
"Loh? Lo ngapain disini?" Ronan melangkah menghampiri dimana Hazel dan seorang lelaki yang diketahui oleh Hazel sebagai Fatur.
Melihat kedatangan Ronan di ruangan yang sama dengan mereka mampu membuat Fatur menegakkan punggungnya sendiri. "Tadi gue mau nunjukin sesuatu sama lo. Tapi terpending gara-gara memergoki nih cewek disini."
Ditunjuknya Hazel yang masih tak berkutik menggunakan dagu. Hazel masih mencoba mencerna keadaan. Seolah masih belum percaya fakta yang ada. Dia terlalu shock.
"Oh? Hazel, lo pasti kaget kan? Kenalin, dia ini sepupu gue. Semenjak Saudaranya meninggal dunia, dia pindah ke kota ini dan tinggal bersebelahan dengan rumah gue ini. Karena dekat, jadi dia sering--ralat bukan hanya sering tapi setiap hari mampir kesini untuk bermain dengan gue."
Hazel terkesiap tidak menyimak dengan benar keterangan dari Ronan, dia melirik takut pada Fatur yang entah kebetulan atau tidak sedang menatapnya lekat. Kemudian dia gelagapan, lekas lah merampas buku catatan yang ditangan Ronan.
"Ini buku gue kan? Kalo gitu gue permisi."
"Loh? Lo mau kemana? Keruangan? Kalo gitu biar gue bantuin lo nyalin." Tawar Ronan melihat punggung Hazel yang hendak berlalu dari area dapur.
Dengan kedua tangan yang meremas ujung roknya, Hazel tidak berbalik. Melihat wujudnya saja, Hazel tidak mampu, apalagi wajahnya. Yang ada hanya luka yang bersarang. "A-ah? Gak perlu, gue pulang aja. Nanti gue perbaiki sendiri catatan gue."
"Lo pulangnya bareng siapa? Gue aja yang anter."
Dari pada nanti reaksinya terlihat semakin aneh dan menimbulkan rasa curiga pada mereka. Ada baiknya dia segera pergi dari sini. "G-gue bareng Abang! Iya Abang gue! Bentar lagi dia pasti sampe sini kok. Tadi katanya udah otw, gue nunggu didepan aja."
Fatur melirik Ronan setelah Hazel berlalu dari sana. "Lo sengaja kan?"
"Humm?" Reflek, perhatian Ronan tentu saja langsung tertarik pada sumber suara yang menceletuk
Dengan kening terangkat sebelah, Fatur kemudian menebak-nebak. "Lo sengaja mengajak dia kesini dengan kedok mengambil buku catatan. Padahal niat lo--mau mempertemukan kami berdua?"
Sudut bibirnya terangkat sebelah. Ronan bersidekap dada. "Lo terlalu lamban. Gue jadi gemas sendiri. So? Your guess is one hundred percent correct. Pertemuan kalian kali ini udah gue rencanakan."
Fatur mengantongi kedua tangannya. Sudah dia duga, Ronan ini sebenarnya tipikal cowok licik yang tertutupi oleh sifat lembutnya. "Lo niat banget mempersatukan kami berdua. Mudah-mudahan aja gue belum terlambat."
"Gak akan kalo lo cepat bertindak dari sekarang. Si Calix itu, Really stupid. Kalo gak tampangnya, mungkin dia akan jadi orang paling idiot tanpa keistimewaan apa-apa alias nol pesona. Jelas-jelas dia suka sama Hazel tapi dia lebih mementingkan gengsi dan egonya."
Pandangan Ronan menuju kebawah, sebuah lembaran formulir yang terulur kepadanya. Dia meraihnya sambil bertanya pada Fatur. "Apa ini?"
"Lo akan tahu saat membacanya."
Percayalah, Ronan langsung terkejut melihatnya, dia tak menyangka bahwa Fatur diam-diam sudah menyiapkan segalanya. Sepertinya dia berbakat menjadi pejuang dibalik bayangan. "Heh? Sejak kapan?"
"So, how is it? Tanpa lo atur juga. Cepat atau lambat kami akan bertemu."
"Kapan lo mulai masuk?"
"Paling cepat besok. Yang penting gue udah diterima disana. SMA Gardenia."
...*****...
"Hazel!!"
Dengan rahang mengeras serta mata memerah akan emosi, langkah cepat Calix membawanya menghampiri Hazel yang seketika membelalakkan mata terkejut, gelagapan Hazel bertanya. "Calix, ngapain lo di sini?"
Calix menangkap basah dirinya didepan rumah Ronan bersama dengan seorang Pria lain yang kelihatan lebih matang, namun lumayan lah apabila dibandingkan dengannya.
Jelas bukan seperti yang di pikirkan dangkal Calix tapi mengetahui bagaimana tempramental Calix, Hazel jadi panik sendiri bagaikan terpergok bersama selingkuhan.
"Dia siapa hah?! selingkuhan lo iya?!" Tudingnya sensi, mata elang nya menatap Hazel tetapi telunjuknya mengarah di mana ada lelaki yang berdiri dekat posisi Hazel.
"Maksud lo apa?!" Dengan sigap Hazel menurunkan tangan Calix.
"Berani-beraninya lo selingkuh dari gue!" Giginya bergemeretak, Calix paling benci di khianati. Apa lagi oleh Pacarnya sendiri.
Sekalipun hanya dia anggap mainan. Prinsipnya, tidak masalah jika dirinya yang selingkuh, jangan dirinya yang di selingkuhi, jatuh martabak--ralat martabatnya sebagai handsome prince.
"Gue gak selingkuh, Calix!"
"Hei, sebelum menuduh sebaiknya dengarkan penjelasan dari salah satu pihak agar gak ada yang kelir--"
"Diam!"
Omongan Jayden terpaksa tidak tuntas karena di sela Calix, amarah lelaki itu terlihat benar-benar di ambang batas, Jayden tidak percaya bahwa Gadis lemah nan lembut seperti Adiknya memiliki kekasih macam monster.
"Lo cowok murahan! mau-mau saja selingkuh dengan pacar orang!" Tekannya. Calix menggulir pandangan tajamnya ke arah Hazel. "Kita putus! Gue gak mau pacaran dengan orang yang sudah mengkhianati gue!"
"Oke!" Balas Hazel tidak kalah menantang, ia lelah, sungguh.
"Baik lah, Hazel. Mulai dari sekarang kita putus!"
"Oke fiks kita putus oke?!!" Hazel menarik lengan Jayden agar bisa menjauhi orang tidak waras macam Calix, sudah dapat di prediksi apa yang akan terjadi di detik berikutnya.
Dengan stok kesabaran menurun angka nol, Calix menarik kuat bahu Jayden hingga mau tidak mau lelaki itu kembali mundur ke titik awal.
"Whooo!!" Seru Jayden ketika Calix dengan tidak segan-segan menarik kerah bajunya, "Posesif amat Bro! pastikan dulu gue siapanya, bukannya langsung nuduh!" Jayden hanya bisa angkat tangan.
"Jangan ikut campur Hazel! ini urusan gue sama selingkuhan lo! siapa pun yang berani merebut lo dari gue maka dia akan masuk ke dalam list death note gue!"
Cengkeraman Calix di kerah baju Jayden makin menguat, bukannya terprovokasi, Jayden malah terlihat santai-santai saja. Dia melirik Hazel yang kelimpungan kehilangan cara. 'Kasian adek gue dapet pacar susah di atur kaya gini.'
"Sudah putus kah urat malu lo hingga mau merebut Wanita orang?!" Urat-urat di leher Calix terlihat menegang.
Padahal solusinya cukup mudah, hanya mendengarkan penjelasan dari sebelah pihak maka problematika akan kelar, tetapi Calix tipikal lelaki yang mudah percaya dengan apa dia lihat dengan kedua mata kepalanya sendiri. Di bandingkan mendengar penjelasan.
"Gue bukan cowok murahan, dan gue bukan perebut!" Tekan Jayden dingin.
"Lalu apa hah?! Lo mau bilang dari pacar gue yang mendekati lo?!"
"Mantan lebih tepatnya! apakah lo amnesia? kita baru saja putus beberapa menit yang lalu!" Potong Hazel.
"Damn! Gue akan mengirim lo ke alam baka!" Kata kejam itu bukan di tujukan untuk Hazel, melainkan buat Jayden.
"Stop Calix, dia Abang gue!" Pekik Hazel membuat kepalan tangan Calix menggantung di udara.
Calix menoleh ke arah Hazel dengan ekspresi yang dapat diterka siapapun. Dia termangu bukan main. "Apa? Abang?!"
...*****...
Nyaris saja Calix kehilangan lampu hijau jadi Adik ipar gara-gara kejadian tadi, walau begitu Calix tetap enggan meminta maaf karena gengsi setinggi ilahi, demi Hazel dia meminta maaf kepada Jayden--ehm ralat calon Kakak Ipar Calix dengan sedikit paksaan dari Hazel.
Hazel, Jayden beserta Calix memutuskan untuk ke rumah mereka, lebih tepatnya Calix yang bersikukuh ingin berkunjung ke rumah Hazel. Selama berpacaran dengan Hazel, Calix hanya melihat halaman depan rumah Hazel belum pernah masuk ke dalam.
Hanya sembunyi-sembunyi jemput depan gang. Padahal, Calix bukan lah tipe lelaki pecundang, jangankan dengan Jayden bahkan siap nyali berhadapan langsung dengan Mama dan Papa Hazel. Hanya saja Hazel yang melarang, katanya Papa dan Mamanya marah jika tahu dia pacaran masih kecil.
Di ambang pintu, Hazel menahan lengan Jayden ragu. Bukannya apa, mengingat bagaimana tempramen Mamanya, Hazel takut dengan keputusan Abangnya yang membawa Calix kesini, sepertinya keputusan tersebut sebuah kesalahan. "Abang--yakin?"
Jayden memberikan usapan di kepala Hazel ditemani senyum meyakinkan. "Memangnya, lo mau sembunyikan sampai kapan? Cepat atau lambat, Mama pasti akan tahu sendiri."
Calix yang melihatnya langsung menyentak tangan Jayden secara kasar. "Gak usah pake elus-elus segala , sialan!"
"Posesif banget lu tong! Gua Abangnya, siapa mau help?!" Jayden melotot, memasang muka-muka sangar. Calix melayangkan ekspresi yang tak kalah menantang.
"Gue pacarnya, apa lu?!" Sopan kepada yang lebih tua?! Jangan cari itu pada diri seorang Calix. Karena pada dasarnya, sejatinya Calix tak memiliki etika.
Jayden membuang napas jengah, "Sera lu dah." Finalnya mengalah. Dia saja sampai jengah menghadapi manusia yang satu ini, apa kabar dengan Adiknya?
Ditengah itu, tiba-tiba perhatian mereka teralihkan dengan deruman kendaraan yang berhenti didepan rumah Hazel. Ternyata Ferdi baru pulang dari tempat kerja, "Kebetulan sekali, Papa sudah pulang. Sekalian aja kenalan sama Papa."
Ceklek..
Diwaktu yang bersamaan, Ghea membuka pintu saat mendengar kendaraan yang sudah dia hapal milik siapa. Sontak yang menyambutnya adalah kedua anaknya, Suaminya yang baru pulang dari tempat kerja, kemudian--seseorang yang terlihat asing.
"Loh? Jay? Hazel ? Dari kapan kalian disini? Terus--siap--"
"Selamat sore Mama, Papa."
Sapa Calix ramah mengambil tangan Ferdi dan Ghea, meski terlihat bingung mereka tetap menyambut uluran tangan Calix.
Hazel meringis kecil mendengar panggilan Calix untuk Mama dan Papanya, Jayden hanya bisa geleng-geleng kepala sambil menggumam heran, "Dasar.."
"Siapa ini Hazel? Jayden? kenapa memanggil kami Mama dan Papa?"
Yah, Hazel sudah menduga bagaimana reaksi Mama dan Papanya, terlebih lelaki menyebalkan ini dengan tanpa beban memanggil mereka Mama dan Papa.
Calix berdehem pelan, mulai memperkenalkan diri. "Kenalin, nama ku Calix Keiran Ragaswara, alias calon menantu kalian, Mama, Papa."
Ferdi dan Ghea mengerjap kan mata mencoba untuk mencerna apa yang di katakan oleh Calix. "Calon menantu?" Ulang Ferdi melongo.
"Gini deh, biar Jay luruskan. Dia ini teman cowok Hazel. Alias pacar Hazel, Jay gak tahu sejak kapan mereka berhubungan. Tapi Hazel merahasiakan bahwa dia sudah bisa menjalin hubungan sama cowok karena gak mau buat kita khawatir sama dia."
Tubuh Ghea terhuyung saat itu juga. Untung saja Ferdi yang berada disisinya cekatan menangkap tubuhnya yang nyaris saja luruh ke lantai. Wajar saja dia terguncang mendengar info ini. Dia tak menduga bahwa Hazel sudah berani menjalin hubungan dengan seorang lelaki.
Tak bisa dibayangkan kalau insiden yang tak mengenakan itu kembali terulang, Ghea tak bisa mempercayai semua laki-laki yang dikenali oleh Hazel.
Lebih dari itu, rasa penyesalan beliau lah yang kerap menghantuinya, dia tak ingin Hazel mengalami hal serupa, terlebih semua lelaki sama saja kecuali Ferdi dan Jayden yang sudah mendapatkan kepercayaannya. "T-tidak.. ini bohong kan?"
"Jay, ajak Hazel dan tamu masuk dulu. Mama kalian biar Papa yang urus." Ujar Ferdi yang di angguki oleh Jayden, dia mempersilahkan Calix yang sedang dalam keadaan linglung untuk masuk kedalam rumah mereka.
Hanya pacaran, kenapa Mama Hazel sampai bereaksi tak wajar seperti itu? Apakah salah anak muda menjalin sebuah hubungan yang dilakukan anak muda zaman sekarang? Bukan kah itu hal yang normal untuk remaja seperti mereka? Kira-kira seperti itulah tanda tanya yang hinggap di otak Calix.
"Jay, bilang ke anak itu, tunggu saya di ruangan, setelah menenangkan Mama kalian saya akan menginterogasi dia. Jangan biarkan dia pergi sebelum saya mewawancarainya." Tekan Ferdi dingin.
"Siap Pah!"
*****