My Possessive Boyfriend

My Possessive Boyfriend
MPB•SAKIT DAN BUTUH DIA



Pagi harinya, Calix menyeret langkah gontai masuk kedalam mansion utama. Hari ini dia benar-benar kelihatan lemas, masuk sekolah saja dia benar-benar tidak ada niat sama sekali.


"Mami.." Lirihnya memeluk Ruby yang sedang berkutat di dapur. Maminya nampak tersentak pelan merasakan sebuah belitan menjalar diperutnya, hampir saja lauk yang ada ditangannya terjatuh.


Dapat Ruby rasakan bobot yang diatas bahu kecilnya, Calix menumpukkan dagunya disana. Biasanya setiap Calix sedang rapuh, selalu bermanja-manja dengan Maminya seperti sekarang contohnya.


"Loh? Calix? Kenapa kamu ada disini? Kamu gak masuk sekolah?"


Memindahkan makanan ditangannya keatas meja pantry, beliau memutar balikkan tubuhnya, mendongak agar menatap wajah pucat Putranya ini.


"Apa yang terjadi denganmu? Kenapa wajahmu pucat sekali?" Dengan perawakan Calix yang jangkung, Ruby harus bersusah payah menjijitkan kaki kalau ingin menggapai kening Calix.


"Ya ampun!" Mengibas-ngibaskan tangannya yang seperti baru saja terkena semburan larva api, lantas Ruby berkata. "Suhu badanmu seperti neraka! Kamu demam, Calix!"


Sesudahnya dia mengendus-endus disekitar dada Calix, mendeteksi aroma menyengat yang tidak mengenakan menguar dari tubuh anak sulungnya ini. "Kamu baru habis minum?! Kamu bau alkohol!"


Calix tidak merespon penuturan Maminya, yang ada kini dahinya sudah bersandar di bahu Wanita paru baya yang kelihatan awet muda dan cantik ini. "Mih.. nikahin Calix sama Hazel Mih.. Calix gak mau kehilangan dia, please.. nikahin kami berdua."


Intonasi suaranya terdengar merengek-rengek enteng sekali ibarat merengek meminta sebuah permen pada Ibunya. Nikah loh ini nikah! Ikatan yang sakral bukan main-main! Siapapun, tolong ingatkan pada Calix!


"Bilang ke Papi, gak perlu pake perayaan yang meriah, cukup penghulu aja, sah-nya janji sakral diantara kami, itu sudah lebih dari cukup."


Ruby meraih kedua lengan Putranya agar mereka berdua bisa bersitatap secara langsung, "Kamu sedang sakit Calix, makanya omonganmu melantur kemana-mana. Sudah ah! Jangan ngawur, mending kamu ke kamar, bersihkan tubuhmu dengan air hangat terus istirahat."


"Calix gak sedang melantur Mih.. Calix pengen kawin dengan Hazel!! Calix gak mau kehilangan dia.. dia akan ninggalin Calix, makanya Calix harus segera mengikat dia biar dia gak bisa pergi kemana-mana dari sisi Calix.. Kalo Mami sama Papi tidak mengabulkan permintaan Calix, Calix terpaksa bakal gunakan cara yang kotor.."


"Dia gak akan meninggalkanmu kalau kamu gak melakukan kesalahan apa-apa."


"Tapi Calix melakukan kesalahan.. bagaimana kalau semisal Calix sudah berjuang, tapi Hazel tetap teguh dengan pendiriannya, apa yang harus Calix lakukan?" Calix tidak bisa optimis mengingat kesalahannya.


Di lain sisi hadir sebuah tautan tidak senang di kening Ruby, dia paling benci dengan laki-laki yang melakukan kesalahan, baik itu secara sengaja atau tidak sengaja, beliau sudah pernah merasakan diposisi itu, rasanya sangat menyakitkan.


"Kesalahan apa yang kau perbuat, Calix?! Katakan pada Mami! Kau melukai Hazel?!"


Lengan Calix tergoncang pelan digoyang oleh Ruby, beliau menuntun sebuah jawaban yang seharapnya positif.


Walau terbata-bata, Calix tetap memberikan jawaban jujur sejujur-jujurnya. Dia tidak mau membohongi Ibunya sendiri.


"C-calix--pernah mengucapkan kata-kata yang melukai hati Hazel dibelakangnya, Mih.. Calix bilang akan mengambil mahkotanya. Terus, kalo Calix udah dapet, C-calix bakal membuang dia dan gak mau tanggung jawab.."


Tubuh Ruby melemas saat itu juga, setengah dari tubuhnya tersandar dipinggir meja pantry. Detik berikutnya dia menutup wajahnya diiringi isak tangis.


Calix kalang kabut ditempat, bagaimana ini?! "M-mih! Jangan nangis dong aduh!! Nanti Papi marahin Calix!


"Hikss!! Apa yang kau lakukan, Calix?! Mami dan Papi tidak pernah mengajarkanmu jadi cowok sebejat itu! Kalau kau melukai Perempuan, sama saja kau melukai hati Mami dan Thea.."


Ruby menangis sesenggukan, faktor kehamilan yang membuatnya terlalu sensitif seperti ini.


"Ruby?! Apa yang terjadi denganmu?!" Athala langsung panik ketika tiba diarea dapur, dia mendengar tangisan Istrinya dari ruangan, cukup kencang pula.


"Hikss!! Atha!! Aku jadi Ibu yang gagal Tha.. Aku gagal mendidik Putra kita yang satu ini.. Calix jadi laki-laki yang buruk, padahal aku gak pernah mengajarkan dia hal-hal seperti itu.."


Athala merengkuh Ruby, menenangkan sang Istri dengan lembut, berusaha sebaik mungkin tidak menyinggungnya sedikitpun, karena salah sedikit saja, mungkin tempat ini akan jadi medan perang. Bumil harus di baik-baikin kalau tidak mau mereka mengamuk tanpa alasan.


"Ssstt, udah-udah jangan nangis.. Kamu bukanlah seorang Ibu yang gagal. Calix disesatkan sama pergaulan, bukan karena ajaranmu mau pun ajaranku. Kita, sebagai orang tua tentu akan memberi pendidikan yang baik-baik pada anak kita. Kalau mereka melakukan hal buruk, itu berarti berlandaskan pergaulan mereka."


Athala menghunuskan sorot menusuk terlebih dulu kearah Calix, sebelum menuntun Istrinya pergi dari dapur meninggalkan Calix dengan rasa bersalah yang kian menggerogoti hatinya.


...*****...


Ke esok kan harinya, Calix benar-benar drop. Dia dilanda meriang, flu, demam, batuk kering. Kehilangan total selera makan.


"By ayolah By... Kita ke rumah cewek itu yuk, kita bujuk dia untuk menemui, Calix.. Kamu gak kasian sama Putra kita? Lihat saja, dia benar-benar kelihatan sudah gak ada gairah hidup.."


Penuh memelas Athala memohon-mohon pada Istrinya, beliau tidak tega melihat Calix yang terkapar tidak berdaya diatas ranjang dengan sebuah kompres diatas dahinya.


Satu hal yang paling ngeri, Calix mengigau sambil meracau-racau nama Hazel. Athala jadi bergidik ngeri melihatnya, mungkin nasibnya akan sama seperti Putranya kalau Ruby meninggalkan dirinya.


Ruby membuang napas berat dan menepis tangan Suaminya yang tidak henti-hentinya menarik-narik ujung bajunya, kini mereka ada di sofa bagian sudut kiri.


"Sekali aku bilang tidak yah tidak! Anggap saja ini ganjaran untuknya karena sudah menyakiti calon menantu kesayanganku!"


Tuhkan, Ruby memang patut menyandang gelar sebagai Istri sekaligus Ibu yang kejam. Dia tidak peduli sekalipun nyawa anak mereka diujung tanduk, tidak juga sebenarnya separah itu.


"Kalau kamu mau calonnya dihapus, maka cewek itu harus bersatu dengan Calix biar resmi jadi mantu bukan hanya calon menantu!"


"Nanti, kalau Calix sudah menerima karmanya baru aku pikirkan bagaimana menyatukan mereka berdua. Biarkan dia menderita dulu beberapa hari. Ku harap dengan kehilangan Hazel kali ini, dia bisa berintrospeksi diri dan bisa lebih menghargai keberadaan seseorang dalam hidupnya."


"Huwaa Ruby!!"


"Lah? Kok nangis?" Ruby melongo. Athala cengeng sekali seperti anak kecil. Syukurlah Thea kini sedang ada disekolah, kalau tidak, bisa dijamin sekarang dia sudah pusing tujuh keliling menghadapi mereka.


"Nanti Putra kita bisa meninggoy!! Kamu tega lihat hasil dari goyangan mautku metong?! Aku udah capek-capek ciptain dia!! Kamu gak kasian sama dia?! Lihatlah! Dia begitu tersiksa.."


Biar Calix nyebelinnya tingkat dewa, tidak bisa dipungkiri Athala sangat menyayangi anak sulung mereka.


"Lepas!!" Sekali lagi Ruby menampar tangan Suaminya dan keluar dari kamar Calix dengan tergesa-gesa. Disusul oleh Athala dengan rengekan permohonan.


"Yah Ruby yah..? Kita sama-sama bujuk cewek itu untuk menemui Calix.. Kalau ada pawangnya, pasti Calix langsung sembuh.." Athala menggoyang-goyangkan lengan Ruby membujuknya.


"Omong kosong! Pihak terus Putra semata wayangmu itu! Sudah tahu dia yang salah, masih terus saja di bela!" Mereka berdua beradu mulut selama diperjalanan menuruni struktur undakan tangga.


Athala dibuat menciut takut akan hardikan Ruby untuk yang terakhir kali. Istrinya ini kalau sedang mode killer, monster saja kalah seramnya. "T-tapikan, Calix juga anakmu, kita buatnya bareng kalau kamu lupa.." Cicitnya takut-takut.


...*****...


"Calix.. Isi perut dulu yah? Jangan buat Papi sama Mami khawatir... Makan, walau pun hanya sebutir nasi.." Athala benar-benar menyendok satu butir nasi bubur diantara juta triliun butir yang ada di mangkuk.


Alhasil, dia mendapat jitakan di atas kepalanya, tentu saja pelakunya adalah sang Istri. Kini Calix sudah bangun dalam keadaan yang belum bisa dibilang baik-baik saja. Namun, sudah agak lebih mendingan dari sebelumnya. Kalau dia tidur, Calix akan terus mengigaukan Hazel.


"Minggir! Biar aku yang menangani Calix, kau gak becus sekali jadi seorang Ayah. Masa iya ditawarin makan satu butir nasi?"


Athala menggaruk sisi kepalanya bingung. Dimana letak kesalahannya? "H-habisnya, Calix kelihatan gak sanggup makan sampai dua butir."


"Calix, makan dulu. Sedikit aja untuk mengganjal perutmu. Jujur saja, Mami masih kesal denganmu, tapi melihatmu seperti ini, orang tua mana yang tidak cemas?"


Tatapan kosong Calix berpendar sayu, dia mengeratkan dekapannya pada lututnya dengan tubuh terbalut selimut, punggungnya bersandar pada satu bantal yang diletakkan di sandaran ranjang.


Calix lantas melemparkan gelengan lemah pada Ibunya. "Mau Hazel Mih.. Calix gak butuh makan, Calix cuma butuh Hazel... Calix bakal mogok makan kalo belum lihat Hazel.. uhhhuk-uhhukkk!!"


Tanpa dibuat-buat, Calix terbatuk-batuk. Bahkan sebelum ini dia pernah batuk darah. Entah karena apa, tapi sepertinya sakitnya kali ini cukup serius. "Umur Calix sepertinya udah gak lama lagi kalo gak ketemu sama Hazel.."


Ucapannya sontak langsung membuat Ruby mendelik aneh. "Tuh kan By! Kita harus menemui cewek itu dan membawanya kesini!"


Masih tidak menyerah, Athala kekeuh mempengaruhi Istrinya, kali ini dia mencolek-colek lengan Ruby membuat Wanita itu menggerakkan lengannya.


Dalam satu tarikan napas, Ruby pun akhirnya memungkasi. Semarah-marahnya dia mana tega dia melihat keterpurukan anaknya ini? Dia masih memiliki hati nurani.


"Oke, fine! Mami dan Papi bakal temui Hazel dan membawanya kesini. Asal janji, kalau kami berhasil membawanya kesini, kamu harus makan."


Selain membawa Hazel, Ruby juga berencana membawa seorang Dokter ke kediaman mereka untuk memeriksa Calix. Tanggapan Calix pun sudah dapat mereka prediksi dengan akurat, dia mengangguk berkali-kali dengan sedikit antusias.


"Janji! Calix janji!"


...*****...


"Apa benar ini rumahnya?"


"Kalau dari alamat yang diberitahu sama Calix sih emang bener ini."


Pasangan Suami Istri yang terlihat berkharisma nan berwibawa itu berjalan menuju sebuah rumah sederhana setelah sebelumnya memarkirkan mobil diluar pagar.


Mereka tidak ada pilihan lain selain menjumpai Perempuan yang membuat Putra sulung mereka jadi tidak berdaya. Dari pada nanti dia sekarat, lebih baik obatnya segera dibawa.


Daun pintu dibuka dari dalam setelah Ruby menekan berulang kali bel pintu. Dari dalam sana mereka disambut oleh seorang Wanita paru baya, yang menampilkan reaksi sedikit terkejut menemukan tamu tidak dikenali dimuka pintu.


"Kalau boleh tahu, Bapak dan Ibu mencari siapa?" Tanyanya menyikapi mereka dengan sopan santun.


"Apa benar ini rumah Hazel?" Lawan bicara Ghea tidak kalah sopannya.


"Iya, saya Ibunya. Ada apa ya? Kalian siapa bisa mengenal anak saya?"


"Ah sebelumnya maaf sudah berkunjung secara mendadak. Perkenalkan saya Ruby, Ibu dari Calix dan disamping saya ini, Suami saya.."


"Ghea.." Mereka bertiga berjabat tangan sebagai perkenalan.


"Kalau begitu, silahkan masuk dulu. Kita bicarakan didalam."


"Baiklah." Athala dan Ruby mengikuti Ghea yang membimbing mereka keruangan tengah.


Usai menyuguhkan dua gelas jus untuk menjamu tamu yang terlihat tidak bisa dipandang sebelah mata itu, mereka masih berbincang-bincang sebagai basa-basi saja.


Sebelum akhirnya masuk pada inti obrolan. Ghea yang memulai. "Kalau boleh tahu, tujuan kalian kesini sebenarnya apa? Putri saya sekarang lagi di dalam kamar." Hanya Ghea yang berhadapan dengan mereka berdua, karena Ferdi sedang ada ditempat kerja.


"Gini Ghe ehm, boleh saya panggil nama saja? Agar lebih akrab dan tidak canggung, sepertinya usia kita juga tidak jauh beda, atau memang seumuran."


"Baiklah. Santai saja dengan saya. Terserah mau memanggil apapun, saya juga lebih gampang berdaptasi dengan panggilan nama."


"Baiklah. Begini, Ghea.. Putra saya, Calix sekarang sedang sakit. Singkatnya, kedua anak kita sedang menjalin hubungan dimasa pubertas mereka alias pacaran. Mungkin hubungan Putraku dan Putrimu sedang tidak sehat."


Ghea hanya menyimak dengan seksama. Kalau Athala lagi, dia hanya bisa menjadi pendengar setia, ikut nimbrung jika memang ada yang perlu dia imbuh dari keterangan Ruby atau sesekali menganggukkan kepala.


"Biasalah sebagai pasangan remaja, pasti ada kalanya pertengkaran kecil-kecilan. Dan karena itulah, Putrimu mengakhiri hubungan mereka. Kesehatan Calix terganggu, dia jatuh sakit, kelihatan parah banget, dia sampai mengigaukan nama anakmu.. Dia juga bilang gak akan makan kalau belum ketemu dengan Putrimu."


"Jadi, dengan kata lain kedatangan kami kesini dalam rangka meminta izin untuk membawa Putrimu ke rumah kami agar bisa menemui Calix. Calix sedang membutuhkan Hazel untuk sekarang.."


"Tidak!" Tegas. Sebuah tentangan dari suara bariton bernada tegas itu bersumber dari tangga, Jayden turun bersama dengan Hazel dibelakangnya.


"Jay tidak akan setuju Hazel ikut kalian!" Setibanya di tempat mereka, kala Jayden dan Hazel ikut berbaur bersama dengan mereka lantas mengambil posisi duduk ditempat masing-masing, Jayden kemudian kembali berkata.


"Seharusnya kalian tanyakan pada Putra kalian, kenapa Adik saya sampai memutuskan hubungan mereka? Tentunya memiliki alasan kan? Adik saya tidak mungkin mengakhiri hubungan kalau tidak memiliki alasan yang mendasar."


"Meskipun Adik saya enggan untuk bercerita, saya tahu dari perubahan suasana hatinya akhir-akhir ini, dia kelihatan lebih murung dan lesu."


Memalingkan diri, Hazel menatap Jayden tidak percaya. Padahal dia sudah memasang topeng setebal-tebalnya agar tetap terlihat baik-baik saja.


"Kalau saya tahu akhirnya Adik saya justru menerima luka, mending dari awal saya tidak memberi restu pada mereka berdua. Malah, kami sekeluarga sudah menaruh kepercayaan pada Putra kalian, tapi apa balasannya? Putra kalian malah menyakiti Adik saya."


Kali ini Athala angkat suara. "Kami berdua sebagai kedua orang tua Calix mewakili Putra kami yang bendel dan nakal itu untuk meminta maaf sebesar-besarnya apabila dia sudah melukai hati Hazel. Kami tidak akan memaksa, kalau Hazel tidak bersedia ikut kami."


"Kenapa Hazel harus ikut kalian?! Saya tidak akan pernah memberi izin kalian membawa Adik saya! Jangan kira, karena kalian adalah orang-orang kelas atas, kami orang kelas bawah akan selalu tunduk dan patuh pada kehendak kalian!" Sergahnya mulai naik pitam. Kedua tangannya pun sudah menggumpal.


"Jay! Jaga bicaramu! Gunakan sopan santun mu! Kau pikir lawan bicaramu siapa hah?! Mereka lebih tua darimu, hormati mereka." Sebagai seorang Ibu, jelas Ghea akan menegur apabila salah satu anaknya salah dalam mengambil langkah.


Ghea kemudian melirik Hazel yang sedang diam seribu bahasa, dia enggan memberi pendapat, lidahnya pun keluh disini. "Orang lain tidak berhak untuk memutuskan. Semuanya ada pada keputusan Hazel."


Mendengar namanya disebut, Hazel dibuat otomatis menoleh pada Ghea dengan linglung. Ghea melayangkan senyum. "Calix sedang sakit sekarang. Dia selalu mengigau dengan menyebut-nyebut namamu. Dia lagi butuh kamu."


Sementara itu, Hazel teringat kemarin lusa malam, Calix hujan-hujanan didepan rumahnya. Hari ini juga seingatnya, batang hidung Calix tidak nongol disekolah. Apakah itu penyebabnya?


"Bagaimana, Hazel? Tenang saja, kami tidak akan memaksa. Keputusan ada di tanganmu. Kami juga sadar, kalau Putra kami memang memiliki temperamen yang buruk. Maka sudah sewajarnya kau memilih untuk memutus hubungan dengannya."


Belum langsung setuju, Hazel dibuat berpikir beberapa sesaat untuk mempertimbangkan ajakan dari kedua orang tua Calix, tidak berlangsung lama dia lalu memberikan anggukan sanggup. Hatinya masih perih kalau mengingat kembali rangkaian ucapan Calix.


Namun, dia bukanlah orang yang tidak memiliki jiwa manusiawi. Terlebih lagi, kedua orang tua Calix sampai bela-belain datang berkunjung kesini, kalau begitu bukankah penyakit Calix cukup parah?


"Baiklah. Saya akan ikut kalian."


"Hazel! Lo mau apa sih hah?! Belum kapok sama yang namanya luka?! Sepertinya lo udah bersahabat dengan luka. Luka lama lo belum sepenuhnya kering, jangan ditambah lagi, nanti makin menganga."


Hazel menggenggam kedua tangan kekar Jayden untuk memberinya keyakinan bahwa dia baik-baik saja.


"Bang.. Hazel baik-baik saja kok. Emang, kalo Abang diposisi Hazel, Abang bakal tega membiarkan anak orang sakit yang sedang membutuhkan kita? Enggak kan? Kalau dia kenapa-napa, pasti ujung-ujungnya yang menyesal adalah kita sendiri."


*****