My Possessive Boyfriend

My Possessive Boyfriend
MPB•KEDIAMAN RAGASWARA



Disebuah mansion megah yang merupakan kediaman utama dari keluarga Ragaswara kini tempat Hazel berada. Sebelumnya, Hazel sempat takjub bukan main melihat betapa besar tempat tinggal Calix.


Rumah-rumah orang konglomerat memang berbeda. Dibandingkan dengan rumah sederhananya, Hazel dibuat kembali tertampar bahwa mereka berdua dari dunia yang benar-benar jauh dari kata berbeda.


Disini belum ada orang lain kecuali dirinya, karena dia datangnya terlalu awal. Ah, ada satu orang yang kelihatan asing bagi Hazel sudah stay disini bahkan sebelum Hazel tiba.


Zeal mengusap-usap dagunya memperhatikan Hazel dengan begitu teliti. "Seleramu bagus juga. Cute kali cewekmu. Pasti modal pelet kan?"


"Enak aja! Gini-gini Calix jadi rebutan kaum Wanita! Ya kali cowok se-perfect Calix pake cara yang gak terpuji kaya begitu hanya untuk dapetin cewek? Apa kata semesta coba?"


Sang empu merasa tidak nyaman dengan adanya Zeal di satu ruangan yang sama dengannya, Calix beserta Papi Calix juga ada di ruangan tamu itu. Mengenai Athala, Hazel tidak terlalu risih dengannya karena pria paru baya yang masih kelihatan segar bugar dan hot itu hanya diam dengan koran ditangannya dan sibuk dengan dunianya sendiri.


Masalahnya sekarang, ada pada Zeal dan Calix yang nampak mengamatinya dari sofa arah berlawanan dengannya. Lihat saja, Hazel hanya menunduk dengan tangan yang tidak terlepas dari saling bertautan.


"Gimana Uncle? Cantikan mana? Cewek Calix atau Istri Uncle?" Sebelah kaki yang dia pangku tidak bisa diam, Calix menggoyangkannya pelan. Sesekali mengepulkan asap nikotin yang tengah dia konsumsi.


"Jelas cantikan Istri Uncle lah! Ya kali cantikan cewek lain." Zeal lantas membisikkan sesuatu ke telinga Calix. "Bisa tamat riwayatku kalau sampai si Rie tahu aku puji cewek lain lebih cantik dari dia. Jadi, main aman saja biar jatah tetap lancar jaya."


"Jauh juga. Mana bisa ketahuan sama Aunty?" Zeal melarang Istrinya ikut ke negara Indonesia karena sibuk mengurus anak mereka yang masih usia bulanan. Dia meninggalkannya bersama dengan kedua orang tuanya yang tidak ikut juga ke Negara ini. Hanya Zeal yang sering berkunjung kesini untuk memastikan kabar Adiknya baik-baik saja.


"Jangan remehkan insting seorang Perempuan Lix.. mereka itu seperti cenayang. Diem-diem, telinga sama mata mereka gentayangan dimana-mana."


"He'em, cewek agak mistik."


"Bukan agak lagi. Cewek memang mistik. Jangan sekali-kali kau berpikiran untuk macem-macem dibelakang mereka, karena ulah kita itu akan terbongkar dengan sendirinya dengan feeling kuat mereka."


"Terus, kalo mereka udah bertanya, jangan menjawab dengan kebohongan. Karena apa? Kebanyakan cewek yang bertanya itu hanya untuk memastikan kita akan menjawab jujur atau tidak, dan sebenarnya mereka itu sudah tahu jawabannya. Lalu kalo udah ketahuan bohong, titid kita bakal terancam cacat. Bisa-bisa kita gak bakal bisa ciptakan nyawa baru di rahim mereka."


Tanpa sadar, Hazel mendelik samar akan pemaparan ngawur Paman Calix dan Calix bergidik ngeri mendengarnya. "Serem juga punya Istri. Calix jadi ngeri sendiri membayangkannya." Monolognya. Tidak ketinggalan matanya mengembara kearah Hazel.


"Kakak ipar!!" Dengan semangat dua belas, Thea berlari dari tangga menuju Hazel yang tercuri total seluruh perhatiannya pada Thea, bukan hanya dirinya, Athala, Zeal dan Calix juga. Dibelakangnya ada Ruby yang mengekorinya.


"Kakak Ipar kapan sampainya?! Ih kok Kakak gak bilang ke Thea kalo Kakak ipar sudah tiba disini!!"


Calix hanya mengangkat sebelah keningnya mendapat layangan tatapan tajam dari sang Adik disalah satu sofa panjang, pas berada disisi kanan Hazel. "Ngapain pake bilang ke lo? Lo itu gak penting."


"Hih dasar Kakak nyebelin!" Cetus Thea kemudian memusatkan titik fokusnya pada Hazel, "Nama Kakak, Hazel kan?"


"Loh, kok kamu tahu?" Perasaan ini pertama kali mereka berdua berjumpa.


"Gimana gak tahu Kak? Kalau Kakak kampret Thea yang sayangnya Kakak kandung Thea sendiri pulang ke rumah ini, nama Kakak itu selalu terselip di setiap obrolannya. Biarpun Kakak enggak bilang siapa yang bernama Hazel, tapi Thea udah tahu, kalo Hazel itu nama Kakak ipar yang udah buat Kakak kampretku itu jadi bulol akut."


Setelah mengoceh panjang lebar, Thea mendekatkan mulutnya, memposisikannya disisi telinga Hazel sebelum suara bisikannya terdengar pelan disana, "Bahkan dia sering pamer-pamer ke Thea, Mami dan Papi, foto Kak Hazel yang dia curi diam-diam dari medsos."


Bisikannya disambut oleh kekehan geli Hazel, sesekali mereka berdua mencuri pandang kearah Calix yang nampak berbincang santai dengan Zeal. "Masa sih si Calix sering sebut-sebut namaku atau apa tadi? Pamer fotoku? Dia itu pro player-nya cewek. Gak mungkin sebucin itu."


"Ah, Kakak gak percaya sama Thea?!"


"Thea, kamu temenin cewek Calix dulu ya. Mami mau ke dapur, bantu-bantu pelayan yang sedang menyiapkan hidangan."


"Ah, Tante. Hazel juga ikut, Tan." Hazel bangkit dari duduknya, tidak mungkin dia hanya diam saja disini.


"Gak perlu, Nak Hazel.. Hazel itu tamu disini, tamu itu raja, gak boleh mengerjakan apa-apa."


"Gak papa Tante, Hazel juga bosan cuma diem aja dari tadi. Cepat ngantuk kalo gak bergerak."


"Hmm yaudah deh, kamu ikut Tante ke dapur, mungkin saja lihat-lihat pekerjaan pelayan, bisa membuat kamu gak boring. Ayuk, sini ikut Tante."


"Ih, Thea juga ikut dong!" Dengan rusuh, Thea beranjak dari tempat menyusul Maminya dan Hazel menuju dapur. Ruby membimbing Hazel menuju ke area dapur.


Sepeninggalan mereka, Calix beringsut agar lebih dekat dari Zeal. Dia mulai menimbulkan desas-desus, mengajukan pertanyaan yang meresahkan. "Terus gimana rasanya mereproduksi kecebong, enak gak Uncle?"


"Calix belum pernah ngerasain lubang, mungkin lebih enak dari pada cuma di eemut-emuut gitu. Kadang gak sengaja digesek sama gigi, sakit banget Uncle, Calix gak mau lagi kaya gitu hih! Nanti aja kalo Calix udah nikah sama cewek Calix, baru coba lagi ketahap utamanya."


"Oh, gak usah ditanya... Dalam dunia ini nikmat mana lagi yang kau dustakan selain melakukan itu? Diluar negeri sih antara laki-laki dan Wanita dewasa, rutinitas melakukan dua puluh satu plus bukan hal yang tabu, tapi lebih enak dan mantap lagi kalau melakukannya dengan wanita yang dicintai, apalagi sudah jadi Istri, kayak--nikmatnya beda gitu. Berkali-kali lipat lebih enak kalau kataku mah."


"Kau juga, Calix. Kalau udah ada pacar, jangan lagi main-main sembarangan. Jaga hati perempuan yang menurutmu berharga dan jangan pernah melukai mereka, Papi sama Mami gak pernah mengajarkanmu hal-hal yang buruk."


Melipat bibirnya, Calix baru sadar bahwa dia telah keceplosan, kedua orang tuanya tidak pernah tahu bagaimana pergaulan liarnya diluar. Dia mengusap tengkuknya kikuk. Agak terintimidasi kalau Papinya sudah mode serius dan mendominasi seperti ini. Begitu pula dengan Zeal, dia hanya bisa cengengesan.


"I-iya, Papi. Calix udah gak main-main lagi kok."


"Kali ini kau selamat. Papi masih memberimu kesempatan untuk berintrospeksi dan memperbaiki diri. Tapi, kalo ketahuan sama Papi kau mengulangi lagi segala kelakuan bejatmu, Papi gak akan tinggal diam lagi, Papi bakal langsung lapor sama Mami. Mungkin Papi tidak akan memberimu ganjaran, tapi kalau laporan sudah sampai kepada Mami, sebaiknya kau buat nyawa cadangan."


...*****...


Ruby dan Hazel berbaur dengan para pelayan berkutat di dapur untuk menyiapkan beragam macam menu hidangan sebelum para tamu hadir. Dimulai dari hidangan berat, hidangan ringan dan hidangan penutup. Berbagai macam dessert juga ikut serta sebagai pelengkap.


Percakapan Hazel dan Mami Calix pun tak luput mengiringi aktivitas mereka. Thea hanya mengamati kegiatan mereka dengan posisi duduk diatas meja pantry sembari mengayun-ayunkan kakinya. "Umurmu, berapa nak?"


"Hmm akhir bulan ini delapan belas Tante."


Ruby mengangguk-anggukkan kepala. "Hubunganmu dengan Putraku sudah berlangsung berapa lama?"


"Tiga bulan atau udah lebih? Enggak tahu, Tan. Hazel enggak hitung harinya."


"Kau tahu umur Calix, berapa?" Kembali, Ruby bertanya dan kali ini dibalas oleh Hazel dengan gelengan tidak tahu. Lucu sekali bukan?


Hubungan mereka sudah bulanan. Sialnya, usia masing-masing saja, mereka tidak saling mengetahui satu sama lain. Hazel sadar, bila dari dua belah pihak antara mereka tidak saling terbuka dengan leluasa, banyak hal yang mereka tutupi.


"Enggak Tante. Status aja pacaran, tapi kami--enggak saling terbuka. Bisa dibilang, masih dalam tahap pendekatan, atau masih mencoba mengenal satu sama lain."


Thea menimpali ditengah obrolan mereka. "Umur Kak Calix itu, tahun ini dua puluh satu tahun." Hazel tersedak ludahnya sendiri mendengar hal itu, dia sontak memalingkan wajah pada Ruby yang entah kebetulan atau tidak, sedang menatapnya juga.


Dia melayangkan raut seolah bertanya kepastian dari ucapan Thea beberapa menit lalu. Dan tanggapan Ruby rupanya anggukan simbol sebuah kebenaran.


"Yup. Yang dikatakan Thea itu bener. Umur Calix sebenarnya sudah mencapai kepala dua. Dia lebih tua dari dua teman yang selalu bersamanya itu, siapa nama mereka? Far-- Can--siapa yah?"


"Farel sama Candra, Tan."


"Nah itu dia."


"Hazel sudah mengira kalo Calix lebih tua dari Hazel, tapi-- diluar perkiraan Hazel kalo sebenernya umur Calix segitu. Padahal masih SMA loh."


Ruby tertawa kecil. "Itu salahnya. Kalau seandainya dia gak sering ditinggal, mungkin sekarang dia udah kuliah."


"Gimana-gimana? Maksudnya gimana, Tante?" Hazel semakin bingung. Sistem otak kecilnya dipaksa untuk bekerja.


"Saking nakalnya Calix, dia pernah ditinggal kelas waktu SD sama SMP. Dua kali di SD dan satu kali di SMP, makanya sampai sekarang dia masih duduk dibangku SMA."


"By..? Ruby..?"


Percakapan mereka terpaksa berakhir dengan kemunculan Athala disana. Kini Pria matang itu sudah berada dihadapan Ruby yang telah memutar haluan melihat sang Suami. Athala mengusap kening Istrinya lembut. "Ngapain disini hmm?"


"Kamu lihat sendirikan aku lagi apa?" Ruby menunjukkan tangannya yang menggenggam sebuah pisau yang Beliau gunakan memotong-motong rempah barusan.


"Kamu gak boleh bekerja nanti kelelahan. Tidak baik untuk calon bayi kita. Sini, kita keruangan, serahin ke para pelayan aja yang mengerjakan. Itu kan sudah jadi tugas mereka, mereka juga digaji."


Athala merangkul Ruby yang memutar kepalanya kebelakang, untuk mengintip Hazel dan juga Thea. Pasalnya Wanita itu sudah memunggungi mereka akibat digiring oleh Suaminya.


"Hazel! Sini, kita tunggu di ruangan aja!" Tatapan Hazel berubah pada Thea yang tengah menggeleng-geleng. Hazel masih tidak percaya bahwa Papi Calix dan Calix memiliki sifat yang bertolak belakang. Sangat jauh perbedaannya.


"Papi..Papi.. kambuh lagi penyakit overprotektif-nya.." Gumam Thea tidak habis pikir.


*****


Atha😭 Author nunggu dudamu, Mas🤧