My Possessive Boyfriend

My Possessive Boyfriend
MPB•KESIALAN BERTUBI-TUBI



Suhu dingin menyentuh kulit pipi Hazel, berhasil mengenyahkan lamunannya. Dia menoleh kesamping, menemukan Calix yang mengambil tempat duduk disampingnya.


"Bengongin apa lo?" Dibalik pertanyaan yang diajukannya, Calix melemparkan sebotol air mineral dingin. Dengan cekatan ditangkap oleh Hazel. Jika dia memutar otak, dia sering kali memergoki Hazel sedang melamun.


Berhubung rongga tenggorokannya sedang kering butuh cairan, Hazel menerimanya dengan senang hati dibalut rasa kesal juga. Kerongkongannya basah, dia meneguk minuman yang dikasih oleh Calix tak minat menjawab pertanyaan dari Calix.


Tanpa mengeluarkan sepatah kata, Calix bergerak, meraih kaki Hazel yang terlapisi dengan sepatu. Memulai pekerjaan dengan membuka tali sepatu Hazel.


Kala itu, Hazel masih memantau apa yang akan dilakukan oleh Calix selanjutnya. "Ngapain lo?!"


Hazel menarik kakinya, tak membiarkan Calix. Malah ditarik oleh Calix lagi, kalau lembut-lembut, mungkin Hazel tak akan dongkol. Tetapi, bagaimana tidak sebal? dia saja pakai tenaga seperti tarik tambang. Kakinya kan bukan tali temali.


"Patuh, bisa? Jangan banyak tanya. Liat aja apa yang akan gue lakuin. Gue juga tahu tempat. Gue gak bakal berbuat yang aneh-aneh di lapangan kaya gini."


Setelah melepas kaus kaki Hazel, Calix lanjut ketahap berikutnya, ternyata dia hanya melekatkan plaster di tumit kakinya yang terluka. "Udah."


Meletakan kedua tangan dibelakang sebagai penopang tubuhnya, lelaki itu kini menegakkan punggung dalam posisi serupa dengan Hazel, menyelonjorkan kakinya lurus.


Perlahan Calix menyamankan kepalanya di bahu Hazel, menerima dorongan dari Hazel hingga jarak mereka menjauh. Hazel risih dibuatnya. "Jangan nempel-nempel! Gerah gue!"


"Ck, sandar doang. Istirahat bentar aja sebelum masuk kelas, gue capek."


Tuk!


Calix melotot marah saat botol yang sudah kosong ditangan Hazel, menjadi senjata andalannya, menghantam sisi kepala Calix, "Lo---" Sontak dia mengalunkan lengannya di tengkuk Hazel, memiting lehernya geram.


"Nih-nih syukurin lu!"


"Ih, lu bau keringat bambang!"


"Hahaha mampus lu rasain semarwangi ketek gua!" Calix tertawa puas ketika membebaskan Hazel agar dapat menyaksikan secara langsung pemandangan yang tersaji didepan matanya.


Seperti dugaannya, wajahnya memerah padam, pasti karena naik darah atas kelakuannya, karena dia tidak sebau itu sampai membuat wajah orang memerah.


Bugh!


Beda lagi kali ini, Hazel memanfaatkan senjata maut, memukul bahu Calix dengan sepatunya yang kelupaan dipasang oleh Calix, pakaian putih kontras dengan debu di telapak sepatu Hazel, meninggalkan jejak di seragamnya.


Napas Calix tertahan, Hazel menelan ludahnya susah payah, takut jika Calix marah, perlahan tapi pasti dia mengacungkan dua jari membentuk V sebagai bentuk perdamaian, disertai cengiran kakunya.


"S-sorry, gue udah keterlaluan ya?"


"Pake nanya lu!" Calix merebut secara paksa sepatunya, untuk membalasnya dia mengusili Hazel, melempar benda itu kearah sebaliknya kemudian terjadi sebuah tragedi diluar dugaan.


Bugh!


Mata Calix beserta Hazel melebar kaget. Pasalnya benda itu headshot, pas sekali menimpuk kepala Pak Samsudin yang kebetulan ada ditepi lapangan. "Kalian!"


Melihat vibes dark yang menguar dari Pak Samsudin, membuat Calix berintuisi. Dia sudah dapat memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya jika dirinya tidak kabur.


Untuk itu bergegaslah, Calix beranjak tidak meninggalkan Hazel, dia menarik gadis itu, "Kabur! Kabur!" Lelaki itu membawa Hazel lari dari pinggir lapangan.


"Terus, sepatu gue gimana?!" Dalam keadaan genting sekalipun, Hazel justru mengingat hal-hal tidak penting. Dia lari agak terpincang-pincang dengan satu kaki tak menggunakan sepatu.


"Udah lah! Jangan memikirkan hal yang lain, nanti gue belikan sepatu mahal dan mewah sebanyak yang lo mau!"


Hendak mengejar mereka, Pak Samsudin menunjuk keduanya tak terima. Kini hanya punggung mereka berdua yang nampak. "Jangan kabur woy! Dasar murid tak tahu di untung!"


Brakk!


Calix membawa masuk Hazel kedalam sebuah gudang melarikan diri dari Pak Samsudin. Napas mereka masih tidak beraturan, Hazel menumpukkan tangannya diatas meja seraya menstabilkan oksigen disekelilingnya.


"Ini gara-gara lo tahu gak! Coba aja lo gak lempar sepatu gue! Masalah gak bakal jadi keruh kaya gini! Gimana kalo kita ketangkap, terus dihukum lagi? Bisa double hukuman kita berdua!"


"Gak! Gak! Gak! Kalo ada yang menerima konsekuensi nya, itu cuma lo bukan gue! Mana mau gue dihukum lagi! Gue cape tahu gak, cape!!" Calix tambah emosi mendengar Hazel misuh-misuh tak jelas.


Bugh!


Emosional terpancing mendengar kicauan Hazel. Sehingga Calix memukul meja terlampau geram, "Lo bisa diem gak sih anjiing! Jangan ribut kalo gak mau ketahuan! Dengan lo bersikap kaya gini, malah nambah potensi kita ketahuan!"


"Huh! Dimana tuh dua anak! Kali ini lolos kalian!" Spontan, Calix membekap mulut Hazel saat mereka mendeteksi suara keramat dari balik pintu gudang.


"Awas saja kalau ketemu! Abis kalian, saya suruh cabutin uban saya sampai habis sebagai hukuman!"


Selepas melontarkan beberapa kata, terdengar derap langkah yang mulai menjauh. Bersamaan dengan tangan Calix turun dari posisinya. Bahu Hazel menurun, tentu saja dia merasa lega tidak ketahuan.


"Bolos, kuy. Dari pada nanti ketemu sama Pak Samsudin, kita pasti kena hukuman lagi."


Hazel mendelik mendengar ajakan Calix. "Kalo bandel, bandel aja! Jangan ajak-ajak gue, minggir! Gue mau keluar!"


BRAKK!


Sedikit tersentak kaget akibat bunyi dentuman keras daun pintu yang dibanting kuat oleh Hazel, Calix hanya bisa elus-elus dada. Dia menggumam penuh takjub. "Energik banget tuh cewek."


...*****...


"Baiklah anak-anak. Sebelum memulai materi, saya harap semuanya mengumpulkan satu persatu catatan kalian dimeja saya untuk diperiksa."


Pemeriksaan buku catatan sejarah sudah menjadi agenda pada hari-hari tertentu, hari ini tepatnya. Yang tidak lengkap maka akan mendapat ganjaran dari sang Guru. Begitu pula dengan yang lupa atau tak membawa buku catatannya. Kalau mau selamat, usahakan catatan diharuskan lengkap.


"Aduhh!! Kemana perginya tuh buku?!"


Sekali lagi Hazel mengobrak-abrik seluruh isi tasnya, tak kunjung menemukan apa yang dicarinya, dia akhirnya mengeluarkan segala isi-isinya dari dalam tas ranselnya.


Wajahnya jadi pucat dalam seketika sebelum akhirnya dia menepuk dahinya dengan keputusan asa'an. Dia mendesaah kesal.


"Buku sejarah gue mana anjirr?! Masa iya merangkak dia keluar dari tas gue?! Ngadi-ngadi nasib gue hari ini, gue salah makan apa tadi pagi?! Kok bisa nasib buruk menimpa gue berturut-turut kaya gini! Dunia bercandanya keterlaluan!" Gerutunya.


"Kenapa lo?" Kyra menyempatkan diri bertanya sebelum beranjak kedepan.


"Ini Ky.. buku catatan sejarah gue, gak ada didalam tas."


"Emang lo simpen dimana?"


"Yah mana gue tahu! Kalo tahu tempat gue nyimpannya dimana gue gak bakal nyari sampai sefrustasi ini, dodol!"


"Salah sendiri pikun! Tadi pagi lupa topi, sekarang lupa buku catatan lagi? Kasian, mana masih muda, eh udah pikun aja."


Menggeleng-gelengkan kepala pelan, Kyra memilih pergi kedepan mengantar buku catatannya membiarkan Hazel uring-uringan ditempat, ia kian panik ketika anak-anak sudah mengantar satu persatu buku catatan sejarah mereka.


Brakk!


Tiba-tiba Hazel menggebrak kecil meja dibelakangnya, tempat seorang murid yang baru akan bangkit dari duduknya, "Lo gak bawa catatan sejara lo kan, iyakan?! Bilang iya ayolah! Biar gue punya temen!"


"Iya, gue gak bawa catatan sejarah gue." Sahutnya membuat Hazel sumringah, dia mendapat tanggapan sesuai ekspektasi.


Dia mengepalkan kedua tangannya girang, yang penting dia tak sendirian. "Yes! You and I mulai sekarang jadi bestie forever! susah senang kita lalui bersama--"


"Lo berharap gue bilang gitu kan? Sayang banget gue bawa buku catatan sejarah gue. So, rasakan penderitaan lo sendirian ya.." potongnya melemparkan senyum pura-pura. Raut Hazel langsung luntur dalam sekejap.


Ditepuk-tepuknya pundak Hazel untuk memberinya semangat, sebelum mengantar buku catatannya, sudut bibir Hazel melengkung kebawah.


Kyra kembali ketempat bangku awal, mendapati Hazel sedang merosotkan tubuhnya di kursi. Dia putus asa dengan keadaan.


"Udahlah, gak usah takut. Pak Ahmad bukan orang yang teliti-teliti amat. Palingan dia gak akan tahu siapa saja murid yang gak mengantar buku catatan. Selama gak ada yang memberi tahu, lo aman."


"Total buku yang terkumpul baru dua puluh sembilan. Ada satu orang lagi yang belum ngumpulin buku. Siapa?!"


Hazel menegang kaku bersama dengan seisi kelas yang senyap, tidak ada yang mengaku. "Jadi tidak ada yang mengaku?! Mengaku sebelum saya yang mencari tahu sendiri!"


"Hanya selisih satu kan? Bapak salah hitung kali?!" Timpal Kyra, dia sedikit melirik Hazel dengan ujung mata. Di bawa sana, lebih tepatnya dibawah meja, mereka berdua melakukan tos ria. Jadi bestie sefrekuensi begitulah.


"Iyakah? Masuk akal juga. Mungkin saja Bapak yang salah. Sudahlah, Bapak tidak mau mengulur waktu." Pak Ahmad pun mulai memeriksa satu persatu tumpukan buku yang telah dia susun diatas meja.


"Pak!"


"Iya, ada apa Lia?" Pak Ahmad melihat kearah Lia yang sedang mengacungkan tangan, dibarisan ketiga diantara jejeran kursi. "Apakah kau yang tidak membawa buku catatan sejarah?"


"Ah tidak Pak!" Lia melambai-lambai tangan untuk menyangkal. "Itu Pak, Hazel yang tidak membawa catatan."


Mendengar laporan Lia, reflek bukan hanya Pak Guru itu yang menyorot Hazel yang kini menegang ditempat, seluruh warga kelas disana memusatkan perhatian padanya.


"Apakah itu benar, Hazel?" Tanya Pak Ahmad memastikan, melihat reaksi Hazel yang gelagapan sudah menimbulkan rasa curiga bagi siapapun yang melihat.


BRAKK!


Kyra menggebrak meja naik pitam. Dia marah dengan Lia yang seenak jidatnya membeberkan rahasia ilahi. Padahal tadi nyaris saja Hazel dapat terselamatkan kalau bukan gara-gara cewek sok cupu ini.


"Dasar nenek peot! Mulut lu panjang amat bangsaat! Mending lo gunain mulut lo cuma untuk makan dan bicara yang baik-baik, jangan cepu!"


"Penampilan aja yang gayanya sok cupu! Padahal dalam hatinya suhu gak ketolong! Munafik lu babii!" Kyra menghadiahi jari tengah untuk Lia yang yang kini memilin kedua tangannya takut.


Dia menunduk dalam-dalam. Apakah dia salah? Lantas letak kesalahannya dimana? Dia hanya mengatakan kebenaran.


"A-aku kan gak bohong...Hazel beneran gak membawa buku catatannya, sudah sepatutnya yang enggak membawa buku catatan dihukum seperti ketentuan kan?" Tanyanya disambut anggukan masuk akal seluruh siswa dikelas tersebut.


"Lo--" Kyra yang mengambil ancang-ancang akan menghampiri Lia, dibatalkan oleh bunyi gebrakan dimeja yang menginterupsi.


Brakk! Brakk! Brakk!


"Mohon perhatiannya! Kyra! Jangan membuat kekacauan. Lancang sekali mulutmu itu melontarkan kata-kata yang tidak seharusnya sementara didalam ini ada Guru. Apakah kau menganggap saya sebagai pajangan hah?!"


"Duduk kembali di kursimu!" Sarkasnya tajam membuat Kyra yang sudah setengah jalan mau tidak mau kembali ketempat duduknya dengan gerutuan yang tiada henti. Dia kesal lahir batin dengan Lia.


"Nyari ribut tuh anak, hih! Culun apanya, cewek munafik itu mah!"


"Sstth! Udah! Lo buat masalah makin besar aja. Gimana kalo hukuman gue diperberat karena lo, bisa mati ditempat gue!" Hazel memegangi lengan Kyra.


Kyra memberengut, dia melipat kedua tangannya didepan dada. "Udah dibelain juga! Yang di pihak malah tuh nenek lampir! Lo terlalu baik, Zel. Semua orang yang kelihatan baik belum tentu dalam hati mereka sebagus cover mereka."


"Hazel, sesuai kesepakatan dari awal. Kamu akan dihukum. Dan kali ini hukuman yang tepat untukmu adalah membersihkan kolam renang sekolah. Hukumanmu berlangsung meskipun sudah jam istirahat."


Bahu Hazel melemas mendengar pemaparan Pak Ahmad, ditengah itu, tiba-tiba ada suara bariton lain yang menyeletuk, mengajak Pak Ahmad untuk bernegosiasi.


"Pak. Buku Hazel ada sama saya. Saya yang pinjem pekan lalu tapi hari ini lupa bawa. Bisa diringankan sedikit hukumannya? Disini seharusnya saya yang menerima konsekuensinya."


Ah iya. Hazel lupa jika yang meminjam buku catatan sejarahnya minggu lalu sebab dia tidak masuk karena sakit. Kyra mengusap-usap dagu, "Iya juga ya? Kok gue baru inget? Padahal kapan itu gue juga nawarin ke dia." Kyra dan Hazel saling pandang kemudian.


"Sudahlah Ronan, jangan memihak yang salah. Saya tahu kau peduli dengan Hazel, tapi yang namanya berbuat kesalahan harus dipertanggung jawabkan. Keputusan saya sudah bulat, Hazel tetap dihukum dengan membersihkan kolam." Tegas Ahmad mutlak.


"Gini aja Pak. Bagaimana saya ikut dihukum bersama Hazel? Soalnya saya yang meminjam bukunya, saya juga yang kelupaan membawa, padahal hari ini mata pelajaran sejarah."


Pak Ahmad mengibas-ngibaskan tangannya pasrah. "Yasudah, terserah kalian saja! Sana! Sana! Jalankan hukuman kalian!"


...*****...


Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Setidaknya itu peribahasa yang kompatibel untuk mendeskripsikan nasib seorang Hazel saat ini. Gadis itu menyeka peluh di keningnya. Hari ini benar-benar melelahkan dari hari biasanya. Pertama-tama, menjalani hukuman dengan Calix faktor kelupaan topi.


Yang kedua, dikejar oleh Pak Samsudin bagaikan buronan akibat Calix yang membuang sepatunya sembarang hingga tak sengaja menimpuk kepala Pak Samsudin. Masih syukur, Pak Samsudin meninggalkan sepatunya ditepi lapangan.


Seolah takdir masih belum puas mengerjainya, kini dia sedang membersihkan dedaunan maupun sampah yang mengapung diatas kolam. Bersama dengan Ronan tentunya.


"Sorry. Gara-gara gue, lo harus dihukum lagi. Tadi lo baru dihukum lari keliling lapangan kan?"


"Ah iya. Tapi gak papa sih. Memang hari ini hari apes gue. Ketimbang kesal dihukum, gue lebih kesal lagi karena harus dihukum sama Calix. Tuh cowok selalu saja bikin gue naik darah."


Air kolam terpercik saat jaring yang digunakan oleh Hazel menghantam air. "Lo bahagia?"


Mendengar pertanyaan aneh Ronan, membuat Hazel secara otomatis menghadapkan wajah lesunya pada Ronan yang pura-pura sibuk membersihkan kolam. Tak menoleh sedikit pun pada lawan bicaranya.


"Humm? Maksudnya?"


"Lo harus bahagia. Gak boleh gak bahagia agar dia bisa tenang." Tatapan Ronan menerawang lurus kedepan. 'Kalo gak, gue bakal jadi perebut demi kebahagiaan lo.' Tekanan Ronan di handle jaring tambah kuat.


Hazel memandangnya aneh, "Gue gak ngerti maksud lo."


Menarik napas dalam, Ronan pun menolehkan kepala pada Hazel dengan sedikit senyuman yang terukir. "Sepulang sekolah nanti, lo mau ikut ke rumah gue? Buku catatan lo nanti gue kembalikan kebetulan gue udah habis catat. Tadi gue udah nyogok salah satu anak kelas kita untuk mencatat materi Sejarah hari ini. Nanti gue bantu lo untuk melengkapi salinan catatan lo."


Kentara sekali, Ronan mengubah topik. Tapi yasudah lah, Hazel memilih melupakan saja. Lagi pula sepertinya Ronan tak ingin mengungkitnya lebih jauh.


"Eumm--gimana yah? Sebenarnya gak perlu lo sampai bantuin melengkapi catatan gue, gue bisa sendiri kok." Bukannya apa, Hazel butuh izin dari Calix, kemungkinannya diperbolehkan pergi bersama lelaki lain sangat kecil, Calix akan menentangnya keras.


"Itukan udah jadi tanggung jawab orang yang gak amanah sama pinjaman." Inilah yang disebut dengan definisi menyinggung diri sendiri.


"Thanks tawarannya, gue tahu niat lo baik. Tapi-- gue gak yakin orang tua gue bakal kasih izin. Lo bisa kembalikan buku catatan gue besok-besok atau kapan-kapan aja." Hazel meminta maaf dalam hati karena menjadikan orang tuanya sebagai alasan.


"Lo tenang aja, nanti gue anterin lo pulang dengan jaminan akan selamat tanpa lecet sedikitpun, ikut gue, sekali ini aja ya?" Ronan menampilkan wajah-wajah kecewa. "Hati gue bisa terluka loh, kalo sampe lo nolak ajakan gue."


Karena itu, Hazel kehabisan cara menolak secara halus. Dia tak enak hati. "Y-yaudah. Gue ikut lo pulang sekolah nanti." pungkasnya disambut senyuman lega dari Ronan.


"Gue haus, mau beli minuman di kantin. Lo mau nitip?" Ronan membungkuk agar dapat menyimpan jaring ditepi kolam.


"Enggak, makasih udah nawarin."


"Yaudah, gue serahin sepenuhnya pekerjaan kita sama lo bentar."


Begitu mendapat anggukan dari Hazel, Ronan melenggang pergi dari area kolam meninggalkan Hazel seorang diri, kali ini Hazel lebih santai, lantunan nyanyiannya terdengar, dia bersenandung ria sambil tak berhenti dengan kegiatannya.


Disela-sela itu, Hazel terbelalak kala tiba-tiba saja dia kehilangan keseimbangan, dia merasakan tubuhnya terdorong kedepan, dia tercebur kedalam kolam. Terlebih lagi, dia tak tahu caranya berenang.


"Tolong!!" lengan Hazel meronta-ronta dipermukaan air, mencoba untuk memunculkan kepalanya kepermukaan agar dapat mengambil oksigen di udara. Sayangnya, semakin lama, pasokan udara disekitarnya kian terkuras.


Samar-samar dia menangkap punggung seorang gadis yang hendak berlalu dari area kolam, dia tak dapat melihatnya lebih jelas dengan pandangannya yang buram diganggu air.


"Uhuuk-uhhuukk! T-tolong.."


Hazel terbatuk-batuk akibat mulutnya kemasukan air. Awalnya dia masih berusaha keras untuk menyelamatkan diri.


Naasnya, lambat laun, dia tak mampu lagi bertahan dalam suhu dingin juga menampung air yang masuk di mulai dalam mulut, hidung beserta telinga.


Sehingga tak lama kemudian permukaan air mulai tenang saat kepalanya perlahan tertutupi air dan berakhir dia tenggelam.


*****


Maaf kalo semakin jauh part-nya semakin ngebosenin, sy bikin alurnya yang bertele-tele karena ingin memperbanyak episode🙂