
Tamu-tamu mulai berdatangan. Tidak banyak, hanya teman-teman Ruby sewaktu SMA atau bahkan masih sampai sekarang, juga rekan-rekan Athala yang hadir disini.
Jangan lupakan ada Farel, Candra dan juga Kyra yang baru tiba, Kyra bersama dengan Farel, dan yang jelas Farel pula yang mengajaknya datang bersamanya, biar tidak kelihatan jomblo dan yang jadi kelihatan jomblo ngenes hanya Candra seorang.
Kini bangunan mansion itu diramaikan oleh para tamu yang diundang pada perayaan sederhana ini. Sandra, Alan, Flora, Adelio, Reygan serta Skaya--Istri dari Reygan tidak terkecuali. Anak-anak mereka pun datang bersama dengan mereka.
"Hazel!!" Heboh Kyra berjalan cepat dan memeluk Hazel, mereka berdua bercipika-cipiki, seperti sahabat yang baru berjumpa setelah berpisah cukup lama.
"Kyra? Lo bareng siapa kesini?"
"Farel! Dia ngajak gue kesini. Gak nyangka lo juga ternyata disini. Gak sia-sia gue dateng kesini."
Mereka berdua kemudian bergabung bersama dengan kumpulan para lelaki yang sedang mengadakan permainan truth or dare sekadar seru-seruan, dengan botol alkohol yang kini sedang terputar. Mereka duduk melingkar disebuah karpet bulu dengan sebuah meja lesehan ditengah-tengah mereka.
Lalu ketika botol itu berhenti bergulir, semua yang berpartisipasi dalam permainan itu, memusatkan perhatian pada orang yang ditunjuk oleh botol itu dengan senyum jahil yang tertampil pada wajah masing-masing.
"Truth atau dare nih?" Mengusap-usap tangan tidak sabar, Candra menaik-turunkan alisnya pada Calix. Dia yang mendapat giliran sebelumnya, kali ini dia lagi yang akan mengajukan pertanyaan atau memberikan tantangan untuk yang kena.
"Truth aja dah." Candra mengambil sebuah kartu truth. Dan seketika dirinya jadi sumringah. Yang lainnya masih pada penasaran dengan pertanyaan yang didapati oleh Calix kali ini, "Kalo ada satu hari bebas ngelakuin dosa, apa yang mau banget lo lakukan?"
"Elah, orang tiap harinya dia ngelakuin dosa!" Timpal Farel mengundang gelak tawa yang lainya.
Calix pun hanya berdehem seraya menegakkan punggungnya, mengacak kan pandangan memastikan jika Mami dan Papinya tidak ada di ruangan ini, baru lah menjawab satu pertanyaan dari Candra.
Sebelum itu, perasaan Hazel sudah tidak enak setelah mata mereka berdua sempat terkontak. Dari lirikannya sudah dapat ditebak oleh Hazel bahwa jawabannya ada hubungannya dengan dia. Apalagi dengan senyum tengilnya yang tersungging.
"Gue mau bikin bayi dengan cewek gue." Ujarnya terlihat enteng berhasil membuat Zeal, Alan, Reygan, Farel, Candra dan yang lainnya tersedak dengan ludah mereka sendiri.
Hazel sendiri sampai terperanjat saking terkejutnya, kedua pipinya bersemu, menunduk tersipu kala dirinya menjadi pusat perhatian. Mana Calix hanya menunjukkan wajah tanpa dosanya lagi.
"A-ahaha... I-iya kan katanya kalo.. berarti seandainya aja kan?" Candra tertawa garing untuk mencairkan suasana. Mencoba untuk mengalihkan situasi canggung menjadi kembali biasa dari yang sebelumnya, terlebih lagi sang pemilik nama sudah mengalami malu luar biasa.
"Ehm. Yang namanya seandainya kan hanya perumpamaan." Kyra menyenggol lengan Hazel yang kini meremas perutnya, tiba-tiba ada rasa mengganjal menjalar disana.
"Siapa bilang hanya seandainya? Gue serius kok, gue mau buat debay dengan cewek gua. Dan gue pengen dede bayi imut dan menggemaskan mirip cewek gue."
Hening. Seluruhnya senyap kehilangan kosa kata, mereka terlalu shock akan penuturan terkesan mengada-ada terlontar dari Calix yang kelewat enteng.
"Kalo udah nikah... Maksud gue tuh kalo gue udah nikah sama cewek gue, bukan sekarang.." Jelas Calix lagi agar mereka tidak keliru.
Biar brengsek yang sesungguhnya adalah label yang cocok dideklarasikan untuknya, Calix bukanlah lelaki yang serampangan menabur benih.
"Ahahaha, iyalah nanti udah resmi jadi Suami Istri baru boleh! Tanpa lo jelaskan sekalipun, kami udah tahu iyakan?!" Tanya Reygan diangguki dengan kaku yang lainnya.
"Lanjut gak nih?!"
"Lanjut!!" Kini botol kembali bergulir setelah mendapat sahutan kompak. Mereka tegang bukan main takut jadi yang kena sial, hanya botol kaca alkohol yang kosong, tapi mereka menatapnya was-was seakan benda itu adalah benda yang berbahaya.
Putaran demi putaran sehingga stop tepat mengarah pada Farel yang berada disebelah kanan Kyra. "Lah anjirr kok gua! Gak bener nih botol huh!" Seru Farel tidak terima.
Kyra mengusap-usap dada lega dengan gumaman yang melantun dari bibirnya, "Untung bukan gua yang kena."
"Truth apa dare?"
"Kalo truth sih agak--gimana gitu? Terus, kalo dare-- dare aja deh! Gua suka yang menantang!"
Calix meraih kartu dare sesuai pilihan Farel dan Farel meneguk saliva tegang kala menangkap sebuah senyum devil yang tercetak di wajah Calix. "Heh? Berikan ciuman dibibir sama cewek yang tepat disamping kiri."
Skakmat! Farel dibuat panas dingin. Ini sangat sangat diluar nalar. Sudah dapat dikatakan malapetaka untuknya. Dia seperti akan melakukan adrenalin. Merasa terpukul telak!
Menoleh kanan-kiri ibarat orang linglung kemudian jari telunjuk Kyra mengarah pada dirinya sendiri. "Gue?"
"Siapa lagi selain lo disamping kiri Farel?! Jelas lo lah!"
"Bisa ganti hukuman gak?"
"Big no! Kami pada udah dapat giliran, gak ada yang komplain walau pun pertanyaan atau tantangannya tidak sesuai keinginan. Gak ada yang boleh mengubah hukuman kalau pilihan sudah ditetapkan." Dengan wajah telah berubah menjadi pias, Farel dibuat mati kutu. Siapapun, tolong bawa terbang dia dari sini!
"Hahaha mampus lo! Pucat kan?!"
"Jangan diledek terus Can, nanti kencing di celana dia. Lo kan paling tahu kalo Farel dideketin sama cewek aja dia sudah keringet dingin. Mana bisa sampe cium cewek?"
Kedua sohib gilanya tidak ada hentinya mencibirnya habis-habisan. Hingga membuat jiwa Farel jadi tertantang. Akan dia buktikan bahwa dirinya juga bisa.
Wajah Kyra bergeser saat Farel tahu-tahu sudah menarik kepalanya, "Jangan bilang lo bakal cium beneran?" Desisnya diserang panik.
Disini?! Ditempat umum seperti ini?! Kyra tidak bisa membayangkan dia akan kehilangan keperawanan bibirnya didepan orang-orang, mau ditaruh dimana mukanya setelah ini?!
"Gak ada cara lain. Gue gak mau kelihatan jadi pengecut. Harga diri gue dipertaruhkan. Sorry, habis ini lo boleh marahin gue sepuas lo."
Mata Kyra membelalak sempurna, nyaris meloncat dari sarang ketika masing-masing benda bertekstur lembut milik mereka saling bersentuhan.
"Who!! Bener-bener dicium dong!"
Meskipun hanya sekilas, Kyra tetap dibuat ngeblank beberapa saat, wajahnya terasa hangat, mungkin saja disana sudah memerah seperti tomat, "Brengsek! Mati aja lo!" Sarkasnya pada saat yang sama dia berdiri dalam seketika dan berlari menjauh dari ruangan itu dengan membawa tumpukan rasa malu.
"Noh! Ceweknya ngambek tuh Rel! Kejer gih! Beri ciuman lagi, dijamin langsung luluh!"
"Sialan kalian!" Farel mengangkat jari tengah sebagai hadiah sebelum menyusul Kyra yang kini sudah menghilang dari pandangannya.
"Lix. Cewekmu kayaknya sakit. Mukanya pucat banget gitu." Teguran Adelio mengundang sorotan menuju Hazel. Dia pun tidak berhenti meremas perutnya.
Sial! Sial! Sial! Hazel mengumpat dalam batinnya. Kenapa harus disaat yang tidak tepat seperti ini?!
Tadi dia dibuat hilang kepala akan permainan yang mereka adakan, belum selesai dengan itu, sekarang akan bertambah lagi!
Calix beringsut menggunakan lutut, tepat dia sudah berada dihadapan Hazel yang sudah menunduk lagi, merasakan perutnya yang tidak enak sekaligus malu disaat yang sama, dengan posisi bertekuk lutut, Calix mengangkat dagunya agar dapat beradu pandangan dengannya.
"Kenapa hmm? Ada yang sakit? Bibir lo pucat."
Hazel memasang wajah memelas. Perut bawahnya terasa nyeri. "Lix.. sepertinya gue--"
"Lo kenapa?"
"Kedatangan tamu.." cicitnya membuat orang-orang disana seperti tidak ada ditempat lagi. Pasalnya, menjadi hening. Asli, Hazel ingin menghanyutkan dirinya di sungai amazon sekarang.
"Tamu? Dimana? Semengerikan apa tamunya sampe lo jadi pucat kaya gini. Lo tenang aja, biar gue yang hadepin."
Entah Calix ini pura-pura polos atau benar-benar tidak mengerti maksud Hazel, yang jelas Hazel ingin menendangnya saking kesalnya.
Seisi ruangan meringis kecil akan kepolosan Calix, sedangkan Zeal yang cepat tanggap berdehem pelan mewakili yang lain. Suasana disana benar-benar canggung. "Ehm. Lix, kau sangat tidak peka. Yang dimaksud oleh cewek itu, dia lagi kedatangan tamu bulanan."
"Tamu bulanan?" Dengan bingung Calix menyebar luaskan pandangan menyapu keseluruhan orang-orang disana, sebelum akhirnya matanya membola kala otaknya sudah connect terganti lah perhatiannya pada Hazel yang kini melingkarkan tangannya di pinggangnya, dia sudah kehilangan muka.
"Lo lagi mens?!"
"Jangan diperjelas lagi, tolol! Hazelnya malu!"
Candra melempar kartu yang mereka mainkan hingga berhamburan dibelakang Calix yang kini menekan belakang kepala Hazel di dada bidangnya nya agar wajahnya terbenam disana.
Dia juga bingung, entah harus mengambil tindakan apa. Dia belum pernah mengurus seorang Perempuan menstruasi. Yang penting, detik ini dia sedikit memberi bantuan seadanya pada Hazel untuk mengurangi rasa malunya.
"Malu.." Cicit Hazel lagi.
"Gak papa, Zel. Bukan hal yang aneh kan perempuan datang bulan? Iya kan?" Mengedip-ngedip, Calix melemparkan kode pada yang lainnya seolah menyuruh mereka memberikan sebuah tanggapan yang positif.
"Ah iya! Bener itu. Gak perlu malu, hahaha santai aja sama kami mah.." Terdengar tawa yang cenderung dipaksa. Hazel semakin mengeratkan belitan tangannya, dia sudah tidak sanggup menanggung rasa malu ini.
"Tapi kayaknya udah tembus deh. Bau amisnya udah ke cium."
"Bawa keruang istirahat aja Lix. Disana dia akan merasa lebih nyaman. Lo juga bisa temenin dia disana."
"Ayo, Zel. Kita keruangan istirahat kalo lo ngerasa malu disini." Tangan Calix menyelip disela-sela ketiak Hazel, hendak mengangkatnya. Sialnya, Hazel memberatkan badannya seakan mencegah dirinya untuk dibawah pergi.
Hazel menggeleng kuat sebagai respon. Dia belum kunjung menunjukkan wajahnya. "Gak mau Lix gak mau. Kalo gue berdiri sekarang, gue yakin celana gue dibagian bokong udah basah dan--tembus di karpet juga."
"Gue gendong."
"Enggak gue gak mau! Malu tahu gak?!"
Tidak ada cara lain. "Tutup mata kalian!" Intonasi suara Calix meninggi lebih terkesan menegaskan seluruh tamu-tamu disana untuk mematuhi perintahnya.
"Lah ngapain, Lix? Lagi pula--"
"Tutup atau gue congkel bola mata kalian satu persatu?"
"Ah udahlah, tutup aja!" Peka, telapak tangan Alan menutup kedua netra Candra yang masih ingin melayangkan protes, Pria itu pun memejamkan mata sama halnya dengan yang semua yang ada disana mau berkompromi terkecuali Hazel dan Calix.
"Udah kan, sini." Setelah memastikan indera penglihatan orang-orang disana sedang terpejam, barulah Hazel menarik parasnya dari dada Calix tidak menolak ketika Calix mengangkat kedua lengan Hazel untuk membantunya berdiri.
Meraih tas selempang Hazel yang tergeletak diatas karpet bulu, Calix pun lantas beranjak, mengikuti Hazel, punggung hingga bokong Hazel dia tutupi menggunakan tubuh tegapnya dari belakang dengan tangan menenteng tas Hazel.
Hazel mengintip kebelakang memantau situasi, kini disana sudah kembali ricuh. "Karpetnya gimana? Nodanya pasti udah menempel disana."
"Gak udah khawatirkan karpetnya. Biar pelayan yang menangani."
*****
Satu kata buat Calix?
Kira-kira kalau kamu diposisi Hazel, apa yang akan kamu lakukan?😭