My Possessive Boyfriend

My Possessive Boyfriend
Episode 10 - Harvard University



3 tahun berlalu


Jonathan dan Clarissa berjalan berdampingan di koridor Harvard University yang berada di United States (Amerika Serikat)


Walaupun mereka 1 fakultas yaitu fakultas kedokteran, mereka berbeda semester.


Mesekipun mereka telah manjalankan hubungan jarak jauh, juga komunikasi mereka tidak sesering dulu, namun mereka dapat mempertahankan hubungan mereka.


Sekarang Jonathan sudah memasuki semester ke-4 dan Clarissa masih memasuki awal semester. Walaupun mereka tidak selalu sering ada waktu luang untuk keduanya, mereka masih tetap seperti semula.


Berkuliah di Harvard


University, tentu saja Clarissa


tidak dapat hidup sendiri karena ini pertama kalinya ia akan hidup sendiri jauh dengan orangtuanya. Walaupun Clarissa bukan anak yang manja, tetapi ia terus dimanjakan oleh


kedua orang tuanya.


Diana telah berpesan


kepada Jonathan untuk menjaga Clarissa selama berada di Amerika. Dan, Diana mengusulkan untuk Clarissa dan Jonathan tinggal


di satu atap yang sama. Diana


telah mempercayakan semuanya kepada Jonathan.



Matahari menerobos


kaca transparan yang


tanpa ditutupi oleh tirai.


Cahaya matahari menyambut


pagi yang cerah Clarissa. Clarissa beranjak dari ranjangnya seraya merenggangkan badannya dengan menggeliat. Lalu Clarissa segera merapikan ranjangnya. Setelah merapikan kamarnya yang di dominasikan warna putih


gading dengan warna


grey yang terkesan


sederhana, Clarissa


segera membersihkan


tubuhnya.


Setelah itu, Clarissa


bergegas menuju dapur


untuk membuat 2 piring roti


dengan selai dan 2 gelas yang berisikan susu hangat.


Setelah selesai menyiapkan


sarapan pagi, Clarissa bergegas


untuk memanggil Jonathan. Saat Clarissa berada di ambang pintu kamar Jonathan, terlihat Jonathan sedang mengusapkan handuk di rambutnya yang basah dengan bertelanjang dada.


Clarissa yang melihat


pemandangan yang menyilaukan


di pagi hari, ia segera membalikkan tubuhnya seraya menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


Jonathan yang melihat Clarissa membalikkan tubuhnya menaikkan sebelah alisnya penasaran


“Ada apa?” ucap Jonathan


seraya memakai kaos putih polos yang terlihat jelas memperlihatkan tubuh Jonathan yang proposional di umur 20 tahun


“Emh... Sarapannya sudah siap”


ucap Clarissa seraya berjalan menuju dapur


“Okay” ucap Jonathan


mengikuti Clarissa dari belakang dengan senyum yang mengembang


“Calon istri


idaman” monolog Jonathan


Jonathan dan Clarissa


duduk dengan berhadapan


di meja pantry. Mereka makan dengan tenang dan Jonathan yang terus memandang Clarissa. Clarissa yang kurang nyaman dengan perilaku Jonathan berusaha mengalihkan topik.


“Bagaimana dengan Watson


Group? Aku dengar kamu akan sidang skripsi dalam waktu dekat?” ucap Clarissa seraya mengambil piring dan gelas yang kotor


“Aku tetap akan berkutat


dengan perusahaan. Tetapi aku dibantu dengan Sekretaris dan Asisten pribadiku” kini Jonathan sudah sibuk dengan macbook di tangannya


“Aku kangen dengan


Vanetha...” gumam Clarissa pelan


“Vanetha akan


datang akhir pekan ini. Dia


sangat bosan saat kamu berada di Amerika”


“Benarkah?” ucap


Clarissa bersemangat


“Tentu saja Mrs.


Watson” ucap Jonathan dengan sedikit terkekeh


Clarissa dengan wajah


yang sudah merona yang


mirip dengan kepiting rebus


langsung mencubit perut Jonathan pelan. Jonathan tertawa keras melihat Clarissa yang merona. Ingin sekali ia langsung membawanya ke Altar


dan mengikat janji suci di


hadapan Tuhan


“Aku harap Tuhan


monolog Jonathan seraya


matanya terkunci memperhatikan gadis didepannya yang dapat membuat dirinya terpikat


“Ayo cepat rapikan barang-


barangmu yang perlu kau bawa.


Aku akan menunggu di dalam


mobil” ucap Jonathan seraya memakai jaketnya dan


langsung menyambar


kunci mobil


“Baiklah, tunggu aku”


ucap Clarissa segera mengambil tas ranselnya dan memakai sepatu


flat shoesnya


Selama di perjalanan


menuju kampus yang berjarak 5 km dari apartemen Jonathan, mereka sibuk dengan lamunanya masing-masing. Jonathan terfokus dengan jalanan yang ada didepannya, sedangkan Clarissa sedang


fokus dengan ponselnya.


Tidak lama setelah itu, ponsel


Clarissa berdering.


Yohan’s Calling


Karena Clarissa tidak membawa earphonenya, akhirnya Clarissa menjawab panggilan Yohan dengan loud speaker


“Halo? Ada


apa Yohan?” ucap


Clarissa


Karena mendengar


Clarissa menyebutkan ‘Yohan’,akhirnya Jonathan hanya mendengarkan percakapan Clarissa. Wajah Jonathan berubah menjadi muram karena Clarissa


sedang berbincang


dengan laki-laki lain


selain dirinya walaupuh


hanya dengan perantara ponsel.


“Kamu ikut berlatih


di Club paduan suara hari ini Clarissa?” suara diseberang sana


Yohan : Yohan adalah ketua


Club paduan suara di Harvard University. Yohan berkebangsaan Korea yang melanjutkan studynya di Harvard.


“Ehm... Sepertinya aku tidak bisa. Jadwalku hari ini sangat padat. Hari ini aku ada 3 kelas.” ucap Clarissa


Sesekali Clarissa mencuri


pandangan Jonathan yang terlihat muram. Bibir Clarissa terangkat karena melihat Jonathan


yang cemburu


“Lucunya Jojoku” monolog Clarissa


“Baiklah, maaf telah


mengganggumu Clarissa. Bye”


ucap Yohan seraya menyudahkan panggilan


“Bye Yohan”


Belum sempat Clarissa


menyimpan ponselnya ke


dalam tas ranselnya, Jonathan terlebih dahulu


mengintrogasinya.


“Siapa Yohan?”


tanya Jonathan dengan suram


“Yohan? Dia ketua Club


paduan suara. Ada apa dengan Yohan?” ucap


Clarissa bingung


“Never mind,” ucap


Jonathan yang mengalihkan pandangannya ke arah jalanan yang tidak terlalu padat


Mereka telah sampai


di gedung fakultas. Clarissa turun terlebih dahulu dari mobil Maybach milik Jonathan.


“Nanti pulang kabari aku,


aku akan menjemputmu” ucap Jonathan


“Apa tidak apa-apa? Aku akan pulang dengan Rachel”


“Mum memberi pasan


untukku menjagamu Clarissa, selama di Amerika” ucap Jonathan dengan tidak ingin dibantah


perkataannya


“Huft... Baiklah, aku


akan memberi kabar jika


kelasku berakhir. Bye” ucap Clarissa dengan melambaikan tangannya sebagai penutup pembicaraan mereka


“Bye, hati-hati, jangan


ceroboh!” ucap Jonathan terkekeh


...To Be Continued...