My Possessive Boyfriend

My Possessive Boyfriend
MPB•HUKUMAN DAN PELUK PENENANG



"Wait?! Wajah tampan sejagat raya lu, kenapa lagi, Lix?!"


Baru saja dia tiba dihalaman kawasan belakang sekolah, Calix memberengut tak senang mendengar pertanyaaan-pertanyaan tak bermutu yang menyambutnya.


Padahal tujuan awalnya dia kesini mencari ketenangan sebelum bel berbunyi, malah ada dua curut ini disini, hah, mana bisa damai kalau ada mereka?


"Lo berantem lagi? Sama siapa, Calix?!"


Brakk!


Bunyi tas ranselnya yang dia banting keatas lantai gazebo terdengar nyaring, "Tutup mulut kalian, kalo gak mau babak belur di wajah gue nular ke kalian berdua!"


Dengan kompak, Candra dan Farel mengatupkan mulut mereka dari pada ikut babak belur seperti Calix.


Farel menundukkan kepala kembali sibuk dengan ponselnya, sesekali senyam-senyum seperti orang gila terhanyut dalam dunianya sendiri.


Calix dan Candra yang melihatnya pun saling bersitatap, Calix menggerakkan kepalanya menunjuk Farel dengan dagu. "Kenapa dah tuh kunyuk?"


Candra mengedikkan bahunya jujur, tak tahu dia, "Rel? Lo kehabisan obat? Senyam-senyum terus dari tadi, sama persis dengan pasien RSJ."


"Ada deh, kepo!"


"Elah, palingan lagi chattingan sama Ayang kiw! Cielah babang Farelku yang satu ini, udah gede.." Timpal Candra. Farel menepis tangan najis Candra yang menari-nari di atas kepalanya, sengaja menggodanya.


"Motor kesayangan gue gimana? Kalian udah bawa dia ketempat yang semestinya kan?"


"Udah dong! Udah ada di bengkel yang berkualitas, servis disana gak kaleng-kaleng! Sekalian modifikasi transportasi disana, Bisa dijamin motor lu kembali mengkilap seperti buka bungkus!" Candra mengacungkan dua jempol sebagai apresiasi.


"Good job! setelah sekian purnama akhrinya kalian berguna juga jadi temen gue. Istirahat nanti, cus gue traktir di kantin!"


"Wuih! Rezeki mana bisa nolak lah woi!"


Farel yang sedari tadi tak ikut nimbrung sama obrolan mereka, kini berganti memusatkan perhatiannya pada Calix dengan topik lain yang dia lemparkan.


"Lix ngomong-ngomong, gimana lo sama Hazel?"


"Humm? Kenapa gue sama dia?"


"Enggak gue kepo aja sih. Lo beneran suka sama dia, atau main-main doang seperti yang lain? Kita kan kawan nih, seharusnya lo kasih tahu ke kami juga rahasia lo."


Candra mengangguk-anggukkan kepala setuju dengan Farel. "Kalo memang demen mending lo jujur sama kami, janji gak bakal kami ketawain."


Bilangnya begitu, tetapi Candra sudah mengulum bibirnya kedalam sebisa mungkin menahan tawanya agar tak pecah disini.


Seandainya si Calix yang playboy-nya mencapai tingkat dewa, memiliki koleksi wanita yang bertebaran dimana-mana, tiada angin tiada hujan badai angin ribut tiba-tiba bisa ada someone khusus yang mengisi hatinya.


Lucu sekali bukan? Yah! Menurut Candra dan Farel itu bisa dibilang lelucon yang sangat lucu bagi mereka.


Calix termenung sesaat. Suka? Pada gadis sederhana seperti Hazel? Apakah kata semesta?


Benci mengakuinya, tetapi tak bisa dipungkiri, selama ini dia tak suka melihatnya bersama lelaki lain, suka bawa perasaan jika bersamanya, jantungnya kerap kali berdegup tak karuan jika bersama Hazel. Dan dia, tak pernah merasakan itu pada Wanita lain..


Namun--menurut Calix perasaan yang seperti itu tak akan pernah bertahan lama. Kenal-dekat-suka-jadian-cinta-berubah-pertengkaran-putus-patah-asing-terbiasa.


Siklus percintaan bodoh yang paling dibenci oleh Calix. Hubungannya yang tak lama, tidak sepadan dengan lukanya yang awet. Hal itu pula yang membuatnya malas menjalin hubungan serius.


Hati seseorang mudah berubah, mungkin hari ini dia masih suka, memperlakukannya seolah dia adalah tokoh utama dalam cerita hidupnya.


Tetapi esoknya, siapa yang tahu? mungkin saja perasaan istimewa tersebut akan menghilang begitu saja, seperti butiran debu yang tertiup oleh angin.


Calix menatap Candra juga Farel yang masih menunggu jawaban darinya secara bergantian, setelah akhirnya dia melempar gelengan mantap sebagai jawaban mutlak.


"Gak ada sejarahnya bagi gue yang memiliki ribuan cadangan, bisa stay with one girl."


"Lalu? Tindakan lo yang selalu mengamuk setiap Hazel dekat dengan cowok lain, itu maksudnya apa, brother?!"


Calix tersenyum miring. "Kalian pernah denger gak istilah, yang sulit lebih menantang dari pada yang mudah? Dia--beda dari cewek pada umumnya. Selalu menolak, berlagak sok jual mahal dengan gue. Karakternya yang seperti itu--bikin gue penasaran dan berambisi untuk dapetin dia.."


"Kayaknya cewek kayak dia lumayan buat lepasin perjaka gue, gimana menurut kalian?" Imbuhnya mengangkat alisnya, meminta pendapat sesat Candra juga Farel.


"Sinting lu! Lu ada rencana mau menodai anak orang?! Sumpah deh demi pantat uranus, sejauh ini, lebih jauh lagi pemikiran lo!" Jalan pikir Calix benar-benar tak waras.


Calix terkekeh kecil, lebih terkesan--jahat. Dia mengusap-ngusap dagunya, membayangkan selucu apa nanti seandainya yang dalam otak udangnya benar kejadian.


"Lalu setelah gue ambil perawannya, gue bakal mencampakkan dia dan membuat dia mengemis pertanggung jawaban, sekalipun dia menangis darah mengemis sama gue, gue gak bakal mau bertanggung jawab."


"Dia--bakal dicap sebagai jalaang seumur hidupnya! Siapa yang bakal mau dengan barang bekas?! Cuih! Amit-amit sekalipun langit runtuh!"


Bukan. Calix bukan tak waras lagi, tetapi dia telah kehilangan akal sehat! Sifat bajiingannya sudah stadium akhir, tak bisa diselamatkan lagi!


"Otak sama akal sehatnya kayaknya sudah berpulang ke sisi Tuhan" Gumam Farel tak kalah habis pikir dari Candra. Sedikit melirik kearah Calix hanya dalam waktu sejenak sebelum mengakhiri rekaman suara yang dia tangkap sejak tadi.


"Ingat karma bro!"


"Alah! Persetan sama karma! Zaman sekarang masih percaya sama takhayul kaya begituan?! Minggat bro! Bumi bukan tempat yang tepat buat orang kuno kaya lo!"


"Hazel woy ada Hazel!"


Spontan saja Calix menggebrak lantai gazebo disisi kanan dan kiri tubuhnya, pandangannya berkeliaran di sekeliling lingkungan yang sepi guna mencari-cari sang pemilik nama.


"Mana? Mana? Dari kapan?! Apa jangan-jangan dia denger omongan gue barusan?!"


Candra ngakak paling depan. "Prank! Kenak lo Bwahaha! katanya gak suka, tapi kok panik yahahaha!"


"Sialan!"


Dengan sisa-sisa tawanya, Candra mengubah perhatiannya pada Farel yang kini sibuk mengutak-atik benda pipi ditangannya, tanpa berniat ikut nimbrung lagi bersama mereka.


"Ngapain lo?"


Farel tersentak kaget mendapat tepukan dari Candra di bahunya. Nampak sekali gelagatnya terlihat gelagapan. "A-ah? L-lagi chatan lah! Ngapain lagi?!"


...*****...


Lonceng bel berkumandang. Bunyi ini bukan menyimbolkan bel masuk, melainkan bunyi bel yang memanggil totalitas pelajar dari berbagai pelosok SMA Gardenia untuk berkumpul di lapangan outdoor.


Kalian tahu, hari apa hari yang paling menyebalkan bagi para siswa sedunia? Hari itu jatuh pada hari senin. Yup, hari ini adalah harinya. Seluruh murid wajib merealisasikan upacara bendera pada pagi ini.


Berbondong-bondong, satu persatu para murid berhamburan keluar mengisi lapangan. Tak terkecuali Hazel, dia sedang memeriksa atribut memastikan tidak ada yang kelupaan. "Dasi, ada."


Usai meraba seragam dibagian dada, kemudian Hazel lanjut ke bagian kepala. "Topi--" Hazel meraba-raba kepalanya, ada yang janggal. Topi! Dia melupakan topinya!


Disaat dia sudah mengambil barisan paling depan disebabkan postur tubuhnya yang lebih rendah dari yang lain, bisa dilihat bahwa wajah Hazel berubah menjadi pucat.


Ada Bu Septi yang mengawasi ketertiban setiap upacara, jelas yang tak membawa atribut lengkap akan mendapat sanksi.


"Zel! Lo kenapa? Sakit?" Di posisi sampingnya, Kyra meletakkan telapak tangannya di dahi Hazel, sebelahnya lagi yang menganggur dia pakai di dahinya hingga bisa membedakan suhu badan mereka berdua.


"Suhu badan lo normal. Tapi muka lo kelihatan pucat?"


"Ini masalah yang lebih gawat dari pada hidup gue!" Dia sering mengalami amnesia pada hal-hal yang penting.


"Apaan? Serius bener kayaknya."


"Topi gue Ky! Kelupaan dirumah! Padahal gue udah teliti agar gak ada yang tertinggal, tapi topi malah lupa! Huh kebiasaan gue nih, dasar pikun!"


Jika sudah begini, tak ada yang bisa dilakukan oleh Hazel selain menggigit ujung kuku-kukunya panik. Siap-siap saja dieksekusi usai prosesi upacara.


"Loh udah periksa di tas? Jangan-jangan ketinggalan di tas lo."


"Enggak Ky..gue udah sempat periksa tas gue sebelum kesini, karena didalamnya gak ada apa-apa, gue kira topi udah gue pake...gimana ini..?" Celoteh Hazel memelas, ingin menangis saja rasanya.


"Gue belum pernah dihukum sebelum ini. Kira-kira sanksi hukuman gak membawa salah satu perlengkapan apa ya?" Lanjutnya lagi.


Mengetuk-ngetuk jari telunjuk di pipinya, Kyra pun bertutur. "Bersihin kolam renang? Cabut rumput belakang sekolah? Lari keliling lapangan, atau bisa jadi dijemur sambil menghormat kearah tiang bendera, yang intinya, tergantung mood Bu Septi."


Diliriknya anak-anak yang senasib dengannya, barisan mereka di kasih lain oleh Bu Septi karena tak memakai atribut yang lengkap, khusus barisan tempat eksekusi.


Sementara itu, di belakang sana, Calix menerobos deretan barisan, kini berada tepat di belakang orang kedua setelah Hazel. Upacara belum dimulai, masih ramai anak-anak yang lain baru mulai mengambil posisi barisan.


Ditowelnya punggung gadis didepannya, berhasil memancing atensi sang empu, dia membalikan badan, betapa gugupnya kala mendapati kalau orang yang ada dibelakangnya ternyata most wanted disekolah ini.


Gerakan centil, gadis itu menyelipkan rambutnya kebelakang telinga, dia menggigit bibir bawahnya, entah bertujuan menggoda Calix atau menahan rasa gugupnya bercampur malu. "Ada apa, Calix..? Mau tukaran nomor wa ya..?"


Calix mendelik jijik mendengar suaranya yang terkesan di imut-imut kan, apa-apaan nih cewek? Pikirnya ogah-ogahan, pendirian dia memang lemah, lihat yang bening dikit langsung diembat. Tetapi kalau yang ginian dia mundur alon-alon, jijik dia yang ada.


"Minggir!" Tak ada cara lain lagi, akhrinya Calix menyingkirkan dengan cara kasar siswi tersebut, menarik lengannya menggantikannya di tempatnya tadi, membuat sang empu misuh-misuh tak jelas dibelakang sana.


"Kasar banget jadi cowok ish!" Calix tak menghiraukan bahkan siswi tersebut sudah mencak-mencak sendiri.


Pada saat yang sama, Hazel meremas ujung roknya. Dia kian merasa tegang melihat Bu Septi akan kebagian barisan kelas mereka dengan tongkat kayu terkutuk yang sering menemaninya.


Hazel tahan napas, saat Bu Septi telah berada dihadapannya, dari ujung kaki bergulir keatas, mencermati Hazel dengan lamat-lamat, hingga stuck dibagian kepala, "Hazel! Topi mu mana?!"


Menelan saliva kasar, Hazel semakin takut melihat ekspresi horor Bu Septi, dia sudah melayangkan sorot mata melotot galak.


Seolah ingin menelannya mentah-mentah. Bukannya apa, Bu Septi memang maniak dengan kerapihan juga perlengkapan atribut sekolah, jika ada salah satu yang kelupaan memakainya, maka dia akan marah besar.


Menurut Bu Septi, melengkapi atribut sekolah, bagian dari budaya yang diterapkan kala melaksanakan upacara bendera sang saka merah putih.


"I-itu Buk! Hazel--kelupaan!" Di acungkannya dua jari telunjuk dan tengah membentuk V guna meyakinkan Bu Septi yang kelihatan tak percaya sama alasannya. "Suer Buk. Saya gak bohong! Semalam udah Hazel rapikan semua diatas meja dengan seragam saya, tapi--"


"Alah! Alasanmu! Tidak ada bantahan, pokoknya sehabis upacara nanti kau--"


Disaat Hazel merasa jika nasibnya sudah berada diujung tanduk, dia dibuat terkesiap ketika tiba-tiba saja ada gerakan seseorang yang yang memakaikan dia topi.


"Sorry, tadi gue iseng menyembunyikan topi lo." selepas itu, Calix beralih menatap lurus kedepan, yang mana disana sudah ada Bu Septi. "Kalo ada yang dihukum, itu berarti saya bukan Hazel."


"Oh!! Jadi kau lagi yang jadi dalangnya?!" Mengetuk-ngetuk ujung kayu dilantai lapangan, Bu Septi geleng-geleng tak habis pikir. Tidak pernah jerah murid kurang ajar ini, mengganggu ketenangan orang-orang.


"B-bukan Buk! Bukan begitu!!" Hazel menyikut lengan bawah Calix yang sekarang sudah berdiri disisinya. "Lo bilang apaan sih?! Ini kan topi lo bukan topi gue!" bisiknya. Dia juga heran, sejak kapan nih cowok ada dibelakangnya?


Melirik Hazel dengan ujung netra, Calix membalas dengan desisan. "Lo mau dihukum?!"


Lagi pula hukuman yang seperti apalagi yang belum pernah dia alami? Sanksi hukuman bisa dikatakan sudah menjadi makannya sehari-hari, apa salahnya jika hari ini dia kembali mengulangi rutinitasnya?


"Yasudah, ikut saya ke barisan khusus anak-anak tidak menggunakan atribut lengkap! Kenapa juga kau bisa ada dibarisan perempuan hah?! sekarang bukan waktu yang tepat untuk berpacaran."


"Tapi Buk--" tangan Hazel tertahan di udara, gesturnya seolah ingin memberi tahu Bu Septi segala kenyataan yang ada.


Sudut bibirnya terangkat satu, Calix pun lantas membungkuk, berbisik pelan didekat telinga Hazel sebelum pergi menyusul Bu Septi yang sudah lebih dulu mendahuluinya.


"Gak gratis."


Dua kali tepukan dipundaknya, menjadi detik penghabisan dia berdiri disebelah Hazel. Meski pun Calix berniat baik demi dirinya tak mendapat hukuman, bukan berarti harus mengorbankan diri hanya untuk melindunginya, Hazel tidak suka. Ini bukan topinya, melainkan topi Calix.


Dia yang salah, tak sepatutnya dia tinggal diam sementara yang tak bersalah menanggung resikonya, dia yang melupakan topinya, dia juga yang semestinya wajib menanggung resikonya, bukan?


Hazel menggeleng cepat, menepis perkataan Kyra barusan. Dia tak boleh terpengaruh dengan kawan sesatnya ini.


"Gak-Gak! ini salah gue, gak seharusnya orang lain yang menanggung konsekuensinya." Pada akhirnya Hazel memutuskan menyusul Bu Septi dan Calix dengan langkah berlari kecil.


Kyra hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, dia menggumam lirih. "Hazel.. Hazel.. Lo terlalu naif.." Jangan tertipu dengan wajah tenang yang dia tunjukkan, karena dibaliknya dia menyimpan kedua tangannya yang sudah menggumpal sejak awal.


"Buk! Buk!!"


"Apalagi Hazel?! Upacara bendera akan segera dimulai! Sebaiknya kau kembali ke barisan." Bu Septi berkacak pinggang. Geram dia lama-lama menghadapi pasangan ini.


"I-itu Buk--" gerakan perlahan melepas topi dari atas kepalanya, Hazel sedikit melirik Calix. Dia mengangkat benda itu di udara. "Ini--Buk, sebenarnya topi ini milik Calix bukan punya saya.."


Calix sedikit melongo, sudah dilindungi, malah mengklarifikasi ulang, ini cewek maunya apa? Pikirnya tak bisa berword-word


"Sudahlah Hazel... Kalau kau mengatakan itu untuk melindungi Calix hanya karena dia Pacarmu, lebih baik kau segera kembali ke barisan! Ibu tidak ada waktu lebih banyak untuk mendengarkan mu mengibul!"


"Enggak Buk! Saya gak berbohong, ini topi milik Calix. Dia meminjamkan ke saya agar saya tidak kena hukuman."


"Bohong! Dia yang berbohong! Jangan percaya Buk! Itu miliknya, tadi saya menjahili dia! Menyembunyikan topinya di dalam tas saya!" Sepasang kening tebal Calix bertaut tak ramah menyorot pada Hazel, seolah mengatakan, 'Lo apa-apaan sih?!'


"Heh! Jelas-jelas lo kasih ini ke gue pas tadi ada Bu Septi! Dia mau jadi pahlawan kepagian! Saya gak memakai topi ke sekolah Buk, kelupaan dirumah. Ini topi dia."


"Lo gak bisa diajak bekerja sama, apa?! Gue minjemin itu ke lo agar supaya lo gak kepanasan saat upacara sedang berlangsung! Tapi apa yang lo lakukan sekarang?! Lo mau dihukum?!"


Merebut topi yang menjadi bahan argumen mereka, Bu Septi lantas mengacungkan barang tersebut.


"Oh.. Jadi kalian ingin saling melindungi dengan ini.. Ck, ck, ck, kalian baru cocok di bilang pasangan suka dan duka dilalui bersama.. Baiklah, kalau begitu, agar adil kalian berdua sama-sama dihukum saja, saya akan memberikan ganjaran yang cocok khusus pasangan yang lagi dimabuk asmara."


"Lah?! Kok--" Serentak, mereka berdua ingin berkomentar. Baik Hazel maupun Calix tentu saja tak akan terima dengan ini.


"Selesai upacara nanti lari keliling lapangan sampai dua puluh kali, tidak pake protes!" Tegas Bu Septi tidak dapat diganggu gugat. Membuat mata mereka, membola tidak percaya.


...*****...


Napas Hazel tersendat-sendat, langkah kakinya yang awalnya berbalapan berangsur-angsur melambat hingga terhuyung-huyung, oksigen disekitarnya mulai menipis. Pandangannya pun sudah berputar-putar saking penatnya.


Disitu belum batasnya dari siksaan mereka. Masih ada satu lagi, yaitu cuaca yang begitu terik, sensasinya terasa menusuk kulit kepala keduanya, dapat mereka rasakan otak mereka yang mendidih seperti mau meledak.


"Hosh..Hosh..Hosh.."


Menumpukkan kedua tangannya dilutut, Hazel membungkuk dengan dada kempas-kempis mencoba untuk meraup udara habis-habisan. Kalau begini, lama-lama dia mati kehabisan oksigen.


Calix yang menyadari Hazel berhenti pun, memundurkan langkah dengan gerakan kaki berayun, jalan ditempat disamping Hazel. "Don't give up Azel!! Tinggal lima putaran lagi!"


Tinggal lima putaran?! Setengah putaran saja, Hazel yakin, dia akan memuntahkan seluruh isi perutnya. Selepas menyeka peluh di pelipisnya, tangan Hazel teracung, "Gue udah gak mampu!!"


Kalau tahu begini, alangkah baiknya, dia tidak mengembalikan topi Calix, pasti sekarang dia sudah berleha-leha di dalam kelas, tanpa berlari-larian mengitari lapangan seluas samudera. Hazel begitu menyesalinya didalam hati.


Ikut menghentikan kegiatannya jalan ditempat, Calix menarik sebelah lengannya memaksa Hazel untuk menegakkan tubuhnya.


"Siapa yang sok-sokan ngotot pengen nanggung kesalahan sendiri hmm? Udah dibantuin, malah jatuhin sendiri ke jurang neraka."


"Ya mana tahu hukumannya lari kelilingan lapangan kaya gini! Masih mending cabut rumput, jemur sambil menghormat ke tiang bendera, dan lain-lain sebagainya."


"Masih banyak hukuman lain, tapi kenapa Bu Septi setega ini menghukum lari keliling lapangan sampai dua puluh kali putaran pula!!" Mengacak kasar surainya, Hazel merasa frustasi sekaligus marah entah pada siapa.


Kemudian menghentak-hentakkan kakinya diatas lapangan, dia menjadi emosi, tetapi dia tak tahu mau melampiaskannya pada siapa. Alhasil, dia hanya ingin menangis saja sekencang-kencangnya.


"Yaudah kalo gitu gak ada jalan lain, selain menyelesaikan konsekuensinya!"


"Sekalipun lo mah bayar gue sampe puluhan juta, kalo gue bilang udah gak mampu, tetap gue bakal menyerah!"


"Ck, lu benar-benar beban." Jangan dengarkan gerutunya, karena biar pun demikian, setelah memakaikan topinya di kepala Hazel, tak ayal dia berjongkok dihadapan Hazel berniat membawanya kedalam gendongan.


Hazel menatapnya tak paham. Ujung sepatunya menyentuh seragam putih Calix, dia memberikan tendangan pelan-pelan saja di punggungnya agar tidak memicu amarah Calix. "Ngapain lo?"


"Nangkep kodok. Ya, gendong lu lah! Lo mau kehabisan napas disini?! Yaudah--"


"Eh--jangan dong! Gue gak mampu lagi lari, kaki gue udah kebas semua."


"Yaudah sini, gua gendong kalo gitu."


Patuh, Hazel naik ke punggung Calix, setelahnya lelaki itu berdiri mulai mengayunkan kaki dengan membawa beban di punggungnya. Kini Hazel bisa menelusuri lapangan tanpa menguras tenaga lagi berkatnya.


Calix pun berjalan lebih santai dari pada yang tadi berlari. "Ringan banget lu Zel."


"Gue ringan berarti dosa gua gak banyak, biasa badan yang berat itu berat di dosa. Dari pada itu, seumpama kalo gue berat, lo juga yang setengah mati gendong gue."


"Andai saja lo bersedia hidup bareng gue, gue bakal kasih lo makan terus biar gak ringan kaya gini. Gendut juga gapapa. Malahan enak dan anget dipeluk."


Otak Calix sebenarnya memiliki wawasan luas, salahnya hanya luas dengan wisata masa depannya dan Hazel kelak. Kepalanya mendapat hadiah tabokan dari Hazel dengan tangan mungilnya. "Jangan mulai ngaco. Sekolah aja belum lulus."


"Berarti kalo udah lulus lo mau?"


"Ya gak lah! Gini-gini gue juga milih cowok untuk diajak habisin sisa hidup bersama!"


"Emang gue kurang apa lagi Zel? Soal fisik dan wajah, kalo dibandingkan sama seluruh cowok-cowok disekolah ini, gue satu-satunya mencapai paling atas rata-rata."


"Harta juga gue gak kekurangan, malahan tumpah-tumpah. Selesai sekolah pasti gue bakal bantuin Papi ngurus perusahaan sambil kuliah. Gue juga bakal bisa ngehasilin duit dengan jerih payah gue sendiri kalo gitu kan?"


"Lo mau tahu lo kurangnya apa?"


"Apaan?" Sedikit menolehkan kepala pada Hazel, Calix penasaran, dia yang seperfect ini, apa sebenarnya kekurangan yang dia miliki.


"Kurang asem! Lo cowok ter-fuckboy yang gue kenal! Kalo di dunia ini mengadakan ajang kompetisi kategori cowok bajiingan, gue yakin piala dan medali lo udah berjejer."


"Kalo gue pensi jadi cowok playboy, lo mau nikah sama gue?"


"Gak bisa dibilang mau juga. Tapi masih gue pertimbangkan."


"Idih, pede banget lu gue bakal insyaf hanya gara-gara cewek kaya lu! Kayaknya perlakuan gue selama ini buat lo jadi besar kepala."


Hazel bungkam. Dia bukannya memiliki kepercayaan diri setinggi langit seperti yang ditudingkan oleh Calix, hanya saja, kalimat Calix menurunkan harga dirinya.


Entah kenapa juga dadanya terasa bergemuruh. Ada gumpalan yang menggerogoti didalam sana. Sesak.. dia tidak ingin mendengarnya lagi, namun Calix tidak kunjung menghentikan ucapannya.


"Gue peringati baik-baik, sadar diri lebih baik. Lo itu cuma salah satu dari sekian banyaknya wanita yang gue miliki, jangan ngerasa spesial, lo bisa gue buang sewaktu-waktu gue udah kehilangan minat."


Cukup! Hazel turun dari gendongan Calix tanpa izin, "Udah cukup ngomongnya?" Aura Hazel berubah seratus sembilan puluh tujuh derajat menjadi sedingin Antartika. Detik ini mereka berdua saling berhadapan satu sama lain.


Tangannya terangkat sontak Hazel menekan jari telunjuknya di dada Calix. "Kalo memang gue hanya mainan kaya yang lainnya. Yaudah, kenapa gak putus aja sekalian? Lo kira selama ini gue pacaran sama lo bangga? Gak Lix! Justru gue malu punya pacar seperti sampaah kaya lo!"


Selepas melontarkan isi pikirannya, Hazel membanting topi yang dipinjamkan Calix padanya keatas lapangan. Dia kemudian melangkah tertatih-tatih mendahului Calix yang kini termangu, seumur-umur baru kali ini dia ditampar oleh kata-kata oleh seorang Perempuan.


Tersadar kemudian Calix mengejar, "Zel! Lo berani sama gue hah?! Lo bilang apa tadi?! Gue, cowok sampaah?!"


Dia berhasil menangkap pergelangan tangannya, walau langsung dihempaskan dengan kasar hingga cengkeramannya terlepas dengan sendirinya.


"Iya! Kenapa?! Gak terima hah?! Seharusnya lo sadar diri! Kata-kata Ronan saat itu memang benar adanya!"


"Oh... Jadi, lo hapalin kalimat-kalimat gak bermutu tadi dari cowok lain hah?! Lo bisa gak sih jadi cewek jangan ganjen?! Lo kira bagus dijuluki cewek sasimo yang ini iya, yang itu juga oke. Embat aja semua kalo perlu!"


"Heh?" Hazel tersenyum miring, "Lo lagi ngatain diri sendiri? Coba bercermin, Calix.. lo lagi memutar balikan fakta. Lo yang lebih pantas dicap sebagai sasimo.."


Calix memberikan gelengan pelan. "Kita berdua jelas berbeda. Gue cowok, lu cewek. Sebanyak apapun cewek dekat sama gue dan sampai mana pun tahap gue berhubungan intim sama mereka, gue gak bakal berbekas Zel.. Gue gak akan rugi sedikit pun. Lain halnya dengan lo. Lo cewek. Spesies yang memiliki kehormatan tinggi yang seharusnya dijaga dengan baik-baik."


"Kehormatan, huh?" Desisnya. Matanya memanas tiba-tiba. Lantas, apa kabar dengan kondisinya?


Hazel benar-benar tak mengerti, untaian kalimat beserta tindakan Calix selama ini, benar-benar tak selaras. Jika tahu perbuatan liarnya merugikan kaum Wanita, tidak seharusnya dia merusak mereka.


Hazel memilih berputar badan, dari pada nanti Calix melihatnya meneteskan air mata yang tak dapat lagi dia bendung di pelupuk. Dia, undur diri. Masa bodo sama hukuman, dia sudah sangat lelah.


Itu pun belum dihitung dengan tumit kakinya yang sepertinya terkelupas akibat digesek sepatunya sendiri. Dia muak dengan semuanya.


"Gue tekanin ke lo! Lo itu cuma milik gue! Mainan gue! Hanya gue yang bisa nyentuh dan menyakiti lo!" Volume suara bariton Calix naik beberapa oktaf agar dapat di dengar oleh Hazel yang sudah memunggunginya.


"Terserah! Lo benar-benar egois!" Lebih baik mengalah dari pada terus berdebat dan berpotensi menguras emosi.


Dia hendak berlalu dari sana. Dia tidak tahu jika Calix mengejar dari belakang sana, langkah Hazel kembali tercegah masih di dalam lingkup lapangan kala pergelangan tangannya dicekal lagi oleh Calix.


"Lepas.." Lirih Hazel.


"Gak, sebelum lo mau bilang kalo lo gak bakal main-main dengan cowok lain dibelakang gue."


"Lepas!" Terbongkar sudah wajah manisnya yang dihiasi embun. Hazel sudah mencoba menghempaskan tangan Calix sekuat tenaga. Tapi kali ini belenggunya lebih kencang dari yang tadi.


Calix tertegun menemukan Hazel ternyata sampai menitikkan air mata. Apakah tadi dia sudah keterlaluan? "Lo--kenapa nangis?"


"Gak usah pedulikan gue! Air mata gue, bukan urusan lo! Biar gue sendiri yang handle!"


Memakai tangannya yang bebas, Hazel menyeka air matanya cepat-cepat, walaupun sudah terlanjur dilihat oleh Calix. Dia, tak ingin kelihatan lemah pada siapapun, terutama Calix.


"Beritahu ke gue Zel! Apa yang bikin lo nangis gini?! Apakah gara-gara perkataan gue barusan, Iya?!"


Hazel menghentakkan lilitan tangan Calix. Percuma, tak ada efeknya. "Gue udah bilang, gak usah pedulikan gue!"


Tubuh mungil Hazel tertarik, di hentakkan oleh Calix kedalam dekapannya. Inginnya Calix tidak peduli, inginnya dia tidak acuh, tetapi logika dan hatinya tidak selaras dan pada akhirnya membawa Hazel kedalam pelukannya untuk menenangkan.


Dia tak menyangka jika Hazel bisa menangis seperti ini. Bahkan, sekarang isak tangisnya tambah tergugu. Dengan bahu bergetar pelan, Hazel mencengkram baju seragam putih Calix dibagian dada. Disana kemungkinan sudah basah akan cairan bening kristal.


Patut disyukuri jika kini di lapangan ini hanya ada mereka berdua. Anak-anak yang lain masih melaksanakan prosesi belajar-mengajar.


Pada sadarnya, Calix itu suka melukai perasaan perempuan, tetapi percaya atau tidak, dibalik itu, titik lemahnya adalah menyaksikan perempuan menangis dihadapannya langsung seperti ini.


Dia, merasa seperti telah membuat menangis dua perempuan yang paling berharga dalam hidupnya, siapa lagi jika bukan Mami dan Adiknya.


Calix mengelus belakang kepala Hazel. Dia kurang tahu cara instan menghibur perempuan yang sedang menangis. Oleh sebab itu, dia melakukan apa adanya saja.


"Udah sialan! Jangan nangis lagi, sorry udah bentak-bentak lo kaya tadi. Gue gak tahu kalo lo jadi cengeng kaya gini. Biasanya, lo gak kayak gini."


Entahlah, Hazel pun tidak paham dengan dirinya sendiri. Mungkin saja faktor lelah berlari, tumitnya sakit.


Hatinya sensitif mendengar rangkaian kata Calix menggunakan nada suara yang cukup tinggi pula, akan tetapi diantara itu semua, yang paling berdampak besar pada batinnya, yakni mengungkit mengenai kehormatan.


Dari koridor sana, Kyra yang kebetulan akan pergi ke toilet, melihat seluruh interaksi mereka berdua. Dia tak mendengar lebih jelas percekcokan antara mereka.


Tetapi, dia lihat semua, bagaimana cara Calix menenangkan Hazel yang sedang menangis dengan sebuah pelukan.


"Jahat kah gue, yang selalu berharap dan berusaha memisahkan kalian berdua..?


*****


Sebenarnya mau lo apa sih, Lix..?🙄


Btw, Kyra ini sangat sus gak sih?