
Tok...Tok..Tok..
"Hazel... Buka pintunya sayang.. makan dulu.. jangan kaya gini.. Hazel mau bikin Mama cemas..?"
Tok..Tok..Tok..
"Hazel? Kalo lo di dalam, gue harap lo segara buka pintu. Kita pada khawatir sama lo. Dari semalam lo gak keluar-keluar dari kamar.."
Sudah tidak terhitung berapa kali Ghea dan Jayden mengetuk-ngetuk pintu, bahkan hingga menggedor-gedor daun pintu bilik kamar Hazel.
Sejauh apapun usaha mereka, hasilnya hanya sia-sia. Tetap saja tidak mendapat sahutan dari dalam sana, seolah dibalik pintu itu tidak ada penghuninya.
Dari semalam, Hazel tidak muncul-muncul, alih-alih menampakkan diri di ruangan, dimuka pintu kamarnya saja, Jayden yang bersebelahan kamar dengannya, tidak melihatnya keluar sedikitpun.
Sarapan pagi pun dia lewatkan, juga tidak masuk sekolah. Tidak biasanya dia seperti ini. Hal itu, dapat membuat mereka dilanda harap-harap resah.
Pagi tadi, Ghea meninggalkan nampan seporsi makanan didepan pintu Hazel. Mengira bahwa, mungkin Hazel akan mengambilnya kalau sudah merasa lapar.
Namun, sampai sekarang matahari sudah diatas kepala, makanan yang dia tinggalkan belum juga tersentuh sama sekali. Bagaimana mereka tidak risau?
"Bagaimana ini Jayden..? Apa jangan-jangan Adek kamu--udah ingat semuanya..?"
"Tenang Mah.. kita berdoa saja, semoga Hazel belum ingat apapun.."
Ditengah kegundahan yang menyergap mereka berdua, tiba-tiba bel rumah mereka berbunyi, Jayden yang melihat Mamanya dalam kondisi tidak memungkinkan untuk membuka pintu, berinisiatif yang turun tangan.
"Biar Jay aja yang buka, Mama tunggu disini. Kalau denger sedikit saja suara dari dalam kamar Hazel, langsung lapor ke Jay."
Jayden turun untuk membukakan pintu, dia sudah dapat menebak siapa yang datang, pasalnya tadi dia sudah memberi kabar kepada Calix. Seperti dugaannya, Calix datang berkunjung bersama dengan Kyra yang sering dijadikan oleh Hazel tumbal mengelabui Mama dan Papa mereka.
Calix sebenarnya malas harus bareng dengan Kyra. Tetapi gadis itu kekeuh ikut dengannya karena mencemaskan Hazel, belum lagi dia ingat kemarin, Hazel kelihatan aneh.
"Hazel, gimana? Belum ada tanda-tanda dia mau keluar dari kamar?" Jayden memberikan gelengan pada pertanyaan Calix. Mereka naik keatas menuju kamar Hazel.
"Tante..?"
"Nak Kyra? Kau kesini bareng siapa..?"
"Kyra bareng Calix, Tante.."
"Gimana dengan Hazel?"
"Masih di dalam, Tante sama Jay udah gedor-gedor pintunya, tapi gak ada respon sama sekali dari dalam. Mana dia belum makan dari semalam.."
"Apa mungkin Hazel gak ada di dalam? Tapi kemana? Kata Jay, dia gak melihat Hazel kemana-mana, suara deritan pintu terbuka pun, Jay gak dengar."
Mama Hazel uring-uringan, beliau menggigit ujung kuku-kuku jempolnya dikuasai rasa gundah. Berbagai pikiran negatif hinggap di batinnya. Kyra mengusap-usap punggung Ghea mencoba menenangkan.
"Bagaimana kalau Hazel melakukan tindakan yang nekat? Belakangan ini, Hazel tetap kelihatan baik-baik saja seperti biasa, belum pernah mengeluh atau mengadu sama kami yang bernotabe sebagai keluarganya, kami gak bisa membaca bagaimana situasi hatinya."
"Tenang Tante.. Hazel gak akan melakukan hal-hal yang aneh. Kyra kenal kok Hazel gimana orangnya. Dia, orang ceria dan tangguh, dia gak akan melakukan hal yang bodoh tanpa suatu alasan yang mendasar."
Ghea menggeleng pelan. "Kalian gak tahu Kyra.. kalian gak tahu apa saja yang dia alami semasa hidupnya." Gumamnya getir.
"Tante, saya izin mendobrak pintu kamar anak Tante, gak apa-apakan?" Mendengar permintaan izin dari Calix, membuat Ghea mengubah arah tatapan pada Jayden bermaksud meminta pendapat darinya, sang Putra melemparkan anggukan sebagai simbol persetujuan.
Setelah mendapat izin dari mereka, tanpa pikir dua kali, Calix mulai melakukan pendobrakan demi pendobrakan pada daun pintu kamar berwarna cokelat itu, sisi tubuh Calix berkali-kali membentur keras benda berbahan kayu agar terbuka.
BRAKK!!
Calix menyelonong masuk usai berhasil membuka pintu dan mengitari sekitar, netranya berpencar memindai sekeliling yang terlihat sepi. Tidak ada siapa-siapa disini selain mereka yang baru saja menerobos masuk. "Zel?! Hazel?!!"
Nihil. Mereka tidak menemukan siapapun didalam sini, namun Calix mendengar sebuah gemericik air dari dalam kamar mandi.
Calix melangkah menuju kamar mandi kala atensinya tersita kearah sana. Berencana memeriksa ditempat sana, kemungkinan Hazel berada disana.
Dan benar saja, dari ambang pintu kamar mandi yang terbuka, mempersembahkan seorang gadis dengan penampilan berantakan memeluk lututnya sambil bersandar di dinding.
"Hazel?!!" Calix diserang panik menangkap Hazel meringkuk disudut bilik kamar mandi dengan pakaian basah-basahan. Kelopak mata sembab Hazel terbuka lebar dan semakin meringkuk ketakutan.
"JANGAN MENDEKAT!!!" Pekikannya mampu menghentikan pergerakan Calix maupun yang lainnya masih ada dibingkai pintu, sementara Calix sudah berada paling dekat jaraknya dari Hazel.
"STOP DISANA!! JANGAN SENTUH SAYA HIKSSS!!!" Hazel menggeleng ketakutan, dia kelihatan benar-benar kacau balau. Bulir-bulir cairan bening kristal merembes tanpa komando dari pelupuk matanya.
Jayden merentangkan tangan, melarang Ghea dan Kyra yang hendak masuk kedalam, dia kemudian menggelengkan kepala, memberi mereka koneksi untuk tidak masuk kedalam, membiarkan Calix menangani Hazel seorang diri.
"Serahin Hazel ke Calix aja. Bisa bahaya kalo kita rame-rame masuk, nanti Hazel tambah ketakutan."
"JANGAN SAKITI GUE!!"
"Zel.. tenang..ini gue, Calix.." Merasa Hazel sudah lebih tenang walaupun masih sedikit kelihatan panik, kalut dan gelisah disaat bersamaan, perlahan demi perlahan Calix merajut langkah kearahnya dalam rasa bimbang, takut Hazel akan kembali kumat.
Tidak lupa sebelumnya dia menonaktifkan shower menghentikan aliran air agar Hazel tidak semakin basah dan kedinginan. Calix berusaha menenangkan Hazel dengan kalimat penenang.
"Gue bukan orang jahat yang akan menyakiti lo.. tenang, oke?" Calix berjongkok dihadapannya, menatap iba gadis yang kini seperti kehilangan kewarasan, manik mata indahnya yang biasa memancarkan keceriaan kini kosong dan kelam, hanya ada kehancuran didalamnya. Tubuhnya bergetar hebat.
"Hikss... Gue mohon, jangan sakiti gue.." Mendekap dirinya sendiri seolah ingin melindungi diri dari amukan seseorang, padahal disini tidak ada yang akan melukainya, bersamaan dengan netranya berpendar takut.
Kemudian antara ragu dan tidak yakin, tangan Calix terangkat, pelan-pelan menyentuh permukaan surai hitamnya. Hazel tersentak kaget membuat Calix jadi agak kelabakan. "Tenang, sayang tenang.. ini gue, Alix.. orang yang paling gak bisa melukai lo. Gue bukan orang jahat, jangan takut.."
"A-alix..?" Hazel memberanikan diri mendongak agar dapat menatap wajah lelaki ini, dibalas oleh Calix dengan anggukan dengan senyum hangat.
Tangannya masih setia mengelus kepalanya lembut, meyakinkan pada Hazel bahwa dia tidak ada niatan menganiayanya sedikit pun. "Iya. Alix, pacar lo. Sekarang, kita keluar ya dari sini? Disini dingin. Lo bisa masuk angin, ntar bisa sakit."
Hazel menggelengkan kepalanya erat, dia menutup kedua telinganya gelisah. "Gak mau! Diluar sana ada Fatur!! Nanti gue dicekik.. ditampar.. dipukul.. kepalaku bakal di benturin ke dinding lagi, gue gak mau. Gue takut.."
'Fatur?' Tertegun, hati Calix seakan teremas menyaksikan Hazel jatuh terpuruk seperti ini, kedua tangannya terkepal kuat, rasa yang begitu asing, pertama kali dia merasa seperti ini, ikut merasa terluka akan derita orang lain.
Sementara lain, mendengar curahan hati Hazel, Ghea sudah menangis tergugu diambang pintu sembari dipeluk oleh Kyra yang baru tahu akan hal baru mengenai Hazel, "Ini salahku.. ini semua salahku.." Ghea merasa tidak berguna sebagai orang tua.
"Gak ada. Orang yang lo sebutkan barusan gak ada. Diluar sana gak ada orang yang bisa melukai lo. Sini, ikut gue. Sekalipun ada dia, lo gak perlu takut, kan ada gue.."
Perasaan Hazel sedikit lebih tenang mendengar penuturan Calix barusan. Merasa tidak ada penolakan dari Hazel lalu Calix menyelipkan lengannya dipunggung juga belakang lutut Hazel, mengangkatnya untuk digendong ala bridal style.
"Iya, gue bakal lindungi lo dari orang-orang yang jahat, jadi jangan khawatir lagi sama orang-orang yang berniat melukai lo." Tiga orang yang sedari tadi hanya menonton diambang pintu kamar mandi membela jalan untuk memberikan Calix akses jalan keluar.
Hazel membenamkan wajahnya diceruk leher Calix disepanjang perjalanan mereka menuju tempat tidur. Ada sebuah rasa percaya yang dia taruh pada Calix, karena meskipun Calix orang yang kasar dan ganas, Hazel belum pernah melihat dia menyakiti Perempuan secara fisik.
...*****...
Menyambangi ruang tengah, Gilsha turun dari gendongan Ibunya, berjalan lunglai menuju Ghea yang sedang duduk disofa. "Auncy...? Kak Acel mana? Ica tapat pilacat buluk tentang Kak Acel Auncy.. jantung Ica beldebal telus.. cakit.. Ica telus ingat tengan Kak Acel.."
Ghea melirik Zayna yang berada tidak jauh dibelakang Gilsha. "Dari tadi dia merengek terus, ingin ketemu sama Hazel, bahkan sampai menangis, katanya dia gak akan tenang sebelum memastikan Hazel baik-baik saja.."
"Dia lagi istirahat dikamar." Ghea menghembuskan napas panjang, "Tadi dia kumat, memorinya pulih. Dia, sudah ingat semuanya."
"Sejak kapan?" Zayna duduk diseberang Ghea dengan raut berubah menjadi serius.
"Tadi. Atau dia sudah lama mengingatnya, tapi merahasiakannya kepada kami."
Zayna melirik Gilsha beberapa saat, "Lalu bagaimana dengan Gilsha?" Tanyanya di gelengi oleh Ghea.
"Dia tidak akan tahu tentangnya sekalipun ingatannya kembali, kami tidak pernah membahasnya dan tidak akan pernah sampai nanti, aku tidak mau Hazel--"
Ucapannya tercegah, Ghea memilih tidak menuntaskan kalimatnya karena yang menjadi bahan obrolan mereka sudah muncul dari balik deretan tangga, turun bersama Kyra, Calix dan Jayden. "Kak Acel!!"
"Eh Isa? Dari kapan Isa disini?"
"Tali tadi..Ica khawatil cama Kak Acel..."
Bukan Hazel yang menyambutnya, tetapi malah Calix yang membawanya kedalam gendongan, menatap lamat gadis kecil ini, baru kali ini dia dapat mengamatinya baik-baik dari jarak seterkikis ini, benar-benar seperti duplikat Hazel.
Bugh!
Seketika dia dibuat melongo kala mendapat tabokan dari Gilsha di kepalanya, "Lah? Kakaknya dipukul masa."
"Kakak cak kenal, kata Kak Acel kalau ada olang cak kenal alus dipukul." Perkataan Gilsha tidak fasih, tapi Calix dapat memahaminya, membuat dirinya memalingkan pandangan pada Hazel mendengar ajaran sesat Hazel.
"Ajaran lo bar-bar banget Zel. Gue tebak anak ini bakal jadi bocil kematian dimasa depan.
Sedangkan Kyra menunduk, memeriksa waktu dilayar ponselnya. "Zel, sepertinya gue pamit duluan, gue harus pulang karena Adek-Adek gue gak ada yang jaga. Mereka pasti nungguin gue dirumah. Gue gak bisa kabarin mereka karena mereka belum menggunakan hp."
"Oh iya. Gak sekalian Calix anter aja? Lagian lo dateng kesini bareng Calix kan?"
"Heh! Amit-amit gua nganterin dia lagi! Tadi aja dia maksa, kalo enggak ogah gue bareng dia!" Cetus Calix.
Kyra memutar bola matanya muak. "Lo pikir, kalo gue gak cemas sama Hazel, gue sudi numpang sama cowok jadi-jadian kayak lo?! Mumpung lu ke rumah Hazel jadi gue sekalian aja nebeng. Lagi pula, selagi ada yang gratis ngapain milih yang dipungut biaya?"
"Yaudah bayar ongkos lu! Gua nagih!" Sebelah tangan Calix teruntai, menuntut upah dari Kyra.
"Oh, jadi lu udah mengubah profesi dari cowok bajiingan menjadi tukang sopir?"
Calix menggeram. Meremas tangannya dongkol. Sekate-kate gadis ini mengatainya bajiingan padahal memang iya. "Lo--"
"Udah-udah! Kalian kalo mau berantem jangan disini, Hazel baru saja baikan, kalian jangan buat dia risih dengan pertengkaran kalian!" Sela Jayden menengahi mereka berdua.
"Salahin tuh cowok rese huh! Dahlah mending gua pulang, bye!" Dengan mencak-mencak, Kyra berlalu dari sana.
"Pulang aja dah sana cewek gak bener! Jadi beban lu disini! Gak berfungsi!" seru Calix setengah berteriak sebelum membawa Gilsha duduk lesehan di karpet bulu. Dia memusatkan perhatian pada Gilsha yang dia tempatkan pas dihadapannya dengan posisi mereka berdua sama-sama bersila.
"Sebenarnya Kakak marah gara-gara lo pukul pala Kakak tanpa sebab tadi, tapi karena muka lo mirip sama Hazel, gue maapin lu dah."
Gilsha mengerucutkan bibir, dia merasa tidak bersalah, kenapa juga dimaafkan? Dia juga tidak sudi meminta maaf pada laki-laki ini yang mana pernah berpapasan dengan dirinya dan Hazel waktu itu.
"Cil, nama lu sape?"
Gilsha memiringkan wajahnya. "Humm? Nama caya Gilcha, biaca dipanggil Ica, acal cangan cayang. Kak Acel malah kalo ada yang panggil Ica cayang." Ujarnya mendapat delikan aneh dari Calix.
"Sape yang mau panggil lu sayang, coba? Ke pedean lu, Cil."
Setelah mengambil apel beserta pisau dari meja, Hazel bergabung bersama dengan mereka berdua di karpet bulu. Kalau ada yang mencari Jayden, dia pergi ke dapur membuat minuman sekaligus mengambil camilan untuk menjamu tamu mereka.
"Nama dia Gilsha, panggil Isa aja." Hazel membantu meluruskan karena bicara Gilsha tidak jelas.
"Oh, Isa..." Calix manggut-manggut, dia mengangkat tangannya dan memberikan sentilan di dahi Gilsha, perilakunya membuat Gilsha mengadu kesakitan sambil mengusap-ngusap dahinya karena sentilan maut yang dia terima dari Calix. Jarinya yang besar sekali, jelas saja efeknya tidak main-main.
"Ih! Kakak cahat! Cangat tidak lamah! Bintang nol!"
Calix tergelak pelan, perutnya tergelitik mendengar setiap perkataan yang meluncur dari bibir mungilnya. Suara yang kecil nan imut, ditambah lagi dengan pengucapannya yang belum fasih. Gilsha sangat lucu menurutnya. "Kalo Kakak jadi Papa Isa, Isa mau?"
"Tapi Ica utah punya Papa, gimana dong..?"
Calix kembali memperbaiki posisi duduknya. "Yaudah gini aja deh. Gue jadi Papa kedua lo, mau? Nanti Kakak belikan Isa buanyaaak camilan."
"Ata ec klim cama pelmen?" Bola mata dengan manik hitam legam Gilsha berbinar-binar. Siapa yang tidak tergiur kalau iming-iminginya sudah melibatkan makanan? Apalagi anak kecil seusianya. Yang marak sekali dengan makanan yang ringan-ringan dan yang manis-manis.
"Oh tentu saja ada! Kakak belikan sekalian dengan pabriknya kalo perlu. Jadi, gimana? Isa setuju dengan tawaran Kakak?"
Calix mengulurkan tangan, disambut oleh Gilsha sehingga kedua tangan berbeda generasi itu saling bertaut seolah sedang membuat kesepakatan yang serius.
"Oke teal! Mulai cekalang Papa Ica cadi dua!" Seru Gilsha kemudian Hazel hanya geleng-geleng kepala melihat interaksi mereka berdua.
"Dia siapa? Tumben Hazel bawa teman cowok ke rumah." Zayna mengubah arah perhatiannya dari mereka kepada Ghea.
Menghirup udara ringan lalu detik berikutnya, dia menghembuskannya, arah tatapan kedua Wanita paru baya itu, menuju punggung dua sepasang remaja yang duduk membelakangi mereka. Ghea bisa merasa lebih tenang setelah melihat kondisi Hazel sudah stabil dari sebelumnya, dan itu semua berkat Calix.
"Dia pacar Hazel. Jujur saja, aku sempat stres gara-gara itu. Aku belum siap mengetahui kenyataan bahwa Hazel bergaul dengan laki-laki. Tapi, mulai sekarang aku akan membiasakan diri demi kebahagiaannya. Aku gak mau Hazel terus terkekang karena egoku. Dia juga berhak bahagia atas derita yang pernah dia alami dulu."
Zayna mengangguk-angguk mendukung keputusan Ghea. "Aku mendukung sepenuhnya keputusan yang kamu ambil Ghe. Gak semua laki-laki memiliki sifat yang sama. Mungkin ini sudah saatnya Hazel mengenal laki-laki dalam hidupnya. Kita hanya bisa berdoa, semoga laki-laki itu dapat diandalkan dan tidak akan mengecewakan Hazel."
"Iya, aku juga berharap demikian.." Gumam Ghea sependapat dengan Zayna.
*****