My Possessive Boyfriend

My Possessive Boyfriend
MPB•BERITA DUKA



"Maaf sebelumnya, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Sayangnya, Tuhan berkehendak lain. Kedua orang tuanya tidak tertolong lagi. Kabar baiknya adalah suatu keajaiban, bahwa sang anak masih bisa bertahan walaupun denyut nadinya lemah. Sebentar lagi, prosesi operasi untuk Pasien yang selamat akan segera dilaksanakan. Kami, turut berduka cita untuk keluarga yang ditinggalkan."


Keterangan dari Dokter yang menangani Zayna, Abian dan Gilsha seketika membuat Hazel terpukul saat itu juga. Bukan hanya dirinya, Ferdi, Jayden beserta Ghea sama hancurnya mendengar kabar mengerikan ini.


Ketiganya menjadi salah satu korban dari ratusan raga yang menjadi penumpang dalam pesawat rute penerbangan Malaysia-Indonesia.


Pesawat yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan tragis. Jatuh bertepatan ditengah-tengah hutan wilayah Indonesia faktor kerusakan mesin yang menelan ratusan nyawa pula. Mayoritasnya tidak selamat, hanya sedikit yang selamat dari insiden itu.


Ketika banyak korban dibawa ke rumah sakit yang ditemukan oleh tim sar dan POLRI, bersama dengan puluhan korban dengan luka serius, ketiganya termasuk dalam golongan orang-orang masih hidup walaupun dalam keadaan yang sungguh mengenaskan.


Dan hasilnya sekarang Zayna dan Abian tidak dapat tertolong lagi, hanya Gilsha yang dapat bertahan hingga detik ini.


Dalam bayang-bayang ketakutan, kini Hazel, Jayden, Ferdi dan Ghea sedang berada di lobby rumah sakit menunggu hasil operasi Gilsha yang sedang berlangsung dari sepuluh menit yang lalu.


Setelah ini, sudah dipastikan mereka akan sibuk dengan mengurus jasad dari kedua orang tua angkat Gilsha.


Seorang lelaki ber-sweater hitam dengan tudung hoodie menutupi kepala, tubuh ringkihnya berjalan lunglai menyusuri koridor rumah sakit dari arah lorong kiri. Calix mengambil langkah untuk menghampiri mereka.


Tidak ada yang menyadarinya hingga akhirnya dia memilih untuk berjongkok dihadapan Hazel yang sedang duduk disalah satu kursi tunggu. Sedari tadi gadis itu hanya menunduk dalam dengan rasa gelisah yang kian menguasai batin.


"Zel... Hazel... Are you alright?" Pertanyaan yang sangatlah bodoh yang terlontar dari mulutnya sendiri. Tidak mungkin untuk sekarang, Hazel baik-baik saja.


Membuka dua telapak tangan besarnya, Calix menampung bulir-bulir embun yang luruh dari sumbernya. Sontak, Hazel segera menyeka air matanya.


"Calix? Lo ngapain disini? Bukannya lo lagi sakit?" Hazel menatap Calix dengan kelopak juga kantung mata yang membengkak berkombinasi basah.


Calix menggenggam kedua tangan dingin Hazel. Kondisinya masih belum stabil, dia memaksakan diri untuk datang kesini setelah mendengar kabar buruk dari Maminya.


Karena, Hazel sedang membutuhkan seseorang untuk merengkuhnya, dia sedang membutuhkan seseorang untuk menguatkan dirinya, membutuhkan seseorang untuk dia jadikan tempat bersandar.


"Gue kan udah pernah bilang. Menangis juga bagian dari hidup. Menangislah, jangan ditahan.."


Bersamaan dengan penuturan Calix, air mata Hazel berjatuhan semakin deras tidak terbendung, berderai membanjiri pipinya bagaikan anak sungai, "Hiks.. gue takut.. gue takut Isa kenapa-napa... Gue takut, nasib Isa kaya Tante dan Paman.. Gue takut banget... Gue gak mau kehilangan Isa.."


Calix hanya bisa mengusap-usap punggungnya, walau tidak dapat memperbaiki keadaan, setidaknya dia bisa memberi sedikit ketegaran melalui tindakannya. "Azel gak boleh ngomong kaya gitu.. harus optimis. Berdo'a pada Tuhan agar Isa bisa selamat dan kita bisa ngumpul bareng-bareng lagi.."


Ditengah itu, tiba-tiba pintu ruang operasi terbuka memunculkan seorang perawat perempuan bermasker keluar dari sana. Mereka langsung mendekatinya. "Bagaimana dengan operasinya Sus?!"


Suster itu melepas masker sebelum menjawab pertanyaan salah satu keluarga pasien yang sedang mereka tangani saat ini. "Kami mengalami kesulitan dalam menangani pasien karena Pasien mengalami pendarahan hebat."


"Kalau begitu tunggu apa lagi! Segera carikan pendonornya, Sus! Emang, kalian akan membiarkannya begitu saja?! Kalian harus melakukan yang terbaik!" Bentak Ferdi emosi, sedih, panik bercampur menjadi satu.


Andai saja dia masih berprofesi seperti gelarnya dulu, dia tidak akan membiarkan kemungkinan terburuk terjadi seperti ini.


"Itu dia Pak, Buk. Golongan darah Pasien adalah AB, golongan darah tersebut adalah golongan darah yang langkah, sulit untuk didapatkan. Di sini pun tersedia stoknya hanya sedikit, itu pun sudah digunakan untuk beberapa pasien yang juga memerlukan golongan darah AB."


Dengan berat hati Suster menyampaikan itu. "Apa yang harus kita lakukan, Fer..?" Lirih Ghea terlihat putus asa, seiring dengan bahunya yang merosot.


"Tenang aja, kita pasti akan menemukan solusinya. Jangan terlalu panik, kita harus memikirkan ini dengan kepala dingin." Bilangnya seperti itu, tapi agaknya beliau lah yang paling panik di sini.


"Biar saya yang akan menjadi pendonornya." Atensi mereka semua terbawa kearah sumber suara yang penuh keyakinan.


"Hazel? Apa yang lo bilang? Lo kira mendonorkan darah semudah itu hah?! Darah lo bakal terkuras hingga tandas! Rasanya jiwa lo akan melayang, pusing, berkunang-kunang.. Karena yang diambil itu darah, darah Hazel.. Pikirkan baik-baik dulu sebelum mengambil tindakan."


Sekarang memang tidak ada pilihan lain. Namun, Jayden juga tidak ingin mengambil risiko lagi atas keputusan terdesak ini. Gilsha penting, Hazel juga tidak kalah pentingnya, dia takut terjadi apa-apa pada Hazel.


Pendarahan yang dialami oleh Gilsha bukan main-main. Maka pendonornya juga harus menyumbangkan darah sesuai yang dibutuhkan. Jayden takut, efek sampingnya akan lebih berbahaya dari pada yang terduga.


"Kalau ini tidak segera ditangani, maka kami tidak bisa menjamin akan keselamatan Pasien."


"Mah, Pah, Jay.. Hazel mohon, izinkan Hazel men-transplantasi kan darah Hazel untuk Isa... Dalam keluarga kita, hanya Hazel yang memiliki golongan darah yang sama dengan Isa, karena...Isa anak Hazel kan?"


Hazel mewarisi golongan darah dari Ayah biologisnya dan turun kepada Gilsha. Dengan kata lain, selain dirinya tidak ada yang lain dalam sanak saudaranya yang memiliki golongan darah demikian.


Mereka dibuat tak berkutik akan pemaparan Hazel. Ada satu tanda tanya besar yang terbesit pada otak mereka saat ini juga, Hazel tahu dari mana?


"Gak perlu ditutupi lagi, Hazel udah tahu semuanya."


"Kamu tahu dari mana, Hazel?"


"Gak penting Hazel tahu dari mana. Intinya, Hazel kecewa sama kalian karena sudah menyembunyikan rahasia yang seharusnya tidak perlu ditutupi dari Hazel.."


Sekali lagi, menghapus air matanya yang tidak kunjung kering, Hazel menghela napas berat lalu mengalihkan pandangan kepada perawat yang berdiri tidak jauh darinya.


"Ruangannya dimana Sus?" Hazel tidak ingin membuang-buang waktu lagi.


"Mari ikuti saya."


"Hazel.." Calix menahan lengannya, Hazel mendongak kesamping, disertai melepas cekalannya secara perlahan. Tidak ada yang bisa mencegahnya.


"Lo harus baik-baik saja. Jangan sampai terjadi apa-apa sama lo."


"Gue akan baik-baik saja. Lo kan paling tahu, manis dan pahitnya hidup sudah menjadi makanan gue di masa lalu, hanya mendonorkan beberapa kantong darah kan? gue gak selemah itu asal lo tahu."


Mengingat pembicaraan mereka waktu itu, Hazel pernah bilang bahwa dia ingin menyerah. Calix lantas berpesan padanya untuk menjadi penguatnya.


"Gue ikut. Kalo lo ngerasa kesakitan, jangan pernah berpikir untuk menyerah. Lo harus inget, lo gak sendiri. Ada gue yang nunggu lo diluar. Keluarga lo juga sama. Ada kami yang senantiasa ada untuk lo."


Flashback on.


Mau dipikirkan ribuan kali pun, ini benar-benar diluar logika, Hazel masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri.


Data-data yang yang tertampil dilayar kaca ponselnya, yang mengirimnya adalah Aldara. Isinya benar-benar membuatnya shock luar biasa. Pasalnya diantara deretan nama salah satu namanya tercantum disana.


Tubuhnya saja nyaris limbung ditempat. "Jadi, selama ini Mama, Papa dan Jay menyimpan rahasia ini? Kenapa..? Kalian gak seharusnya menutup rapat-rapat hal yang lebih penting dari hidup gue. Isa, adalah anak gue. Dan titipan Kak Atur padaku.." Lirihnya nanar.


Pantas saja dia merasa ada ikatan batin yang kuat diantara mereka berdua. Hazel sampai tidak bisa melukiskannya dengan kata-kata.


Bagaimana dia merindukan anak kecil itu, kasih sayangnya yang melimpah terhadap Gilsha, kesedihan Gilsha yang selalu menular padanya. Melebihi dari rasa sayang sekedar sepupu.


Dia salah dugaan selama ini, Hazel kira nama Gilsha hanya kebetulan saja serupa dengan nama yang diusulkan oleh Fatur dulu, ternyata Gilsha benar-benar anaknya. Mengapa selama ini dia tidak menyadarinya?


Hazel kembali mengambil surat yang dia simpan baik-baik didalam laci. Dia memeluknya erat ibarat memeluk sang penulis surat.


Dia tidak memiliki barang peninggalan terakhir Fatur selain ini, karena Mamanya menghapus segala jejak lelaki itu hingga tak bersisa. Dia pun sampai tidak menggunakan nama panggilannya, 'El' di kota ini.


"Maaf Kak Atur.. Maaf gue gak sempat melihat pertumbuhannya secara mendetail, El baru tahu fakta ini sekarang... Saat ini, gue udah mengerti maksud dari beberapa bait tulisan disurat mu...Tenang saja, setelah ini gue yang akan mengambil alih Gilsha, gak peduli akan kemungkinan Tante dan Paman akan menentangnya.. Gilsha, adalah anak kita.."


Flashback of.


Lain halnya dengan Ferdi, Ghea dan Jayden yang menunggu di kursi tunggu luar ruang operasi.


Kini Calix menunggu dengan perasaan resah di lobby rumah sakit dibagian luar ruangan tempat khusus men-transplantasi darah. Sepasang kakinya tidak bisa diam, terus bergerak sedari tadi menyalurkan rasa gundah yang berkecamuk hebat.


Menunduk, berdiri, mondar-mandir, duduk lagi, adalah kegiatan tidak berfaedah yang tidak luput dia lakukan untuk saat ini. "Lo harus baik-baik aja Zel.. Gak boleh ada apa-apa yang terjadi dengan lo.."


Melihat seorang Dokter dan satu orang perawat lain yang baru saja keluar dari ruangan, tanpa pikir panjang, Calix beranjak dari duduk untuk menghampirinya. "Bagaimana pendonornya Dok?"


"Pendonor kehilangan kesadaran setelah berhasil mengambil beberapa kantong darah. Dia tidak mampu lagi kalau lebih dari itu. Tenang saja, dia akan baik-baik saja. Sekarang, dia sedang istirahat. Sebentar lagi pasti dia akan segera siuman."


"Boleh saya masuk Dok?"


"Silahkan."


Calix masuk kedalam ruangan tempat Hazel usai mendapat persetujuan. Sang Dokter dan bawahannya berlalu dari sana menyerahkan kantong darah pada ruangan operasi yang memerlukan darah tersebut.


Sekarang lelaki berpakaian hoodie hitam itu duduk disebelah brangkar, membawa sebelah tangan Hazel masuk kedalam genggaman hangatnya.


Dia mencium lama punggung tangan mungilnya, lanjut lagi mengais helaian rambut Hazel yang sedikit menutupi paras cantiknya.


Wajah Hazel lebih pucat dari yang tadi. Cairan darahnya diambil bukan hanya sedikit. Oleh karena itu, bukan hal yang mengherankan dia pucat. Calix saja yang tengah tidak sehat, kalah pucatnya.


"Lo udah berusaha yang terbaik, Hazel.. Selebihnya, kita hanya bisa menyerahkannya pada Tuhan. Tuhan punya rencana. Biar takdir yang mengatur gimana baiknya. Kita tinggal nunggu hasilnya.."


Jari telunjuk Hazel memberikan sebuah konfirmasi bahwa detik ini dia telah sadar. Hanya saja dia kesulitan untuk membuka kelopak matanya, melakukan pergerakan seinci pun dia hampir tidak mampu.


Nyawanya seolah melayang. Raganya mati rasa. Dunia seakan berputar-putar rasanya. "Zel? Lo udah sadar?"


Tidak mendapat jawaban dengan lisan maka sedikit pergerakannya di jemarinya lagi yang menjadi jawabannya. Dan Calix bisa merasa lega jika begitu.


"Syukurlah.. sekarang, tinggal nunggu kabar baik dari hasil operasi Isa.. Kita, akan ngumpul bareng-bareng lagi. Gue, pengen merancang masa depan bareng lo, dan Isa. Kita bertiga, akan menjadi keluarga kecil di masa yang akan datang."


Terdengar kekehan lucu selepasnya. Sayup-sayup mendengar penuturan konyolnya, ada sebuah keinginan besar yang terselip dalam kekesalan Hazel, seketika dia ingin menyumpal mulut Calix menggunakan batu untuk sekarang.


Sialnya, dia tidak bisa bergerak. Dalam hati juga dua terheran-heran. Bisa-bisanya Calix sesantai ini setelah tahu fakta bahwa dirinya sudah memiliki anak dari lelaki lain.


Calix sudah tahu kenyataan dirinya pernah di lecehkan di masa silam, tidak menutup kemungkinan bahwa mungkin dia juga sudah tahu fakta yang kedua. 'Apakah dia sudah tahu dari awal?'


"Gue sengaja bilang ini saat keadaan lo lagi gak berdaya, karena ketika lo lagi fit, maka yang gue dapat kalo bukan sebuah penolakan, maka kemurkaan dari lo."


Calix sudah mulai berangan-angan. Hazel sampai geli mendengarnya. Kalau sekarang kondisinya sedang memungkinkan, bisa dijamin dia sudah muntah ditempatnya.


"Gue gak mau tahu, pokoknya nanti kita harus sampe pelaminan. Selain Gilsha, gue pengen nambah anak yang banyak biar rumah kita nanti ramai seperti panti asuhan. Iya kan, Zel? Biar gue yang jaga dan melindungi kalian. Setuju gak setuju, gue harap lo harus bersedia."


'Dih, kok maksa?' Diwaktu yang sama, Hazel menggeram dalam diam. Tidak tahu entah saat ini dia harus berduka atas kepergian Tante dan Pamannya atau harus marah pada lelaki titisan iblis ini. 'Sialan nih cowok!'


*****