
Rega mulai memutar kembali kilas balik kepingan-kepingan masa lalu yang semestinya tidak perlu di ingat lagi.
"Permulaannya dari seorang Wanita dan gadis kecil yang dibawa oleh Bokap gue ke rumah gak lama setelah insiden kecelakaan tragis yang menimpa Nyokap gue dan merenggut nyawa Nyokap gue ketika itu juga."
"Kalo boleh jujur, gue juga benci dengan kedatangan mereka. Siapa pun di posisi kami, pasti benci saat Bokap mereka tiba-tiba membawa Wanita lain hanya dalam jangka satu minggu dari kematian Nyokap mereka."
"Iya, gue benci. Tapi, gue memilih untuk menerima dan berdamai dengan keadaan dengan lapang dada. Gue berpikir, gak seharusnya gue benci pada mereka karena mereka juga kelihatan baik. Sayangnya, logika yang gue ambil, gak berlaku pada Kak Atur. Dia gak bisa menerima kejamnya realita kehidupan yang menurutnya sangat tidak adil."
"Rasa bencinya yang terlalu besar sampai membuatnya sering kehilangan kendali. Dia memiliki kesimpulan sendiri yang dia simpan bahwa kematian Nyokap kami, ada sangkut pautnya dengan Mama Hazel. Dia memiliki prasangka buruk bahwa Mama Hazel lah yang mengatur taktik licik atas kecelakaan yang di alami Nyokap kami agar beliau bisa bersama dengan bokap kami dan menikmati harta Bokap kami."
"Dengan asumsi konyolnya itu yang membuat dia jadi menggila. Dalam kurun waktu singkat, kepribadiannya yang pada dasarnya lembut dan penuh kasih sayang seketika berubah menjadi monster yang selalu menyiksa El. El yang menjadi sasaran utamanya melampiaskan emosinya karena dia yang paling mudah untuk dia tindas."
"Dia menganiayanya. Sering main tangan, memukulnya. Gue marah di saat-saat gue gak sengaja memergokinya mencelakai El. Saat itu gue masih kecil sama seperti El. Gue dan El sekelas, tapi umur gue lebih tua setahun dari dia. Gue belum mampu membalasnya dengan perlawanan. Gak ada yang bisa gue lakukan selain nasehatin dia, memperingati dia, tapi itu gak ngaruh. Dia menutup telinga. Rasa dendamnya gak akan hilang hanya dengan nasehat yang gue berikan untuk dia."
"Sampai ketika dia sendiri yang mendengar obrolan antara Mama Hazel dan Bokap kami secara gak sengaja. Yang mana menguak sebuah fakta tentang penyebab Bokap gue menikah dengan Mama Hazel."
"Mama Hazel dan Nyokap kami nyatanya bersahabat dari bangku sekolah dasar hingga menginjak bangku SMA. Mereka terpisah saat mereka menikah dan ikut ke kota Suami mereka masing-masing."
"Saat nyawa Nyokap kami di ambang maut, dia memberikan sebuah wasiat bahwa dia mempercayakan gue dan Kak Atur pada Mama Hazel. Dia gak mau, dengan kepergiannya, kami yang bernotabe sebagai anaknya akan kekurangan kasih sayang seorang Ibu. Mama Hazel adalah satu-satunya sahabat yang sangat dia percayai untuk menitipkan kami."
"Karena itulah, Bokap kami gak ada pilihan lain selain menikahi Mama Hazel berhubung status Mama Hazel saat itu janda beranak satu."
"Terus, Ayah kandung Hazel?" Calix akhirnya membuka suara setelah cukup lama terbungkam mendengarkan cerita Rega.
"Ayah kandung Hazel adalah orang yang lemah, rentan sakit-sakitan dan berakhir menutup usia saat Hazel baru usia bulanan."
Belum usai disana. Ternyata masih panjang kenangan mereka di masa silam. Jika dibandingkan dengan kenangan kebersamaan mereka dengan Hazel dan kebersamaannya dengan Hazel, dirinya tidak ada apa-apanya.
"Terungkapnya fakta itu membawa akal sehat pada Kak Atur. Dia sadar, dia juga minta maaf sebesar-besarnya pada El bahkan sampai bersujud di kaki Hazel. Dengan sifat baik El yang mendarah daging, dia memaafkannya terlepas dari perlakuan kejam Kak Atur padanya."
"Mulai dari situ, Kak Atur membayar segala perilakunya yang buruk dengan memperlakukan El selayaknya ratu. Dia gak pernah lagi menganiayanya, meninggikan intonasi suaranya saja dia sudah segan. Dia, gak pernah membiarkan El sendiri, selalu menemaninya kemana-mana."
"Mengantar jemput El berangkat atau pulang dari sekolah. Setiap malam menemani El tidur. Kadang gue gak sengaja memergoki Kak Atur cium kening El sebelum tidur dan mengucapkan selamat malam untuknya. Kak Atur menyayanginya dengan teramat, memperlakukannya dengan sebaik-baiknya dan penuh kasih sayang yang tulus."
"Mereka berdua melewati hari-hari dengan penuh warna. Kak Atur membuat gadis kecil itu kerap melepaskan tawa tanpa beban. Memperlakukannya seperti seorang Kakak ke Adiknya. Sayangnya, tatapannya gak bisa berbohong. Benih-benih cinta terpancar jelas dari cara mereka memandang satu sama lain. Namun, status mereka menjadi tembok kokoh nan kuat yang menjadi penghalang besar mereka."
"Mereka sama-sama merahasiakan perasaan. Gak ada yang berani mengungkapkan. Mereka membiarkan perasaan itu mengalir apa adanya. Dengan kebahagiaan yang mereka jalin diatas status Adik dan Kakak, sepertinya mereka merasa itu sudah lebih dari cukup. Gue juga ada di antara mereka, tapi dunia seakan hanya berpusat pada mereka berdua. Gue bahagia hanya menyaksikan mereka bahagia."
"Gue kira, kebahagiaan mereka bisa bertahan selamanya. Tidak ketika tiba waktu suatu malam, yang mana terjadinya kasus pilu bahwa Kak Atur merenggut mahkota El secara paksa. Tentu saja secara gak sengaja dan bukan atas kehendak dari dua belah pihak."
Ini yang menjadi inti dari cerita. Calix bawaannya jadi penasaran. "Terus? Apa yang menyebabkan perkara itu terjadi?"
"Ketika malam ultah Kak Atur, temen-temen berandal Kak Atur menjahilinya dengan mencampuri obat perangsang ke minuman Kak Atur. Yang paling disesali Kak Atur sepanjang hidupnya adalah, kenapa dia pulang ke rumah saat itu? Seharusnya dia menetap dimana saja, asal jangan dirumah, maka yang menjadi korbannya bukan El dan kondisi gadis kecil itu gak akan berakhir dengan tragis."
"Susulan peristiwa kecelakaan itu juga terjadi saat El kabur dari rumah setelah melewati malam paling pahit dalam sejarah hidupnya. Dan yah, istilah dunia hanya selebar daun kelor memang ada benarnya. Pelaku tabrak lari malam itu--"
"Gue." Sahut Calix mengakui.
"Yup. Mereka berdua sama-sama di larikan ke rumah sakit dengan kondisi luka cedera yang jauh berbeda. El mendapat luka fatal, sementara Kak Atur hanya mendapat luka ringan. Sayang banget, di pemeriksaan kali itu, ditemukan bahwa Kak Atur memiliki penyakit parah, dia di diagnosa mengidap penyakit kanker hati."
"Setelah El di nyatakan koma, gak hanya sekali dua kali, kami mencoba menerobos masuk keruangan dimana dia dirawat tanpa sepengetahuan pihak rumah sakit. Gue, cuma menemani Kak Atur untuk menemui El. Apalagi setelah kami tahu bahwa insiden malam itu membuahkan satu kehidupan. Kak Atur semakin antusias dan berambisi untuk mempertahankan El di sisinya."
"Tak hanya itu, Mama El-- menentang hubungannya dengan El terlepas dari El sedang mengandung darah daging Kak Atur. Dia bersikeras memisahkan mereka berdua karena dia sudah tahu bahwa Kak Atur pernah menyiksa El dibelakangnya."
"Awalnya Mama El gak percaya bahwa Kak Atur orang yang jahat karena yang dia tahu selama mereka hidup satu atap, gak ada kecacatan dalam karakteristik yang ditunjukkan oleh Kak Atur. Dia terlihat baik dan sempurna dalam bersikap."
"Tapi siapa yang tahu bahwa Putri semata wayangnya di perkosa sama Kak Atur, dari sana akhrinya dia percaya kalau semua aduan El yang sudah berlalu adalah benar adanya."
"Papa tiri El rela melepas gelarnya demi keluarga barunya. Di kota ini, dia gak mengambil profesi lamanya mungkin karena dia ingin lebih fokus dengan keluarga barunya ketimbang pekerjaan."
"Gue yang sering mengirim pesan-pesan gak jelas ke hp lo. Ronan, dia yang membantu gue mencari pelaku tabrak lari itu dan semua bukti yang gue dapat, tertuju ke lo. Gue juga gak menyangka bahwa pacar El ternyata pelaku yang telah menabraknya hingga koma."
Calix merenung sesaat. "Lo udah lama tahu gue dalangnya. Anehnya, lo gak mencelakai gue. Seperti pesan lo, darah dibalas darah. Hazel koma, minimal lo buat gue juga koma."
"Gue--gak mau El sedih. Selama ini gue sudah hidup dalam bayang-bayang. Gue punya dua ingatan. Salah satu ingatan gue menampilkan senyum dan tawa Hazel yang tulus saat lagi bareng lo. Gue gak bisa mencelakai lo lebih parah agar El gak sedih lagi."
"Punya dua ingatan, maksud?" Calix memiringkan wajah, pandangannya tertuju pada Rega.
"Lo percaya gak dengan adanya alter ego?"
"Antara percaya gak percaya sih. Gue juga belum pernah lihat langsung orang yang memiliki kepribadian ganda." Seperti itulah kira-kira keyakinannya.
Dia agak percaya karena kasus tersebut sudah ditetapkan ada. Namun, di satu sisi Calix tidak akan percaya sebelum melihatnya secara langsung.
"Lantas, bagaimana menurut lo dengan kepribadian yang tercipta dari jiwa orang yang sudah gak ada?"
Sistem otak Calix semakin tidak bisa menampung pemaparan Rega, sedikit lagi mungkin akan meledak ibarat bom nuklir. Ditambah lagi kepalanya terasa berdenyut perih dan panas karena demamnya belum sepenuhnya turun.
Paras rupawan-nya menunjukkan garisan kerut bingung berupaya untuk berpikir keras sekeras-kerasnya. Dia kesulitan dalam menelaah masuk Rega. "Wait, gue nge-lag."
"Lo udah tahu kalo Kak Atur udah gak ada?" Tanyanya diangguki oleh Calix.
"Gue sering menyebutnya dengan raga gue dirasuki sama arwah Kak Atur di saat-saat tertentu. Tapi faktanya, jiwa Kak Atur tumbuh di satu sisi jati diri gue dan jadi kepribadian gue yang lain. Gue juga gak ngerti, ada suatu masa gue tiba-tiba bangun ditempat yang asing. Gue juga sampai di kota ini gak dalam keadaan sadar, Kak Atur ngambil alih raga gue."
"Mau disebut gue dirasuki, anehnya ingatan yang dimiliki Kak Atur dan semua yang dia tangkap juga jadi menyatu dalam memori gue. Itu benar-benar fenomena paling aneh dan kali pertama kali gue alami."
"Tapi--semenjak dimana Kak Atur menghabiskan waktu bersama El memenuhi wishlist El, gue gak pernah lagi mengalami hal-hal yang aneh setelahnya, gak pernah lagi berkeliaran kemana-mana tanpa adanya kesadaran. Sepertinya--Kak Atur benar-benar udah pergi setelah tahu bagaimana perasaan El yang sebenarnya. Terlebih lagi, dia juga tahu seluruh penderitaan lo setelah putus dari El."
"Mungkin--dia pergi setelah memastikan perasaan kalian sama. Gue, cuma pengen dia tenang di alam sana, itu saja."
"Jadi--yang memukuli gue habis-habisan malam itu pake tongkat bisbol siapa? Lo atau Kakak lo?"
"Bentar? Lo tahu dari mana kalo--"
"Kalung." Calix memotong cepat kalimat Rega hingga separuhnya dia telan kembali. "Kalung berinisial F yang lo pake. Dari lo muncul di sekolah SMA Gardenia, gue udah tahu dari awal kalo yang membahayakan gue di malam itu adalah lo melalui kalung yang lo pakai. Gue gak tahu sih siapa temen lo saat itu. Yang jelas ada satu hal yang menjadi titik terang, salah satu dari dua orang itu adalah lo."
"Kalo gue bilang setiap yang melakukan kekerasan adalah Kak Atur, lo percaya?"
Calix hanya mengedikan bahu tak acuh. "Yang lo bilang aja belum sepenuhnya gue percaya."
"Baik di malam itu, di parkiran dan-- di aula adalah Kak Atur, raga gue di kuasai oleh jiwanya. Gue gak bisa mengontrol diri gue kalo semisal dia mengambil alih tubuh gue. Dunia gelap, gue seperti tertidur pulas. Tapi saat gue bangun, semua yang di lakukan oleh Kak Atur tersimpan di dalam memori gue."
Berdiri dari duduknya, Calix memutar-mutar bahunya yang pegal-pegal. "Gue gak peduli mau pelakunya Kakak lo atau pun lo. Yang penting, gue udah tahu cerita detail masa lalu Hazel. Urusan kita berakhir disini. Gue udah gak punya urusan lagi sama lo."
"Bentar." Rega ikut bangkit sembari melepas kalung yang dia kenakan sedari lama, dia mengambil tangan Calix dan meletakkannya di telapak tangannya.
"Gue gak berhak menyimpan kalung ini. Tolong, kasih ini kepada El. Dia, yang bantu Kak Atur milihin kalung ini. Sebenarnya gue juga diamanahkan Kak Atur untuk menitipkan El dan anak mereka ke gue sebelum dia meninggal, sayangnya gue gak bisa. Selain perasaan El yang hanya tertuju ke lo, gue juga udah memiliki tambatan hati, dia udah nunggu gue disana. Dia juga setiap malam menghubungi gue dengan omelan-omelan khasnya."
Calix memakai kembali tudung hoodie nya. Kalung yang diberikan oleh Rega dia genggam. "Lo pikir gue peduli? Tapi thanks deh udah mau cerita. Gue pamit."
Detik demi detik, wujud Calix perlahan mulai menjauh sejalan dengan rajut langkahnya. Rega hanya bisa menyorotnya dalam diam.
*****