My Possessive Boyfriend

My Possessive Boyfriend
MPB•BLACK CARD



Akhirnya Hazel bisa merasa lebih nyaman setelah mengenakan sesuatu yang dibelikan oleh Calix. Perjamuan makan-makan telah selesai lima menit yang lalu, malam sudah semakin larut, kini dilanjutkan dengan pesta barbeque ditepi kolam.


Hazel dan Kyra kembali ke tempat semula setelah memanggang beberapa sosis dan daging ditemani beberapa jenis sayuran buah untuk para lelaki. Farel, Candra, Kyra, Calix dan Hazel, mereka berlima kini berkumpul di satu tempat yang sama.


Duduk dibangku yang tersedia dipinggir kolam, dengan Farel yang sedang memetik gitar mengiringi nyanyian ria mereka. Tepukan dari masing-masing sepasang tangan mereka pun turut mewarnai suasana.


"Ah su lama suka dia!"


"De yang manis pipi congka"


"Malele maley mama yo"


"Sa ni malo malo"


"Pandangan pertama sa su dapa lia"


"Mo aja kenalan karna ada suka"


"Ternyata ko nama HAZEL, AZEL AZEL O!" Calix sengaja mengeraskan volume suaranya tepat dilirik yang dia ciptakan sendiri. Entah sejak kapan nama Tania menjadi Hazel. Itu mungkin lirik versinya sendiri. Jangan ditiru.


Calix terkekeh lucu selepasnya, melirik Hazel yang ada disampingnya, dia sedang geleng-geleng kepala lalu tidak urung menyuapkan sosis ke dalam mulut Calix secara kasar. Saking kasarnya hampir saja Calix memuntahkan kembali makanan itu.


Hazel tidak bisa bernapas ketika hidungnya dijepit oleh Calix membalas perlakuan Hazel. Yang lain masih pada melantunkan lagu, sementara dia malah memilih untuk mengusili pacarnya.


Bicara Hazel menjadi tidak jelas olehnya. "Lngwix!! Lwngpass!!"


"Ngomong apa sih hmm?" Tuhkan jiwa setannya bangkit ulang, padahal tadi bersikap seperti malaikat sampai rela membelikan keperluannya, dan sekarang dia kembali ke setelan pabrik. Ini baru karakteristik aslinya. Si pembawa bencana untuk Hazel.


Bibir Hazel jadi monyong seperti bebek kala Calix menekan kedua pipinya dengan satu tangan, "Ish, Calix! Udah, ah! Jangan usil jadi orang!"


Lagi dan lagi Calix tertawa lebih kencang, membuat Hazel kesal adalah hobi barunya atau sudah dari dulu, nyaris setiap saat dia membuat Hazel tertekan akan tingkah randomnya, Calix pun merasa Hazel adalah gadis paling hebat yang mampu bertahan dengan dirinya yang super duper menyebalkan ini.


Bangku mereka berdua terpisah. Namun, jaraknya sangat dekat. Dan karena itulah, ditengah kunyahannya Calix dapat bermanja sedikit menyandarkan sisi kepalanya di bahu Hazel yang sesekali menyuapkan sosis ke mulutnya.


"Zel.. Azel..."


"Humm?" Bertentangan dengan dirinya yang terlihat biasa saja dari luar, didalam sana Hazel sudah tidak karuan, bulu kuduknya meremang bukan main kala desiran napas Calix menerpa kulitnya.


"GsUjEdShAjYkAvNpGsLyO." Oke, sekarang Calix sedang memakai bahasa alien. Hanya orang-orang tertentu saja yang mengerti, Hazel tidak termasuk dalam kategori orang-orang itu.


"Ngomong apa sih?"


Kyra hanya bisa mengulas senyum minim melihat kelengketan mereka berdua, dia menunduk hingga tatapannya terpaku pada sebuah foto potretan di layar ponselnya dan sebuah voice note diWhatsApp.


'Gue akan mengurungkan niat gue untuk menghancurkan hubungan kalian, Hazel. Lo kelihatan bahagia bersama dia. Dan kayaknya--dia tulus sama lo.'


Candra melempar bekas tusuk sate kearah Calix, "Akhlaknya dijaga! Kalo mau mesra-mesraan jangan disini setan! Hargai nih!" Telapak tangannya menepuk-nepuk dadanya seolah mendewakan diri sendiri. "Presidennya jones!"


Yang menyambutnya adalah si Calix memutar bola matanya sewot. "Iri aja yang jomblo ngenes! Suka-suka gue lah, orang gua manja-manja sama pacar gue sendiri, lo kalo mau cari pacar sono!"


Mendengar cetusan Calix, Farel menghentikan gerakannya tangannya yang tengah lihai memetik gitar, "Gak papa sih lu cari pacar. Asal jangan lupa ngaca."


"Lah si anying!" Anak-anak muda itu menertawai si Candra yang dijadikan sebagai bahan nistaan.


Iya, tertawa hingga lupa tempat dan waktu, disisa tawa yang Hazel miliki, perhatiannya tiba-tiba tersita kearah tempat barbeque, tempat panggang-memanggang yang agak jauh dari mereka, menunjukkan Athala yang sedang melarang Ruby untuk memanggang sesuatu.


Disana ramai, ada orang lain selain mereka berdua. Akan tetapi, seluruh atensi Hazel hanya terpusat pada mereka berdua.


"Mending kamu duduk manis aja yah? Diam. Jangan bergerak, jadikan aku sebagai kaki tangan kamu."


"Atha... Aku bukan anak kecil, biarkan aku memanggang sendiri..." Rengekan Mami Calix tidak luput disaksikan oleh Hazel.


Perempuan itu menggeleng-geleng tak habis pikir. Apa yang dipikirkan oleh Papi Calix? Malah Wanita hamil ada bagusnya apabila kebanyakan bergerak. "Lix, bukannya, Bokap lo terlalu berlebihan?"


"Hmm?" Kontan, Calix menoleh kearah Papinya. Dia tersenyum tipis. Kemudian meluruskan pandangan meratapi sendu hamparan kolam didepan mata.


"Papi emang kaya gitu dari sananya. Apalagi sebelum Thea, kami pernah kehilangan. Anak kedua Mami dan Papi alias Adik pertama gue sebelum Thea meninggal saat baru lahir. Untuk itu, wajar kalo Papi gue extra protektif pada Mami, terlebih lagi saat lagi mengandung seperti sekarang. Dia--hanya ingin menjadi Ayah yang dapat menjaga keluarga berharganya agar gak kehilangan lagi."


"Ah? Maaf--sepertinya gue sudah menyinggung sesuatu yang salah?" Hazel merasa tidak enak hati telah mengungkit sesuatu yang menurutnya--menyedihkan?


"Gak papa kok." Di detik dia mengucapkan itu, Calix mengacak-ngacak rambut Hazel gemas dengan senyum yang masih menetap menyimbolkan bahwa dia tidak apa-apa.


...*****...


Agar tidak mengusik tidur Hazel, hati-hati Calix mengangkat kepala Hazel yang menyandang di bahunya. Untung saja ketika pulang, Calix menggunakan transportasi beroda empat agar Hazel tak terkena udara malam yang dingin.


Mereka sudah tiba diluar pagar Hazel, mau tidak mau, terpaksa Calix harus mengusik sedikit mimpi indahnya melalui pergerakan yang dia lakukan. "Ssst... Bobo aja bobo..." Bisiknya saat Hazel menggeliat kecil.


Nampaknya Hazel kembali tenang. Calix tidak tega membangunkan Hazel yang lagi tertidur lelap. Oleh karena itu, dia menggendong gadis itu ala bridal style menuju rumahnya.


Menendang-nendang pintu rumah Hazel karena kedua tangannya sedang menggendong Hazel. Tidak terlalu kuat tentunya agar supaya tidak menganggu tetangga maupun pemilik rumah.


Ceklek...


"Eh? Lix? Hazel kenapa anjirr?! Lo apain?!"


"Sssttt! Su'udzon mulu lo sama gue ck. Adek lo ketiduran diperjalanan. Papa dan Mama kalian mana?"


"Tidur. Papa masih ditempat kerja. Lembur untuk malam ini." Pemaparannya disambut angguk-angguk kepala dari Calix.


"Nih, sekarang gue serahin dia ke lo. Bawa dia ke kamar." Jayden mundur satu langkah, angkat tangan menolak Calix yang hendak menyerahkan Hazel padanya.


"Kagak mau gua! Adek gue berat! Lo aja dah gendong ke kamarnya!"


"Lah? Terus harus gue yang bawa dia sampe kamar? Percaya banget lu sama gue. Gak takut, gue bakal apa-apain Adek lo?"


Tepukan dua kali mendarat dibahu Calix. "Gue percaya sama lo. Gue tunggu dibawah ini. Lima menit lo gak turun, gue nyusul, kita ribut."


Calix memutar bola matanya, melangkah kearah tangga dengan gumaman gurau. "Lima menit lebih dari cukup bagi gue untuk macem-macemin Adek lo."


Andai saja, Jayden tahu bagaimana asli dari sifatnya, mungkin dia tidak akan sudi membiarkan Hazel bersama dengan jelmaan iblis sepertinya.


Tiba didalam kamar Hazel, Calix merebahkan tubuh mungil Hazel keatas kasur dengan perlahan-lahan agar tidur lelapnya tidak terusik sama sekali.


Cup!


"Tunggu bentar lagi Zel. Setelah gue berhasil ngumpulin uang yang cukup, gue akan mengungkapkan perasaan yang gue simpan dengan cara yang lebih istimewa."


"Sweet dreams, my princess." Empat kalimat terakhir yang meluncur dari bibir Calix sebelum menutup pintu kamar Hazel dan benar-benar berlalu dari sana.


...*****...


Hazel menggeledah isi lacinya mencari-cari sesuatu, mendapatkan apa yang dia inginkan, Hazel pun akhirnya mengeluarkan sebuah kertas yang dirobek mini dari sana.


Suatu keuntungan dirinya masih menyimpan angka nomor beberapa digit dan semoga saja gadis itu masih memakai nomor yang sama.


Surat peninggalan terakhir mendiang Fatur, benar-benar mengganjal sehingga menjadi beban pikirannya. Sebuah asumsi sudah terlintas dalam benak, hanya saja dia ingin memastikannya sekali lagi.


Bagaimana bisa keluarganya sejahat itu sampai menutupi hal yang menurutnya tidak perlu untuk dirahasiakan darinya. Dan--sudah selama ini?


Panggilan berdering untuk tiga detik sampai ketika terdengar sebuah suara kala panggilan tersambung. "El?! Apa bener ini Hazel?! Lo kemana aja selama ini?!"


"Hazel!! Kamu udah siap belum?! Calix udah nungguin dari tadi!!"


"Bentar Mah!" Sahutnya sebelum kembali meletakkan benda pipi di telinganya.


"Ra bisa bantuin gue?" Tanpa ba-bi-bu, Hazel langsung to the poin, dia tidak punya banyak waktu untuk sekarang, seperti teriakan Mamanya barusan, Calix sudah menunggu dibawah sana.


"Bantuin apa?"


"Tolong carikan informasi data-data kelahiran dirumah sakit Mahardika." Mahardika, sebuah rumah sakit di Bandung, tempatnya dirawat saat dirinya kritis.


Diseberang sana, seorang gadis bernama Aldara mengusap-usap dagunya. "Hmm kayaknya ini sedikit sulit deh. Sudah pasti pihak rumah sakit gak akan mudah memberikan informasi mengenai pasien mereka.


"Tapi--kalo itu demi lo apa sih yang gak bisa? Nanti gue usahain deh. Dan itu, mungkin akan membutuhkan waktu yang cukup lama, karena gue harus menyiapkan strategi yang matang terlebih dahulu. Lo bisa nunggu?"


"Oke, btw thanks ya Ra. Maaf, gue gak punya waktu lebih banyak untuk ngobrol-ngobrol sama lo lebih lama, gue harus berangkat ke sekolah. Lain kali kita bisa bicara lagi lewat telepon, gue tunggu kabar baik dari lo."


Tut..Tut..Tut..


Aldara menatap layar ponselnya yang sudah menggelap dengan gumaman. "Kayaknya jiwa intelijen gue akan kembali bangkit."


...*****...


Tubuh Hazel berbalik arah, menghadap sepenuhnya pada Calix. Mereka baru tiba didepan pintu kelas Hazel, Calix mengantarnya hingga sampai disini.


"Belajar yang bener. Jangan bandel kaya gue. Semangat ya, princess.. Jangan hanya semangat belajar, semangat juga menjalani hari-hari."


"Ay-ay siap kapten!" Hazel memasang gaya menghormat patuh.


"Good girl." Gemas sekali, Calix sampai tak tahan untuk tidak mengacaukan rambut gadis cantik didepannya.


"Umm, Lix? Pulang nanti gimana kita pulang bareng? Kalo lo belajar dulu bareng Lia, gue tungguin sampe kelar."


"Ah? Gimana yah Zel?" Calix menggaruk pelan pipinya, menatap tidak enak pada Hazel yang sedang memasang wajah cemberutnya. Sepertinya dia sudah memprediksi apa jawabannya.


"Selesai belajar sama Lia, kayaknya gue bakal sibuk lagi. Gue belum ada kesempatan untuk pulang bareng lo. Lain kali aja ya?"


Anggukkan Hazel terlihat lesu. Belakangan ini, Calix sering beralasan sibuk. Entah benar-benar sibuk atau pura-pura sibuk, tidak biasanya dia seperti ini. Hazel positif thinking saja.


"Uang jajan lo berapa?"


"Umm? Ungu-ungu." Ungu? Berarti sepuluh ribu?


"Bentar." Tangan Calix masuk kedalam kantong, merogoh disana dan keluarlah sebuah black card.


"Nih buat lo. Gue cuma bawa segitu sebagai persediaan sehari-hari, dirumah baru banyak, Thea pun sampe malas liat muka kartu kaya gitu."


Orang sultan menilai kartu eksklusif terbitan American Express hanya setara dengan harga kartu ponsel.


Bukan seperti Hazel, yang sampai tercengang kala tanpa disangka-sangka, Calix menyodorkan benda yang jauh lebih berharga dari rumah dan isi-isinya. Buat membiayai keluarga sampai tujuh turunan saja tidak akan habis menurutnya.


"I-ini buat apa njirrr?" Tremor tangan Hazel mendorong tangan Calix menolaknya mentah-mentah.


Meskipun uang jajannya sedikit, Hazel masih dapat menggunakannya, bahkan pulang masih bawa sisa.


"Kenapa? Kurang banyak? Lo mau berapa black card?"


"Enggak ih! Gue gak butuh, mending lo simpan buat masa depan."


"Yaudah ambil, kan masa depan gue, elo."


...*****...


Di halte bus, Hazel menghentikan sebuah taksi. Kali ini dia tidak naik bus mengingat jika menaiki angkutan umum itu, akan menunggu waktu yang sudah ditentukan. Dia, ingin segera pulang sekarang.


Dimulai dari Calix yang mengantar jemput nya, Hazel tidak lagi berangkat dan pulang bersama dengan Abang atau pun Papanya, apa-apa selalu Calix, sepertinya keluarganya menaruh kepercayaan penuh pada Calix.


"Dari sekolah mana Dek?" Pak sopir menyoroti Hazel dibalik kaca depan.


"Dari SMA Gardenia, Pak."


"Oh? Bapak juga alumni dari sana. Sudah kelas berapa Dek?"


"Kelas dua belas Pak. Gak lama lagi akan lulus." Pak sopir manggut-manggut, lantas mengusaikan percakapan singkat mereka, Hazel kembali memalingkan pandangan kearah samping yang mana terdapat kaca mobil yang tembus pandang.


Menyuguhkan berbagai transportasi yang berlalu lalang pada siang yang akan memasuki waktu sore hari, timbul kerutan samar pada kening Hazel ketika ada sebuah kendaraan motor sport yang tidak asing melintas disamping mobil yang dia tumpangi.


Dibelakangnya membonceng seorang gadis berseragam putih abu-abu. Dari perawakannya, Hazel merasa begitu familiar.


"Calix?" Monolognya, kalau tidak salah gadis yang dia bonceng adalah Kyra?


"Pak! Ikutin motor sport yang didepan sana!" Tubuhnya condong kedepan, Hazel lantas menunjuk motor besar yang ada didepan mereka. Interuksi penumpangnya, diangguki oleh Pak sopir.


*****


Apalagi yang diperbuat Calix..?😤