
"Hazel!! Buruan turun! Udah lumutan nih Calixnya nunggu!" Teriak Ghea dari bawa sana mendesak Hazel.
"Iya Mah!" Sekali lagi Hazel memeriksa dan kembali menata penampilannya di kaca cermin usai menyempatkan diri menyahuti Ghea.
Matanya yang sedikit membengkak dan sembab sudah disamarkan oleh polesan bedak yang dia pakai dan biar bagaimanapun kondisi matanya tidak akan mengurangi kadar kecantikannya.
...(OUTFIT HAZEL SEKARANG)...
"Oke, udah cantik." Pujinya sebelum menyambar sling bag dimeja rias dan keluar dari dalam kamar.
Dibawah sana, Calix tidak bisa berpaling dari kecantikan Hazel yang kini turun dari undakan tangga, terpanah untuk sejenak, Hazel membuat dunianya seolah teralih, sampai lupa berkedip beberapa detik pula, baru kali ini dia melihat Hazel dandan khusus seperti ini.
Padahal kedua orang tuanya hanya mengadakan perayaan sederhana saja, tidak besar-besaran. Namun, gadis ini malah pakai berdandan segala seperti ini.
"Kedip bro!" Jayden menepuk bahu Calix untuk menyadarkan sang empu. Dan tindakannya sukses mengenyahkan ke terpesona'an seorang Calix.
"Ah? Iya Bang?"
"Adek gue, cantik banget kan?"
Berusaha mengontrol mimiknya agar terlihat normal kembali, Calix kemudian hanya menjawab Jayden dengan deheman diawal kalimat. "Hm b aja."
"Halah! Munafik lu! Mata lo aja gak bisa bohong, sudah berlope-lope natap Adek gue, sok-sokan bilang b aja."
Langkah demi langkah membawa Hazel tiba di hadapan Calix dan Jayden, dia menggenggam selempang tas-nya. "Udah mau otw? Bukannya lo datengnya terlalu awal? Katanya acaranya mulai nanti jam tujuh, ini baru lewat jam enam." Pergelangan tangannya terangkat, dia memeriksa lonceng yang terpatri disana.
"Lo mau gue dihapus dari kartu keluarga? Mami udah desak gue suruh cepet-cepet jemput lo."
Sembari berjalan keluar dari rumah, Hazel lantas berpaling kepada Mamanya yang melangkah bersama dengan mereka hingga di teras depan. "Mah? Papa jam berapa pulangnya?"
"Tadi dia menghubungi Mama, katanya untuk malam ini dia kerja lembur. Mungkin, akan telat dia pulangnya dari hari biasanya."
Kemudian Ghea berpesan untuk Calix. "Calix, hati-hati ya bawa motornya.. biar pun lelet yang penting kalian sampai dengan selamat."
"Jam sepuluh, jam sepuluh batas waktu yang saya berikan untukmu membawa Hazel, pastikan dia pulang sebelum jam sepuluh, lewat dari itu, kau kehilangan restu dari saya." Dengan jari telunjuk mengacung, Ghea ditemani raut tegasnya yang menggambarkan bahwa dia tidak main-main dengan ancamannya.
Calix mengangguk cepat. Sedikit tergagap respon yang dia berikan. "B-baik Tante! Saya usahakan sebelum jam sepuluh saya akan mengantar Hazel pulang."
"Jaga baik-baik Adek gue. Gue liat dia pulang dalam kondisi lecet sedikit saja, habis lo sama gue." Napas hangat Jayden menerpa kepalan tangannya. Yang digertak pun sigap memasang gaya menghormat.
"Siap Bang! Gue jamin, Hazel pulang dengan kondisi sehat walafiat tanpa ada setitik luka sedikitpun."
"Gue pegang kata-kata lo!"
"Kalo gitu, kami permisi yah Tante, Bang Jay, salam juga buat Papa Hazel, sayang banget gak sempat cipika-cipiki sama dia, nanti kabarin ke dia, Calix pinjem Hazelnya untuk malam ini."
Dengan sopan Calix menyalami Ghea sebagai bentuk pamitan, begitu pula dengan Hazel, Calix juga bersalaman dengan Jayden, tapi versi salaman sesama lelaki, yaitu ber-tos ria.
Calix dan Hazel berjalan kearah kendaraan milik Calix yang terparkir masih didalam ruang lingkup halaman rumah Hazel. "Tumben bawa motor?"
"Hmm, baru habis diservis. Makanya sebelum jemput gue udah pesan ke lo pake celana panjang."
Yup. Calix sempat berpesan pada Hazel melalui pesan, menyuruh Hazel untuk memakai celana panjang, tidak rok mini atau celana sepaha, pokoknya pakaian-pakaian yang menurutnya tidak enak dipandang, Calix melarangnya dengan keras.
Tangan Calix terulur lantas menata poni Hazel dengan telaten, "Zel? Lo ngapain dandan? Kan udah gua peringatkan tempo hari, jangan dandan lagi, lo kelihatan aneh pakai riasan wajah."
Bibir Hazel mencebik, lelaki ini tidak tahu cara menghargai usaha seorang perempuan, dia pikir butuh berapa jam dirinya merias diri? Dia malah dengan seenaknya mengkritiknya seperti ini.
"Seenggaknya hargai lah usaha gue! Bagus menurut lo, gue bakalan berhadapan dengan kedua orang tua lo lagi dengan penampilan gue yang lusuh seperti biasa?"
"Dandan boleh, tapi sama gue aja. Jangan umbar ke orang lain."
"Kenapa? Lo takut Bapak lo kepincut sama gue ya..?"
"Wish, setia dong! Baru patut dijuluki sebagai Pria idaman. Bukan kaya Putranya, hedeuhh cadangan ada dimana-mana."
"Nyindir gue, lo?"
Hazel merotasikan bola matanya. Calix tidak pernah sadar diri. "Situ ngerasa?"
"Mau mengelak juga, kenyataan." Gerutu Calix skakmat. Pergerakannya yang hendak memasangkan helm ke kepala Hazel jadi terpending saat mendapati keadaan mata Hazel yang sedikit membengkak dan nampak sembab.
Suasana disini masih agak terang dibantu secercah cahaya dari teras rumah Hazel dan langit pun belum terlalu gelap. Calix meletakkan kembali helmnya diatas motor gedenya.
Dan Hazel dibuat sedikit tersentak begitu Calix mengangkat tangannya untuk mengusap sudut netranya dengan punggung telunjuk. "Mata lo bengkak, baru habis nangis?"
"Ah? E-enggak kok, I-ini mata gue tadinya kelilipan, gue gosok-gosok terus dan jadinya gini." Kenapa bisa Calix sampai menyadarinya? Padahal dia sengaja memakai foundation agak tebal hanya untuk menutupinya.
Calix tiba-tiba membuka kedua lengan, merentangkan tangannya lebar-lebar seolah siap menyambut Hazel masuk kedalam dekapannya. "Kalo memang benar lo gak nangis, peluk sini. Mumpung Mama sama Abang lo udah masuk kedalam rumah."
Patuh. Hazel maju dua tingkat dari titik tempatnya berdiri, merapatkan tubuh mereka, dia direngkuh oleh Calix penuh kehangatan. Masa bodo akan kemungkinan mereka bisa dipergoki Mamanya atau tidak Abangnya, Hazel sekarang lagi butuh pelukan seseorang.
Apalagi dia merasa nyaman didalam dekapan pacarnya ini. "Tidak apa. Menangis juga bagian dari hidup. Jujur saja sama Alix.. Azel Kenapa hmm? Apa yang buat tuan putrinya Alix ini sedih..? Sini cerita. Hal sekecil apapun cerita sama gue, jangan ditutupi, sekarang ada gue yang bisa lo jadikan tempat bersandar sekaligus tempat lo berkeluh kesah. Jangan merahasiakan apa-apa dari gue."
Dengan wajah tersembunyi dibalik dada kokoh Calix, Hazel meremas kemeja hitam Calix dibagian dada. Bongkahan kembali menghantam rongga dadanya. Dia kesulitan untuk bernapas. Sementara tangan Calix tidak tinggal diam, menerapkan belaian di belakang kepalanya penuh kelembutan.
"Fatur, Lix... Fatur udah gak ada.. dia udah pergi, ninggalin gue dan kenangan kami... Seharusnya gue ada disisinya saat dia lagi menanggung rasa sakit berat itu, tapi gue malah jauh dari jangkauannya. Gue, jahat banget ya?"
Sadar tidak sadar bahwa Hazel telah meremukkan hati lelaki yang merengkuhnya. Bukan karena apa, hatinya sakit mengetahui kenyataan bahwa Hazel sedih karena kepergian lelaki dimasa lalunya.
Matanya terpejam rapat, bersusah payah agar emosinya tidak meledak saat ini juga. "Terkadang gue bingung sama lo Zel. Untuk sekarang, siapa pemenangnya, orang baru atau masa lalu?"
Wajah Hazel menyembul dari balik dada bidangnya, menengadah membalas tatapan Calix yang menunduk hingga empat mata itu terkunci dengan dalam. "Lo mau jawaban jujur atau bohong?"
"Jujur, jangan bohongi gue sama diri lo sendiri, karena yang sakit bukan cuma gue doang, lo juga."
"Dia--orang yang paling gue benci, Lix. Iya, gue sangat membencinya, tapi rasa benci itu dikalahkan oleh rasa cinta. Dia cinta pertama, atau bahkan--masih sampai sekarang. Entahlah, gue juga gak tahu menafsirkan hati gue. Kayaknya gue belum bisa melupakan dia sepenuhnya."
Calix merenggangkan pelukan dan sebelah tangannya dia gunakan untuk mengais anak surai Hazel. Dia mengusap pipinya kemudian. "Gak papa kalo semisal lo belum bisa melupakan dia, biar gue yang bantu lo untuk menghapus sedikit demi sedikit namanya dari hati lo."
Bohong kalau Calix bilang tidak kecewa. Faktanya, dia terluka mendengarnya, terlepas dari itu, dia juga sadar bahwa sejauh ini, dia juga bukanlah seorang lelaki baik yang berusaha memantaskan diri bersama dengan Hazel.
"Jangan sedih lagi, air mata lo terlalu berharga untuk menangisi orang yang sudah membuat lo trauma. Kuncinya sekarang, lo harus bahagia kalo mau dia tenang di alam sana. Pasti, dia enggak mau orang yang dia buat sedih di sepenggal masa hidupnya, masih menggenggam luka itu hingga detik ini." Tambah Calix dengan punggung telunjuk kembali menyeka embun dari pipi Hazel.
"Udah. Sudahi sedihmu. Kita berangkat sekarang."
Dapat Hazel rasakan tepukan pelan yang mendarat di pucuk kepalanya, dia lantas memberikan anggukan kecil sebelum kepalanya dibaluti oleh helm yang dipakaikan oleh Calix. Dia merasa lebih ringan usai mengutarakan isi hatinya yang berkecamuk dibantu oleh pelukan Calix.
"Pegangan." Hazel mencengkram kaos Calix pada dua sisi tubuhnya, Calix pun berdecak gemas dan menuntun tangan gadisnya untuk melilit di pinggang kekarnya.
"Gini baru bener. Ini bukan modus ya. Tapi demi keamanan saat lagi berkendara. Bisa berabe kalo semisal lo terjungkal kebelakang akibat gak pegangan dengan bener. Terus kalo lo luka? Mampus gue digebukin sama keluarga lo."
Hazel mencebik sewot. "Ah, yang bener...?"
'Dih, bilang aja kalo memang mau modus. Mana keluarga gua dijadikan alasan segala lagi.' Imbuhnya dalam hati.
Bunyi knalpot mendengung kala Calix menyalakan mesin lantas motor sport Calix akhrinya mulai melaju dan berlalu dari sana bersama dengan Hazel dibelakangnya.
*****
Janji gak bucin?!😈
Tembus 40 chapter, jadi jedag-jedug dengan hasil retensi, hanya Author receh gak berharap banyak sih🤧
Episode kali ini pendek? Yah! Itu sesuai dukungan. Kalau dukungannya gak ikut menyertai, jujurly sebagai Author aku juga akan kehilangan semangat ngetik..😭