My Possessive Boyfriend

My Possessive Boyfriend
MPB•HAZEL AND REGA MOMENT



Berdiri terpatri disisi jembatan besar, dengan tangan bertumpu pada besi pembatas jembatan, pandangan Hazel agak mendongak, mengamati langit cerah yang akan menjelang petang hari.


Hazel enggan pulang. Matanya terpejam menikmati kedamaian. Tidak dengan isi kepalanya yang ribut. 'Kali ini serius permintaanku, Tuhan.. matikan lah hatiku untuk mencintai ciptaan mu, kecuali pada orang yang memang nantinya akan di takdirkan untuk ku.'


Kelopak matanya terbuka usai menyematkan sebuah do'a dalam batin. Dia ingin mengabiskan waktunya disini. Tenang dan damai, hanya ditemani riuh kendaraan kesana-kemari dan angin sejuk serta halus menerpa wajahnya.


Mengubah arah tatapannya kebawah, ada hamparan air deras dibawah sana. Disini, Hazel merasakan ketenangan. Terkadang, diam adalah cara paling ampuh menangani masalah yang buntu, tidak ada jalan keluar. Disini juga tidak ada yang membuatnya muak.


Tiba-tiba dia ada di fase diam saja, mencoba menelaah apa yang terjadi, mencoba memastikan ini sebenarnya kenapa? Tapi jawaban yang dia dapat hanya 'Kemarin perasaan baik-baik saja, sekarang kenapa gini?'


Tidak lama kemudian, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang ikut berdiri berdampingan dengannya. "Ngapain disini? Ini sudah hampir sore, gak pulang?" Sontak saja, Hazel memalingkan wajahnya kesamping, menemukan Rega disana.


"Ah, Rega? Ngapain lo disini?"


"Seharusnya gue yang tanya begitu. Dari tadi gue udah mengawas dari seberang jalan sana, apakah lo akan segara pulang atau masih berlama-lama disini. Eh ternyata sampai sekarang masih ada disini. Jadi, gue memutuskan untuk menyamperi lo aja."


"Lo penguntit ya? Atau stalker?"


"Anggap saja begitu. Gue gak tega lihat kurcaci berdiri sendiri dipinggir jembatan, nanti di karungin orang terus melemparnya ke laut, gak lucu kan kalo itu kejadian?"


"Gue punya kaki bisa lari."


"Dengan kaki pendek lo itu, mudah sekali untuk tertangkap sama penculik."


Hazel menyungut, ini lagi satu penghancur moodnya. Dia kembali memutar kepala, menerawang kedepan, memilih tidak meladeni lagi lelaki disampingnya. "Cinta itu anjiing, hubungan itu gak ada, perasaan itu sampah, setia itu tai." Ungkapnya secara mendadak. Entahlah, itu sebagian unek-uneknya.


"Tapi kembali lagi, berani mencintai berarti berani mengambil risiko. Apapun itu." Untuk yang kesekian kali Hazel menghela napas.


Dia menoleh, memusatkan perhatian pada Rega, keningnya menekuk samar. Tangannya secara otomatis terangkat, singgah disebelah rahang tegas Rega. "Vibes lo sekarang dan waktu di aula seperti Fatur. Tatapan lo seperti tatapannya. Hangat dan lembut. Kadang gue ngerasa lo orang lain tapi kadang juga gue ngerasa lo familiar. Sebenarnya lo siapa?"


Hanya memberikan senyum simpul, Rega menyentuh punggung tangan Hazel. Dengan sebuah pertanyaan yang tak nyambung yang dia lemparkan. "Lo mau kita memenuhi wishlist lo bersama dengan Kak Atur?"


"Lo pernah bilang mau ke pantai bareng Kak Atur liat sunset kan? Ke taman bermain naik wahana bareng Kak Atur.. gimana kita wujudkan hari ini wishlist lo itu? Tapi sayangnya dengan raga yang berbeda gapapa kan?"


Sejenak, Hazel mempertimbangkan. Sepertinya boleh juga untuk healing dari fase stresnya. Barangkali kekalutan didalam hatinya bisa sedikit teratasi.


Lagi pula keluarganya tidak akan risau lagi mengira jika Hazel belum pulang, prasangka mereka berarti dirinya bersama dengan Calix.


Karena itu kemudian dia memberikan anggukan setuju sebagai tanggapan. 'Raga saja yang beda, jiwanya tetap sama, El..' Tanpa Hazel sadari, sorot mata Rega berkilat sebuah ruang sendu yang mendalam.


...*****...


Hazel berlari menuju ujung dermaga, merentangkan tangannya lebar-lebar menyambut semilir angin yang bertiup kencang, deburan ombak beradu dengan bebatuan mengalun merdu, memanjakan indera pendengaran.


Kelopak matanya tertutup menghirup aroma laut disekelilingnya. Terakhir kali dia melihat laut sudah lama sekali sebelum ini.


Dia berbalik arah, melihat lelaki tampan yang melangkah kearahnya dengan menggenggam sebuah plastik kresek berisi jajanan cireng yang mereka beli dipinggir pantai sebelum terus ke dermaga ini.


"Rega!! Buruan sini!" Desaknya melambaikan tangannya membuat Rega mencepatkan langkahnya.


Dia tersenyum sesaat tiba dihadapan Hazel, menyerahkan sekantong cireng yang diambil oleh Hazel dengan senang hati.


Rega mengacak-ngacak pelan rambutnya sebelum mereka berdua mengambil posisi duduk diujung dermaga menanti detik-detik sang baskara terbenam digaris cakrawala menciptakan swastamita.


Kaki-kakinya berayun-ayun di udara. Sesekali mengunyah cireng yang dia masukan kedalam mulutnya. Rega geleng-geleng kepala. "Lo kayak baru pertama kali lihat sunset seumur hidup."


"Ih serius! Gue udah lama gak lihat senja secara langsung. Jadi, pas sekalinya lihat, langsung kek--berlebihan.."


Hazel menunjukkan cengiran khasnya. Memamerkan deretan gigi putihnya. Meletakkan makanan yang ada tangannya disamping Rega, dia berdiri kemudian berteriak mencurahkan isi hatinya.


"SENJA!!! KAPAN GUE BAHAGIA?!! KAPAN GUE MENEMUKAN ORANG YANG BENER-BENER TULUS SEPERTI KAK ATUR!! TOLONG, SAMPAIKAN SALAM RINDUKU PADA KAK ATUR!! KATAKAN PADANYA KALAU ADA SOSOK GADIS KECIL YANG MERINDUKANNYA DI DUNIA INI!!"


Untuk yang kedua kalinya, tatapan lelaki itu berubah menjadi lemah dan teduh. 'I miss you too, semestaku..'


...*****...


Sesudah dari pantai menyaksikan swastamita, perjalanan Rega dan Hazel belum usai disana, langit mulai gelap, tanpa memikirkan waktu mereka lanjut ke taman bermain. Menaiki wahana-wahana disana.


Yang pertama-tama mereka menaiki sky swinger. Sekarang mereka menaiki bianglala, lingkaran besar itu bergulir hingga ketitik tertinggi.


Hazel bisa melihat pemandangan sekitar atau bahkan seluruh kota dari atas ketinggian, lautan bangunan yang berkelap-kelip, terlihat begitu indah, Hazel sampai lupa berkedip.


Lain halnya dengan lelaki yang sedang duduk di arah berlawanan dengannya. Sangat intens dalam memandangnya. "Lo suka?"


"Umm? Suka. Suka banget. Makasih Kak Atur--Ah? Rega. Maksud gue Rega." Hazel cepat mengoreksi panggilannya.


Tidak tahu mengapa, dia merasa sedang bersama dengan Fatur. Sehingga membuatnya tanpa sadar memanggil Rega dengan nama lain.


Rega menghembuskan napas lega. "Baguslah kalo lo suka. Ini mungkin akan jadi pertemuan terakhir kita."


"Terakhir? Maksudnya? Lo mau pulkam?"


Senyum tipis terbit. Memalingkan atensi dari Hazel kearah bawah yang menyuguhkan pemandangan gemerlapnya kota. Kedua tangannya saling menggenggam.


"Seharian ini lo kelihatan bahagia. Bersenang-senang selama bersama gue. Tapi, terkadang gue gak sengaja memergoki lo terdiam dengan tatapan kosong, saat itu pikiran lo melayang kearah lain kan? Raga lo lagi bareng gue, tapi jiwa lo berkelana kepada cowok itu. Apakah gue salah?"


"Ah? Sekentara itu yah gue mikirin dia?" Tidak bisa Hazel pungkiri meskipun dia bersenang-senang dengan Rega, Calix tetap menjadi pusat pikirannya.


"Gue gak bisa membaca perasaan lo, El. Karena perasaan gak memiliki bentuk fisik. Tapi, mata lo gak bisa bohong." Hening menguasai suasana. Beberapa detik dalam situasi itu, Hazel pun tidak bisa menepisnya karena tutur kata Rega sepenuhnya benar.


Pusaran waktu tetap bergulir, seiring dengan lingkaran besar bianglala yang masih terus berputar setelah berhenti dipuncak.


Hanya ada hiruk-pikuk keramaian dibawah sana yang mendominasi suasana diantara mereka berdua sampai akhirnya terdengarlah suara berat Rega.


"Sebanyak-banyaknya cowok didunia ini Kenapa harus dia, El? Kenapa gak orang lain yang lebih baik dari dia? Lo paling kenal bahwa Calix itu cowok bajiingan. Dia, gak pantes buat lo."


Hazel menggeleng pelan sebagai balasan. "Gue gak tahu Ga. Logika dan hati itu beda. Gue bisa menyimpang dari logika gue dengan kata-kata yang terlontar dari mulut mau pun tindakan yang gak sejalan dengan akal sehat,"


"Tapi, gue gak bisa mengontrol hati gue. Seandainya bisa, gue bakalan lebih milih orang yang lebih baik. Sayangnya, hati gue hanya terpusat ke dia. Dia, udah berhasil buat hati gue berlabuh di titik itu, terlepas dari luka yang dia goreskan. Rasa sakit itu, enggak membuat perasaan gue memudar. Gue idiot banget yah?"


"Bukan lo yang idiot. Kalo ada orang yang paling idiot, berarti cowok itu. Dia, telah kehilangan cewek sesempurna lo El.. Dia, orang paling bego sejagat raya."


*****