
Hazel menyingkap tirai jendela, disapa pancaran cahaya sang surya yang cukup terik. Akhir pekan yang cerah, padahal bagus jika cuaca seperti hari ini untuk pergi berlibur agar me-refreshing kan diri.
Namun, Hazel tak ada rencana kemana pun. Healing ter-the best bagi orang pemalas seperti Hazel, kalau tidak rebahan, nonton drakor ide bagus juga di hari minggu begini.
Ting!
Hazel mengambil ponselnya yang mengeluarkan bunyi dentingan diatas kasur. Membaca pesan whatsApp yang tertera dilayar.
...🐷...
Pap
^^^Mls. Lagi berantakan.^^^
Ck, pap atau kita putus?
^^^Gak ngaruh. Kalo putus, yaudah, putus aja.^^^
Aaaa Azel... Pap, come on... Gue kangen ama lu, pengen liat kembaran opet🙈
^^^🖕 For you^^^
Send foto
Terkesima, Hazel menyeka air liurnya yang tanpa sengaja menetes melihat pahatan abs yang tersusun apik diperut kekasihnya, dia menggeleng kemudian mengenyahkan pikiran negatifnya.
^^^Hobi, lepas baju. Bdn lu jlk, bintang nol.^^^
Jelek matamu! Kekar gitu.
Pap balik. Kalo enggak, siap-siap saja, sepuluh menit lagi gue bakal bertamu dirumah lu.
Calix menyeringai memandangi layar handphone, "Liat aja, lu masih berani bersikeras gak mau pap atau langsung menyanggupi." Gertakan ini dia yakini seratus persen, akan efektif pada Hazel.
Dan benar saja, netra Hazel melotot hampir lepas dari sarang. Ancaman ini ngaruh bukan main, Hazel paling anti yang namanya laki-laki bertamu kerumahnya. Dia merapikan sedikit surainya sebelum memotret dirinya sendiri.
^^^Send foto^^^
Lagi dimana lu? sialan!
^^^Dikmr, knp sih? Sensi banget perasaan.^^^
Ganti baju lu ama yang lebih ketutup!
^^^Dih, ngatur. Situ sape?^^^
Gue masa depan lo! Ganti, buruan!
^^^Gk. Lebih nymn pake yg ini.^^^
Lo kira bgs, Perempuan pake pakaian gak enak dipandang gitu? Mau jadi cewek centil lo?! Jgn pamer tubuh lo!
Sok alim! Ketus Hazel dalam hati. Padahal mah, lihat yang seksi dikit langsung diterkam.
^^^Pamer apaan dah? Orang lagi di dlm kmr, gak ada yang liat.^^^
Coba lo perhatikan lebih teliti. Ada banyak semut, cicak, kecoak, lalat sama nyamuk disudut bilik kamar yang mungkin sudah menjadikan badan lo sebagai asupan mata. Ganti sana!
Hazel mendelik aneh. Bahkan serangga saja, dia jadikan problem? Yang benar saja! Sungguh, Hazel tak habis pikir.
Ting!
Gue hitung ampe tiga.
Kalo enggak ganti juga. Gue perkaos lu pas ketemu.
Satu!
Hazel meneguk ludahnya terintimidasi kala dihitungan kesatu. Kalimat Calix di 'Perkaos' membuatnya takut, meskipun dia tahu, bila Calix hanya bercanda, tapi sepertinya itu membuatnya patuh pada Calix tanpa mau berpikir lebih banyak lagi.
Tinggal memakai baju kasual berwarna putih melapisi kain tipis yang membungkus tubuhnya, Hazel pun duduk kembali diatas kasur.
Tiga!
Niatnya hanya ingin membalas pesan Calix, tapi dia malah tertekan pada icon panggilan saat hitungan tepat mencapai tiga, mau mematikan juga, Calix langsung mengangkatnya.
Suara bass langsung menyambutnya dari seberang sana. "Hallo? Udah tukar baju?" Seraya bercakap-cakap dengan Hazel, Calix keluar dari kamarnya hendak ke dapur.
"Udah, puas?!"
"Hmm, sangat puas..."
Di lobby unit apartemennya, terdapat Candra juga Farrel yang masih tertidur nyenyak di karpet bulu, depan layar televisi PS.
Calix menendang-nendang lengan Candra untuk membangunkannya. "Bangun woy! Matahari udah diatas kepala, kalian masih pada molor! Inget waktu!"
"Eunghhh..." Bukannya bangun, tubuh mereka berdua hanya menggeliat kecil sebagai respon. Sudahlah, Calix menyerah. Mending dia terus ke dapur mengambil sesuatu untuk membasahi rongga tenggorokannya.
"By the way, tumben lo inisiatif nelepon duluan? Ada apa gerangan Nona Azel..?"
"Oh, ini, gue tertekan."
Kening Calix berkedut samar, gerakannya yang akan membuka kulkas berancang mengambil minuman bersoda, tertunda begitu saja. "Tertekan? Lo ada masalah apa? Sini cerita. Gue dengerin."
"Masalah apa sih? Orang tertekan kok."
"Maka dari itu, tertekan kenapa Zel..? Sekali-kali curahkan keluh kesah lu ke gue, apa susahnya sih? Gratis, gak dipungut biaya juga, jangan dipendam sendiri."
"Gue telepon lu karena tertekan bukan mau curhat!" Nada suara Hazel sudah tak santai. Emosi dia lama-lama.
"Yaudah cerita kalo tertekan! Dari tadi ngeluh tertekan, tapi gak mau cerita!" Amarah Calix pun turut tersulut. Dia mulai menggebu-gebu.
Nyaris saja kaleng minuman yang ada ditangannya melayang saking gregetnya, paling malas dirinya dengan perempuan yang bertele-tele.
Hazel menahan napas, dengan satu tangan diremasnya menyalurkan rasa kesalnya yang meronta-ronta, wajahnya memerah padam menahan darahnya yang mendidih.
"Tombolnya yang tertekan, panteek!" Sarkastik sekali balasannya dari seberang telepon sana.
...*****...
"Kak Acel!!" Gilsha yang kerap disapa Isa--balita berusia tiga tahun lebih itu dengan langkah lunglai, berlarian ceria kearah Hazel.
Hazel yang sedang serius menonton televisi mendadak tertarik atensinya kearah Gilsha yang merupakan anak dari Adik Ibunya.
Dia meletakkan sepotong apel ditangannya ke atas meja menemukan seorang gadis mungil yang berlarian kecil kearahnya sambil memegang sebuah es cream.
Dibelakang Gilsha menyusul-lah seorang Wanita paru baya yang kelihatan belum terlalu tua. Zayna namanya, Ibu dari Gilsha yang merupakan Tante dari Hazel.
"Jangan lari-lari Isa, kalo kamu jatuh, nanti bisa luka!" Komentar Hazel.
Hap!
Ditangkapnya Gilsha dengan dua tangannya menyelip di pangkal lengan dan badan, berdirilah dirinya lalu menerbangkan Gilsha mengelilingi udara.
"Hahaha!! cukup Kak Cel!! Ica ucing!!" Gilsha tertawa-tawa cekikikan saat tubuh mungilnya melayang di awang-awang.
"Hazel, jangan bikin kayak gitu, nanti kepala Isanya pusing," tegur Zayna.
Keluarga kecilnya baru pulang dari tempat berlibur di Bali, Zayna meletakan sebuah bingkisan oleh-oleh di atas meja.
"Hehehe, habisnya jahilin Isa, seneng sih." Hazel cengengesan tanpa dosa kemudian dia memusatkan perhatiannya pada bingkisan diatas meja, Hazel beralih menggendong Gilsha.
"Itu oleh-oleh yang dibawah Tante dari bali? isinya apaan?"
Zayna mengangguk sebagai tanggapan, "Bukan yang mahal-mahal, kudapan doang. Gak bisa beli yang mahal-mahal, maklumlah, ekonomi lagi sulit."
"Elah, ekonomi sulit tapi pergi berlibur." Julid Hazel untuk Zayna.
"Eh, Zay? kapan pulangnya? kok gak ngabarin dulu?" Celetuk Ghea, Kakak dari Zayna menyela percakapan antara mereka. Dia baru saja dari arah dapur lalu mengambil tempat duduk disebelah Putrinya.
"Belum lama, baru tadi. Gak sempat ngabarin, buru-buru juga soalnya. Abi dihubungi sama bosnya, sore ini bakal ada meeting penting yang gak bisa dilewatkan, padahal rencana kami bakal habisin sepekan disana. Tapi yah, apa boleh buat? namanya pekerjaan, gak bisa ditinggalkan."
Ghea manggut-manggut, "Jadi, sekarang Suami kamu lagi ada di perusahaan?" tanyanya mendapat anggukkan dari Zayna.
"Tante, kok makin lama muka Isa semakin mirip sama Hazel? gak ada mirip-miripnya sama Tante dan Paman."
Ghea dan Zayna saling pandang mendengar celetukan Hazel sebelum bersamaan mereka sontak menoleh pada Hazel dengan raut gugup yang sedikit tersamar.
Sekali lagi Hazel mengangkat Gilsha ke udara, mengamati setiap inci wajah menggemaskan anak kecil itu dengan cermat dan benar saja, setelah diperhatikan lebih teliti, garis wajah Gilsha nyaris identik dengan wajahnya.
"Isa seperti Hazel versi mini, tahu?"
Hazel mengangguk-angguk paham. Seraya menghapus noda di sudut bibir Gilsha yang belepotan akan es cream, dia lalu mengajukan pertanyaan pada Gilsha yang sedang menyesap es cream.
"Isa, dapet es krimnya dari mana?"
"Ali Mama."
"Isa mau keluar jalan-jalan bareng Kak Hazel?"
"Ata cacan?"
"Ada dong!"
"Mau, holee!!"
Saking girangnya tangan Gilsha yang menggenggam es cream rasa cokelat sampai terangkat ke udara. Hazel beranjak dari tempat menuju kearah pintu utama dengan membawa Gilsha digendongannya.
"Hazel, kamu mau bawa Isa kemana?" tanya Zayna ketika Hazel dan Gilsha sudah ada didepan pintu.
"Keluar Tante. Isanya, Hazel pinjem bentar ya!!" Seru Hazel.
Ghea membuang napas lega begitu memastikan figur Hazel menghilang dibalik pintu.
"Untung Hazel gak bahas lebih lanjut.." Zayna menepuk-nepuk bahunya menenangkan.
...*****...
Dibalik cela helm full face-nya, Calix memicingkan netranya, dia menajamkan penglihatan saat mendapati Hazel baru keluar dari sebuah minimarket bersama dengan seorang anak perempuan yang sedang membawa snack.
"Hazel?"
"Calix? Gue tahu lo pelanin laju motor lo karena perhatian ke gue yang takut sama kecepatan tinggi saat lo bawa motor, tapi bukannya ini terlalu lelet?" tanya seorang Wanita berpenampilan modis.
Siapa lagi jika bukan Yolanda. Saat ini dia sedang berada diboncengan Calix. Lelaki didepannya ini tiba-tiba menurunkan kecepatan kendaraannya secara drastis.
"Ntar." Calix membawa motornya selambat siput menyesuaikan dengan langkah kaki Hazel yang ada dipinggir jalan.
Calix menaikan kaca helmnya. "Hei, Hazel!!" Tidak ada respon sama sekali dengan panggilan yang dia lemparkan. Yang ada hanya gadis kecil itu yang menoleh padanya.
"Kak Acel? itu ciapa?" Mendengar pertanyaan Gilsha, dengan jutek Hazel hanya melirik sekilas kearah Calix.
"Gak kenal, orang asing."
"Heh, gak kenal bapakmu! songong banget jadi cewek!" Tandasnya berhasil membuat Hazel menghela napas kasar, dia menunda langkah lalu menghadapkan badannya pada lelaki ternyebelin di alam semesta ini.
Pacarnya si possessive akut, tukang atur, melarangnya untuk dekat dengan siapapun, tetapi tidak berkaca pada diri sendiri. Jatuhnya dia menjadi cowok paling egois.
"Terus? lo maunya gue harus bilang apa?!"
Calix tidak menanggapi lagi, fokusnya hanya terpusat pada Gilsha yang ada digendongan Hazel, sedari tadi dia salah fokus pada anak tidak jelas ini. "Dia siapa?! perasaan gue belum pernah unboxing lo, kok bisa punya anak?!"
Hazel merotasikan bola matanya malas, tubuhnya kembali lurus kedepan melanjutkan langkahnya, dia memilih abai dengan ucapan Calix.
"Terserah lo mau beranggapan apa."
"Apa jangan-jangan lo ada main belakang dari gue?!" Tudingan Calix disambut lirikan sinis dari Hazel.
"Gak ngaca?!"
Asal menuduhnya main belakang, sedangkan dia? siapa sebenarnya Wanita yang berpenampilan kekurangan bahan ini?
Bukankah dia yang tempo hari bersama dengan Calix dipusat perbelanjaan? Dasar tidak tahu introspeksi diri!
"Calix, cewek ini bukannya yang waktu di mall? Dia ada hubungan apa sama lo?"
Kedua tangan Yolanda dengan agresif menjalar ke pinggang atletis Calix hingga memeluknya dari belakang, bibir Yolanda mengukir senyum penuh kemenangan saat punggung tangannya diusap lembut oleh Calix.
"Eum dia? biasa, mainan."
Tangan Hazel mengipasi wajahnya yang gerah, hari sudah menjelang sore, tapi sang surya masih cukup terik.
Dia tidak mempedulikan keberadaan Calix yang kini sudah tertinggal dibelakang, lelaki itu tidak mengikuti Hazel lagi.
"Isa gak gerah? mau cari yang seger-seger? Kak Hazel, gerah banget soalnya."
"Oke!!"
Mimik Calix pupus, berubah menjadi raut yang minim ekspresi melihat kepergian Hazel. Disertai auranya yang menjadi suram dalam seketika.
"Calix? Kapan jalannya?" tanya Yolanda, tangan lentiknya dengan nakal meremas paha Calix membuat sang empu mendesis.
"Jangan mancing, kita lagi diluar!"
"Yaudah makanya jalan buruan!" Yolanda mendesak tak sabaran, Calix mendengus malas, mau tidak mau dia kemudian menancap gas membela jalanan distrik Ibu kota Jakarta.
...*****...
"Isa tunggu Kak Azel disini ya? jangan kemana-mana sampai Kak Azel kembali kesini."
"Ciap Kak Acel!" Gilsha memberikan gerakan hormat pada Hazel, menyalurkan rasa gemasnya, Hazel mengacak-ngacak rambutnya. Dia mengulum senyum simpul.
"Good girl!"
Seorang lelaki berpakaian celana jeans berwarna hitam senada dengan jaket juga topi yang menutupi setengah dari wajahnya keluar dari persembunyiannya yakni dari sebuah pohon rindang setelah memastikan Hazel telah meninggalkan Gilsha sendirian.
Dia menghampiri Gilsha, bocil perempuan itu sedang duduk dibangku taman alun-alun sambil mengayun-ayunkan kaki pendeknya yang menggantung di udara.
Dia sedang menunggu Hazel membeli minuman segar untuk mereka berdua, tidak jauh tempatnya hanya diseberang jalan sana.
Kepala Gilsha mendongak lalu turun kemudian mengikuti pergerakan lelaki tinggi dari awal berdiri dihadapannya kemudian mengubah posisi menjadi berjongkok .
"Hai cantik? Kenapa sendirian aja disini? bahaya tahu anak kecil gak ada yang jaga diluar kaya gini."
Gilsha melemparkan gelengan polos. "Ica gak cendili. Ata kak Acel pelgi beli minuman buat Ica yang auc." Surainya diberantakin oleh orang yang tidak dikenalinya ini. Dia mengulas senyum teduh.
'Lihatlah Kak Atur..dia tumbuh menjadi anak yang baik dan cantik mirip persis dengan Mamanya..'
Bugh!
Dia melongo tak percaya ketika menerima geplakan dari tangan mungil Gilsha dikepalanya. "Loh kenapa Kakak dipukul?"
"Ata Acel kalo ada olang gak kenal, halus di pukul.."
Kekehan kecil meluncur dari bibirnya, ajaran Hazel benar-benar berbahaya, tidak patut ditiru anak seusia Gilsha menurutnya.
"Ajaran Sesat itu. Jangan diterapkan ajaran yang dibilang sama Kak Acelmu. Kalo ada orang baik yang mau kenal sama Isa, gak boleh dipukul kayak tadi, itu namanya perbuatan jahat.."
"Cahat?" Tanya Gilsha mendapat anggukan dari Laki-laki misterius ini, dia terlihat merogoh sakunya dan mengadakan telapak tangannya memberikan beberapa permen marshmallow.
"Isa mau permen?" Bola netra dengan iris hitam legam itu berbinar-binar melihat permen yang merupakan gula-gula favoritnya. Dia kemudian mengangguk kuat.
"Mau Ica mau!! Pelmen malshmallow kecukaan Ica!!" Serunya girang.
'Bahkan permen kesukaannya, sama dengan lo, Kak Atur..' Ada sebuah ruang sendu yang bersarang.
"Yaudah, Kakak permisi kalo gitu ya? Jangan lupa dimakan permennya, gak ada racunnya kok.. See you Isa.."
Menyempatkan diri membelai penuh kasih sayang pucuk kepala Gilsha hingga akhirnya dia berdiri buru-buru pergi begitu melihat Hazel selesai membeli sesuatu dan akan balik lagi menuju tempat Gilsha sambil membawa dua cup pop ice ditangannya.
"Isa? Kamu lagi makan apa?"
"Humm? Ica macan pelmen."Mengambil posisi disebelah Gilsha, diletakannya dua cup minuman di space kosong berada persis di pinggirnya.
Ada sebuah garis kerutan bingung yang timbul didahinya mendengar perkataan Gilsha. Perasaan Hazel, dia tidak membelikan anak kecil ini permen, kalau bukan dia lalu siapa yang memberinya?
"Permen? Dari siapa?"
"Tadi ada Kakak ganceng yang beli Ica ini..kayaknya cia olang baik.."
Lekaslah Hazel merebut sisa permen ditangan anak balita tersebut, berjaga-jaga saja, mungkin saja ada racunnya.
Dia meneliti tiga bungkus mini permen marshmallow di telapak tangannya, melihat permen ini tak ada habisnya Hazel dibuat dejavu. Belakangan ini, orang itu sering meneror pikirannya.
Dia mengedarkan pandangan, memeriksa kemungkinan ada orang mencurigakan disekitar sini. Tapi, dia tak menemukan orang yang mencurigakan, hanya ada warga sipil yang berjalan-jalan menikmati alun-alun taman disekitar mereka.
"Isa.. Kakak kan udah pernah pesan sama Isa.. jangan sembarang terima pemberian orang.."
"Tapi Ica gak kenapa-napa tuc? Liat?" Gilsha membuka mulutnya sesaat, memamerkan gula-gula yang hampir lumer di lidahnya. "Ica baik-baik aja bialpun pelmen ini, udah dimuyut, Ica.."
Ada benarnya juga. Hazel seketika termenung, ada sebuah tanda tanya besar yang mengganggu dalam otaknya. Siapa sebenarnya yang memberi Gilsha permen ini?
Terlebih lagi, dia tahu permen favorit Gilsha? Ataukah mungkin hanya kebetulan saja?
*****