My Possessive Boyfriend

My Possessive Boyfriend
MPB•HUBUNGAN YANG AKAN RUMIT



Siap menyambut konflik utama?


...*****...


"Ky!"


Kaki Kyra terhenti untuk melangkah ketika panggilan terdengar dari belakangnya, dia memutar tubuhnya agar dapat melihat Calix yang sedang melangkah kearahnya, tidak jauh dari sana, Calix memarkirkan kendaraannya.


"Naon?" Kyra menyilangkan kedua tangannya didepan dada, menatapnya malas. Bisa dibilang sangat-sangat malas.


"Gue--bisa minta tolong sama lo?"


"Minta tolong apaan dah?" Calix benar-benar aneh, tadi dia memesan sebuah ojek online, amat terkejut yang dapat melukiskan reaksinya ketika menemukan orang yang menjemputnya adalah Calix, kebetulan sekali menjadi si tukang ojek yang dia pesan melalui online.


"Gini. Gue ada rencana mau ngungkapin perasaan gue sebenarnya ke sahabat lo. Lo--bisa bantuin gue? Gak yang berat-berat kok, gue bodoh banget kalo soal kesukaan cewek. Jadi, gue mintol ke lo pilihin cincin dan bunga yang bagus untuk dia. Soalnya, gue mau menyampaikan perasaan yang lebih resmi bukan hanya dalam bentuk lisan, tapi juga dengan cara yang lebih berkesan. Seperti sebuah--suprise?"


Kyra membekap mulutnya, bukan terkejut, biar kelihatan dramatis gitu. "Lo--bener-bener serius sama kawan gue?"


Menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, Calix menunduk dengan kedua pipi merah merona, menular hingga kedua telinganya, dia kemudian mengangguk malu. "Maybe?"


Masih gengsi dia mengakuinya terang-terangan, apalagi pada teman kekasihnya ini, yang mana mereka berdua memiliki sifat bagaikan minyak dan air.


Kyra bertepuk tangan sebagai apresiasi. Haruskah dia terharu? "Who! Oke-oke, kalo gitu gue mau bantuin elo pilihin cincin ama bunga ya? Nanti kalo lo hari H-nya hampir tiba, hubungi gue aja. Nomor gue gak ada sama lo kan? Yaudah tinggal minta sama Farel."


"Thanks, Ky."


"Tapi--kalo ketahuan sama gue, lo main-main sama cewek lain lagi selain Hazel--lo kehilangan restu dari gue!"


"Restu lo gak dipake. Gak ngaruh juga sama hubungan gue dan Hazel."


"Heh-heh! Restu seorang bestie lebih penting dari pada restu keluarga sampai nenek moyang Hazel!"


"Ah iya-iya aja dah. Kalo gue gak ngalah, lo pasti gak mau bantu."


Kyra tertawa puas setelah akhirnya pamit undur diri meneruskan jalannya menuju rumahnya yang masih terbilang cukup jauh, berhubung urusan mereka sudah tuntas. Begitu pula dengan Calix, dia kembali ke tempat motornya terparkir.


Dia mengambil ponselnya dari saku setelah mendengar sebuah dentingan notifikasi. Dia pikir, mungkin saja notifikasi pelanggan, ternyata dari Hazel. Tanpa sadar, kedua sudut bibirnya berkedut hingga terangkat mengukir sabit.


...143🖤...


Lagi dimn? Gue gak bisa pulang sendiri untuk hari ini. Bisa bareng lo gak? Kesibukan lo bisa lo urus saat lo udah anter gue sampe rumah.


Tanpa pikir panjang, Calix mengetikan sebuah balasan karena diatas room obrolan mereka berdua, tercantum sebuah kata online.


^^^Sorry Zel. Belum bisa, kesibukan gue gak bisa ditinggal.^^^


Sebenarnya lo sibuk apa sih?


^^^Jagain Mami dirumah, Papi sibuk kerja. Udah dulu ya? Gue gak bisa lama-lama bawa hp. See you Zel..^^^


Cairan bening kristal mengambang di selaput mata. Cengkeramannya pada ponsel dalam genggamannya mengerat, antara amarah dan terluka membuncah didalam dada, dengan jarak yang agak jauh dari Calix, berada disudut salah satu rumah warga tepatnya, Hazel menatapnya kecewa.


Dia melihat semuanya, dari Calix berbicara empat mata dengan Kyra tanpa mendengar suara mereka karena ditelan oleh jarak. Kesampingkan segala isi percakapan mereka, garis besarnya dia dibohongi.


"Sibuk? Maksud lo sibuk sama cewek lain..?" Lirihnya dengan senyum miris.


Nampak, setelah mengutak-atik ponselnya, Calix menyakui benda pipi itu. Memakai helmnya dan segera berlalu dari sana dengan menunggang motor besarnya.


...*****...


Bugh!


Tante-tante berbadan gempal itu jatuh ketika turun dari motor ninja Calix, penumpang Calix yang kesekian kali untuk hari ini. Hari sudah menjelang malam sekarang. Calix ada waktu luang istirahat palingan hanya sebentar saja. "Lah Buk? Ngapain dibawah sana? Nangkap kodok?"


Wanita itu berdiri ditemani misuh-misuhnya. "Enak saja nangkap kodok! Salahin tuh motor masnya ketinggian. Coba saja kalau jadi ojek itu, kondisikan dulu motornya, ini berprofesi sebagai tukang ojek bukan ketua geng motor!"


"Yang penting selamat kan?" Telapak tangannya mengadah dengan ujung jari-jari bergerak naik turun meminta ongkos dari Ibu itu. "Sini upahnya."


"Berapa?!" Cetus sekali balasannya, serasi dengan gerakannya yang membuka resleting dompetnya amat kasar.


"Dua puluh ribu aja."


"Mahal banget Mas! Padahal gak jauh-jauh amat jaraknya! Biasanya saya naik ojek sampai sini hanya seharga sembilan belas ribuan! Serakah nih Masnya!"


"Ck, kurang seribu aja banyak komen! Bukan saya yang serakah, Ibunya aja yang terlalu pelit."


"Nih! Mamam tuh duit! Anggap aja seribu buat biaya kecakapan mu! Lumayanlah dijadikan asupan mata!" Dengan mencak-mencak orang menyebalkan itu berjalan menjauh darinya setelah sebelumnya memberikan upah dengan setengah hati.


"Anying tuh Tante-tante julid, huh! Kalo bukan pekerjaan, retak ginjal kau!"


Calix meremas kedua tangannya dongkol lahir batin. Penumpang hari ini banyak yang membuat tensi darah rendahnya naik. Dia sudah mencoba untuk bermurah hati mengalah mengingat mereka adalah pelanggan.


...*****...


Pukul sembilan malam, Calix pulang. Sesampainya di apartemen, Calix langsung menghempaskan tubuhnya di sofa, meletakkan lengannya di dahi, akhirnya setelah bekerja seharian penuh dia bisa istirahat juga. "Jadi gini yah rasa kerja? Cape banget... Jauh lebih cape ini dari pada ketemu sama cewek-cewek di luaran sana."


Seketika mengubah posisinya menjadi duduk, menyeka peluh di pelipisnya, berikutnya Calix kemudian mengeluarkan dompetnya dari dalam saku tempatnya menabung hasil jerih payahnya akhir-akhir ini.


Dia akan bekerja paling tidak sampai jumlahnya cukup membuat sebuah suprise sederhana. Cincin, bunga dan dekorasi ruangan, itu sudah lebih dari cukup.


Calix menghitung lembaran uang didalam sana, duit berwarna hijau, ungu dan biru bercampur aduk disana. "Humm.. penghasilan gue lumayan juga, dikit lagi pasti udah cukup. Semangat Calix! Demi Tuan putri lo harus kuat menghadapi ini!" Tidak ada orang yang memberinya kekuatan, menyemangati diri sendiri pun jadi.


Setelah menghitung penghasilan yang dia peroleh, Calix pun beranjak dari tempatnya menuju ke kamar untuk membersihkan diri, badannya terasa lengket faktor beraktivitas seharian.


...*****...


Hari demi hari terlalui, Calix masih sama. Jarang memiliki waktu yang banyak lagi untuknya. Kadang, mereka pun bertukar kabar hanya dimalam hari, paling lama lima menitan sebelum pesan Hazel hanya centang satu. Pagi harinya, Calix akan memberikan alasan paling klise, 'Ketiduran.'


Besar rasa curiga yang ditaruh oleh Hazel pada Calix akan perubahan drastis sifatnya secara signifikan.


Bukan hanya sekali dua kali dia bertanya dan meminta jawaban yang jujur, tetap saja Calix tidak bisa jujur padanya, seperti ada sesuatu yang dia sembunyikan. Tetapi, Hazel tidak tahu apa itu.


Dengan tangan menjambak rambut, Hazel mengerang kesal stres level 1000000% gara-gara itu. "Arghh! Sebenarnya apa sih yang disembunyikan tuh cowok?! Bikin stres aja!"


Sejauh ini, Hazel tidak acuh pada kesibukan Calix, tidak sebelum mereka berdua menjadi pasangan yang normal. Hazel mulai peduli pada hal-hal yang sepele.


"Zel!! Calix Zel!!" Membungkukkan badannya, dada Kyra naik turun setibanya didalam kelas, dia seperti baru habis mengikuti lomba lari maraton.


"Diem lo Ky. Suasana hati gue lagi buruk, jangan menambah mood gue makin turun dengan menyebut nama cowok sampaah itu. Mending lo keluar, gue pengen sendiri."


Menarik dan membuang napasnya agar oksigen disekitarnya menjadi stabil, Kyra pun melangkah kearah kursi Hazel menarik lengannya secara paksa agar bisa bangkit dari duduknya. "Lo apaan sih Ky?!"


"Calix berantem ama murid baru di aula!"


"Yah terus?! Apa hubungannya sama gue?! Lepas gak?!"


Mencoba melepas belenggu tangan Kyra di lengannya yang hasilnya gagal total, Hazel enggan kesana.


Sialnya, tubuhnya terseret paksa hingga mau tidak mau, Hazel hanya bisa ikut alur langkah Kyra kemana membawanya.


"Lo harus segera kesana melerai mereka!"


"Kenapa harus gue?!"


"Karena akar pertengkaran mereka adalah elo!"


...*****...


Bugh!!!


Bugh!!!


"Hentikan! Rega, Calix! hentikan!" Dianggap angin lalu, Hazel dipaksa oleh situasi untuk bertindak lebih nekat, dengan dorongan keadaan yang genting membangkitkan tekad besar pada dirinya.


Kakinya berayun cepat menekan kedua dada lelaki yang sedang saling memukul satu sama lain, dengan posisi berdiri ditengah mereka.


Pertarungan mereka pun tersudahi kerena kehadiran Hazel ditengah-tengah mereka. "Apa yang kalian lakukan hah?! Enggak malu ditonton banyak orang?!"


Benar saja, di tepi aula ini sudah gempar oleh warga sekolah, aksi saling baku hantam mereka sudah pasti menarik perhatian anak-anak.


"Awas Zel! Gue harus memberikan perhitungan pada cowok biadaap ini!"


Seolah kehilangan kendalinya, Rega ingin menyingkirkan Hazel dari titik posisinya agar dapat menggapai Calix lagi yang terdiam seribu bahasa, ada sebuah rasa takut yang tiba-tiba bangkit dalam jiwanya.


"Stop Rega ! Jangan berkelahi lagi!" Hazel mendorong dada Rega sekuat tenaga hingga terdorong tiga langkah kebelakang, Farel dan Candra pun baru tiba disini.


"Apa lagi masalahnya kali ini? Tuh anak suka bener ngerusuh!" Yang dimaksud Candra adalah Calix.


Berdecih sinis, sorot mata Rega masih belum berubah, penuh permusuhan. Rahangnya sudah mengeras sajak tadi. "Sekarang, lo lebih memihak dia?! Cowok brengseek ini hah?! Dimana otak lo Zel?! Jangan gara-gara cinta lo jadi buta! Inget, cinta boleh, bodoh jangan!"


"Ga, apa hak lo mencampuri hubungan kami?" Hazel menggelengkan kepala. "Lo gak ada hak. Hubungan kami, kami yang jalani bukan orang lain."


"Heh, bahkan setelah lo mendengar rekaman ini, lo masih bisa membela dia?"


Calix menegang bukan main. Tidak! Jika Hazel mendengarnya, dia yakin seratus persen hubungan mereka akan benar-benar hancur lebur tidak bersisa.


"Rekaman?" Terdapat sebuah garisan bingung pada dahi Hazel, dia tidak mengerti entah rekaman apa yang Rega maksud.


"Zel, mending kita pergi dari sini."


Terlanjur panik, Calix memegangi pergelangan tangan Hazel dengan sebelah tangan sementara yang lainnya membawa sebuah buket bunga bersama dengan kotak cincin.


Hendaklah Calix menarik Hazel pergi dari aula yang sudah dia dekorasi sedemikian rupa dengan bantuan tenaga kerja Kyra dan beberapa murid disekolah ini.


"Lo takut?" Langkah mereka terjeda mendengar Rega kembali mengangkat suara penuh penekanan. "Kenapa? Lo takut kebusukan lo terbongkar disini?"


"Lix. Bentar, gue harus dengarkan apa maksud dari Rega." Dengan perlahan, Hazel melepas belitan tangan Calix dari pergelangan tangannya, lantas memusatkan perhatian pada Rega, "Maksud lo apa?"


"Lo harus dengar ini baik-baik." Mengalami ketar-ketir Calix di detik Rega memutar rekaman disebuah ponsel yang entah miliknya atau milik orang lain. Lalu terdengarlah sebuah percakapannya bersama dengan kedua temannya tempo hari.


"Lix ngomong-ngomong, gimana lo sama Hazel?"


"Humm? Kenapa gue sama dia?"


"Enggak gue kepo aja sih. Lo beneran suka sama dia, atau main-main doang seperti yang lain? Kita kan kawan nih, seharusnya lo kasih tahu ke kami juga rahasia lo."


"Kalo memang demen mending lo jujur sama kami, janji gak bakal kami ketawain."


"Gak ada sejarahnya bagi gue yang memiliki ribuan cadangan, bisa stay with one girl."


"Lalu? Tindakan lo yang selalu mengamuk setiap Hazel dekat dengan cowok lain, itu maksudnya apa, brother?!"


"Kalian pernah denger gak istilah, yang sulit lebih menantang dari pada yang mudah? Dia--beda dari cewek pada umumnya. Selalu menolak, berlagak sok jual mahal dengan gue. Karakternya yang seperti itu--bikin gue penasaran dan berambisi untuk dapetin dia.."


"Kayaknya cewek kayak dia lumayan buat lepasin perjaka gue, gimana menurut kalian?"


"Sinting lu! Lu ada rencana mau menodai anak orang?! Sumpah deh demi pantat uranus, sejauh ini, lebih jauh lagi pemikiran lo!" Terdengar kekehan setelahnya.


"Lalu setelah gue ambil perawannya, gue bakal mencampakkan dia dan membuat dia mengemis pertanggung jawaban, sekalipun dia menangis darah mengemis sama gue, gue gak bakal mau bertanggung jawab."


"Dia--bakal dicap sebagai jalaang seumur hidupnya! Siapa yang bakal mau dengan barang bekas?! Cuih! Amit-amit sekalipun langit runtuh!"


TO BE CONTINUED...