
3 tahun berlalu
Jonathan dan Clarissa berjalan berdampingan di koridor Harvard University yang berada di United States (Amerika Serikat)
Walaupun mereka 1 fakultas yaitu fakultas kedokteran, mereka berbeda semester.
Mesekipun mereka telah manjalankan hubungan jarak jauh, juga komunikasi mereka tidak sesering dulu, namun mereka dapat mempertahankan hubungan mereka.
Sekarang Jonathan sudah memasuki semester ke-4 dan Clarissa masih memasuki awal semester. Walaupun mereka tidak selalu sering ada waktu luang untuk keduanya, mereka masih tetap seperti semula.
Berkuliah di Harvard
University, tentu saja Clarissa
tidak dapat hidup sendiri karena ini pertama kalinya ia akan hidup sendiri jauh dengan orangtuanya. Walaupun Clarissa bukan anak yang manja, tetapi ia terus dimanjakan oleh
kedua orang tuanya.
Diana telah berpesan
kepada Jonathan untuk menjaga Clarissa selama berada di Amerika. Dan, Diana mengusulkan untuk Clarissa dan Jonathan tinggal
di satu atap yang sama. Diana
telah mempercayakan semuanya kepada Jonathan.
—
Matahari menerobos
kaca transparan yang
tanpa ditutupi oleh tirai.
Cahaya matahari menyambut
pagi yang cerah Clarissa. Clarissa beranjak dari ranjangnya seraya merenggangkan badannya dengan menggeliat. Lalu Clarissa segera merapikan ranjangnya. Setelah merapikan kamarnya yang di dominasikan warna putih
gading dengan warna
grey yang terkesan
sederhana, Clarissa
segera membersihkan
tubuhnya.
Setelah itu, Clarissa
bergegas menuju dapur
untuk membuat 2 piring roti
dengan selai dan 2 gelas yang berisikan susu hangat.
Setelah selesai menyiapkan
sarapan pagi, Clarissa bergegas
untuk memanggil Jonathan. Saat Clarissa berada di ambang pintu kamar Jonathan, terlihat Jonathan sedang mengusapkan handuk di rambutnya yang basah dengan bertelanjang dada.
Clarissa yang melihat
pemandangan yang menyilaukan
di pagi hari, ia segera membalikkan tubuhnya seraya menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
Jonathan yang melihat Clarissa membalikkan tubuhnya menaikkan sebelah alisnya penasaran
“Ada apa?” ucap Jonathan
seraya memakai kaos putih polos yang terlihat jelas memperlihatkan tubuh Jonathan yang proposional di umur 20 tahun
“Emh... Sarapannya sudah siap”
ucap Clarissa seraya berjalan menuju dapur
“Okay” ucap Jonathan
mengikuti Clarissa dari belakang dengan senyum yang mengembang
“Calon istri
idaman” monolog Jonathan
Jonathan dan Clarissa
duduk dengan berhadapan
di meja pantry. Mereka makan dengan tenang dan Jonathan yang terus memandang Clarissa. Clarissa yang kurang nyaman dengan perilaku Jonathan berusaha mengalihkan topik.
“Bagaimana dengan Watson
Group? Aku dengar kamu akan sidang skripsi dalam waktu dekat?” ucap Clarissa seraya mengambil piring dan gelas yang kotor
“Aku tetap akan berkutat
dengan perusahaan. Tetapi aku dibantu dengan Sekretaris dan Asisten pribadiku” kini Jonathan sudah sibuk dengan macbook di tangannya
“Aku kangen dengan
Vanetha...” gumam Clarissa pelan
“Vanetha akan
datang akhir pekan ini. Dia
sangat bosan saat kamu berada di Amerika”
“Benarkah?” ucap
Clarissa bersemangat
“Tentu saja Mrs.
Watson” ucap Jonathan dengan sedikit terkekeh
Clarissa dengan wajah
yang sudah merona yang
mirip dengan kepiting rebus
langsung mencubit perut Jonathan pelan. Jonathan tertawa keras melihat Clarissa yang merona. Ingin sekali ia langsung membawanya ke Altar
dan mengikat janji suci di
hadapan Tuhan
“Aku harap Tuhan
monolog Jonathan seraya
matanya terkunci memperhatikan gadis didepannya yang dapat membuat dirinya terpikat
“Ayo cepat rapikan barang-
barangmu yang perlu kau bawa.
Aku akan menunggu di dalam
mobil” ucap Jonathan seraya memakai jaketnya dan
langsung menyambar
kunci mobil
“Baiklah, tunggu aku”
ucap Clarissa segera mengambil tas ranselnya dan memakai sepatu
flat shoesnya
Selama di perjalanan
menuju kampus yang berjarak 5 km dari apartemen Jonathan, mereka sibuk dengan lamunanya masing-masing. Jonathan terfokus dengan jalanan yang ada didepannya, sedangkan Clarissa sedang
fokus dengan ponselnya.
Tidak lama setelah itu, ponsel
Clarissa berdering.
Yohan’s Calling
Karena Clarissa tidak membawa earphonenya, akhirnya Clarissa menjawab panggilan Yohan dengan loud speaker
“Halo? Ada
apa Yohan?” ucap
Clarissa
Karena mendengar
Clarissa menyebutkan ‘Yohan’,akhirnya Jonathan hanya mendengarkan percakapan Clarissa. Wajah Jonathan berubah menjadi muram karena Clarissa
sedang berbincang
dengan laki-laki lain
selain dirinya walaupuh
hanya dengan perantara ponsel.
“Kamu ikut berlatih
di Club paduan suara hari ini Clarissa?” suara diseberang sana
Yohan : Yohan adalah ketua
Club paduan suara di Harvard University. Yohan berkebangsaan Korea yang melanjutkan studynya di Harvard.
“Ehm... Sepertinya aku tidak bisa. Jadwalku hari ini sangat padat. Hari ini aku ada 3 kelas.” ucap Clarissa
Sesekali Clarissa mencuri
pandangan Jonathan yang terlihat muram. Bibir Clarissa terangkat karena melihat Jonathan
yang cemburu
“Lucunya Jojoku” monolog Clarissa
“Baiklah, maaf telah
mengganggumu Clarissa. Bye”
ucap Yohan seraya menyudahkan panggilan
“Bye Yohan”
Belum sempat Clarissa
menyimpan ponselnya ke
dalam tas ranselnya, Jonathan terlebih dahulu
mengintrogasinya.
“Siapa Yohan?”
tanya Jonathan dengan suram
“Yohan? Dia ketua Club
paduan suara. Ada apa dengan Yohan?” ucap
Clarissa bingung
“Never mind,” ucap
Jonathan yang mengalihkan pandangannya ke arah jalanan yang tidak terlalu padat
Mereka telah sampai
di gedung fakultas. Clarissa turun terlebih dahulu dari mobil Maybach milik Jonathan.
“Nanti pulang kabari aku,
aku akan menjemputmu” ucap Jonathan
“Apa tidak apa-apa? Aku akan pulang dengan Rachel”
“Mum memberi pasan
untukku menjagamu Clarissa, selama di Amerika” ucap Jonathan dengan tidak ingin dibantah
perkataannya
“Huft... Baiklah, aku
akan memberi kabar jika
kelasku berakhir. Bye” ucap Clarissa dengan melambaikan tangannya sebagai penutup pembicaraan mereka
“Bye, hati-hati, jangan
ceroboh!” ucap Jonathan terkekeh
...To Be Continued...