
..."Skenario lucu yang gue ciptakan dalam ekspetasi gue adalah tinggal untuk menjadi penyembuh lo. Kalo luka lo sudah mengering, gue bakal membuang lo dan mungkin, akan kembali menorehkan luka yang dalam untuk lo. Jahat? Hahaha iya, itu fakta."...
...-Calix...
..."Goreskan luka dalam jiwaku. Jika kamu berhasil, kuakui kamu manusia paling hebat."...
...-Hazel...
...*****...
Ruangan kelas IPA 5 terdengar ricuh layaknya pasar. Berbagai aktivitas yang mereka lakukan secara berkelompok sebelum Guru masuk. Sebagiannya yang main game, bergibah kemudian menyanyi seraya memukul-mukul meja dijadikan sebagai drum dadakan.
Ada juga yang mengerjakan pekerjaan rumah yang akan diantar usai istirahat pertama sementara menunggu Guru yang akan memasuki kelas.
"Oy Farel! Lo, udah ngerjain PR Matematika, belom?!" Mengantongi ponselnya menyudahi bermain game, Calix pun menoleh kearah Farel yang bersebelahan dan bangkunya.
"Udah lah."
Calix merampas buku tugas yang terletak diatas bangku Farel, "Contek. Gue belum kerjain sat, kelupaan gue. Ck, gara-gara para mainan yang gak ada hentinya meneror hp gue. Gue harus respon semua baru pada kicep."
Farel merebut kembali bukunya dari Calix. Salahnya, dia meletakkan buku itu disana. Seharusnya dia simpan di tas saja tadi. Lagi pula giliran mata pelajaran matematika nanti diurutan ketiga usai waktu istirahat.
"Heh enak aja lu! Sama Candra aja sana! Hush! Hush! Perasaan dari lalu, gua mulu yang jadi sasaran."
"Gue udah coba mintai dia contekan, tapi Candra orangnya kelewat pelit, persyaratannya yang dia ajukan bikin gua gak sanggup."
"Apa emang?"
"Dia minta salah satu mainan gue untuk dijadikan pacarnya."
"Yah tinggal kasih aja kan? Lagian cadangan lu juga banyak. Hilang satu tumbuh seribu. Gak bakal ngaruh. Anggap saja sedekah kepada yang lebih membutuhkan."
"Gue bisa sumbangkan ke dia semua mainan gue kalo perlu. Gue juga udah gak butuh. Masalahnya, gak ada diantara mereka yang mau sama Candra."
"Sulit kalo gitu mah. Kagak cakep gak aman!"
"Heh tampang gue masih masuk standar ya! Cuma cewek-ceweknya aja yang terlalu pemilih!" Akhirnya sang pemilik nama ikut nimbrung dengan pulpen yang dia todongkan.
Calix mengabaikan, dia ingin merebut buku tugas Farel lagi dan lagi, namun alih-alih mengikhlaskan, Farel malah tidak sudi memberikan contekan lagi pada Calix. Alhasil terjadi aksi saling tarik-menarik, memperebutkan buku tersebut.
"Lo apa apaan sih Lix?! Usaha sendiri dong! Lo kira ngerjain tugas seenak bercocok tanam?! ngerjainnya menguras energi dan otak, men!" Farel memasang gaya jari telunjuk dan kelingking.
Calix sendiri menunjuk wajahnya yang menafsirkan ke lempengan. "Emang ada tampang-tampang gue peduli sama usaha lu?! Yang intinya gue nyontek, titik gak pake koma! Selebihnya mau perjuangan lu sampe meditasi di gunung bromo, gua bodo amat."
"Kalo Tuannya gak kasih yah seenggaknya SD! Sadar diri!! Sekalipun lo nembak gua pake senjata api, gue tetap gak bakal kasih lo contekan! Asal lu tahu yah? Gua gak takut lagi sama lo!" Farel membusungkan dadanya menantang Calix.
"Marlboro satu bungkus, bagaimana?!"
"Oke Deal!" Farel membanting buku paketnya diatas meja Calix, sedangkan Calix sumringah penuh kemenangan. Dia yang paling tahu, sogokan apa yang paling efektif, tidak lain dan tidak bukan adalah rokok mahal.
Candra hanya bisa geleng-geleng seraya menggumam heran. "Katanya, sekalipun ditembak sama senjata api gak bakal kasih, tapi di iming-imingi marlboro malah langsung gas, hedehh.. punya sohib gini amat.."
"Woy! Ada Ibu Eta terangkanlah woy!"
Dengan kelimpungan, anak-anak kembali ketempat duduk masing-masing, hiruk-pikuk yang awal mulanya mengisi keramaian dalam kelas itu, seketika menjadi sunyi saat seorang Guru Wanita bahasa inggris memasuki ruangan tersebut.
"Good morning, class!"
"Morning too Ma'am!" Sahut seisi kelas serentak.
"How are you, students?"
"Fine Ma'am!"
Seorang Guru yang bernama Greta menepuk-nepuk tangannya meminta seluruh atensi warga kelas. Saking jahilnya anak-anak kelas ini, mereka sampai menjuluki Greta sebagai Ibu eta terangkanlah dibelakangnya tentunya.
"Perhatian anak-anak! Hari ini kelas kita kedatangan murid baru."
Ternyata Bu Greta tak sendiri. Menyusul-lah seorang murid lelaki memasuki pintu kelas, ketika itu langsung mengundang kehebohan, murid perempuan mayoritasnya paling lebay kalau kata cowok-cowok yang iri dengki.
Terlebih, tampang anak baru itu bisa menjadi saingan berat laki-laki yang diidolakan satu sekolah. Siapa lagi kalau bukan Calix?
"Eh? Buset! Gua gak nyangka dia jadi murid dikelas kita!"
"Bukannya yang di koridor tadi gak sih?! Cowok yang sempat jadi trend topik hangat sebelum kita masuk kelas?!"
"Demi apa?!"
"Visualnya cok! Bukan main!"
"Finally! Karakter fiksi ku akhrinya menjadi nyata!!"
"Elah norak banget dah betina! Jelas-jelas cakepan gua kemana-mana!!" Sewot Candra menyugar rambutnya kebelakang sengaja menebar pesona mautnya, malah mendapat sorak ejekan para cewek juga hamburan bongkahan kertas yang dilempar kearahnya.
"Huuu! Sok iye lu bang! Bayar dulu noh utang lu di kantin! Udah nunggak tahunan!"
"Berhubung saat ini kelas bahasa inggris, silahkan, perkenalkan dirimu menggunakan bahasa inggris." Pinta Bu Greta pada siswa yang kini ada disisinya, dia disambut dengan anggukan patuh sang empu.
Ruangan menjadi hening kala suara khas lelaki itu dengan fasih melantunkan bahasa inggris hingga meliputi kelas saking senyapnya, tiba-tiba anak-anak menjadi bisu dadakan mendengarkan dirinya memperkenalkan diri.
"Allow me to introduce myself. My name, Regasi Delvanio Syahreza. Just call, Rega. I moved from Bandung."
"Panggil babe, bisa gak sih, Ega..?"
"Suaranya Aaa!! Demagenya gak ngotak!!"
"Ajarin gua, bahasa inggris dong Reganteng!! Gak ada yang gue ketahui selain I LOVE YOU!!"
Sekali lagi, Bu Greta menepuk tangannya untuk menginterupsi suasana yang riuh akan kegaduhan murid-murid perempuan. "So, does anyone have any questions for new students?"
Salah satu gadis mengacungkan tangan di udara mewakili seluruh siswi yang lain. "Rega! Bolehkah kami mengetahui alasanmu pindah kesini selain belajar? Mengingat ujian tidak lama lagi, pasti ada tujuan lain yang lebih penting dari pada materi pelajaran hingga kau rela bela-belain pindah jauh kesini."
Rega berusaha untuk tetap tersenyum ramah. "Sebenarnya saya tidak ingin mengungkapkan masalah pribadi saya didepan umum. Tapi, saya akan jujur. Alasan utama saya pindah kesini memang bukan hanya semata-mata untuk belajar, ada seorang Perempuan yang saya cari disekolah ini. "
"Yahh!! Udah punya crush berarti!" Murid-murid perempuan bersorak kecewa, membuat para siswa laki-laki tertawa puas diatas kekecewaan berjamaah mereka.
"Sudah! Sudah! Rega, silahkan duduk di kursi paling pojok, ditempat yang kosong sana." Bu Greta menunjuk bangku urutan paling ujung, pas dibelakang bangku Calix.
"Baik Buk." Dia adalah Rega, Regasi Delvanio Syahreza yang Hazel pikir adalah Fatur ternyata hanyalah Adik dari seorang Fatur Elvino Syahreza.
Rega melangkahkan kaki kearah bangku sesuai petunjuk, belum tiba ditempat tujuannya, ketika lewat disisi bangku Calix, dia sengaja memprovokasi dengan menendang kaki meja Calix yang sedari tadi konsentrasi menyalin contekan tanpa menghiraukan keadaan disekitar.
Merasa diusik pun, Calix langsung membanting bolpoinnya lengkap dengan menyematkan umpatan murka. "Damn! Siapa yang beran-- Lo!! Lo ngapain disini hah?!"
Oh ya ampun! Sebanyak-banyaknya kelas mengapa harus disini?! Adakah kebetulan yang terlalu kebetulan seperti ini?! Yah tentu saja! Ini pun sudah menjadi bukti. Calix mendadak merutuki skenario Tuhan.
BRAKK!!
Calix bangkit dengan gebrakan yang dia lakukan pada benda yang tidak bersalah, menyorot Rega seolah akan mengulitinya hidup-hidup.
Rega hanya melemparkan senyum miring dengan hadiah tangannya yang dia letakan diatas meja teracung jari tengah. Dibalik matanya berkilat sebuah dendam. "Fuuck you, asshoole." Desisnya.
Sukses menyulut darah seorang Calix yang memiliki stok kesabaran setipis tissue itu langsung membara dalam sekejap. "Gua dari tadi diam bangsaat! Lu sengaja cari ribut sama gua?!"
BRAKK!!
"Calix!! Apa yang kau lakukan terhadap murid baru?! Kau jangan membuatnya tidak nyaman disekolah kita. Sebagai murid lama disini, kau seharusnya membantunya memahami sistem peraturan yang diterapkan disekolah ini. Bukan malah mengajak bertengkar!" Tegas Bu Greta.
"Dia yang mulai duluan Buk!"
"Alah! Kau pikir kami disini tidak mengetahui bagaimana tabiatmu?! Tidak mungkin orang lain yang memprovokasi lebih dahulu jika bermasalah denganmu. Duduk kembali ke kursimu!"
"Calix! Udah, men! Redakan amarah lo!" Candra menarik lengan Calix yang belum kunjung melepaskan pancaran intimidasinya terhadap Rega yang kini sudah duduk di kursinya, Candra menekan bahunya guna mendudukkannya secara paksa agar suasana tegang kembali mencair seperti sedia kala.
...*****...
Disini Hazel berada. Ditepi lapangan yang mana ditengah lapangan sana ada anak-anak satu kelas dengannya asik bermain bola voli. Siang ini kelas mereka sedang dalam pelajaran olahraga berlangsung.
Dari pagi dia belum mengisi perut, dirinya benar-benar kehilangan selera makannya. Sekarang, dia sangat lemas, energinya serasa terkuras habis padahal dia hanya diam tidak melakukan apa-apa.
Begitu pula dengan saat ini, beda dari yang lainnya mencari keringat dengan aktivitas olahraga. Sejak tadi, gadis itu meringkuk dipinggir, menekukkan kakinya, dengan lengan melilit lututnya yang menopang wajahnya disana.
Dia nampak kehilangan semangat. Dadanya terasa sempit seperti ada gumpalan transparan yang menyumbat disana, dia merasakan sesak yang teramat.
'Jalaang!'
'Kalian penghancur kebahagiaan gue dan Rega!'
'Benalu!'
'Parasit!'
Indera pendengaran Hazel mendengung, tidak ada hal yang lain yang berkecamuk dalam kepalanya selain kalimat demi kalimat rendahan dan kejam.
Seiring berjalannya deretan waktu yang dirinya lalui padahal lengkara itu sudah mulai terhapus dari benaknya, hadirnya lelaki itu disekolah ini, kembali mengungkit luka lama yang belum sepenuhnya kering.
Hazel menutup kedua telinganya kalut, berharap dengan begitu, suara-suara tak kasat mata berhenti menyaluri hingga berimbas pada jiwanya. Dia menggeleng nanar, "Enggak! Enggak! Gue bukan benalu!"
"Gue dan Mama bukan parasit! Tidak! Jangan! Jangan sakiti gue.."
"Zel? Lo kenapa?" Tanpa sadar, Hazel menepis kasar orang yang menyentuh bahunya, dia menegakkan pandangan melihat keberadaan Kyra disisinya, dia berusaha menata rautnya agar tetap terlihat baik-baik saja.
Kyra menjadi bingung mendapati gelagat Hazel yang tidak normal. Dari tadi dia sudah memperhatikan Hazel.
Tidak biasanya dia kelihatan murung dan tidak bertenaga seperti ini, bahkan sampai tidak ikut bermain bersama siswa-siswi yang lain, biasanya dia yang paling antusias merealisasikan permainan olahraga. "Lo sakit?"
"Hah, enggak kok."
"Lo pucat."
"Ah--" Mata Hazel berkeliaran kemana-kemana, mencari-cari jawaban yang tepat, tidak mendapat alasan yang klise, Hazel pun melayangkan alibi menipu Kyra. "Gue--lagi kebelet pipis! Iya, gue permisi ke toilet dulu ya?"
Hazel bangkit dengan perasaan campur aduk menjauh dari lapangan, Kyra menatapnya aneh, "Apa yang terjadi dengan tuh anak? Aneh banget.." Gumamnya sebelum pada akhirnya kembali bergabung dengan anak-anak lain ditengah lapangan.
...*****...
Sepanjang hari, Hazel menjalani kegiatan disekolah dengan rasa yang tak karuan. Kenangan-kenangan kelam dimasa silam, tidak terlepas melayang di dalam otaknya.
Sehingga sepulang dari sekolah, Hazel langsung mengguyur sekujur tubuhnya dibawah air shower agar pikirannya bisa jernih, bahkan belum sempat mengeluarkan pakaian seragamnya.
Hazel menggosok-gosok seluruh bagian tubuhnya yang dapat dia jangkau, dengan sangat kasar. Syukur masih terlapisi baju, kalau tidak, mungkin kulitnya akan terkelupas sebagai dampaknya.
Isak tangis pedihnya terbawa arus suara shower yang mengiringi. Air matanya pun tak mau berhenti terus-menerus mengalir deras, namun ditutupi oleh air yang terjun dari shower. "Kotor! Gue kotor hikss!!"
"Dasar Perempuan kotor! Gak ada guna!! Lo seharusnya mati aja saat itu, Hazel! Apa gunanya lo hidup dengan kondisi lo yang sudah kehilangan mahkota lo sejak dini!"
Pukulan demi pukulan menghantam tubuhnya, tamparan berulang kali dia layangkan di pipinya untuk menyalurkan rasa depresi.
Belum cukup sampai disana, Hazel memukul-mukul kepalanya sendiri, menjambak rambutnya, mengutuk dirinya sendiri. "Arghh!!! Cewek yang kesuciannya sudah terenggut, gak ada hak untuk bahagia, Hazel!! Gak ada cowok yang mau sama cewek rusak!"
"Seharusnya lo gak hidup!! Lo cuma jadi sampah! Jalaang! Cewek murahan! Hahaha iya gua emang murahan! Saking murahnya, kehormatan gue udah hilang sewaktu gue masih kecil.."
"Hiksss... Gue benci diri gue sendiri!!" Lututnya lemas, jatuh berlutut dibawah shower, dia meraup wajahnya gusar dan meraung-raung sesenggukan.
Suaranya menjadi parau, tak ayal menepuk-nepuk kencang dadanya yang digerogoti gumpalan tak kasat mata. Sekedar menghirup oksigen saja dia merasa tidak pantas.
"Kenapa..? Kenapa gue harus selamat dari koma...? Seberapa kejam lagi takdir yang engkau gariskan untuk ku, Tuhan..? Gue gak pernah mengharapkan bahwa gue harus hidup. Gue cuma pengen mati..."
Bagaimana rasanya tenggelam dalam lautan mimpi yang indah. Yang dapat membuat kita, enggan untuk bangun dari dunia mimpi indah itu. Satu tahun, bukanlah jangka waktu yang sedikit.
Saking indah bunga tidurnya, jiwa Hazel sampai enggan untuk kembali bangkit ke dunia realita yang penuh skenario kelam. Menyakitkan, dan penuh penderitaan.
Yah, Hazel menjalani masa koma, selama satu tahun lebih. Berjuang keras hanya untuk dua kata, hidup atau mati.
Satu tahun, dia berhasil. Yah, Dia menang mengalahkan maut yang bersaing antara hidup. Ironisnya, hal tersebut bukan lah harapannya.
Dia ingin pergi, istirahat dengan tenang dalam keabadian mengakhiri segala kesengsaraan dalam semesta yang keji ini. Sayangnya, sepertinya Tuhan belum mengizinkan pergi. Takdir berkata, belum waktunya.
Dia mengalami trauma. Jatuh kedalam lubang keterpurukan. Tak ada lagi pancar kebahagiaan, tidak ada lagi senyum manis, sayapnya telah patah, kebahagiaannya hilang direnggut oleh luka.
Begitu pula dengan mentalnya telah terbunuh dengan menyedihkan. Tragis sekali bukan? Dari situ, dia mulai membangun benteng yang amat kokoh membatasi orang-orang yang ingin masuk kedalam hidupnya.
Dia tak mampu hidup berdampingan dengan spesies yang namanya laki-laki, hidup dengan kehampaan di hati dan kekosongan di matanya. Raganya seolah-olah hidup dengan jiwa yang sudah mati.
Ghea, tak tahu harus melakukan apa dimasa itu. Mungkin berkah dari Tuhan, berbulan-bulan berlalu, entah itu patut disyukuri atau tidak tapi akibat dari depresi yang dia alami, Hazel sampai kehilangan dari sepenggal memori kenangan yang melukainya dengan hebat.
Khususnya momen kebersamaannya dengan Fatur dan Rega. Hazel kembali bangkit dari keterpurukannya. Mulai dari sana, energi kehidupan Hazel kembali bangkit. Dia akhirnya membuka lembaran baru dan dapat melanjutkan hidup lagi.
Dimulai lingkungan baru, memiliki keluarga baru, sekolah baru kemudian teman baru, dia menjalani hari-harinya dengan penuh warna seperti remaja pada umumnya.
Namun, seolah takdir mempunyai skenario yang lucu, lambat laun ingatan Hazel mulai pulih saat dia dikelas sebelas. Potongan demi potongan kenangan masa silam-nya berputar-putar bagaikan teka-teki puzzle setelah akhirnya memorinya kembali utuh.
Lagi, dia merasakan kesengsaraan yang teramat perih menjalani kehidupan siang dan malam. Terlebih lagi, tanpa sepengetahuan oleh Mama, Papa dan Jayden jika ingatannya telah kembali lengkap.
Hazel sengaja tak memberitahu mereka, hanya dengan catatan tak ingin membuat mereka susah dan khawatir akan dirinya.
Kala malam mulai menyapa, dalam keadaan sendiri. Sunyi, sepi, hening. Rasa benci, dendam, rindu, sedih, kerap menyambangi jiwanya sehingga terasa bercampur aduk, memporak-porandakan ruang hatinya.
Pada akhirnya dia kesulitan tidur karena itu. Diam-diam dia mengonsumsi obat penenangan guna menenangkan batin yang nestapa dan supaya dapat masuk ke alam mimpi dengan mudah.
Sulit dipungkiri oleh Hazel bahwa seluruh penderitaan yang dia pikul, dapat sedikit terasa lebih ringan dengan kehadiran Calix di dalam hidupnya.
Sadar tidak sadar, Hazel mulai bergantung dengan lelaki itu. Menyangkal sebuah harapan yang dia letakkan, tidak dapat membohongi bagaimana perasaannya yang sebenarnya sudah jatuh. Faktanya, dunianya yang awalnya monoton, kian berwarna dengan adanya Calix disisinya.
Lalu, bagaimana jika si penyembuh ternyata malah akan kembali menambah goresan dalam segudang luka? Apa yang akan Hazel lakukan nantinya?
*****
Mulai ada titik terangnya dari sini ya🥺
Bagaimana menurut kalian dengan episode ini?
Itu yang bertanya-tanya, Fatur masih hidup atau tidak Thor? Nanti akan terungkap seiring berjalannya chapter.
Lebih ngeship Hazel sama siapa nih? Rega, Ronan atau Calix si tokoh utama laki-laki?