
Saat ini Calix dan Hazel berada di ruangan khusus tempat istirahat. Di mansion sebesar ini, banyak ruangan kosong yang tersedia, salah satunya disini.
Tidak ada yang menghuni disini selain mereka berdua yang durasinya masih bisa dihitung dengan jari menitan mereka kala menyambangi ruangan ini. Ditempat ramai tadi adalah ruangan tamu.
"Lo bawa roti?" Hazel paham, yang dimaksud oleh Calix.
"Ini dadakan. Mana mungkin gue bawa persediaan?" Hazel beserta Calix sedang duduk disebuah recliner sofa, Hazel menyandarkan punggung di kepala sofa. Dia lemas, antara faktor menstruasi atau lega telah lolos dari ruangan terkutuk tadi.
Hazel terpejam merasakan kenyamanan sebuah tangan kekar menari-nari dipermukaan perutnya sangat lembut. Jangan salah paham, Calix hanya membantu Hazel untuk membalur perut Hazel dengan minyak kayu putih agar dia merasa lebih enakan.
"Masa tanggal bulanan lo sendiri gak tahu?"
"Yah mana gue tahu?! Bulan ini datengnya kecepatan." Pinggangnya dia ikatkan jaketnya agar tidak tembus ditempatnya duduk. Baru kali ini Hazel merasa bahwa jaket pembawa berkah untuknya. Celana juga berwarna hitam, jadi nodanya tidak akan terlalu kentara.
"Sakit gak?" Calix menampilkan raut yang cemas agak tersamarkan.
"Dikit. Tadi lumayan nyeri. Dan sekarang udah agak mendingan berkat lo. Thanks boyfriend."
Cubitan maut Hazel serang di pipi kanan lelaki disisinya. Tindakannya berefek cukup besar, denyut panas yang tertinggal tidak terasa bagi Calix, malah dia kelihatan mesem-mesem tidak jelas.
Hazel patut dinobatkan sebagai Perempuan hebat yang dapat membuat lelaki anti salah tingkah ini, salting tiada habisnya. "Ih gemes banget deh. Jadi gak tahan untuk gak cium. Tapi gue harus tahan."
"Kenapa? Lo jijik cium cewek yang udah pernah dijamah cowok lain?" Tanya Hazel menuntut.
"Bukan begitu. Gue cuma gak mau membuat lo dejavu dengan kejadian dulu. Dan berakhir membuat trauma lo kumat. Katanya, cewek yang pernah mendapat pelecehan seksual, traumanya akan awet. Gue akan usahakan agar kita gak terlalu jauh dalam melakukan kontak fisik, sebatas kemampuan lo aja, seperti pelukan. Lo gak risih kan pelukan sama gue?"
"Risih sih enggak. Malah gue kayak--nyaman gitu. Intinya, gue gak risih." Hazel gengsi mengakui bahwa dia sangat-sangat lah nyaman berada di dekapan lelaki ini.
Semenjak kenal dengan Calix, sadar tidak dasar, dia merasa traumanya mulai menghilang sedikit demi sedikit, walau sekarang tetap masih berbekas, setidaknya sudah ada kemajuan cukup pesat dari pada yang kemarin-kemarin.
"Terus kalo--" Sengaja menjeda ucapannya, Calix menipiskan jarak antara wajah mereka, Hazel harus tahan napas dan dibuat tidak berkutik ketika Calix melabuhkan kecupan sayang di pelipisnya. "Lo gak masalah kalo gue cium kaya gitu?"
"Ah? Lo--apa-apaan sih?! Gak boleh asal-asal cium. Minimal aba-aba dulu." Kedua tangan Hazel menekan dadanya yang bergelora.
Dia menunduk menutupi rona yang menjalari pipinya. Tidak perlu berkaca untuk mengetahui kondisi wajahnya sekarang ini.
"Jadi--lo risih yah dicium kaya tadi? Yaudah, kelak gue gak akan mengulanginya lagi dan lebih berhati-hati sebelum ada izin persetujuan dari lo." Hazel mendongak begitu Calix tiba-tiba bangkit dari duduknya.
"Mau kemana?"
"Keluar, beliin lo roti. Gak mungkin lo kaya gini terus. Bisa-bisa lo gak sanggup keluar dari sini. Lo tunggu disini jangan kemana-mana. Istirahat aja disini, nanti gue suruh Thea temenin lo disini, gue juga bakal suruh salah satu pelayan untuk membawakan air anget untuk lo."
"Lo keluar bareng siapa?"
"Candra sama Farel."
...*****...
"Rel?! Farel?! Kemana tuh anak?!" Candra sudah menjelajahi seluruh penjuru mansion ini dan hasilnya nihil. Hanya ditempat ini lagi belum dia periksa.
Kemungkinan Farel ada disini, dia dan Farel diajak oleh Calix untuk menemaninya keluar dan tugasnya sekarang adalah mencari keberadaan cecunguk yang satu itu.
Semenjak insiden keramat yang mana Farel mencium Kyra gara-gara dare, mereka berdua hilang seperti ditelan bumi, batang hidung mereka tidak muncul lagi di ruangan tamu.
"Astaga! Mata gua ternoda!" Reflek, Candra menutup matanya menggunakan tangan setelah memergoki adegan iya-iya yang sedang berlangsung antara Farel dan Kyra.
Hanya ada punggung Farel yang terlihat jelas, ada sosok gadis yang sedang dia sudutkan di dinding, wajahnya bergerak sesekali miring kanan kadang miring ke kiri.
Sadar ada orang yang datang di ruangan yang sama dengan mereka, secepat kilat Kyra lekas mendorong dada Farel agar menjauh dan menaikkan lengan bajunya yang agak turun akibat kekhilafan yang terjadi antara mereka berdua.
Dada mereka naik turun, sejalan dengan napas Kyra memburu bersama dengan Farel yang sedang mengatur napasnya.
Merasa oksigen disekitarnya mulai optimal, Farel lalu mengusap bibirnya dan menoleh pada Candra dengan ekspresi kesal karena kegiatannya diganggu. "Ngapain lo, ck?"
"Ampun dah! Jangan bilang gara-gara dare tadi lo jadi suhu kaya gini?!"
"Bacot! Ada apa lo dateng kesini?" Menyandarkan sisi bahunya didinding, Farel menunggu jawaban dari Candra.
"Calix ngajak keluar, entah untuk apa. Kayaknya beli barang keramat."
"Gak! Gue permisi!" Potong Kyra dengan jalan yang sangat cepat melenggang keluar dari ruangan sana.
Siapapun! Tolong penggal kepalanya saat ini juga! Rasa malu ibarat batu raksasa yang menimpa kepalanya secara beruntun, padahal belum pudar rasa malunya pasal di ruangan tadi.
Farel memandang figur Kyra yang telah menghilang dengan tidak rela. "Gara-gara lo nih Can! Gue baru belajar sesat! Lo ganggu aja, tuhkan pergi kan Kyra-nya!"
"Oh ayolah men! Calix baru saja tobat, masa lo lagi yang sesat." Candra merangkul Farel seraya melangkah hendak meninggalkan ruangan tersebut.
"Jangan banding-bandingkan gue ama si Calix! Gue sama dia beda! Gue gak bakal melakukan hal yang kaya tadi dengan cewek tanpa adanya perasaan khusus."
...*****...
Farel kebingungan ikut alur kemana tujuan Calix dan Candra. Langkah demi langkah membuatnya jadi merasa aneh. Pasalnya tujuan mereka ke jejeran rak yang diisi barang horor. "Lah ngapain kita ke rak pembalut?!"
Pandangannya celingukan kanan-kiri menyapu sekeliling alfamart yang mereka sambangi, berjaga-jaga jangan sampai ada orang yang tidak sengaja memergoki mereka.
Sedangkan Candra mencomot bibir Farel yang kebanyakan berkicau, tidak mau diam. "Udah, ikut aja. Gak usah banyak cincong!"
Tidak jauh dari Calix, Farel dan Candra memutuskan untuk berdiri cosplay jadi patung yang memunggungi jalur jalan antara dua jajaran rak menunggu Calix yang sedang sibuk memilih merek yang berkualitas menurutnya.
Mereka salut pada Calix yang tidak ada rasa malu membeli benda keramat seperti itu.
Melihat ada karyawan Wanita yang sedang memperbaiki dagangan disana, Calix pun memanggilnya. Dia kurang tahu urusan seperti ini, ada baiknya bertanya pada yang lebih ahli. Mengesampingkan rasa malunya.
"Permisi Mbak. Numpang tanya, boleh?"
"Iya ada apa Mas? Ada yang bisa dibantu?"
"Menurut Mbak, merek pembalut yang kualitasnya bagus yang kaya gimana? Saya kurang tahu Mbak."
Calix mengangkat dua pack berwarna pink disebelah kanan tangannya dan yang lainnya lagi bungkusan berwarna orange. Calix meminta pendapat dari pegawai itu membuang rasa malunya.
Kedua sohibnya sudah menutup kepala mereka dengan jaket yang mereka gunakan. "Untuk siapa, Mas?"
"Ada Mbak, gak usah kepo. Intinya, bukan gue yang pake." Candra dan Farel meringis, bukan mereka yang sedang berdiskusi dengan karyawan itu, tetapi mereka juga yang merasakan malunya. Mereka hanya bisa ganti profesi menjadi penguping handal, setidaknya untuk saat ini.
"Iya Mas, kalo itu saya tahu juga. Gak mungkin batang bisa pake barang kaya gituan."
"Bacot, ck. Tinggal bantu saya milih yang paling mahal dan berkualitas, gak usah banyak tanya."
Pegawai itu hanya menghembuskan napas sabar. Pelanggan yang satu ini menguji kesabaran, untung pelanggan. "Baiklah, saya akan membantu Mas untuk memilih."
Calix nampak berbincang ria pada Karyawan Wanita itu untuk sebentar, berkonsultasi mengenai barang yang akan dia beli, sesekali dia mengangguk-angguk paham kala Wanita berkisar dua puluh lima tahunan itu menerangkan secara terperinci, sekaligus promosi akan merek yang menurutnya paling bagus.
Mendapatkan apa yang Calix ingin beli, mereka lantas pergi ke kasir, tidak banyak pelanggan disini, untuk itu mereka tidak perlu mengantre sepanjang ular, hanya ada dua orang didepan mereka, kini sudah giliran mereka.
Candra bersiul-siul menggoda sang kasir Wanita yang kelihatan cantik dan memiliki body bohay. Dadanya sengaja dia busungkan agar kelihatan montok. "Bening uhuuy! Bapak Athala merasa puyeng, nomor wa-nya dong neng!"
Lelaki itu hampir terjungkal karena kakinya digasak oleh Calix, Candra ini lagaknya seperti mengajak adu mekanik. "Nama Bapak gua tolol!"
Mbak kasir berdehem pelan lalu menyelipkan untaian rambutnya kebelakang telinga. Sebelum menghitung pesanan Calix, dia meluangkan waktu meladeni Candra dengan senyum ramah pura-pura.
"Ibu Juleha membeli rantang, ngaca dulu Bang." Balasannya bikin Calix dan Farel ngakak brutal sampai terpingkal-pingkal lagi.
"Kena mental gak tuh?!"
"Gak ada kaca? Nih gua pinjemin, Can." Disela tawa Farel memegangi perutnya yang keram, dengan satu tangan menyodorkan ponselnya agar dipakai Candra untuk bercermin diri.
Objek yang mereka jadikan bahan tertawaan mendengus kasar "Skip, mandang fisik!"
Lelaki itu memilih melengos pergi menjauh dari sana dari pada semakin malu ditempat, dimana-mana dia terus yang ternistakan.
*****
Gemes gak sih sama Calix?
Terus, bagaimana menurut kalian dengan Farel dan Kyra? Apakah ada yang nge-ship mereka?