
"Calix? Calix udah lama nunggunya?"
Lia menginjakkan kaki di atap, menghampiri Calix yang kini membuang puntung rokok melihat kedatangannya, lelaki itu turun dari bangku kusam yang terletak di sudut.
"Kenapa gak sekalian tahun depan aja lo dateng? Lumutan gue nunggu ck."
"Maaf. Tadi Lia harus ke ruang Guru dulu mengantar tugas." Kini mereka bertatap muka, Lia agak mendongak kemudian kepalanya kembali turun, meremas sisi roknya gugup kala Calix mengamatinya dengan lamat-lamat.
"J-jadi--apa jawaban Calix?" Lia memberanikan diri untuk bertanya.
"Humm?" Pipi Calix mengembung,dia memainkan lidahnya dalam mulut. Senyum liciknya terbit, di tariknya pinggang Lia hingga kini tubuh depan mereka merapat satu sama lain. Membuat Lia menahan napas, terlalu dekat!
"Kalo semisal cewek lagi ngambek dan marah, kira-kira hadiah apa yang mereka sukai agar luluh?"
"Umm, kalo aku jawab berarti kita pacaran?"
Tidak mengiyakan namun juga tidak menolak, Calix membalasnya hanya deheman.
"Setahuku sih-- cewek paling suka bunga atau cokelat..."
Calix manggut-manggut, menggunakan jari telunjuknya dia menarik dagu Lia yang menurunkan pandangan tidak berani bersitatap dengannya. "Kalo ngomong, tatapan lawan bicara."
Lia seolah lupa cara bernapas ketika Calix memangkas antara wajah mereka. "Thanks. Gue memang seharusnya suka sama cewek yang menyukai gue saja."
Rok Lia sudah kusut tak henti dirinya remas untuk menyalurkan rasa tegangnya, terlebih lagi wajah Calix sudah mulai miring menarget benda kenyal miliknya.
Hidung mereka sudah bersentuhan,tinggal satu centi lagi maka bibir mereka sudah menyatu, tiba-tiba sekelebat bayangan wajah Hazel melintas begitu saja menguasai memorinya, sehingga Calix spontan mendorong bahu Lia menjauh.
Meraup wajahnya gusar, Calix mengumpati dirinya sendiri. "Shiit! Lo ngapain malah keinget cewek yang udah nolak lo Calix! Dia sama sekali gak suka sama lo! Seharusnya lo belajar suka sama cewek yang lebih dulu suka sama lo agar gak bertepuk sebelah tangan, sialan!"
"Calix? Ada apa?"
"Enggak." Calix menggeleng kemudian dia melepas kacamata Lia dan mencengkeram kembali dagu Lia memaksa wajahnya bisa menghadap lurus sepenuhnya kearahnya. Dia memperhatikan setiap inci wajah ini.
"Lo gak jelek-jelek amat. Perangai lo juga gak buruk, malah menurut gue lo cewek baik kok meskipun agak--gatal? Tapi--kenapa gak bisa bikin gue merasakan sensasi aneh yah..?"
Menarik dirinya memberi jarak dari Lia, sesudah menyerahkan kembali benda ditangannya pada sang empu, Calix kemudian bermonolog. "Kayaknya otak gue udah korslet."
Tanpa berpamitan sama Lia, dia pergi dari atap meninggalkan Lia yang sedang mengatur oksigen di sekitarnya akibat kelamaan menahan napas, dia memegangi dadanya, ritme getaran jantungnya sungguh menggila didalam sana.
...*****...
Sepulang sekolah, Hazel segera pergi menjenguk Gilsha yang masih dirawat di rumah sakit.
"Isa makan dulu yah? Biar Isa cepat sehat.." Kini dia sedang mengaduk-aduk bubur cair.
"Aaaa..."
Dengan gestur mulut terbuka, Hazel hendak menyuapkannya pada Gilsha, sayangnya balita itu justru memalingkan wajahnya enggan menyambut makanan tersebut.
Hazel menoleh kearah Mama dan Papanya yang duduk di sofa seberang meminta pendapat dari mereka.
"Isa.. kenapa gak mau makan sayang..? Isa mau apa.. bilang sama Kakak ya?"
"Ica pengen ketemu Mama dan Papa.."
Hal ini lah yang paling di hindari oleh Hazel. Dia bingung harus menjawab apa kalau sudah menyangkut Tante dan Pamannya.
"Kalau Kakak bilang Mama dan Papa Isa sudah terbang jauh, Isa percaya?"
"Telbang jauh? Belalti meleka ninggalin Ica cendili?" Hazel mengusap kepala Gilsa, mata si kecil ini sudah berkaca-kaca, Hazel jadi tidak tega melihatnya.
"Enggak. Isa gak sendiri. Kan Ada Kakak.. Aunty dan Uncle juga ada. Mama dan Papa Isa sudah menghilang, mereka gak akan kembali lagi.."
"Kenapa..? Kenapa meleka ninggalin Ica..? Apakah Ica nyucahin meleka..? Atau Ica telalu nakal ya? Itu meleka campe pelgi ninggalin Ica.." Hazel benar-benar tidak tahu bagaimana cara menjelaskan hal itu pada anak sekecil ini.
"Enggak Isa.. Isa gak nakal kok, Isa juga gak nyusahin. Memang sudah saatnya Mama dan Papa Gilsha pergi. Isa sayang sama Mama dan Papa kan?"
"Cayang, cayang banget.. Ica cayang Mama dan Papa cepelti Ica cayang cama Kak Acel.."
"Tapi, Tuhan lebih sayang sama mereka. Maka Isa harus mendoakan agar Mama dan Papa Isa bisa tenang di surga." Gilsha mengangguk lesu.
"Kalau Isa mau mereka senang, Isa harus isi perut dulu, biar ada tenaga.." Imbuh Hazel, barulah Gilsha terpaksa mau melahap makanan meskipun tidak berselera sama sekali.
...*****...
Hazel keluar dari ruang rawat. Dia duduk di kursi tunggu yang terletak di lobby bersama dengan Jayden yang tersita perhatiannya.
"Gimana? Gilsha udah mau makan?"
"Udah. Dia udah habis makan."
"Kenapa di tinggal?" Jayden pengap di dalam. Jadi, dia memutuskan untuk duduk di sini, suasananya juga lebih leluasa dan renggang.
"Di dalem ada Mama dan Papa yang temenin Isa."
Jayden hanya manggut-manggut saja. Mereka berdua lanjut mengobrol sambil mengamati orang-orang yang berlalu lalang di sekitar. "Calix mana? Hari ini tumben dia gak nongol? Biasanya dia selalu ngintilin lo setiap saat."
"Itu dia Bang.. Gue bimbang.."
"Bimbang? Bimbang kenapa?"
"Gue bingung. Gue harus mengikuti kata hati atau logika? Saat hati gue menjerit menginginkan dia, di satu sisi gue juga di tampar keras oleh kenyataan. Fakta bahwa gue sudah punya anak, fakta bahwa dia berasal dari yang dunia berbeda, itu semua tak luput mempengaruhi gue ke sudut mana gue harus melepas dia."
Hazel menoleh, menemukan Jayden yang sedang memandangnya dari sudut samping. "Menurut Abang, gue harus gimana? Mengutamakan hati atau logika?"
"Kalo lo bertanya sama gue, maka jawabannya adalah hati. Ikuti kata hati lo kalo gak mau nanti lo luka atas penyesalan. Percuma logika lo selalu menolak keberadaannya kalo kenyataannya jauh di dalam hati kecil lo malah menginginkannya. Inget, bukan orang lain yang mengalami sakitnya, tapi lo sendiri."
Sesudah memberikan nasihat, Jayden lantas mengedikan bahu. "Itu hanya sekedar masukan dari gue. Terserah lo mau mengambil langkah yang mana. Gue juga gak bisa menjamin kebahagiaan lo kalo semisal milih hati. Jadi, keputusan yang sebenarnya ada di tangan lo."
*****