My Possessive Boyfriend

My Possessive Boyfriend
MPB•UNTUK SEMESTANYA



"Eh Tante? Kalian udah mau berangkat?"


Hazel mengubah haluan fokusnya dari bunga-bunga yang dia siram kearah Zayna, Abian dan Gilsha yang keluar dari pagar rumah mereka.


Tidak dengan tangan kosong tentunya, Abian membawa satu koper yang berukuran cukup besar sebagai bekal mereka pergi keluar negeri, yaitu ke negera Malaysia.


Abian--Suami Zayna akan melakukan perjalanan bisnis. Ada sebuah project besar yang diserahkan oleh pimpinan perusahaan ditempatnya bekerja. Dia tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan yang dipercayakan oleh atasannya.


Dan dia juga tidak bisa berpisah dari Istri dan anaknya walau hanya beberapa minggu. Oleh sebabnya, Abian memutuskan untuk membawa kedua anggota keluarganya.


"Iya nih Zel. Abi gak bisa mengulur waktu lebih lama karena ini adalah pekerjaan. Ghea sama Jayden lagi dimana?"


"Lagi di dalem."


"Kalau begitu, titip salam sama mereka yah. Kami gak bisa pamit kepada mereka secara langsung karena waktu penerbangan kami udah mepet."


Gilsha turun dari gendongan Mamanya dan memberikan boneka yang sedang dia pegang kepada Zayna untuk diambil alih, "Mah.. Ica pengen pamic cama Kak Acel Mah.."


"Yaudah sana. Jangan lama-lama tapi. Kita udah gak punya banyak waktu lagi."


"Oce Mah!" Gilsha berlari agak lunglai menuju Hazel yang ada diseberang rumahnya, hingga kaki mungil dan pendeknya itulah yang membawanya tiba didekat Hazel, "Kak Acel.. Ica pamit, nanti kalo Ica pulang, Ica bawa oleh-oleh. Kak Acel mau oleh-oleh apa?"


Mengetuk-ngetuk telunjuknya dipipi, Hazel dibuat berpikir untuk beberapa saat sebelum dia benar-benar menemukan keinginannya. "Hazel pengen cokelat."


"Ocey! Tunggu Ica pulang ya? Ica akan bawakan cokelat buanyaak buat Kak Acel!" Seru Gilsha lalu kembali pada kedua orang tuanya. Hazel hanya bisa tersenyum melihatnya. Dia suka melihat tingkah Gilsha yang aktif dan penuh energik.


"Hazel, kami berangkat dulu yah? Jangan lupa sampaikan salam kami untuk kedua orang tuamu dan Jayden." Kali ini, Abian yang mengingatkan, dibalas oleh Hazel dengan lingkaran jari jempol dan telunjuknya membentuk O untuk mengkonfirmasi.


"Oke Paman."


"Dada Kak Acel!! Tunggu Ica pulang yah?!"


Hazel membalas lambaian pamitan Gilsha yang sedang digendong oleh Zayna, bibirnya mengulas senyum sendu. Dia selalu sedih apabila Gilsha akan jauh lagi dari pandangannya, dan agaknya dia akan dibuat rindu lagi untuk beberapa minggu kedepan.


Komunikasi virtual yang mereka lakukan jika sedang terpisah jauh, tidak dapat mengurangi kerinduan Hazel. Terlebih, tujuan mereka kali ini luar negeri, lebih jauh lagi dari jangkauannya.


...*****...


Atensi Hazel yang akan duduk di kursi meja rias terdistraksi total kearah sebuah amplop yang dia letakkan didekat sebuah handbody. Niatnya yang akan merias diri, jadi tertunda karenanya. Lalu saat bokongnya menyentuh kursi, Hazel mengutak-atik amplop berwarna cokelat dengan lipatan rapi.


Dari bentuknya saja sudah dapat diketahui bahwa ini amplop surat. Namun, yang menjadi tanda tanya didalam benaknya, siapa yang mengiriminya ini, mengapa harus melalui perantara? "Kira-kira ini surat apa ya..? Dan, dari siapa?" Tiga menit dia hanya mengamati amplop itu, dengan rasa penasaran.


Rega berkata bahwa dia harus menyiapkan tissue sebelum membacanya. Sampai akhir rasa penasaran yang kian besar mendorongnya membuka amplop tersebut.


Kemudian setelahnya, dia membuka gulungan secarik kertas yang dia keluarkan dari dalam amplop itu dan menampilkan deretan abjad merangkai sebuah lengkara yang menghias pada kertas putih.


Bocilnya Atur yang doyan merengek kalau kemauannya tidak dituruti pasti sudah gede sekarang. Arghhh, aku pengen banget lihat kamu El. Rindu ini benar-benar menyiksaku. Setiap aku merindukanmu, aku selalu ingat, bahwa kamu telah membenciku. Dan saat kamu membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak ada di alam yang sama denganmu.


Berbekal keoptimisan yang aku teguhkan dalam hati bahwa ada kemungkinan aku akan sembuh suatu hari nanti. Selama jauh darimu, aku berjuang keras untuk sembuh.


Banyak impian yang ingin aku wujudkan bersamamu. Namun, seiring berjalannya waktu, aku semakin ragu jika kelak aku bisa bertahan hingga semesta kembali mempertemukan kita, apalagi mewujudkan impian yang aku susun.


Keoptimisan ku mulai goyah, digantikan rasa pesimis kala rasa sakit yang menderaku lama-kelamaan makin terasa perih. Sakit, sakit banget El... Sehingga setiap rasa sakit ini menggerogoti ku, aku merasa ingin sekali menyerah. Aku, tidak kuat lagi untuk bertahan lebih lama lagi.


Aku berpikir, mungkin hari dimana garis takdir membuat kita saling berjumpa tidak akan pernah ada hingga aku menulis surat ini sebagai bentuk minta maaf.


Padahal masih panjang lebar bahkan mungkin tidak ada akhrinya sesuatu yang ingin aku sampaikan melalui tinta hitam yang tertulis pada secarik kertas ini. Sayangnya, kondisiku sudah tidak memiliki tenaga sekuat itu, tanganku hampir tidak bisa aku pakai. Seluruh tubuhku sedikit demi sedikit mulai rapuh dan mati rasa. Penyakit kanker ku sudah menjalar ke organ-organ lain dalam tubuhku.


Jangan nangis. Cantiknya Atur gak boleh menangisi cowok brengsek seperti aku. Penyakit ini mungkin karma yang diberikan oleh Tuhan atas luka hebat yang sudah aku torehkan untukmu.


Dada Hazel bergemuruh hebat ketika membacanya, bibirnya bergetar, tanpa bisa tertahankan, air mata pedihnya lolos begitu saja. Membasahi permukaan kertas yang dia bawa. "Bagaimana caranya aku gak nangis, Kak Atur..? Kamu memang sumber luka, tapi kamu juga pernah membuat aku tertawa hingga lupa dengan apa itu luka. Ini terlalu menyesakkan." Lirihnya pilu.


Hazel merasa sudah tidak mampu membaca bait kata berikut yang tertulis disana. Namun, dalam hati yang dirundung rasa sedih, dia tetap memberanikan diri untuk tetap membacanya.


Satu hal yang ingin aku sampaikan teruntuk mu El..


Kamu, jangan jadi orang baik yah? Jadilah orang ikhlas. Karena orang baik belum tentu ikhlas. Orang ikhlas sudah tentu baik.


Jangan menyerah yah? Harus bersyukur dan belajar lebih dewasa lagi. Jangan males-males, rendah hati, jangan suka nangis lagi karena orang yang sering bikin kamu nangis akan segera menghilang dari muka bumi. Be your self, El harus kuat.


Cape? Istirahat sebentar, jangan menyerah.


Ah iya, ada satu lagi. Ada anugerah terindah dari Tuhan diantara kita berdua. Aku titip dia padamu El. Pelihara dan sayangi dia dengan sebaik-baiknya. Kamu boleh membenciku sebesar yang kamu mau. Tapi, tolong jangan benci dia, dia gak salah. Aku yang salah. Maka dari itu, kalau kamu mau membenci dan marah. Marah lah padaku, aku siap menanggung seluruh kebencianmu meskipun aku sudah ada di dimensi yang berbeda.


Terimakasih sudah hadir dan membawa warna kebahagiaan dalam hidupku. Dan juga maaf, karena sudah memberikan luka hebat untukmu.


Anggap saja aku hanyalah figuran yang berperan tidak penting dalam hidupmu. Berbahagialah semestaku.


^^^Dari Fatur untuk semestanya sekaligus cinta terakhirnya, Hazel Caliandra Marcena.^^^


Isak tangis Hazel tambah tergugu, pinggiran kertas itu menjadi kusut dia remas tanpa disadarinya dan membawa benda lunak nan tipis itu kedalam dekapannya.


Ada sebuah rasa bersalah yang bergelut dalam relung hatinya, karena Hazel merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling terluka selama ini.


Padahal, Fatur juga jauh lebih terluka dari pada dirinya. Dia membuat Hazel menderita, hanya karena sebuah dendam yang tercipta akibat prasangka salahnya terhadap Hazel dan Mamanya bahwa telah merenggut kebahagiaannya dan Rega tanpa tahu fakta dibaliknya.


"Kak Atur.. Maaf, maaf aku gak ada di sampingmu saat kamu berjuang dalam rasa sakit..."


*****