benaknya. Beliau tak bisa menghapus kenangan pahit dimasa lampau. Selalu menghantui memorinya. Sekarang, yang menjadi korban keegoisannya adalah Hazel, Putrinya sendiri.


"Gak apa-apa Mah.. Mama kaya gitu juga karena sayang banget ke Hazel.. tapi--kalo Mama menjadi kaya gini karena kejadian dimasa lalu. Hazel mohon, lupakan itu Mah.."


"Gak perlu terburu-buru, perlahan demi perlahan aja Mah..Hazel bilang gini bukan semata-mata demi aku sendiri tapi demi kebaikan Mama.. Hazel juga sedih liat Mama terus berlarut-larut dalam kesedihan yang sudah lama berlalu.."


"Lagian, Hazel juga gak inget pernah mengalami insiden kelam itu. Jadi, Mama juga gak perlu terlalu diinget kembali."


"Men-flashback boleh, karena itu adalah memori yang tersimpan di dalam ingatan, manusiawi kalo memori kadang terputar kembali ke kenangan yang berkesan dan yang paling terukir dalam otak. Tapi--jangan terlalu keseringan, jatuhnya nanti Mama sendiri yang stres.."


Jayden bergeming. Hanya memperhatikan tanpa berniat ikut nimbrung. Dia memilih tak ikut andil dengan mereka. Membiarkan Hazel menenangkan sang Mama sambil memeluknya.


"Dulu ya dulu. Sekarang yah sekarang. Masa lalu dan sekarang sudah berbeda. Hazel beneran baik-baik saja. Hazel menjalani hidup dengan baik. Kalau Mama gak percaya, buktinya, Hazel selalu kelihatan bahagia dan tertawa seperti biasa."


"Temen-temen sekolah Hazel juga pada baik-baik. Jadi, Mama harus menjalani hidup dengan baik juga seperti Hazel.." Sekali lagi, Ghea mengangguk tak berdaya. Isak tangisnya sesenggukan. Penuturan demi penuturan Hazel dapat membuat gelisah dalam hatinya sedikit terasa ringan.


Hazel mengeratkan rengkuhannya pada Mamanya. Dia merasa bersalah telah menipu keluarga berharganya. Mamanya, Papanya, bahkan sampai Abangnya. Hazel tahu dia salah. Namun, ini demi kebaikan bersama. 'Maafin Hazel Mah.. Maaf, selama ini Hazel udah bohongin kalian..'


*****