My Possessive Boyfriend

My Possessive Boyfriend
MPB•RUMAH SAKIT



Kondisinya masih belum sepenuhnya membaik. Hazel tidak pernah beranjak sedikit pun dari ruangan ICU. Tidak henti-hentinya Dia memanjatkan doa di dalam hati untuk kesembuhan sang buah hati. Dia setia menemani Gilsha, lupa makan sampai lupa waktu pula.


Operasi Gilsha berjalan lancar setelah sedikit kendala yang telah teratasi, sekarang dia dipindahkan ke ruangan intensive care unit. Tubuh mungilnya terpasang berbagai alat medis untuk penunjangnya hidup.


Hanya dia yang tinggal disini, Ghea, Ferdi dan Jayden sibuk mengurusi jenazah kedua orang tua angkat Gilsha.


"Isa... Cepat bangun ya sayang..? Maafin Ibumu yang tidak berguna ini.. Bisa-bisanya gak pernah menyadari bahwa selama ini kamu adalah anak-ku.. Maaf... Jangan hukum Ibu kaya gini, lekas sadar dan kita akan main sama-sama lagi seperti sedia kala, semuanya akan baik-baik saja.."


Tangan yang begitu kecil masuk didalam rengkuhan tangannya. Dia meletakkan punggung tangan dingin Gilsha dipermukaan dahinya. Sejak tadi embun dari kelopak matanya tidak ada habisnya mengalir.


Seumpama balita ini sadar nanti, apa yang harus dirinya katakan padanya jika dia bertanya tentang kedua orang tua angkatnya? Kira-kira seperti itulah menjadi konflik yang bergelut pada diri Hazel.


Ditengah nelangsa yang menyergap suasana hatinya, mendadak ada sebuah telapak tangan mendarat diatas kepalanya, membelai pelan disana. "Zel? Lo belum makan.."


"Calix? Lo masih disini? Gue kira lo udah pulang."


Hazel menatap Calix yang mengangkat sebuah kantong kresek berisi makanan yang dia beli dari kantin rumah sakit ditemani dengan segelas minuman air mineral.


Lelaki itu tidak pulang, hanya pergi ke kantin sebentar membelikan Hazel makanan, gadis ini belum mengisi perut sejak tadi siang pergi dari rumahnya. Dia tidak akan meninggalkan Hazel sendiri dalam kondisi terpuruk.


"Makan dulu ya? Gue beliin makanan buat lo dari kantin. Lo juga butuh asupan agar memiliki energi menunggu Isa sadar." Teramat lemas, Hazel mengikuti Calix menuju sofa di bagian sudut.


Mereka berdua duduk disana. Benar apa kata Calix, sesedih-sedihnya dirinya, dia tetap harus menjaga pola makan agar kesehatannya tidak terganggu.


"Makan sendiri atau di suapin?" Tanya Calix setelah membuka sebungkus nasi uduk.


"Makan sendiri. Tangan gue masih berfungsi."


"Yakin bisa pegang sendok dengan bener?"


"Yakin, ck." Jelas sekali vibrasi tangan Hazel kala mengangkat sendok, dia mulai menyantap makanan.


Calix hanya bisa mengamatinya dalam diam. Tadi siang Hazel yang mengulurkan bantuan untuknya, sekarang timbal balik. "Lo gimana? Udah makan?"


"Udah tadi di kantin."


"Sejak kapan lo tahu?" Menghentikan kegiatannya sejenak, Hazel menatap Calix yang berada disampingnya dengan pertanyaan yang sejak tadi terperangkap dalam batinnya, baru sekarang baru dia suarakan.


"Apa?"


"Isa anak gue."


Memutar tubuhnya beberapa derajat menyamping dari Hazel, Calix bersandar di kepala sofa dengan meratap lurus kedepan. "Gak penting gue tahu dari kapan. Sekarang hanya kapan bangunnya Isa yang menjadi paling utama."


"Kenapa lo ikut merahasiakan itu?" Kini Hazel hanya bisa menemukan Calix dari sudut samping.


"Gue gak berhak memberitahu rahasia besar itu kepada lo, Zel.. Gue masih orang asing dalam lingkaran keluarga kalian, gue gak bisa ikut campur terlalu jauh, keluarga lo bisa benci sama gue."


Di detik berikutnya hanya ada bunyi monitor yang menghiasi ruangan bernuansa putih tersebut. Hazel sibuk mengisi perutnya karena kalah telak dalam percakapan, sedangkan Calix hanya sibuk dengan pemikirannya sendiri.


Tidak berselang lama, Hazel telah menyelesaikan sesi makannya. Setelah mengaliri rongga kerongkongannya dia bengong. Melamun dengan berbagai perihal yang terperangkap dalam logika.


Sepersekian detik kemudian suara khas Calix kembali memecahkan suasana. "Jangan benci keluarga lo. Mereka menutupi fakta itu demi kebaikan lo. Mereka hanya ingin lo fokus dengan masa muda lo tanpa memikul beban yang lain. Mengurus anak gak semudah membalikkan telapak tangan. Akan terasa sulit apalagi lo masih sekolah."


Hazel menghirup udara cukup panjang lalu membuangnya secara perlahan. "Gue gak benci sama mereka. Gue hanya kecewa. Gak peduli mau sesulit apapun, Isa tetap anak gue. Tanggung jawab gue untuk mendidiknya."


"Seandainya gue tahu dari dulu kalo dia anak gue, gue gak akan lanjut sekolah. Isa akan menjadi prioritas utama gue dari pada yang lain. Malah, mungkin gue akan hidup mandiri mengurus dia, cari pekerjaan yang layak untuk membiayai hidup kami sehari-hari."


Imbuhan panjang lebarnya disambut oleh Calix dengan beberapa kosakata dalam kamus. "Dan hal itulah yang membuat keluarga lo merahasiakan kenyataan. Masa depan lo masih panjang. Lo juga masih perlu menggapai impian lo."


"Gue udah mengubur impian gue dalam-dalam semenjak gue kehilangan kesucian gue.. Gak ada masa depan yang cerah untuk Perempuan yang gak ada lagi harganya. Lagi pula, Kak Atur menderita semenjak gue pergi dari hidupnya, gue juga gak pantes bahagia karena gak ada di sisinya di masa-masa itu. Setidaknya gue juga harus menderita di sisa-sisa hidup gue seperti dia."


Hazel mendongak kala Calix bangkit dengan kasar, kedua tangannya mengepal keras. Rahangnya saja sudah mengeras. "Sampai kapan?" Aura gelap menyeruak, Calix merasa tidak senang.


"Humm?" Hazel linglung. Apakah dia salah bicara?


"Atur dan Atur terus! Kuping gue Sampe panas denger lo sering menyelipkan namanya di setiap pembicaraan!" Calix menggosok-gosok telinganya secara kasar seraya memutar badan guna melihat gadis dibelakangnya.


"Sampe kapan lo selalu hidup dalam bayang-bayang cowok itu?! Sekarang ada gue, gak bisa lo melirik gue sedikit saja dan menyingkirkan nama cowok yang udah buat lo trauma dari hati lo?!"


Hazel menghembuskannya napas lelah. Ini bukan saat yang tepat membahas kisah rumit percintaan mereka. "Kita itu udah bukan siapa-siapa lagi. Hubungan kita, udah berakhir kalo lo lupa."


"Lo pikir dengan berakhirnya hubungan kita, gue gak bakal ganggu lo lagi?" Hazel dibuat merinding menangkap sebuah smirk yang tercetak dibibir Calix.


"No baby. Sekalipun menyeret kaki lo, gue akan menarik lo kembali ke sisi gue. Sekalipun menggunakan trik yang kotor, gue akan tetap menarik lo ke dalam jeratan gue. Lagian, keputusan hanya secara sepihak dari lo, gue gak pernah setuju kita putus."


"Gue gak butuh persetujuan dari lo." Berusaha terlihat biasa saja, padahal mati-matian Hazel berusaha untuk tidak menumpahkan air matanya di sini.


Calix tertawa berat, terdengar menyeramkan ditelinga Hazel. "Don't make me obsessed. Selama ini, gue hanya menunjukkan perilaku gue yang posesif, pengekang, egois dan kejam. Masih banyak perangai buruk yang belum sepenuhnya gue tunjukkan. Jadilah gadis yang patuh dan jangan keras kepala, maka lo akan baik-baik saja."


Meneguk salivanya takut luar biasa ketika Calix menunjuk perutnya secara terang-terangan. Hazel panas dingin.


"Sekarang, itu masih kosong. Belum tahu nanti, kalo lo gak nurut, mungkin itu akan membesar kek balon. Bakal terisi sama janin dan kembali mengulang masa kelam lo."


Wajah Hazel terpaling kesamping dihempas oleh Calix kemudian berlalu dari sana dengan membawa sebongkah bara api usai menorehkan rasa intimidasi dalam diri Hazel.


Dia membanting daun pintu ruang rawat inap Gilsha hingga menciptakan bunyi yang begitu nyaring bergema ditelinga Hazel. Gadis itu dibuat tersentak pelan dalam rasa yang campur aduk.


...*****...


Bugh!


"Sampai kapan pun, gue gak akan rela Hazel bersama dengan cowok berkepribadian buruk kayak lo!"


Bugh!


Bugh!


"Tahu apa lo tentang gue hah?! Lo gak tahu apa isi hati gue! Yang lo tahu cover gue aja!"


Bugh!


"Lo itu cowok playboy! Brengsek! Suka mempermainkan cewek! Hazel juga pasti salah satu cewek dalam list mainan lo!"


"Siapa bilang?!! Gue benar-benar tulus sama dia bangsat!"


Pukulan juga tendangan terdengar gaduh disebuah lahan kosong. Tidak ada orang lain disini selain kedua lelaki yang sedang berperang dengan sangit.


Pukulan demi pukulan melayang beradu, saling menangkis lalu menghantam wajah, rahang dan dada satu sama lain. Selain itu, masing-masing bagian tubuh mereka yang lain juga ikut terkena imbasnya.


Cukup panjang waktu mereka berseteru. Sampai dimana, gerakan pukulan Calix dan Rega kian melambat seiring berkurangnya energi yang mereka miliki.


Mereka sudah terhuyung-huyung dan pada akhirnya ambruk ditempat yang berarti pertarungan mereka telah berakhir saat itu juga.


Dada keduanya kelihatan naik turun senada dengan napas mereka yang tersenggal-senggal. Pasokan oksigen disekitar mereka terasa menipis.


Keringat mengucur deras di kening berpadu dengan babak belur yang menghiasi disana. Mereka seperti baru habis olahraga malam. "So? Lo ngajak gue ketemu cuma untuk ini?"


"Lo yang mancing duluan, sialan! Pesona gua jadi cacat gara-gara lo! Awas aja kalo Hazel makin gak suka sama gue gara-gara wajah gue ternodai." Calix membuang ludah yang tercampur dengan darah segar.


Sebelumnya, tiada angin tiada hujan, tiba-tiba Calix mengirim pesan ajakan berjumpa pada sebuah nomor yang pernah meneror ponselnya. Dan disini lah tempat titik temu mereka.


Ajakan Calix tidak berniat untuk baku hantam. Namun, saat mereka sama-sama sudah tiba disini, Rega mendadak menyerangnya tanpa alasan. Calix tidak memiliki pilihan selain meladeninya.


Berangsur-angsur, perlahan oksigen di sekeliling mereka pun mulai optimal. Calix bangun menumpukkan kedua tangannya dibelakang agar bisa menopang tubuhnya.


"Cuma lo yang tahu secara terperinci cerita Hazel dan Kakak lo. Gue, gak bisa seenaknya bernopini bahwa Kakak lo cowok biadab atau semacamnya sebelum gue denger cerita lengkapnya. Semua insiden pasti terjadi karena sebuah sebab dan alasan. Hazel belum mampu menceritakan itu sama gue. Gak ada pilihan lain selain denger dari mulut lo sendiri."


Ikut bangun mengubah posisinya, Rega memasang gaya seperti Calix. "Mendengar pernyataan lo yang pengen tahu masa lalu kelam El, sepertinya lo bener-bener serius sama dia. Baiklah, dengan senang hati gue akan menceritakannya."


"Senang hati bapak lo! Udah babak belur gini lo bilang dengan senang hati?! Dimana letak senang hatinya, brother?! Ente kadang-kadang ente!"


Rega terkekeh renyah. Bukannya apa, dia belum sempat memberi pelajaran pada laki-laki ini karena sudah melukai Adiknya. Oleh sebabnya, dia menuntaskan amarah terpendamnya disini berhubungan mereka saling berhadapan satu sama lain.


"Kisah antara El dan Kak Atur ya..?" Mulutnya bergerak samar, Rega menggumam.


Pandangannya menerawang dalam sebelum menengadah, menatap langit malam yang ditaburi bintang. Rembulan malam ini sangat cerah, sepertinya mendukung aksi yang baru mereka lakukan barusan. "Ini mungkin akan sedikit memakan waktu, gak apa-apa?"


"No problem. Seabad sekalipun gue dengerin. Apa pun itu untuk Hazel."


TO BE CONTINUED...