My Possessive Boyfriend

My Possessive Boyfriend
MPB•GET OUT OF HIS LIFE



Disini Calix berada, di halaman rumah sakit. Lelaki itu duduk di salah satu bangku yang terpatri disana, mendongak menikmati rasi bintang yang tersaji di langit malam.


"Dari tadi di cariin, ternyata lo di sini.." Perhatiannya teralihkan kepada Hazel yang mengambil tempat duduk di sisinya.


"Gilsha gimana?"


"Tadi di periksa sama Dokter. Kondisinya bisa dibilang sudah lebih stabil dari sebelumnya, tinggal menunggu dia memulihkan diri."


Tidak ada lagi pembicaraan. Mereka sama-sama terdiam membisu. Pikiran mereka berkelana ke mana-mana.


Calix melirik Hazel sekilas, gadis ini sangat dekat dengannya, padahal Hazel berada di sisinya, namun dia merasa ada jarak yang teramat jauh membentang di antara mereka berdua.


"Pergi dari hidup gue, Lix." Kata Hazel tiba-tiba mengundang atensi Calix lagi.


"Humm? Lo bilang apa barusan?"


"Pergi dari hidup gue."


Calix menatapnya tidak mengerti. "Why? Perasaan tadi siang masih baik-baik saja, kenapa sekarang tiba-tiba menyuruh gue pergi dari hidup lo?"


Hazel menarik napas dalam-dalam. Di pangkuannya, kedua tangannya telah terkepal. "Sampai kapanpun, gue gak bisa berdiri di sisi lo, gue gak pantes bareng lo."


"Gue yang paling tahu siapa yang pantes atau tidak bareng gue, lo gak berhak menentukan siapa pun yang layak bareng gue."


"Selain derajat kita yang gak sepadan, lo lihat sendiri kan? Gue juga udah punya anak. Iya, mungkin lo bisa menerima gue apa adanya, tapi gimana dengan keluarga lo? Apakah mereka bisa menerima Perempuan yang sudah memiliki anak dari cowok lain? Hanya keluarga yang bodoh yang mau anak mereka hidup berdampingan dengan cewek yang tidak baik-baik."


"Lo pikir gue peduli dengan pendapat keluarga gue? Jangan kan keluarga gue, dunia sekalipun yang menentang hubungan kita, gue gak peduli sama sekali. Ini hidup kita, gak ada yang bisa menghalangi selama perasaan kita sama. Dan satu lagi, sepertinya lo salah menilai keluarga gue."


"Mami dan Papi gue gak akan menentang sama siapapun gue memutuskan untuk hidup bersama selama orangnya adalah pilihan gue sendiri. Sekalipun sesama jenis, mereka gak akan melarang, karena yang mereka inginkan hanya kebahagiaan gue." Sambungnya panjang lebar tetap tidak dapat menggoyahkan pendirian Hazel.


"Tapi tetap saja, gue minder."


"Terus, sekarang lo maunya apa?"


Cukup lama jawaban Hazel terkunci dalam mulut. Dia masih mengumpulkan tekad sampai akhirnya dia pun menyuarakan apa yang menjadi keputusannya. "Pergi dari hidup gue."


Hazel tidak berani mengangkat kepalanya walau Calix sudah bangkit secara kasar. Calix manggut-manggut. "Jadi itu kemauan lo? Oke, dengan senang hati akan gue kabulkan."


Diraihnya tangan Hazel yang spontan mengangkat wajah, dia menyimpan sebuah kalung di telapak tangannya. "Ini kalung cowok kesayangan lo."


Seusainya memberikan itu, punggung Calix telah mengecil di telan jarak, Hazel hanya bisa menatapnya nanar. Dia menggenggam kalung di tangannya.


...*****...


Keesokan harinya, rutinitas tidak pernah terlepas dari kehidupan mereka, yaitu berangkat sekolah untuk menimba ilmu.


Tiba di dalam kelas, Calix mengangkat sebuah ponsel yang dia temukan di kamarnya di hadapan Farel. "Ini ponsel lo bukan?"


Kepala Farel terdorong saat Candra menampar belakang kepalanya, "Noh! Gue terbukti gak bersalah kan? Lo dengan seenak jidat fitnah gua yang nyuri!"


Singkat cerita, mereka berdua sempat berselisih akibat prasangka buruk Farel yang menuduh bahwa Candra lah yang mencuri ponselnya dan menyembunyikannya.


Farel menyikut lengan Candra tidak enak hati. "Elah, gue kan cuma menduga-duga. Btw lo dapet hp gue di bagian mana kamar lo, Lix?"


Farel hendak mengambil alih benda canggih tersebut. Naasnya reaksi Calix diluar ekspektasi, dia justru membanting kuat benda tak bersalah itu hingga berakhir layar kacanya telah retak parah.


"Hp gua anjirrr!!" Paniknya. Baru saja Farel akan memungut kembali ponselnya, Calix sontak menarik lengannya kemudian membenturkan wajahnya ke dinding. Penghuni disana berteriak histeris. Mereka membekap mulut shock bukan main.


"Shiit! apa yang lo lakukan, Calix?!!" Candra mencoba menahan lengan Calix untuk menghentikan aksinya. Tenaganya kalah unggul, dia terlempar di tepis kuat oleh Calix.


Bugh!


"Bangsatt!! Maksud lo merekam kata-kata gue tempo hari apa hah?! Gue gak pernah ikut campur sama hubungan yang lo jalin dengan cewek, tapi kenapa lo seolah campur tangan sama hubungan gue dan Hazel?!!"


"Uhhuk! Bentar! Sialan! Dengerin gue du--"


Bugh!


Farel tidak diberi cela untuk membuka suara. Dirinya diserang tanpa aba-aba oleh Calix. Bukan hanya di pukul, wajahnya dihantamkan ke tembok hingga kini hidungnya mengalir darah.


Gaduh menguasai ruangan, Farel sudah nyaris kehilangan kesadaran. Namun, Calix belum ada tanda-tanda untuk menghentikan aksinya.


Napas Hazel terengah-engah di bingkai pintu, dia segera berlari kesini mendapat informasi bahwa Calix kembali kumat. Dia bersama dengan Kyra.


"Calix!!! Lo udah gila hah?! Lo mau bunuh sahabat lo sendiri?!" Kepalan tangan Calix menggantung di udara.


"Pergi Zel.. pergi dari hidup gue maka lo akan melihat tindakan gila gue yang lebih dari ini." Setelah berucap, Calix kembali meneruskan serangannya membabi buta pada Farel.


"Stop Calix stop!! Kalo lo masih gak mau berhenti, gue benar-benar gak bakal pernah mau melihat muka lo lagi!"


"DAMN!!" Calix meninggikan badannya langsung mengambil langkah pada Hazel. Pekikan terdengar dari Hazel ketika tubuhnya tahu-tahu sudah berada di bahu Calix, laki-laki itu memikulnya ala karung beras.


Kyra menepuk-nepuk pipi Farel berharap dengan begitu dia mau membuka mata. "Rel? Farel? Lo denger gue?" Kelopak matanya terbuka sayu.


"Ky..?"


"Iya ini gue, lo bisa berdiri? Gue sama Candra bantuin memapah lo ke UKS." Kyra dan Candra membantunya untuk berdiri dan memapahnya menuju ke ruangan kesehatan.


Di lain posisi, sepanjang lorong koridor, Calix dan Hazel menjadi sorotan siswa-siswi yang berlalu lalang. "Turunin gue Calix!! Lo apa-apaan sih?! Gue punya kaki yang bisa di pake jalan!"


"Shut up! Lo bener-bener bisa buat orang menggila!"


*****