
"Tadi gue memimpikan Kak Atur..."
Tatapan Hazel benar-benar kosong. Dalam posisi bersandar di bahu Calix, Hazel hanya menerawang lurus kedepan terus menerus sejak tadi. Kini mereka ada di sudut ruangan rumah Hazel.
Kemarin mereka sempat beradu argumentasi, akan tetapi Hazel tidak mengambil pusing itu dulu, untuk sekarang dia sedang butuh tempat bersandar.
"Terus?" Calix mengusap punggung tangan Hazel yang berada dalam genggaman hangatnya. Kedua tangan mereka bertaut.
"Gue bener-bener gak ngerti, dia bilang menitipkan Isa ke gue, padahal tanpa dia bilang begitu, gue juga tetap akan mengasuh Isa karena dia anak gue juga. Sebagai seorang Ibu, sudah menjadi tugas gue untuk menjaga dan mendidiknya.."
"Lalu bagaimana? Lo udah bisa mengikhlaskan Ayahnya?"
Hazel menghembuskan napas berat. "Berat. Ini sangat sulit. Tapi gue gak ada pilihan lain, gue di paksa keadaan untuk merelakannya. Gue, gak bisa terus-terusan hanya terpaku pada masa lalu."
"Jahat gak sih gue merasa bersyukur dia udah gak ada?" Hazel menekukkan dua keningnya tidak senang. Tangan Calix meraup wajah Hazel yang melayangkan boombastic side eye.
"Jangan marah dulu, gue cuma takut lo akan lebih memilih dia dari pada gue. Apalagi kalian punya sesuatu yang gue gak punya bareng lo. Otomatis gue akan kalah telak walau gue udah berjuang sebisa mungkin."
"Sudah pasti sih.. Lagi pula apa alasan gue harus memilih lo? sedangkan dengan dia, kami sudah memiliki Isa."
Calix hanya bisa tersenyum hambar. Dia tidak bisa bertahan lama dengan topik obrolan ini. Hatinya tidak kuat. "Lo gak takut sama gue?"
"Eumm? Kenapa gue harus takut sama lo?" Sedikit melirik dengan ujung mata, Hazel menemukan bahwa Calix tengah melakukan hal sama, yaitu melemparkan ekor matanya.
"Dengan gertakan gue kemarin. Lo sedekat ini sama gue, emang lo gak takut suatu hari nanti gue akan melakukan hal buruk ke lo?" Terdengar kekehan kecil dari Hazel seolah beranggapan bahwa ancaman itu tidak lebih hanya lelucon semata.
"Sudah berapa kali lo menggertak gue dengan itu? Bukannya gue nggak takut sih, tapi entah mengapa gue tetap ngerasa aman sama lo."
Pandangannya menyapu ke sekeliling, Calix memastikan bahwa di ruangan ini hanya ada mereka berdua, sayangnya di sofa sana ada Ferdi dan Jayden tengah berbincang ria. Mereka tidak hanya berdua di sini.
Pada akhirnya Calix hanya mendesis sebal. "Gue pengen cium lo sialan!"
Mendengar hal itu, Hazel menegakkan punggung, dia mendengus. "Apa gue perlu pukul kepala lo dengan besi biar sadar kalo kita tinggal mantan."
"Yang baru kenal aja bisa nikah, apalagi kita masih sedekat ini? Bukan hanya yang pacaran aja bisa kontak fisik, kita juga bisa iya-iya tanpa status kok."
Hazel menoyor kepala lelaki gesrek itu. "Itu sih mau lo.."
Drrrtt..Drrttt..Drrrtt..
Merogoh sakunya, Calix mengeluarkan ponselnya yang terasa bergetar samar. Dia memeriksa entah siapa yang menghubunginya, timbul kedutan tipis di dahinya melihat rupanya adalah Papinya.
"Tumben?" Biasanya Maminya saja yang tidak jarang menghubunginya hanya sekedar menanyakan kabar.
"Hallo? Ada apa Pih?"
"Calix? Kamu lagi dimana..?" Suara orang di seberang sana terdengar parau di padu serak.
"Loh Papi? Papi baru habis nangis?"
"Siapa bilang?" Untuk selanjutnya pria paru baya itu menyungut dengan nada sendu.
"Sini, biar aku yang bicara sama Calix." Ruby mengambil alih benda pipi di tangan Suaminya.
Di tengah Ruby berbincang dengan Calix, Athala memanfaatkan keadaan dengan melilitkan tangannya di pinggang ramping Istrinya, tingkahnya amat manja membenamkan wajahnya di ceruk leher Ruby yang setia mengusap-usap kepalanya.
"Suruh Calix pulang, By.." Lirihnya.
"Mih? Papi kenapa? Mami sama Papi baru habis berantem?"
"Enggak.." Ruby memberikan gelengan yang tidak akan dapat di tangkap oleh Putranya yang berada di lain tempat.
"Bukan juga, gini-gini Mami Istri yang berbakti loh, Mami bukan tipikal Istri yang sering marah-marah sama Suami."
Calix mendelik mendengarnya. "Idih, selama ini Mami gak sadar?" gumamnya tidak habis pikir.
"Hari udah mulai sore, kamu lagi di mana? Kenapa belum pulang? Kamu ke apartemen lagi? Papi kamu nangis gara-gara kamu belum pulang-pulang.."
Kompornya yang beruntun mendapat rengekan dari Athala. "Ih Ruby.. Jangan bocorin itu ke Calix.. Nanti dia ledekin aku.."
Tidak, Calix tidak meledeknya, hanya dagunya yang nyaris jatuh kelantai saking tidak percayanya. Lagi, Calix melirik Hazel.
"Calix lagi di rumah Hazel, Mih.. Dia lagi butuh tempat mengeluh dan bersandar, Calix ingin selalu ada untuk Hazel, apalagi sekarang dia lagi jatuh terpuruk. Calix mau menemani dia. Mungkin Calix akan pulang agak larut hari ini.."
Ruby ber oh-ria "Baguslah, ternyata kau bukan laki-laki brengsek seutuhnya. Yang penting kau baik-baik saja. Jangan lupa pulang, awas saja kau menginap di apartemen lagi, Papimu bisa ngereog."
"Siap Mih!"
"Kalau begitu, Mami tutup teleponnya ya? Mami mau menghundle Papimu dulu.."
Tut..Tut..Tut..
Bersamaan dengan terputusnya panggilan, Hazel mencibirnya. "Ternyata lo anak kesayangan Papi.."
Calix memberikan sangkalan, atau tidak mungkin? "Enggak juga sih, tapi memang cuma Papi yang memihak gue saat Mami mengomeli gue. Gak peduli baik gue berbuat baik atau salah, dia akan memberikan gue sedikit pembelaan." Yang perlu di garis bawahi adalah, sedikit.
Detik berikutnya, atensi mereka terpecah belah, terbagi kearah tangga. Ghea turun tergesa-gesa dari sana, "Zel! Hazel!"
Tatapannya bergerilya kesana-sini mencari-cari Hazel. Menemukan Hazel lagi berada di pojokan, beliau segera menghampirinya disana.
"Ada apa Mah? Mama kaya orang yang di kejar sama hantu."
Mama Hazel kelihatan seperti orang linglung. "Gilsha Zel Gilsha! Tadi Mama di hubungi sama pihak rumah sakit memberi info bahwa Gilsha sudah siuman!"
...*****...
Setelah mendapat kabar bahwa Gilsha telah sadar, Hazel bergegas meluncur ke rumah sakit. Dia masuk kedalam ruang rawat inap Gilsha dengan terburu-buru, di susul oleh Calix di belakangnya.
Merasa ada kerusuhan di sekitarnya, Gilsha membuka kelopak netranya yang amat berat. Ternyata yang datang adalah orang yang dia tunggu-tunggu. "Kak Acel.." lirihnya.
"Iya sayang..? Ada yang sakit..?"
"Cocelat..oleh-oleh buat Kak Acel ancul hiks..." Dada Hazel seperti teremas, Gilsha masih mengkhawatirkan hal yang sepele dalam keadaannya yang terbilang jauh dari kata baik-baik saja.
Calix berdiri di sisi Hazel, memperhatikan Hazel yang sedang membelai sisi kepala Gilsha. "Gak apa-apa sayang.. Kak Hazel bisa dapetin cokelat yang banyak setelah Isa sembuh.. Sekarang, Isa harus istirahat dulu... Nanti, kalau Isa sudah pulih total, kita bareng-bareng pergi beli cokelat buat Isa juga.."
"Cakit...Badan Ica cemua cakit Kak...Ampil gak bica Ica tahan..Cakit..." Dengan mimik penuh memelas, Gilsha terisak pelan.
Untuk seukuran tubuh mungilnya harus menanggung rasa sakit yang sungguh mencabik-cabik, anak seusianya tentu hanya bisa menyalurkannya melalui tangisan.
Menggigit bibir bawahnya berupaya untuk tidak menangis di sini, Hazel berusaha untuk terlihat tangguh walau kenyatannya, dia tidak sekuat itu. Dia ikut merasakan bagaimana sakit yang dialami oleh Gilsha.
"Sabar ya sayang? Nanti sakit Isa pasti akan hilang dengan sendirinya seperti sihir.."
Ketika tangis Gilsha lama-kelamaan sudah mulai mereda, si kecil itu kembali bertutur lemah. "Kak Acel..Tadi Ica mimpi..Ica mimpi ketemu laki-laki.. dia culuh Ica panggil dia Ayah telus Kak Acel, Buna.."
Untuk memberi sepasang Ibu dan anak itu ruang interaksi berdua, perlahan-lahan Calix melangkah mundur sebelum bener-benar berlalu dari dalam sana.
*****