My Possessive Boyfriend

My Possessive Boyfriend
MPB•ONE VS TWO



Deruman sebuah motor sahut-menyahut melaju dengan kecepatan diatas rata-rata, menyusuri jalur jalanan kota yang masih ramai akan kendaraan beroperasi pada malam hari.


Calix melirik kaca spion, mengecek satu motor sport berwarna biru tua yang memuat dua orang berpenampilan misterius mengejarnya.


Yang dibelakang membawa sebuah tongkat baseball. Selain itu, pakaian mereka serba hitam, wajah mereka pun tertutupi dengan slayer.


Saking nakalnya, musuhnya meraja lela dimana-mana, tak jarang banyak yang menaruh dendam padanya. Ini bukan pertama kalinya dia diincar oleh orang-orang, bahkan sudah tak terhitung yang ke berapa kalinya.


Kendaraan tersebut kini nyaris mengimbanginya, lari kendaraan Calix sudah mencapai pada batasnya, bisa dikatakan dia membawanya dengan ugal-ugalan. Tetapi laju motor tersebut tak kalah cepatnya juga.


Seolah strategi mereka sudah dirancang sedemikian rupa, tepat di lokasi terbilang sepi, setir motornya goyah kesana-kemari disenggol oleh motor lain yang kini sudah melaju sejajar dengan laju kendaraannya, si pengendara sepertinya memang sengaja mencari gara-gara padanya.


"Nih orang ada masalah apa sih?! Sialan!"


Satu sampai tiga guncangan kuat mendarat, kepala motornya bergoyang tak tentu arah, sehingga berhasil membuatnya tak bisa mengendalikan kemudi, tanpa bisa dikontrol lagi dia berbelok kearah kanan dan nyungsep ke trotoar.


DAMN!


Calix menyingkirkan tubuh besar motornya yang menindih tubuhnya. Berdirilah dia dan membanting kuat helm yang baru saja dilepasnya dari kepala.


Sorot matanya begitu sengit menghunus kearah dua orang yang berani mencari perkara padanya. Mereka berhenti didekat Calix.


"Kalian sudah bosan hidup hah?!"


Mereka malah tergelak meremehkan, lalu turun dari motor. "Bosan hidup? Lo liat aja situasi sekarang. Dengan lo sendiri VS kami berdua, Lo kira mampu menang melawan kami? Lo udah terpojok, Tuan muda Ragaswara.."


Tuan muda Ragaswara? Mereka mengenalinya dengan sangat baik. Baiklah, Calix akan meladeninya kali ini, seru juga kayaknya jika bertarung di lokasi ini.


Senyum mengejek tersungging, dia berdecih sinis. "Cih, jangankan hanya kalian berdua, sampai nenek moyang kalian saja kalian undang kemari, tetap gua ladeni!"


Salah satunya, nampak menyerahkan tongkat baseball ditangannya ke tangan komplotannya untuk mengambil alih sebelum mengambil sesuatu dari balik jaket hitamnya.


Mengeluarkan pisau mengkilap dari sana. Keduanya merajut langkah pada Calix, "Oh? Lo yakin bakal menang?"


Tunggu? Setelah didengar-dengar lagi, salah satu suara dari mereka terdengar familiar! "Bentar-bentar. Suara lo kayaknya gak asing--"


Bugh!


Satu kali pukulan telak dari tongkat baseball berbahan besi menghantam kuat bahu Calix, "Shiit!" lawan menyerang tanpa aba-aba, sehingga dia tak dapat menghindar.


Kedua kalinya stick tersebut melayang hendak melancarkan serangan, kali ini berbeda, Calix dapat membaca gerakannya kemudian mampu menangkisnya.


Dalam waktu singkat, Calix sempat melirik, dibawah secercah cahaya temaram lampu jalan tol, dia menangkap sebuah kalung yang bertenggar dileher lawan yang membawa sebuah stick tersebut, dengan mainan salah satu huruf alfabet 'F'


Bugh!


Tendangan maut mendarat diperut lawan, berhasil membuat sang empu terjerembab ke atas jalan trotoar.


Diwaktu yang bersamaan, salah satu yang lain, menghunuskan pisau mulai ikut andil dalam pertarungan.


Hampir saja. Pisau nyaris menikam perut Calix jikalau dia tidak sigap menggenggam pisau belati tersebut. Untunglah dia mempunyai insting yang kuat dan bergerak lihai.


"Kalian siapa hah?! Kalo mau ngajak bergelut, minimal buka slayer kalian. Pengecut, cih! Berani-beraninya hanya bisa main keroyokan! By one dong kalo berani!"


Cairan darah kental, merembes dari kulit telapak tangannya yang terkena sayatan. Calix tak peduli, dia menggenggamnya kuat-kuat agar dapat menggagalkan niat lawan.


"Oh? Kami, perkenalkan. Kami adalah haters terbesar lo! Bajiingan!"


Senjata tajam tersebut terlempar kearah lain, dihempaskan oleh Calix. Kemudian berhasil mendaratkan berulang kali bogeman mentah pada rahang lawan.


Dia lengah, tak menyadari pergerakan dari salah satu musuh lainnya yang kini kembali menyerang dari belakang.


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Pukulan bertubi-tubi dari stik baseball, menghantam kepalanya. Pandangan Calix berkunang-kunang, tubuh gagahnya terhuyung-huyung sebelum dia tumbang ditempat.


Coba saja mereka hanya menggunakan tangan kosong, seberapa banyak mereka, Calix akan mengalahkannya.


Tetapi kali ini, dia kalah. Mereka berdua lebih unggul menggunakan teknik curang. Memakai senjata dan dia kalah jumlah serta kekurangan tenaga.


Terdengar erangan ironis ketika dua berandalan tersebut menginjak bahkan menendang-nendang kuat area wajahnya, bagian tubuhnya pun tak luput dari serangan mereka.


Dengan tubuh meringkuk pasrah, dia hanya bisa berlindung sebisanya dibalik kedua lengannya, walaupun itu hanya sia-sia.


Seolah belum puas, tongkat baseball juga ikut serta menghantam berkali-kali diperutnya. Dia dihajar habis-habisan oleh mereka. "Ini balasannya karena lo udah buat kesayangan gue koma!"


Kesayangan? Siapa yang dia maksud? Calix tak bisa berpikir lebih jernih, hanya rasa sakit yang mendominasinya sekarang. Nyeri sekali, perihnya minta ampun kala pukulan demi pukulan bertubi-tubi mendarat dari segala arah bagian tubuhnya. "Bangsaat kalian!! Arghhh!!"


"Bahkan ini belum cukup! Karena lo udah buat dia hampir mati!"


Ditengah aksi penganiayaan tersebut, tiba-tiba terdengar bunyi sebuah sirine mobil polisi. Baru kali ini untuk Calix jika bunyi itu membawa berkah untuknya. Biasanya, selalu dia hindari.


Kali ini ada perlindungan yang turun dari langit, penyelamat menghampiri. Benar saja, suara itu sontak menghentikan aksi kekerasan dua orang yang tak dikenali ini, mereka berdua saling pandang.


Suara ini terdengar tak senyaring seperti sirine mobil polisi pada umumnya, tetapi siapa yang tak panik jika mereka seandainya dipergoki oleh pihak berwajib sedang melakukan tindakan kriminalitas.


Mereka bisa berakhir mendekam dipenjara. "Siapa yang memanggil pihak berwajib?!"


"Mana gue tahu?!" Tak mungkin Calix, sementara dia sudah terkulai lemas tak berdaya, dengan kesadaran yang nyaris terenggut.


"Apa mungkin polisi yang kebetulan sedang berpatroli disekitar sini?"


"Shiit! Bodo amatlah, mending kita kabur sebelum tertangkap basah oleh polisi disini, bisa berabe urusannya!"


Tergesa-gesa mereka menaiki kendaraan mereka, memutuskan meninggalkan korban mereka seorang diri.


Tak jauh dari sana, tepatnya disebuah pohon yang cukup besar, terdapat diarea trotoar, nampak sebuah siluet seorang gadis berkaca mata bulat keluar dari persembunyiannya sambil mematikan bunyi yang berasal dari handphone-nya. Dia, Amelia.


Buru-buru dia menghampiri Calix yang kini sedang terkapar tak berdaya diatas jalan khusus pejalan kaki, Lia berjongkok. Menepuk-nepuk pipi Calix untuk menyadarkan. "Calix, hey.. Calix..!"


Kelihatannya dia pingsan karena kedua matanya tertutup, siapa saja sudah jelas akan kehilangan kesadaran jika dipukuli dengan brutal seperti tadi.


Dengan sisa-sisa kesadaran yang ada, sedikit saja kelopak matanya yang redup terbuka, pandangannya buram. "Humm? S--siapa..?"


"Ini gue Lia..."


"L-lia..?"


"Sini, aku bantu.." Lia membantu Calix bangun kemudian memapahnya.


Bobot badan Calix sungguh berat, Lia kewalahan memapahnya, bahkan hingga terhuyung-huyung, apalagi dia tak tahu kemana dia akan membawa lelaki ini.


"Aku harus membawamu kemana?"


"Terserah..g-gue lagi gak ada tenaga.." Jawab Calix lemah, dia sedang berusaha mempertahankan kesadarannya.


...*****...


"Sialan! Gue belum puas mukul tuh cowok bedebaah!"


Tak henti-henti, Ronan memaki-maki Calix. Dia membuka slayer-nya kemudian menghempaskan tubuhnya keatas sofa, cukup letih juga baku hantam dengan Calix.


Dia meregangkan rahang lalu meringis perih, lukanya yang awal tambah sakit ditambah pukulan Calix tadi. Hasilnya jadi dua kali lipat lebih sakit. "Ssshh, bekasnya masih sakit, fuuck!"


"Anjir! Gue ngapain lagi sih?! aduh-- seluruh badan gue pegal-pegal!" Seseorang mengomel kesal.


Lelaki lain yang mengenakan pakaian seragam dengan Ronan, memutar-mutar bahunya sambil mengambil posisi di kursi sofa tunggal.


Tak perlu heran lagi jika tiba-tiba sekujur tubuhnya terasa remuk redam. Padahal dia merasa baru terbangun dari tidur yang panjang.


Ronan terkekeh lucu dibuatnya. "Kakak lo ngambil alih raga lo lagi tadi. Dia, sampai seperti orang kesetanan, paling mengamuk sama Calix. Masih untung Tuhan memberikan Calix kesempatan untuk hidup karena dosanya masih segede bumi, belum layak berpulang ke pangkuannya."


"Ck, dasar setan! Sisa arwah aja masih nyusahin! Ujung-ujungnya gue juga yang jadi kambing hitamnya! Berantem ya berantem, tapi pikirin juga lah yang punya fisik. Dia kira imbasnya siapa yang ngerasain?! Gue juga kan?!"


"Ssst! Stop mengomel! Gue yakin, roh Kakak lu masih disini, bisa gawat kalo dia denger!"


Dia mendengus sebal, melipat kedua tangannya didepan dada. "Bodo amatlah! Dia kira gak siksa apa jadi gue?!"


...*****...


Dia meringis ngilu begitu meregangkan rahangnya, dia memegangi bahunya, tak kalah nyeri juga. DAMN! Calix menyumpah serapahi dua orang tadi, seingatnya dia tak pernah lagi berbuat ulah diluar sekolah setelah berhubungan dengan Hazel.


Apakah tadi perbuatan seseorang yang dikenalinya? Atau memang berasal dari sekolahnya?


Banyak pertanyaan-pertanyaan yang menjadi tanda tanya dalam benak Calix. Dan bahkan sampai sejauh dari sabang sampai antartika dia mempekerjakan otaknya, dia tak menemukan jawabannya.


Pasca insiden yang dia alami beberapa menit lalu kini Calix duduk di kursi depan minimarket, menunggu Lia yang sedang membelikan sesuatu untuknya didalam sana.


Tidak memakan waktu lama, Lia keluar dengan kantong kresek berada ditangannya, dia menggeser satu kursi ke dekat Calix untuk dia duduki.


"Calix, sini aku cek dulu lukamu.."


"Humm." Patuh, kali ini dia tak keras kepala mengingat betapa sakitnya luka cedera yang dia dapat. Jika tak segera diobati, luka lebamnya bisa infeksi dan berakhir wajah berharganya menjadi rusak permanen.


Calix mengarahkan wajah babak belurnya pada Lia untuk diobati. Pertama-tama dia menempelkan es batu pada luka memarnya.


"Ssshh... Sakit banget anjirr.." rintihnya lagi. Ringisannya menular pada Lia.


"Calix kenal dengan orang tadi?"


"Mana tahu? Wajah mereka saja ketutup! Awas aja kalau sampe terkuak siapa orangnya, habis tuh dua manusia gua bantai!"


"Calix jangan berantem lagi, gini jadinya.. banyak yang memusuhi Calix.."


"Bisa diem gak?! Lu gak ada bedanya sama seseorang! Orang sudah luka-luka, malah diceramahi!"


Calix teringat Hazel, apakah dia akan cemas jika mengetahui kondisinya?! Lupakan saja! Dia tak akan khawatir sekalipun dia mampus.


Sewaktu di ruang kesehatan saat itu juga, dia lebih memperhatikan Ronan, dari pada dirinya yang bernotabe Pacarnya. Hazel juga pernah bilang, akan party jikalau dia mati.


"Lo kenapa bisa ada di lokasi tadi?"


"Oh.. itu, kebetulan tempat tinggal ku di daerah sini, gak jauh dari sini. Tadinya rencana aku mau cari makan diluar, diwarung kecil yang biasa aku jajanin."


"Kenapa lo baik sama gue? Kenapa lo nolongin gue? Apa motif lo? atau jangan-jangan lo ada niat terselubung?" Tanya Calix beruntun.


Dia menatap intens gadis disampingnya, yang begitu telaten kini mengoleskan cairan antiseptik diarea wajahnya yang tertentu, dititik yang mana ada memarnya.


"Ah? Kita kan partner...gak aneh kan kalau aku baik sama kamu? Secara aku tutor kamu.. Lagian, terlepas kenal atau gak kenal sudah menjadi kewajiban sesama manusia untuk menolong satu sama lain saat ada yang lagi dalam bahaya."


Calix manggut-manggut, masuk akal juga. Lia menahan wajahnya agar tak bergerak. "Jangan bergerak dulu, aku gak bisa fokus mengobati lukamu kalau kamu bergerak.."


Tak lama setelahnya, Lia selesai mengobati lukanya, tak ketinggalan menggulung kain kasa ditangan Calix yang lebih parah walau bercak darah disana sudah agak mengering.


Dia kembali membenahi barang-barang yang di keluarkannya kembali kedalam kantong kresek.


Calix mengeluarkan sebungkus rokok lengkap dengan pemantik dari kantong celananya. Benda berbahan nikotin, sahabat sejatinya yang tak pernah alfa menemaninya kemana-mana.


Usai menyalakan, dia menyulutnya seraya menggoyang-goyangkan salah satu kakinya yang dia pangku. Diliriknya Lia yang sesekali mencuri pandang kearahnya, kelihatan sekali kalau gadis ini tertarik kepadanya.


Bukan hal yang aneh lagi, kan dia memang dikagumi jutaan Wanita. Siapa yang tak akan terpikat dengan pesonanya?


Fyuuuuu!


Dengan sikap kurang ajarnya yang sudah mendarah daging, Calix sengaja meniup asap dihadapan Lia. Semburan asap nikotin didepan wajahnya membuat Lia terbatuk-batuk.


Lia mengibas-ngibaskan tangannya guna mengenyahkan kepulan asap yang menguap dihadapannya.


"Uhhuukk-uhhuukk! Calix! Asap rokok itu gak baik buat kesehatan! Kenapa kamu tiupin kearah aku? Aku lemah dengan asap rokok.."


Mengangkat bahunya tak acuh, Calix memajukan wajahnya, menipiskan jarak yang ada diantara mereka, "Lo--suka sama gue?"


Terlalu dekat! Lia nampak menegang mendengar pertanyaan yang sama, dengan kaku dia melambai-lambaikan tangannya menepis tudingan Calix. "E-enggak! S-siapa bilang aku suka sama kamu?!"


Salah satu sudut bibirnya tertarik keatas membentuk sebuah senyum dewa. Dia mengangkat dagu Lia dengan jari telunjuk. "Mau gue buktiin?"


"Humm?" Kepala Lia otomatis bergulir ketika Calix menarik kearahnya. Kedua matanya mengerjap bingung karena tindakan Calix yang tiba-tiba ini. "Dorong gue, kalo semisal lo gak suka." Bisiknya terkesan sensual.


"K-kamu mau ngapain?!"


Cup!


Kedua netra Lia membulat sempurna. Benda bertekstur lembut dan kenyal milik Calix membungkam bibirnya.


Ya ampun! Apa yang dilakukan oleh Calix sekarang benar-benar diluar dugaan! Untung saja disekitar minimarket tempat mereka, sepi pelanggan karena sudah cukup larut.


Sekali lagi Calix mengukir senyum penuh kemenangan kala dia berhasil membuat Lia membatu dengan otak ngeblank. Tak mendorongnya, berarti tak menolaknya bukan?


Reaksi yang sama dengan Wanita-wanita lain yang mendekatinya, tak ada bedanya sama sekali, yang membedakan hanya penampilannya saja yang terkesan lugu dan cupu. Aslinya--murahan?


Cih, semua cewek sama saja!


Cekrek!


Bunyi potretan teredam oleh jarak. Dari jarak tempuh yang agak jauh, tanpa Calix maupun Lia sadari, dari arah berlawanan dari mereka, ada seorang gadis yang diam-diam memotret disela masing-masing bibir mereka bersentuhan satu sama lain.


Dia tersenyum licik, mengamati gambar yang baru saja dia tangkap, tertera jelas dilayar handphone-nya.


"Ini akan menjadi bukti akurat yang dapat menghancurkan hubungan kalian, Calix.. silahkan tersenyum senang selagi bisa. Karena, lo gak akan tahu, kapan lo akan kehilangan dia dan merenggut semua kebahagiaan yang lo rasain sekarang.." monolognya penuh makna.


Helaian bajunya sudah kusut di remas oleh Lia menyalurkan rasa gugupnya, baru saja bibir Calix bergerak saat melihat Lia menutup matanya pasrah, hendak memagutnya, tetapi deringan ponsel disakunya mengurungkan niatnya.


"Shiit! Ganggu banget anjiirr! Siapa sih yang berani-beraninya hubungi gua pas lagi momen penting kaya gini?!!"


Calix menjauhkan diri, walau mengumpat emosi, tak ayal dia mengambil benda pipi dari sakunya, disaat yang sama Lia memegang dadanya. Jangan tanyakan bagaimana kondisi jantungnya.


Dia dapat merasakan organ itu nyaris melompat dari tempatnya. Sebuah degupan antara terkejut berpadu dengan--cinta, mungkin?


Calix berdehem, mencoba untuk biasa saja ketika mengangkat telepon yang rupanya dari Hazel. "Hallo? Hazel? What's calling?"


'Hazel?' Batin Lia mengernyit tak suka.


Tangan Calix terulur, membekap mulut Lia tiba-tiba, agar dia tak membuka suara selama lelaki ini mengobrol dengan Hazel melalui panggilan suara.


"Kenapa? Lo gak suka? Gue ganggu?"


Calix sedikit gelagapan. "Hah e-enggak! Lo boleh hubungi gue kapan saja. Setiap saat pun boleh sekali."


"Lo lagi dimana?"


"Eumm? D--diapartemen! Iya gue lagi diapartemen! Kenapa?"


"Gue--dapat firasat buruk tentang lo.. lo--baik-baik saja kan?" Di balik itu, Hazel membersihkan serpihan-serpihan gelas kaca yang berserakan dilantai kamarnya.


Terdengar decitan kaki kursi kala Calix berdiri dalam seketika, tentu saja dia terkejut, karena Hazel seperti mengkhawatirkan keadaannya. "Lo--khawatir sama gue?"


"Hah? Udahlah, Lupakan! Yang penting lo baik-baik saja. Bye!"


"Shiit! Jangan ditutup dulu teleponnya anjiirrr! Lo lagi dimana sekarang?!"


"Dirumah, kenapa?"


"Bukain jendela kamar lo buat gue! Gue otw kesana!"


"Eh--"


Tut..Tut..Tut...


Mengalihkan atensinya dari handphone, Calix membuang batang rokoknya yang masih agak panjang, tak lupa menginjaknya agar memadamkan nyalanya.


Untuk selanjutnya kemudian dia meletakan lima lembar uang merah diatas meja. "Ini, ganti rugi biaya yang lo keluarin beli obat buat gue. Dan untuk ciuman tadi--anggap saja sebagai bentuk terima kasih gue karena lo udah bantu mengobati luka gue."


Lia memandang uang tunai diatas meja. Bukannya ini terlalu banyak? Dia mengeluarkan nominal uang tak sebanyak ini. Lia sedikit mendongak agar dapat menatap langsung kedua mata elang Calix. "Ini kebanyakan.."


"Anggap saja lu dapat rezeki dari sedekah gue."


"Kamu--mau kemana?"


"Lo pengen tahu?" Tanyanya diangguki oleh Lia. Calix mencondongkan tubuhnya pada Lia, membungkukkan badan agar dapat membisikan sesuatu ke telinga Lia.


"I want to go meet my queen."


Deg!


Ada gumpalan yang tak kasat mata menghimpit dada Lia. Amat sesak. "Hazel?"


Tak mengangguk, tetapi hanya melemparkan senyum sebagai sahutan tanpa kata, melalui itu, Lia sudah tahu apa jawabannya tanpa perlu dia ungkapkan secara lisan.


"Sekali lagi thanks ya udah bantuin gue. See you, Concubine..."


Tak kelupaan, Calix mengedipkan sebelah matanya genit sebelum benar-benar berlalu dari sana.


Dia akan berangkat menuju ke rumah Hazel menggunakan taksi mengingat jika motor ninja nya sepertinya rusak fatal akibat benturan yang cukup kuat saat dia jatuh tadi.


Calix akan menghubungi kedua sohibnya untuk mengambil motornya yang kini masih tergeletak mengenaskan ditempat kejadian perkara, dia akan menyerahkan kepada mereka untuk membawa kendaraannya ke bengkel agar dapat diperbaiki disana.


Sedangkan Lia. Hanya bisa menatap nanar sosok Calix yang kini telah hilang dibalik pintu mobil taksi, dia memegangi bibirnya.


"Mungkin itu biasa aja bagi kamu karena sudah sering melakukannya dengan gadis lain... Tapi bagi aku, itu berarti karena kamu mencuri ciuman pertamaku, Calix.."


*****


Calix brengsek😈