
Dia menepuk-nepuk dua tangan yang membelenggu kuat lehernya. Cekikan dilehernya membuatnya kesulitan untuk bernapas.
Udara disekitarnya mulai terkuras, manik mata gadis cantik itu telah menyisip keatas. Bahkan kakinya sampai terjinjit. Air mata mengalir deras bagaikan anak sungai menghiasi pada wajahnya. "Mati lo!!"
"L-lepashh.."
Dibalik iris mata yang memancarkan merah akan emosi yang mendalam. Ada sebuah kilat kesedihan yang begitu dalam pula yang bersemayam.
"Keluarga gua awalnya damai. Hanya ada gue, Mama, Papa dan Rega. Tapi, semenjak Nyokap gue meninggal karena kecelakaan, secara tiba-tiba Nyokap lo hadir dalam hidup gue seolah-olah kematian Nyokap gue udah direncanakan sejak awal."
"Apa dugaan gue bener? Nyokap lo yang udah nyusun strategi pembunuhan Nyokap gua biar dia bisa menikah sama Bokap gue lalu ikut berfoya-foya menikmati harta Bokap gue."
"E-enggak! M-mama, gak kayak gitu..uhhhuk!!"
"Gak ada maling yang ngaku! Lo sama liciknya dengan Wanita rubah itu! Kalian telah merenggut kebahagiaan gue, bangsat! Arghhh!"
Tubuh rapuhnya meluruh kelantai yang dingin saat lilitan dilepaskan, dia terbatuk-batuk sambil meraup oksigen sebanyak-banyaknya.
Cowok itu menggila, terlihat begitu mengerikan. Perabotan-perabotan berharga yang terletak di setiap sudut rumah ini, tak ada yang selamat, terbang kemana-mana karena dia hempaskan menyalurkan kemurkaannya. Er*angan frustasi turut menyertainya.
"Kembalikan Mama gue! Kembalikan keluarga utuh gue! Kembalikan kebahagiaan gue dan Rega! Kalian benalu! Kalian sampah penghancur keluarga gue arghh!!"
PLANG! PLANG!!
Dia meraih salah satu pot kaca. Lalu detik berikutnya, benda itu melayang dan berakhir menjadi hancur berkeping-keping didepan gadis itu.
Nyaris saja menghantam bagian tubuhnya, dia hanya bisa beringsut menjauh melihat lelaki itu melangkah mendekatinya sambil memegangi bagian serpihan kaca yang dia pecahkan barusan. "Lo harus mati! Kalian harus mati! Kematian kalian adalah kebahagiaan gue!"
"J-jangan hiks!!" Dia menggeleng-geleng nanar, sirine bahaya terdengar begitu keras ketika punggungnya membentur dinding, jalan buntu. Dia tidak ada ruang lagi untuk kabur. Apakah perjalanan hidupnya akan berakhir disini?
Cairan bening kristal membanjiri pipi, dengan ketakutan dia hanya bisa berlindung dibalik lengannya saat lelaki itu menodongkan benda tajam tersebut, dengan kejam bersiap akan menghunjamkannya pada bagian tubuh yang dapat dia jangkau.
"KAK ATUR, STOP!" Dari balik pintu utama ruangan, hadir seorang laki-laki lain yang lebih muda bersama dengan seorang Gadis seusia dengannya, dengan langkah tergesa-gesa mereka menyambangi ruangan ini. Rasa khawatir beradu dengan panik tersirat jelas pada wajah mereka.
"Apa yang Kak Atur lakukan?!" Dihempasnya kasar tangan yang menggenggam benda berbahaya tersebut sehingga beling kaca terjatuh dari tangannya.
"Kakak harus membunuh Gadis benalu ini! Mereka parasit! Mereka gak ada harganya! Mereka perusak kebahagiaan kita, Rega! Lo kenapa selalu bela mereka?! Mereka yang sudah merenggut segalanya dari kita!"
Selama dia menyuarakan segala kesakitan yang tersimpan dalam lubuk hatinya, gadis yang bernama Aldara membantu dirinya yang nyaris dicelakai untuk berdiri.
"Lo gak papa? atau ada yang luka?" Tanyanya disambut gelengan lemah yang menjadi tanggapan. "Gue--gak papa. Hanya saja, gue sedikit shock."
"Sini, gue papah lo keatas." Dia melirik sebentar kepada seorang yang kini sedang menghardik entah pada siapa, setelah memastikan bahwa dia masih belum sadar jika korbannya akan diamankan, dia memapah gadis itu menuju keatas untuk dijauhkan dari jangkauannya.
"Wanita ular itu yang sudah merusak kebahagiaan kita! Mereka harus dimusnahkan! Mereka gak pantas hidu--"
PLAKKK!!
Telapak tangan sang Adik, menapak sempurna pada pipinya. Tak cukup ampuh membuat wajahnya terpaling kearah lain namun mulutnya sukses terbungkam. Napasnya memberat.
Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat menatap sangat tajam Adiknya yang lebih muda darinya, jika tak mengingat dia salah satu keluarganya sebenarnya, mungkin dia akan membalasnya dengan cara yang lebih keji.
"Sadar Kak! Kalo Papa denger, dia akan marah besar ke Kakak! Kakak gak boleh kaya gini! El gak salah, Mama gak salah. Tragedi itu murni kecelakaan, gak ada sangkut pautnya sama Mam--"
"Jangan sebut jalaang itu sebagai Mama! Dia bukan Mama kita! Mama kita hanya satu! Dan selamanya gak akan tergantikan dengan siapapun!"
Dia ditatap dengan penuh kekecewaan. Langkah Adiknya mundur perlahan demi perlahan. Dia, masih seorang Fatur..
Fatur Elvino Syahreza..
Kak Aturnya yang begitu lembut, penuh kasih sayang dan yang paling menyayanginya.. tetapi mengapa sekarang? Perubahannya sungguh besar, semenjak Ayah mereka menikah lagi, dia hampir tak mengenali orang didepannya ini.
"Gue gak nyangka lo jadi kaya gini Kak. Lo berubah kaya monster, lo bukan seperti Kak Atur yang dulu.. lo berubah Kak.. lo jahat. Gue gak kenal Kak Atur yang sekarang.."
"Lo pikir, gue berubah tanpa alasan? Gue berubah karena keadaan, sialan!"
...*****...
Lonceng bel yang ditunggu-tunggu seluruh murid berkumandang, bahu melemas dengan perasaan lega seolah baru terlepas dari beban yang begitu berat.
"Baiklah. Berhubung bel pulang sudah berbunyi, mari kita akhiri disini pembelajaran. Kita akan kembali bertemu lagi minggu depan, di hari yang sama dan mata pelajaran yang sama."
Guru bahasa indonesia yang sekarang mengajar di kelas IPA 3 menyambut buku piket yang diserahkan oleh Ronan.
"Oh iya, sebelum itu. Saya mau menyampaikan. Bagi murid yang berbakat dan tertarik dengan lomba olimpiade bahasa Indonesia yang diselenggarakan di kota Bekasi, silahkan menghadap langsung pada saya untuk mendaftar."
"Tapi untuk kelas dua belas seperti kalian, mungkin akan sedikit mengganggu belajar kalian, karena waktunya nyaris tumpang tindih dengan ujian kelulusan kalian. Walaupun tidak bertepatan, tetap saja akan menganggu waktu belajar kalian dalam persiapan ujian nasional nanti."
Seisi kelas, memperhatikan dengan amat serius pada Bu Lilis yang berdiri didepan, dia tengah memaparkan mengenai olimpiade bahasa Indonesia yang akan digelar di kota bekasi.
"Jadi, yang memang memiliki minat, silahkan mendaftar tanpa paksaan dari pihak sekolah, karena akan ada banyak murid-murid junior kalian yang ikut berpatisipasi. Namun, bagi yang ikhlas berdedikasi demi mengharumkan nama sekolah, silahkan ikut berkontribusi."
"Bukan hanya piagam dan medali yang akan menjadi penghargaan, tapi ada uang juga, hadiahnya cukup besar. Waktu pendaftaran masih cukup banyak. Amelia, Kyra dan Ronan, kalian akan menjadi kandidat terkuat. Jadi, saya harap, keputusan kalian tidak mengecewakan para Guru."
Kyra dan Ronan mengangguk mantap. Tidak dengan Lia, dia masih ada keraguan untuk ikut mengingat bahwa dia diberikan oleh Pak Samsudin amanah, yaitu mengajar Calix hingga ujian akhir mendatang. Pak Samsudin juga mengaku bertanggung jawab untuk memberikan kompensasi padanya.
"Waktu seleksi akan diadakan tiga hari sebelum keberangkatan. Yang ikut andil, diharap, bersiap-siap dari sekarang."
"Baik Buk!" Hanya ada beberapa siswa yang menyahut. Tentu saja hanya golongan murid yang memiliki IQ berkualitas di bidang mata pelajaran.
"Baiklah, hanya itu penyampaian dari saya, sekaligus menjadi penutup pertemuan kita hari ini. Jangan lupa untuk giat belajar dirumah dan selamat bertemu dinext time. Sekian dan terima kasih atas kerja keras kalian untuk hari ini."
Suasana yang semulanya tenang kini menjadi ricuh, seluruh anak-anak mulai membenahi atribut belajar kala Bu Lilis keluar dari ruangan setelah mengucapkan sepatah kata kalimat salam penutup.
"Ky, lo bakal mencalonkan diri ikut olimpiade?" Hazel menyandang tas ranselnya dipunggung.
Tahun ini, sepertinya sekolah ini mengadakan pendaftaran besar-besaran mengingat kelas yang sering ikut dalam lomba olimpiade akan segera menjadi alumni. Sebelum ini, yang menjadi peserta tetap hanyalah Ronan, Kyra dan Lia.
"Mungkin. Sebenarnya, gue gak tertarik amat, tapi coba aja dulu. Hadiahnya juga pasti bakal lumayan buat bantu Kakak gue nabung. Lagi pula, tahun ini kandidat pasti banyak banget. Gue yakin, saingan juga gak kalah luas wawasannya. Gak akan mudah untuk lolos."
Satu persatu anak-anak pelajar yang lain sudah mulai berhamburan keluar dari kelas, tak terkecuali Hazel dan Kyra. Mereka berdua berjalan kearah pintu keluar dari kelas sembari berbincang-bincang ria. "Gimana hari ini, jadi?"
"Jadi dong. Bantuin gue milih hadiah untuk Kakak gue."
...*****...
Sepulang sekolah tatkala siang sudah menjelang sore, dengan menaiki bus, Hazel ikut dengan Kyra. Rencananya hari ini, Hazel akan menemani Kyra ke pusat perbelanjaan untuk membeli hadiah buat Kakak perempuannya.
Setelah menempuh satu kilo meter melalui lorong kompleks, mereka akhirnya tiba disebuah gubuk minimalis.
Kyra malu jika itu orang lain. Dia yakin, baru melihat rumahnya saja jelas dia akan menjadi bahan hinaan. Jika itu Hazel, Kyra bisa tenang, karena Hazel sudah beberapa kali kerumahnya. Menurut Kyra, Hazel berbeda jauh dengan teman-teman perempuan pada umumnya.
Dia, sangat baik. Kyra tak pernah mendengar penghinaan dari lidahnya meskipun telah melihat rumahnya, bahkan dia tidak menjauhinya setelah tahu bagaimana kondisi ekonominya. Bisa dibilang, Hazel tidak memilih-milih orang yang dijadikan teman bergaul. Dan Kyra sangat menyukai Hazel dari sisi itu.
Hazel itu bagaikan malaikat jika dibandingkan dengan dirinya. Sedari SD, SMP hingga pertama kali memasuki SMA Kyra dikucilkan oleh orang-orang karena latar belakangnya.
Sebelumnya dia hanyalah seorang murid yang tidak pandai bergaul. Tidak sebelum bertemu dengan Hazel, dia adalah teman pertama Kyra dan mengajarkannya banyak hal.
...*****...
Saat masuk kedalam rumah Kyra dengan tangga kayu, mereka langsung disambut dengan kehebohan Adik-adik Kyra. Berjenis kelamin perempuan dan laki-laki.
Jika kalian ingin tahu, nama mereka adalah Ayana dan Arzan. Ayana baru menginjak bangku SMP tahun ini lalu Arzan masih duduk dibangku SD.
"Kak Kyra!!" Arzan memeluk pinggang Kakaknya, Kyra mengulum senyum teduh sebagai balasan. Dia mengusap-usap kepala Adiknya penuh kasih sayang.
"Kalian udah makan?" Pagi- pagi Kyra memasak untuk persediaan dirumah mereka, jika Adik-adiknya pulang lebih dahulu, sudah ada makanan yang tersedia.
"Udah Kak!" Sahut mereka serentak.
"Yaudah, Aya. Bawa Arzan keluar. Kalian main aja dulu diluar ya. Jangan gangguin Kakak sama Kak Hazel.."
"Biarin aja Ky.. mereka gak ganggu sama sekali kok.." Sela Hazel tidak enak hati. Bagaimana mereka bisa menganggu? Mereka berdua adalah anak-anak yang imut dan menggemaskan.
"Gak papa Zel... Mereka ini cerewet, mulut mereka gak bisa diem..nyinyir terus. Gue aja yang notabenya Kakak mereka risih dengan keberadaan mereka. Nanti kenyamanan lo bisa terganggu."
"Aya, gih.. bawa Arzan keluar.. nanti Kakak bakal jalan sama Kak Hazel, pulangnya nanti agak sorean, jadi kalian hati-hati yah dirumah.."
"Siap Kak!!" Sesuai penitahan sang Kakak, Ayana mengambil tangan Adiknya lalu membawanya keluar dari rumah gubuk tersebut. Sepeninggalan kedua Adiknya, Kyra mengambil sapu dipojok.
Setelah menyapu debu dilantai papannya agar dapat diduduki Hazel, Kyra pergi kearah dapur dan mengambil air putih dari sana.
Hazel menurunkan tasnya lalu duduk dilantai tanpa alas apapun dengan posisi bersila, dia menyimpan tas ranselnya diatas pangkuannya. Hanya dua sampai tiga menit Kyra kembali lagi kepada Hazel.
"Maaf ya Zel, gue hanya bisa siapin minuman air putih aja. Gue bukan orang kaya yang bisa buatin minum beragam varian rasa."
"It's okay. Lo kayak sama siapa aja. Santai aja kalo sama gue." Kyra tersenyum kecil, sikap sopan dan hangatnya inilah yang membuat Kyra sangat mengaguminya.
"Oh iya, Kakak lo mana? Perasaan tiap gue main kesini, Kakak lo gak ada?" Pandangan Hazel berkelana kemana-mana. Setahunya, Kyra tinggal bersama Kakak dan kedua Adiknya. Mungkin saja, Kakak Kyra orang yang pemalu lalu ngumpet setiap dia mampir kesini.
Yang menyambut Hazel adalah reaksi yang tak wajar dari Kyra. Yang menjadi tanda tanya besar dalam otak Hazel selama ini, dia tidak pernah berjumpa dengan Kakak Kyra yang seringkali dia ceritakan setiap dia main ke rumah mereka, yang ada hanyalah kedua Adiknya.
Dan yang paling bikin Hazel semakin heran adalah reaksi Kyra yang selalu aneh jika Hazel mengungkit tentang Kakaknya.
Seperti sekarang semisal. Kyra terlihat gelagapan. "A-ah? Kakak gue? D-dia.. kurang pulang ke rumah karena sibuk bekerja." Hazel hanya manggut-manggut, jika memang sibuk bekerja tidak perlu terlihat gugup begitu kan? Ada-ada saja Kyra ini.
"Lo tunggu bentar disini. Gue, siap-siap dulu. Oh iya, lo gak mau tukar baju? Gue pinjemin baju gue deh. Dari pada lo pake seragam kesana." Tawar Kyra kemudian. Seolah-olah ingin mengubah topik pembicaraan, tapi ada benarnya juga, karena jangan lupakan bahwa keduanya memang masih mengenakan seragam sekolah.
"Thanks udah nawarin Ky. Tapi gak papa kok. Gue gak pandai menjaga pinjaman. Takutnya ntar malah hilang sama gue."
Mengangguk-anggukkan kepala paham, lantas Kyra kembali angkat suara. "Yaudah lo tunggu disini bentar. Lo udah izin belum sama orang tua lo?"
Hazel menepuk dahinya, dia lupa meminta izin dengan keluarganya. Semoga saja belum ada yang menjemputnya ke sekolah. "Gue lupa izin sama Nyokap gue, Ky."
"Yaudah mumpung gue mau siap-siap, lo izin dulu ke Nyokap lo. Nanti dia khawatir lagi." Ujar Kyra diangguki oleh Hazel.
Begitu Kyra memunggunginya menuju kamar, Hazel meminum segelas air putih sebelum mengambil ponselnya lalu tanpa membuang waktu, dia menghubungi Mamanya.
Mengabaikan tujuh belas riwayat panggilan yang tidak terjawab dari cowok paling menyebalkan dimuka bumi ini. Tidak butuh waktu lama, panggilan terhubung.
"Hallo, Hazel? Udah lama nunggunya? Kamu tunggu bentar ya, Abang kamu masih dirumah baru mau otw kesana."
"Eh Mah! Bilangin ke Abang, gak usah jemput Hazel."
"Loh kenapa? Kamu pulang sendiri?"
"Enggak Mah.. Hazel lagi bareng Kyra, mau nemenin dia beli hadiah buat Kakaknya.."
Jika dia bilang tidak, apakah Hazel akan mematuhinya? Tidak. Ghea tak akan menjadi seorang Ibu yang melarang anaknya bermain dengan teman sepantarannya. Inilah waktunya untuk memberikan kebebasan pada Hazel. Selama ini, dia sudah terlalu mengekang Hazel.
"Oh.. yaudah, hati-hati yaa.. jangan lama-lama pulangnya.."
"Asiap!! Kalo gitu Hazel tutup teleponnya.."
Ghea memberikan anggukan kepala walau tidak kelihatan ke seberang sana. Tidak munafik, tetap ada sebuah kecemasan terselip didalam hatinya. Namun, dia tidak ingin jadi Ibu yang egois. "Iya, jangan lupa hati-hati.. sehabis nemenin Kyra langsung pulang, jangan keluyuran kemana-mana lagi."
"Iya Mah.. ih! Mama rewel banget sih, Hazel tutup nih teleponnya. Bye!!"
Tuut..tuut..tuut...
"Eh Jay!"
Begitu sambungan panggilan diputuskan oleh Hazel, Ghea menghampiri Jayden yang sedang mengambil sendal di keranjang sendal, berbekal kaos hitam senada dengan celana jeansnya, dia sudah siap berangkat menjemput Hazel.
Tetapi, panggilan sang Mama menundanya, dia menoleh kearah sumber suara. "Ada apa Mah?"
"Gak usah jemput Hazel. Dia lagi bareng temannya."
...*****...
Sepertinya Kyra kelamaan berdandan, Hazel bahkan sampai tiduran menunggunya. Kini dia berbaring dilantai tanpa alas dengan meletakan lengannya menutupi netranya.
Sepersekian menit kemudian, munculah Kyra dari arah kamarnya, dia melihat Hazel yang sedang rebahan dilantai, mungkin dia belum menyadari keberadaannya, atau mungkin ketiduran. Yang jelas, Hazel tidak bereaksi sama sekali.
Kyra berjongkok disisi Hazel menganalisa sesuatu. Hazel benar-benar tidak tahu berhati-hati, beruntung yang melihat sekarang hanyalah perempuan, jika tidak entah apalah yang dipikirkan orang.
Karena posisi tangan Hazel yang terangkat, baju seragamnya sedikit naik berakibat mengekspos bawah perut Hazel yang putih dan mulus, sepertinya dia hanya mengenakan tanktop pendek sebagai dalaman.
Ada satu hal yang membuat Kyra tertarik secara full, tangan Kyra spontan menyentuh dibawah pusat tepat pada bagian bekas luka yang seperti--bekas jahitan?
Sentuhan Kyra rupanya cukup berefek. Hazel tersentak pelan. Dia menyingkirkan tangannya dari atas matanya lalu langsung mengubah posisinya menjadi duduk. "Itu Zel--diperut lo tadi kayaknya bekas jahitan?"
Kyra merasa agak tidak asing dengan luka yang dimiliki oleh Hazel. Seingatnya, dia juga pernah melihatnya diposisi yang sama pada bagian perut mendiang Ibunya. Sementara Hazel menggaruk pipinya pelan. Mengenai itu, terus terang dia sendiri juga kurang tahu.
"Eum? Oh ini.." Hazel mengusap bagian pohon perutnya. "Gue juga gak tahu detailnya karena setelah gue bangun dari koma, bekas ini tahu-tahu sudah ada..Tapi kata nyokap gue itu bekas jahitan operasi gue setelah gue mengalami insiden kecelakaan mengenaskan dimasa silam.."
*****