
..."Cemburu? Aku tidak berhak untuk itu."...
...-Hazel...
...*****...
Keriuhan sorak-sorai dukungan demi dukungan seluruh pelajar, mengisi lapangan indoor. Siang ini dari tribun timur dan barat, sudah ramai dan padat akan anak-anak yang menyaksikan secara langsung pertandingan basket antar kelas XI VS XII.
Bukanlah pertandingan meriah, hanya sebuah duel sederhana yang diselenggarakan oleh Guru olahraga untuk menambah nilai praktek dalam bidang olahraga. Rencananya, sehabis pertandingan laki-laki, para siswa perempuan juga akan melakukan lomba.
Ditangan para penonton siswi memegang spanduk yang cukup besar, mayoritasnya hanya berisi dukungan untuk Calix saja. Popularitas lelaki itu menjadi nomor satu disekolah ini. Dia, yang paling menonjol diantara lelaki yang dicap sebagai cogan.
Dengan wajah rupawan, tubuh proporsional yang dapat diibaratkan model, terkenal badas, meski kepribadiannya suka ngegas tanpa alasan, dia tetap care sama siapa saja. Karena apa? Dialah si Calix Keiran Ragaswara, dikenal sebagai si cowok paling playboy seantero sekolah.
Berkat sejuta pesona yang dimiliknya. Jelas, bukan hal yang mengherankan, jika dia menjadi pangeran di SMA Gardenia.
"FIGHTING, CALIX!!"
"AAA NOMOR PUNGGUNG 5, AKU PADAMU!!"
"CALIX!! EMAKMU NGIDAM APAAN PAS LAGI MENGANDUNG LO HINGGA MELAHIRKAN ANAK SECAKEP LO!!"
"GANTENG BANGET, MAKK!!"
"CALON SUAMI GUE!! SEMANGAT!!"
Peluh meleleh dikening, napasnya tak beraturan. Angka 5 tercetak jelas pada punggung belakang jersey basket yang dia kenakan. Calix berlari kecil kepinggir lapangan, menghampiri Lia yang berdiri ditepi sana. Diraihnya botol minuman yang diarahkan oleh Lia. "Thanks."
Lia mengangguk kecil. Sebelum pertandingan, Lia sudah pernah bilang, dia akan setia berdiri dipinggir lapangan untuk mendukung dan membawakan minuman untuk Calix.
Bukanlah lomba yang penting-penting amat, tetapi pertandingan ini cukup sengit, tak bisa dianggap sepele. Karena bersangkutan dengan yang namanya nilai.
"Calix, cape? Kenapa gak istirahat aja dulu?" Hanya sekedar basa-basi Lia bertanya-tanya.
Lia meremas sapu tangan yang dia bawa, rasa ragu mendadak menghinggapinya. Dia sengaja menyediakan kain sapu tangan persiapan untuk Calix menyeka keringatnya.
"Memang lo pikir bisa sembarang istirahat kalo belum waktunya?" Calix menyerahkan kembali botol yang setengahnya sudah terkuras habis dia minum pada gadis berkaca mata bulat tersebut.
Dari tribun timur dibagian barisan pertama terutama, Kyra yang duduk disamping Hazel dapat melihat interaksi mereka berdua. Bukan hanya dirinya saja, Kyra yakin, anak-anak yang lain juga pada lihat, dibelakang mereka sudah pada berdesas-desus malahan.
"Sejak kapan Calix akrab sama Lia?"
"Oh? Lia tutor yang direkomendasikan Pak Samsudin untuk Calix, makanya mereka jadi akrab."
Kyra manggut-manggut, dia melirik pada Hazel meneliti reaksinya dari sudut samping, nampak natural. Benar-benar sulit dibaca, dia tak bisa menebak bagaimana isi pikiran Hazel melalui itu.
"Lo beneran suka sama Calix atau enggak sih? Gue heran sama kalian. Kalo memang saling gak memiliki rasa, kenapa gak diakhiri saja?"
Mendengar kalimat yang keluar dari Kyra, perhatian Hazel reflek teralihkan padanya, dia menoleh pada Kyra. "Kenapa emang? Apa hubungannya sama lo?"
Kyra mengusap tengkuknya rada canggung, dia menanyakan pertanyaan yang salah sepertinya. "Enggak, gue iseng aja nanya, soalnya lo kayak kelihatan biasa aja ngeliat dia deket sama cewek lain. Sedangkan Calix kelihatan gak peduli sama perasaan lo."
"Gelar cuma sebagai mainan bisa apa?" Hazel tersenyum kecil. Entah lengkungan tulus atau senyum getir. Hanya dia dan Tuhan yang tahu.
"Logikanya gini. Kalau gue berarti bagi dia, tanpa diberitahu pun, dia tahu caranya menjaga mata dan hatinya sendiri disaat dekat maupun jauh dia dari jangkauan gue."
"Dengan terbukanya pintu setiap tamu yang akan masuk, itu sudah menjadi tanda, kalo dihatinya, gue gak ada artinya." Tambahnya lagi menggumam samar. Teredam dibalik keramaian suasana.
Bunyi nyaring peluit yang ditiup wasit memanggil anak-anak yang bertanding untuk segera berkumpul kembali ke tengah lapangan.
Kala Calix hendak berputar tubuh untuk kembali berkumpul dengan kawan juga lawan, Lia mencegahnya dengan menahan pergelangan tangannya.
"Ada apa?" Calix mengangkat satu alis menghadapkan badan padanya, pertama-tama dekat dengan Lia hanya dalam rangka belajar bersama, dia cukup tenang dan nyaman dengannya karena Lia bukan seperti gadis-gadis yang suka ngereog jika melihatnya.
Namun, lama-kelamaan, Lia jadi berbeda. Padahal dia mengira Lia seperti Hazel yang tak gampangan. Jika begitu jadinya Calix ingin bermain-main padanya, tidak apa-apakan? Salah sendiri baperan.
Tatapan Calix turun menuju sapu tangan yang sedang dipegang oleh Lia, dia tersenyum miring, menumpukkan tangan pada lutut, tubuhnya membungkuk dihadapan Lia. Dia meraih tangan Lia mengarahkannya pada dahinya.
"Sayang sapu tangannya dianggurin, mending buat lapin keringat gue, kan?"
Jantung Lia seperti akan pindah ke ginjal, tangannya agak tremor. Dengan gugup Lia menyeka keringat Calix dibagian kening hingga kepelipisnya. Lia mendongak saat badan lelaki berperawakan tinggi itu menegak setelah Lia sudah selesai menghapus peluhnya.
"Thanks, my concubine.."
Calix mengedipkan sebelah matanya menggoda sebelum berlari kecil menuju tengah lapangan. Dia menyugar rambutnya kebelakang sengaja menebar pesona, hasilnya mengundang kemeriahan suasana.
Para murid perempuan bersorak-sorak histeris melihat pemandangan yang tersuguh, sangat disayangkan jika dilewatkan. Jadi orang tampan agak merepotkan, bersikap baik sedikit saja, sudah berhasil mencuri hati mereka.
Sementara Lia masih membeku ditempat, kondisi pipinya tak perlu ditanya, sudah merona tak karuan. Dia meletakkan kedua tangannya yang terlapisi kain didepan dadanya. Jantungnya telah menggila didalam sana.
...Flashback on...
Calix mencoret-coret kertas bukunya bosan. Dia malas memperhatikan materi yang dipaparkan oleh Lia. Bagaikan semilir angin yang berhembus, masuk dari telinga kanan keluar dari telinga kiri.
Lia yang melihatnya hanya membuang napas sedikit jengah. Dia peka, Calix risih dengan dirinya. "Maaf ya Calix, kamu jadi diajarin sama cewek jelek kaya aku. Pasti kamu risih dan bosan setiap hari ketemu dan belajar sama cewek buluk kaya aku.."
"Jelek?" Calix memiringkan wajahnya. "Gue gak ada tuh bilang lo jelek."
"Iya?" Lia termangu beberapa saat. Bukankah Calix membencinya karena dia hanya seorang gadis yang kumuh dan dekil?
"Gue gak tahu standar kecantikan kaum perempuan gimana. Cewek-cewek yang gue temui sepanjang hidup gue rata-rata cantik banget. Tapi diatas langit masih ada langit."
"Dengan kata lain, walaupun ada yang kelihatan indah, ada yang lebih indah darinya. So, jangan mudah insecure. Setiap wanita itu punya ciri khas masing-masing."
Calix menyimpan tangannya dibelakang kapala lalu menyandarkannya di sandaran kursi. "Kalo ada yang kurang sudah pasti ada kelebihan. Dan sebaliknya, kalo punya kelebihan sudah pasti ada kekurangan, hanya saja Tuhan pandai menyembunyikannya. Yang intinya, gak ada manusia yang sempurna."
Dia akhirnya berpaling kesamping, kearah Lia yang berada persis di kursi sebelahnya. "Kecantikan juga bukan selalu tentang rupa. Tapi--" jari telunjuk Calix terangkat di udara, menunjuk tepat didepan dada Lia. "Dari hati."
Lia terenyuh. Benarkah disampingnya ini adalah Calix? Si cowok dengan tempramental bagaikan monster, bisa ada sisi ini? Lia memegangi dadanya. Ritme jantungnya mendadak berdegup lebih kencang dari biasanya. Perasaan apa ini?
"Gue memang cowok brengsek. Sering gonta-ganti pasangan?" Calix tertawa ringan. "Itu fakta. Tapi satu hal yang gak semua orang tahu, gue gonta-ganti cewek juga menilai. Perempuan itu berlian, gak baik menjatuhkan harga diri pada laki-laki."
Pandangan Calix menerawang keatas langit-langit kelas. "Perempuan ya...? Mahkota mereka sangat mahal. Gak ada yang bisa membelinya selain mahar. Kalo semisal gue ngerasa ceweknya gampangan."
"Mudah memberikan tubuh disentuh secara intim oleh cowok yang belum terikat pernikahan atas dasar cinta atau enggak atas dasar duit, gue akan mempermainkan mereka dan pada akhirnya mencampakkan mereka tanpa belas kasih."
"Gue jahat kan?" Calix memusatkan perhatian kearah Lia.
"Iya jahat banget--hmphh!" Dengan segera, Lia membekap mulutnya sendiri lalu menepuk-nepuknya, bibirnya minta dipenggal karena berani-beraninya keceplosan dengan preman sekolah ini.
Calix tersenyum tak tersinggung sama sekali. "Kenyataan. Gak perlu ngerasa bersalah, gue memang brengsek. Bahkan kata brengsek masih terlalu baik untuk gue."
Lia mendadak gugup saat Calix begitu dalam memandangnya, "K-kenapa? Ada sesuatu di wajah aku?" Lia meraba-raba wajahnya, mungkin ada yang salah disana. Ternyata pertanyaannya disambut gelengan oleh Calix.
"Gak. Kalo dilihat-lihat, lo cantik juga. Coba saja lo mengubah penampilan lo. Pasti banyak cowok-cowok yang naksir. Lo bisa dapet pacar kalo kaya gitu."
Kedua pipi Lia menjadi hangat, tanpa dia lihat saja sudah jelas wajahnya bersemu bagaikan kepiting rebus. Ya Tuhan, dia ingin bersembunyi didalam lubang tikus agar dapat menghindari Calix saat ini juga!
Belum lagi saat Calix memajukan wajahnya sejenak meneliti reaksinya, napasnya tercekat, jantung Lia seakan ingin meloncat dari sarang, sebelum akhirnya kembali menarik dirinya menjauh. Sedetik kemudian, terdengar kekehan renyah darinya.
"Kenapa lo tersipu gitu? Lo mau jadi pacar gue?"
"H-hah? E-enggak!" Sedikit gelagapan Lia melambai-lambaikan tangannya menyangkal. Mana berani dia dengan cowok seperti Calix ini? Terlebih dia kekasih dari pahlawannya.
"Bercanda. Gue gak mau bikin si 143 marah dan kecewa." Calix kembali meraih bolpoin yang sempat dia biarkan menganggur beberapa menit lalu kembali konsentrasi melanjutkan kegiatannya mencatat.
"143? Maksudnya?" Kedua kening Lia mengernyit dalam. Dia disalah fokuskan pada angka 143 yang dimaksud Calix.
"Rahasia."
...Flashback of...
Translate: Concubine/Selir
Jadi orang ganteng mah bebas, selir bertebaran dimana-mana🙄 -Calix