
Calix memasukkan satu persatu pakaiannya dari lemari ke dalam koper. Calix sudah membulatkan tekad bahwa dia akan membuka lembaran baru di negara tempat Kakek dan Neneknya berada yaitu Australia. Dia juga sudah mengatur rencana, akan mengulang studinya di sana dan menghabiskan masa kuliahnya disana.
Athala, Ruby dan Thea hanya bisa menatapnya tidak rela dari bingkai pintu.
"Kakak.." Dengan air mata yang menggenang di pelupuk, Thea membawa langkahnya mendekati Calix sambil merentangkan tangan.
Calix yang paham pun segera menyambut sang adik masuk kedalam pelukannya dalam posisi duduk. "Kakak bisa jangan pergi...? Nanti Thea gak ada teman berantem lagi.. Rumah ini bakal sepi kalo gak ada Kakak jahil.."
"Gak bisa..Calix tetap harus pergi.. Azelnya Calix minta Calix untuk pergi dari hidupnya dan Calix sudah janji akan menghilang dari pandangannya.."
"Bagi Calix, dia adalah pelangi tapi sayangnya mungkin baginya, Calix hanya luka yang ikut berbaur dengan segudang luka yang dia miliki.. Kalo dengan menghilangnya Calix adalah bahagianya, maka Calix akan mengabulkannya."
"Tapi kenapa harus keluar negeri Kak..?" Komentar Thea dengan suara parau.
"Betul itu, Calix.. Pertimbangkan lagi keputusanmu. Kamu tega meninggalkan kami disini..? Lagian, kalau keputusanmu hanya berdasarkan menghilang dari kehidupan cewek itu, gak mesti pergi keluar negeri.. Masih banyak cara yang lain, kamu bisa pindah sekolah dan usahakan gak akan berjumpa dia lagi hingga nanti.." Timpal Athala turut iba.
"Calix takut, kalo Calix tetap di sini, Calix gak bisa menahan gelora ingin menemui dia.." Tak tinggal diam tangannya mengusap-usap kepala Thea yang masih setia menumpahkan tangis di dalam dekapannya. Calix menciumi pucuk kepala Adiknya.
"Thea harus jadi anak yang baik dan patuh ya? Jangan menyusahkan Mami dan Papi.. Kurang-kurangin sikap nyebelin Thea biar Mami dan Papi gak cepat tua.. Thea harus jadi gadis anggunly biar banyak cowok yang naksir.." pesannya yang dibalas anggukan pasrah oleh Thea.
Athala menggoyang-goyangkan lengan Istrinya, dia mulai merengek. Hanya Ruby yang bisa menggoyahkan kehendak Calix. "Hentikan Calix.. By.. meskipun di sana ada Daddy dan Mommy, aku gak bisa tenang kalau dia jauh dari jangkauan kita.."
"Bagaimana kalau dia kecanduan minuman keras lagi? Bagaimana kalau dia sering begadang lagi? Bagaimana kalau makannya tidak teratur lagi? Kalau dia sakit, kita akan kesulitan menjenguknya karena dipisahkan oleh jarak..."
Ruby menghela napas pasrah. Beliau juga berat menerimanya, karena selama ini mereka tidak pernah terpisah jauh. Namun apa boleh buat? dia tidak bisa menghentikan jika itu sudah menjadi keputusan putra sulung mereka.
"Aku gak bisa mencegahnya karena itu sudah menjadi keputusan Calix, kita harus menghargainya. Lagi pula kita bisa sesekali menengok Calix di sana kalau kita gak ada kesibukan dan Thea lagi cuti sekolah."
...*****...
Lonceng bel istirahat bergema. Para pelajar berhamburan keluar dari kelas untuk menuntaskan kegiatan di jam istirahat.
"Oh iya Ky? Gimana hasil seleksi kemarin?" Selepas membenahi atribut belajarnya, Hazel bertanya pada Kyra. Kemarin, mereka telah merealisasikan seleksi olimpiade bahasa Indonesia.
Kyra mengangkat tangannya membentuk O. "Lolos dong. Gue sama Ronan lolos. Kami bakal berangkat ke Bekasi dua hari lagi."
"Wuih contrast kalo gitu mah. Sahabat gue yang satu ini emang gak kaleng-kaleng! Gua bangga deh punya bestie yang berprestasi! Tingkatkan! Jangan jadi dungu kaya gue!"
Kyra mengucek hidungnya tersanjung, "Btw kantin yuk. Laper nih gue." Ditepuk-tepuknya perutnya yang keroncongan sedari tadi. "Dari tadi cacing di perut gue udah nyanyi."
"Ah? Lo duluan aja. Gue ke kelas IPA 5 dulu."
Kyra ber oh-ria, tidak ingin menginterogasi lebih lanjut, dia dapat menerka siapa yang akan ditemui olehnya. Mungkinkah Hazel sudah mendapat hidayah?
"Gue tungguin di kantin kalo gitu." Mereka beranjak dari tempat dengan tujuan yang berbeda, Kyra menuju kantin dan Hazel.
Pikirannya sempit, Hazel merasa keputusan yang dia ambil salah besar. Walaupun terbilang singkat, kebersamaannya dengan Calix bisa mempengaruhinya ke energi positif. Buktinya, dia bisa sembuh dari trauma masa lalunya.
Tidak semestinya dia gegabah dalam mengambil keputusan.
Calix cowok liar, playboy, sampah, brengsek. Iya, Hazel akui, seluruh hal yang buruk tercakup pada jati diri Calix. Namun, Hazel dapat menemukan sisi baik dari Calix terlepas dari itu semua.
Persetan dengan kekurangan, selama Calix bisa menerima dirinya apa adanya kenapa dia harus mundur?
Hazel mengubah keputusannya kemarin, dia akan mengutarakan isi hatinya yang sesungguhnya hari ini. Mereka bisa bahagia setelah badai yang menerpa kemarin.
Setibanya diruang kelas IPA 5 yang tidak lain dan tak bukan adalah kelas Calix, pandangan Hazel menjelajah ke sembarang arah mencari-cari seseorang. Tetapi, dia tidak menemukan batang hidungnya di sini.
"Apakah dia lagi di kantin?" Monolognya.
"Eh Hazel? Nyariin siapa?" Hazel memutar balikan tubuhnya melihat sang pemilik suara. Dia adalah Candra yang baru masuk kelas.
"Calix. Dia lagi di mana? Di kantin ya?"
Candra menggaruk-garuk kepalanya bingung. "Bukannya dia di skors?"
"Lo lagi nyari Calix?" Kali ini giliran Farel yang baru saja masuk menyusul Candra yang bertanya pada Hazel. Siapa lagi yang menjadi tujuan si gadis ini selain Calix di kelas ini?
Begitu Hazel menganggukkan kepala, Farel pun mengusap-usap dagunya, dia mencermati Hazel lekat. "Calix gak pamitan sama lo?"
Hadir kernyit dalam pada alis Hazel. Reaksinya tidak beda jauh dengan Candra yang juga tidak tahu apa-apa. "Pamitan? Ngapain? Emang dia mau kemana sampai pake pamitan segala?"
"Dia kan mau otw ke Australi."
Hazel membelalak kaget, "Kapan?!"
Farel memeriksa jam tangan yang terpatri di pergelangan. "Hari ini, waktu penerbangan setahu gue pukul sepuluh pagi. Sekarang pukul sembilan lewat empat puluh--" Ucapannya belum tuntas, Hazel segera berlari keluar.
"Tega banget tuh si Calix pergi gak bilang-bilang sama gue, gue dianggep temannya atau enggak sih?" Gerutu Candra kesal.
Farel hanya mengedikan bahu. "Gue kira lo udah tahu. Semalam, Calix ke rumah gue, pamitan sekaligus minta maaf udah buat gue babak belur."
...*****...
Kurang lebih dari dua puluh menit, Hazel tiba di bandara. Dia rela meninggalkan kelas berikutnya hanya demi Calix.
Hazel berlari sekuat tenaga membela hiruk-pikuk terminal bandara. Tidak hanya satu sampai dua orang mengeluarkan misuh-misuh akibat tak sengaja ditabraknya.
Hazel mengitari bandara yang luas, sesekali berputar linglung memindai di sekeliling terminal, mencari-cari figur Calix ditengah keramaian.
"Semoga saja dia belum pergi..." Gumamnya berharap. Mengapa ini bisa terjadi? Di saat dirinya ingin mengungkapkan rasa yang sebenarnya, dia justru mendapat kabar kepergiannya. Apakah takdir benar-benar tidak ingin mempersatukan mereka?
Belum kunjung menemukan Calix, Hazel terus berlari tanpa menyerah, bahkan napasnya sudah tidak beraturan. Keringat bercucuran deras, antara lelah berlari dan takut Calix tidak ada di sini lagi.
Sampai dimana langkahnya perlahan melambat tatkala menangkap punggung tegap lelaki yang tengah dia cari dalam posisi membelakanginya dengan koper berukuran besar yang dia genggam.
Hazel berteriak sekeras-kerasnya. "CALIX!!!"
*****